MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Ngobrol 2


__ADS_3

Melody masih dalam periode libur, cuti kuliah karena menikah. Mungkin jika bukan karena kakek Wijaya, ia akan mengulang satu semester lagi.


Yah, sepertinya ia harus segera terbiasa jika kekuasaan akan selalu berperan penting dalam kehidupannya. Bukankah rasanya itu tidak adil buat yang lain?


Berfikir sampai sejauh itu, maka tak akan layak jika ini disebut sebagai hidup. Hidup memang keras, yang kuat semakin kuat, yang lemah, bertahanlah jika tidak ingin ditindas!


Kejam?


Hei, hukum rimbapun masih berlaku di dunia ini.


Jangan mengeluh, jika merasa lemah dan tak berdaya, berusaha bangkit dan tetaplah kuat! Jangan pasrah dengan keadaan! Hidup itu tak selamanya di bawah, pasti akan berada di atas juga.


Roda pasti berputar, begitu pula dengan kehidupan. Jika sampai akhir tetap berada di bawah, berarti itu yang Tuhan inginkan. Siapa tahu jika akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya? Who's knows?


"Jadi apa kau akan memakainya suatu saat nani, Jenong?" Tanya Mia.


"Masih mengulangi pertanyaan yang sama?" 🙄 Bosan Melody.


"Kan aku tanyanya suatu saat nanti. Bukan dalam waktu dekat tentunya." Jelas Mia.


"Tidak akan!" Kata Melody cepat.


"Kan sayang jika kau tidak memakainya. Lingerie itu pasti sangat cocok untukmu. Aku yakin Yudha pasti tergoda dengan tubuh sexy-mu itu. Hahaha."


"Aku bukan wanita penggoda! Kenapa bahas itu lagi sih? Aku tahu kok tubuhku ini memang sangat sexy, lebih sexy dari milikmu malahan!" Kata Melody. Sekalian saja usik Mia, sedari tadi dirinya terus yang kena bully.


Mia kesal. Sial juga kalau harus menyangkut masalah body. Ia akui Melody itu sangat sexy. Lebih tinggi darinya dan lebih sexy pinggangnya. Tapi dirinya juga memiliki kelebihan yang tak bisa Melody kalahkan.


"Tapi dadaku lebih besar dari punyamu!" Celetuk Mia.


Melody manyun seketika. Kenapa semua wanita di Jepang sangat bangga pada dada yang besar? Bukankah miliknya itu cukup proposional? Sudah cukup sempurna dan seimbang dengan tubuhnya. Ya walau Yudha bilang dadanya itu cukup rata.


Kok kesal ya?


Apa lagi Yudha mengatakannya secara langsung waktu itu. Yudha bilang tak tertarik pada dada rata miliknya. Jika ingat itu rasanya semakin kesal. Meski rata menurut Yudha, tapi masih adalah, masih bisa dipengang juga.


Bukankah Yudha juga pernah memegangnya belum lama ini? Waktu di mobil? Uang saku? Otaknya mengingatnya, kan?


Sial, memang harus sebesar apa sih yang Yudha maksud agar Yudha tertarik pada dadanya?


Loh?


Apa ini?


Kenapa ia malah membahas hal seperti ini?


Sial, ini semua gara-gara Mia!

__ADS_1


"Kan diam? Haha, sekali lihat orang juga tahu kalau punyaku itu jauh lebih besar dari punyamu!" Mia tertawa badai.


"Cih, iya-iya, punyaku memang lebih kecil sampai-sampai Yudha mengatainya datar!" Kata Melody.


"Hah? Seriusan? Yudha mengataimu seperti it" Tanya Mia tak menyangka.


Melody mengangguk. "Ya, dia sendiri yang bilang. Tapi ada untungnya sih, aku jadi tidak perlu was-was saat tidur seranjang dengannya." Melody tertawa senang.


"Yaelah, itu paling cuma alibi Yudha saja! Memang kau tahu apa yang Yudha lakukan di tengah malam ketika kau sedang tidur?"


"Apa maksudmu, Mia?"


"Memangnya kau yakin Yudha tidak apa-apain dirimu saat tidur?"


"..." Saat tidur? Diapa-apain sama Yudha?


"Yudha itu laki-laki yang memiliki nafsu dan hasrat terpendam juga. Bisa saja dia menggrayangimu saat kau sedang tidur!"


"Hah?"


"Bisa saja dia juga pegang-pengang dadamu yang kata dia itu rata. Dia pasti akan memastikan perkataannya sebelum berbicara. Dari mana dia tahu jika dadamu itu rata? Dia pasti pegang-pegang milikmu dulu, Mel!"


"..." Bisa jadi. Kenapa Yudha bisa tahu ya? Pasti karena memegangnya dulu untuk memeriksa.


"Belum lagi yang lain. Kau tidurkan suka kayak kerbau pingsan, apa kau yakin Yudha tak menggrayangimu sampai ke tubuh terdalammu? Kau tidur pakai piyama model kimono, itu cukup pendek karena di atas lutut, kau bergerak sedikit saja, celana dalammu akan terekspos! Yudha pasti tak tahan melihatnya!"


"Begini ya, Mia bebek goreng, Yudha itu bukan tipe laki-laki yang seperti itu. Dia menghormatiku sebagai wanita."


Usahanya menggoda Melody rupanya gagal. Melody itu pintar menilai orang.


Ya sudahlah..


"Hei, jadi selama seminggu kalian menikah, tidak terjadi apa-apa?" Tanya Mia.


"Tidak ada."


"Bohong!" Mia menatap tajam mata Melody.


Melody merasa tidak bisa menyembunyikan apapun dari Mia.


Ya tak sepenuhnya ia berkata jujur juga sih, tapi mengingat insiden dirinya dengan Yudha beberapa hari yang lalu rasanya memalukan sekali.


"Ti-tidak ada! Tidak sampai yang aneh-aneh." Jawab Melody gugup.


"Rasanya aku yakin pasti ada yang terjadi, tapi, jika kau tak bohong, masak iya?" Mia ingin tahu. Melody malah buka rahasia tanpa perlu ia goda.


"Sudah aku bilang kan pernikahanku dengan Yudha murni bisnis, aku bisa melunasi utang-utangku dan Yudha bisa menadi ahli waris Kazehaya Group."

__ADS_1


"Kalian tidur seranjang kan? Maksudku di kamar yang sama."


"Iya."


"Selama seminggu tidak terjadi apa-apa?"


"Ya begitulah."


"Seriusan? Iman Yudha kuat juga."


"Iman Yudha kuat? Memangnya kau mengharapkan terjadi apa, Mia?"


"Setidaknya kau dan Yudha segera memberikanku keponakan yang lucu dan imut."


Melody mendelik, lalu ia memukul kepala Mia dengan jambu biji yang ada di tangannya.


THUUUG.


"Akhhhh, sakit, Jenong!"


"Sembarangan, aku tidak tertarik melakukan hal-hal aneh dengan laki-laki macam dirinya itu!"


"Hmm, tidak tertarik apa belum tertarik?.. Kau itu berada di zona yang sangat danger, Melody. Sudah begitu, kau itu istrinya, sah pula secara hukum negeri ini. Kau pasti akan menggila setelah ini."


"Mia, aku semakin tidak mengerti dengan arah penjelasanmu."


"Kau tidak perlu mengerti kok. Kau akan paham sendiri kalau sudah mempratekannya. Hahaha.."


"Nani desuka?"


Nani desuka: Apaan?


"Sudah ah.. Oh iya, ternyata kau temannya Nao juga ya? Wah, kau tahu, Nao itu sepupuku loh. Ibunya Nao adalah bibi kandungku. Tapi karena ibunya Nao menikah dengan ayahnya Nao, marganya ikut ayahnya Nao, Namikaze. Bibiku itu awal marganya sama denganku, Hanazawa."


"Maji de?"


Maji de: Masak sih?


"Iya… Tuhan memang adil ya, mempertemukan kita semua. Bersyukurlah karena kau dinikahi Yudha kita bisa berkumpul seperti ini."


"Kami-sama arigato. Ya ampun, pantas saja kau dan Nao sama-sama cerewet. Berisik sekali kalian ini."


"Iya juga sih, semua Hanazawa emang rasanya cerewet ya. Haha. Kita selalu seria Melody."


"Hmm, yang penting tetap membawa suasana hangat."


Mereka berdua meminum jus yang diisediakan oleh pelayan rumah Kazehaya. Jika dua orang wanita bertemu rasanya dunia menjadi milik pribadi. Wanita itu memang suka sekali yang namanya curhat-curhatan. Dan anehnya, ada aja yang jadi bahan cerita. Rasanya juga tak pernah kehabisan topic pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2