MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bergerak


__ADS_3

Semua chapter up terbaru lama reviewnya. Sepertinya sistem memang sedang terganggu atau admin pada libur lebaran? Semua author pada mengeluh karena hal ini. Akupun termasuk. Tidak enak banget udah up tapi lama, giliran diacc, langsung beberapa chapter 😑😑. Parahnya, tidak tahu ini sampe kapan.


Aku sedang memikirkan transisi ke masalah berikutnya agar alurnya enak diikuti, eh ternyata lebih sulit dari yang aku bayangin. Tapi, aku sedang berusaha.


Untuk yang ke sekian kalinya, aku bilang ke kalian semua, ini adalah alur sinetron. 😂 Alur super lambat dengan banyak kata-kata. Jadi ya begitu dah lama dan bagi yang suka alur cepat akan terkesan berbelit-belit. Aku tidak bisa menulis dengan alur cepat, hasilnya akan kasar. Alurku pasti akan ikutan kacau.


Eh, aku ini ngomong apa sih? 😅 BTW, maaf untuk typo yang super banyak. Mata minusku sudah berusaha, tapi tetap tidak sempurna.


Etto, komen, like, share, ma vote masih selalu setia kutunggu 😉😉😉 Jangan pelit ya! Itu penting buatku.


________________________________________


Ruang makan..


Melody menyiapkan makanan yang ia masak dibantu oleh Yudha. Mia dan Shuhei ikutan gabung di ruang makan. Mereka duduk saling berhadapan di kursi dengan meja yang berbentuk lingkaran itu.


Makanan sederhana itupun mereka nikmati. Nasi, sup ayam, dan buah. Tidak ada menu lain seperti yang biasanya mereka makan. Rasa sup ayamnyapun tidak seenak buatan juru masak yang bekerja di rumah. Namun, Melody cukup berhasil membuat sup ayam yang enak. Mia dan Shuhei terlihat beberapa kali menambah.


Ini juga sudah terlalu malam untuk dikatakan makan malam. Meski begitu, perut yang kosong tetap harus diisi. Kegiatan seharian ini terlalu banyak menguras energi. Membuat diri melupakan kebutuhan dasar manusia, makan. Makan itu seperti pondasi untuk semua sistem dalam tubuh. Sesibuk apapun itu, entah itu masalah pekerjaan, aktivitas, maupun perasaan, tetaplah makan! Karena dengan makan, maka diri tidak tersakiti. Jangan suka menyakiti diri sendiri, itu terlalu kejam! Jangan mengkhianati diri, tetaplah bersyukur karena Tuhan masih memberi nafas hari ini.


.


.


.


Usai makan malam, Yudha dan Shuhei membahas pekerjaan di ruang tamu. Pembicaraan mereka cukup serius. Melody yang sedang cuci piring sesekali mengintip dari arah dapur. Cukup penasaran karena Yudha dan Shuhei terlihat sangat 'asyik' dengan pembahasan itu.


"Jadi tidak enak pada Yudha. Dia bahkan sampai harus membawa urusan pekerjaan ke sini demi memenuhi permintaanku. Jika belum usai, harusnya diselesaikan dulu dan datanglah esok hari. Namun dia tak melakukannya, dia memilih datang lebih cepat. Aku bahagia karena dia memikirkanku. Lebih dari itu, yang paling penting dia baik-baik saja."


"Segera gerakkan tanganmu, maka pekerjaan cuci piringnya akan cepat selesai! Setelah itu, kau bisa menghambur ke pangkuan Yudha dan bercumbu dengannya!" Celethuk Mia mengagetkan lamunan Melody.


"Iya aku mengerti, aku akan bercumbu dengannya setelah ini." Kata Melody ngawur.


"Astaga, sekarang sudah tak malu-malu lagi untuk bermesraan dengannya. Aku dan Shuhei tadi sampai bingung ketika mau ambil minuman di dapur."


Melody langsung memerah. Tak hanya Mia, bahkan Shuhei juga melihat apa yang tadi ia lakukan dengan Yudha di dapur. Ia dan Yudha hanya berciuman panas dan sedikit agak berani. Apa Mia dan Shuhei menyaksikannya sampai usai?


"Ah, itu, ano, a-haha.."


Mia memincingkan mata. "Kukira ada hantu apaan, tiba-tiba saja ada suara aneh di dapur. Ternyata oh ternyata, kau dan Yudha sedang bercumbu panas. Kenapa tidak langsung ke kamar saja jika sudah tidak tahan?"


"Salahkan Yudha! Dia yang mulai duluan!"


"Lah, meski dia yang mulai duluan, tapi kau malah yang begitu menikmatinya. Suara desahan sexymu tidak berbohong. Sebegitu hebatnya ya permainan Yudha itu? Hehh, mukamu bahkan sangat memerah." 😂


Mia menyukai Melody yang seperti ini. Malu-malu dan mudah digoda. Ia bersyukur, pernikahan sahabatnya itu sudah sampai ke tahap ini. Setidaknya ada rasa cinta dan saling membutuhkan di antara mereka berdua. Sepertinya, doa yang ia lantunkan pada Tuhan dikabulkan. Ia memang harus bersyukur.


"Jangan menggodaku lagi, Mia! Aku malu tahu, huh!" Pinta Melody.


Ia kembali tertawa. "Apa tadi kalian berniat melakukannya di dapur? Jika iya, aku pasti akan merekamnya untuk kenang-kenangan!"


Melody merah padam. Bagaimana Mia bisa memiliki pemikiran semesum itu?


Jika ia ingat, rasanya memang akhir-akhir ini semua berubah menjadi sangat mesum. Ia juga tak menyangka jika jiwanya memiliki sisi kemesuman yang besar juga.


"Dasar mesum! Awas saja kalau kau merekam hal yang tidak-tidak tentangku dan Yudha!"


"Yaelah, jika tidak mau direkam, lakukan di tempat tertutup! Di kamar kek, jangan di dapur seperti tadi! Setidaknya pikirkan kandunganmu, melakukan di dapur dengan posisi berdiri seperti tadi itu sangat berbahaya!"


"AKU DAN DIA TIDAK MELAKUKAN ITU!" Kata Melody keras.

__ADS_1


"MEL, ADA APA?" Tanya Yudha yang tiba-tiba mendengar suara keras Melody.


Melody menampakkan diri dan berkata pada Yudha jika dirinya baik-baik saja. Ia juga minta maaf karena sudah mengganggu obrolan penting Yudha dengan Shuhei.


"Sudah Mia, jangan menggodaku lagi! Yudha itu tahu pasti kondisiku, meski dia sangat menginginkanku, tapi dia tetap memilih berhati-hati demi kebaikanku dan kandunganku. Walaupun suka menggodaku dan bermain-main tidak jelas, tapi dia juga tahu batasannya. Dia tidak akan melebihi batasnya. Jadi tolong, sudahi imajinasi tidak jelasmu itu!"


"Haha, iya-iya, Nyonya Kazehaya. Kawaii.."


"Cih, apan sih?"


.


.


.


Usai mencuci piring dan membereskan dapur, Melody membuat kopi dan memberikannya kepada Yudha dan Shuhei.


Yudha melihat wajah memerah Melody. Membuatnya cukup khawatir.


"Kau demam?" Tanya Yudha. "Wajahmu memerah. Kau baik-baik saja?" Lanjutnya.


"Tidak kok, aku baik-baik saja. Ini silahkan diminum kopinya!" Melody memberikan kopi buatannya pada Yudha dan Shuhei.


"Terima kasih, Nona Melody." Kata Shuhei.


Yudha meraih tangan Melody dan mengisyratkan agar Melody duduk di sampingnya. Melody hanya menurut saja pada instruksi suaminya itu. Yudha kemudian memeriksa keningnya Melody menggunakan tangannya. Panas. Cukup panas terasa di tangan.


"Kau sakit, Mel. Kau harus istirahat! Shuhei, panggil dokter!" Kata Yudha.


"Aku hanya sedikit pusing. Shuhei-san tidak perlu memanggil dokter untukku." Kata Melody.


Yudha mengalah, rasanya juga tidak separah yang ia kira. "Shuhei, aku akan menemani Melody. Maaf, bisakah kau melanjutkan pekerjaan sendirian? File pembahasan ada di file setelahnya. Kau bisa mempelajarinya terlebih dahulu."


"Arigato na." Kata Yudha.


Yudha lalu memakaikan mantelnya ke bahu Melody dan memapah Melody menuju kamar yang ada di samping ruang tamu. Beruntung tempatnya tidak luas, jadi tidak perlu berjalan jauh menuju kamar. Sangat berbeda dengan kediaman Kazehaya yang ke kamar saja perlu banyak pengorbanan. Rasanya, pilihan kost sederhana seperti ini adalah yang terbaik.


Sesampainya di kamar, Yudha membantu Melody tiduran dan kemudian menyelimutinya. Ia lalu ikutan tiduran di sebelah Melody. Ia mendekap Melody.


"Tudurlah, sudah terlalu malam!" Kata Yudha pelan.


"Hm. Yudh.."


"Ya?"


"Punggungku sakit, bisa bantu pijat tidak?"


Yudha tidak menjawab dan langsung memijat pelan punggung Melody. Perjuangan ibu hamil pastilah sangat berat. Harus menjalani hari dengan beban di perut yang tidaklah enteng. Apa lagi ada dua kehidupan baru di sana.


Ini masih empat bulan lebih, bagaimana nanti di bulan-bulan berikutnya? Apakah Melody akan baik-baik saja?


"Yudha memang pandai memijat.." Kata Melody. Ia bahkan menyempatkan diri untuk tersenyum.


Semenjak hamil, ia mudah merasa pusing dan pegal-pegal di seluruh tubuh, apa lagi dirinya juga harus menjalani PKL yang cukup menguras tenaga. Mendapatkan pijatan seperti ini adalah yang terbaik, apalagi, Yudha yang melakukannya.


"Mulai sekarang aku akan menjadi tukang pijatmu! Katakan padaku jika kau merasa pegal dan lelah! Aku pasti akan memijatmu!" Kata Yudha.


"Biasanya kesal jika dikatai tukang pijat."


"Tapi kalau sekarang aku menyukainya, aku jadi bisa pegang-pegang tubuhmu."

__ADS_1


"Jiah, ada maunya toh?"


"Tentu saja!" Yudha lalu mendaratkan kecupan di kening Melody.


Melody mengeratkan pelukkannya pada Yudha.


Yudha tersenyum tipis. "Sebegitu kangennya ya sama diriku? Sampai memeluk seerat ini."


"Yudha jangan berhenti memijat!"


"Iya-iya." Yudha lanjut memijat punggung Melody yang sempat berhenti. "Hei Mel, jika kau memelukku seerat ini, anak-anak jadi terhimpit."


Melody kemudian melonggarkan pelukkannya. Ia lalu terkekeh pelan. Benar juga kata Yudha, tapi anak-anaknya kan juga merindukan ayahnya.


"Sudah memeluknya?" Tanya Yudha.


"Yudh, coba pegang perutku!" Pinta Melody.


Yudha melakukan permintaan Melody. Ia memegang perut Melody. Ini perasaannya atau bukan, tapi ia merasa perut Melody lebih besar dari terakhir ia memegangnya. Lalu apa ini? Ada gerakan lembut terasa di tangannya.


Yudha lalu menatap Melody yang tengah tersenyum kepadanya.


"Ya, bergerak! Mereka bergerak, Yudh.." Kata Melody.


Yudha langsung ikutan tersenyum mengetahui hal itu. Ia bangkit dari tidurannya dan menggunakan kepalanya untuk merasakan gerakkan kecil dari anak-anaknya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Melody mengelus rambut Yudha. Suaminya bisa menjadi sangat manis hanya dengan mengetahui gerakkan kecil anak-anaknya. Jika saat ini ia memegang ponsel, makan ia ingin mengabadikan moment ini.


"Mereka benar-benar bergerak, Mel! Mereka bergerak!" Yudha heboh sendiri.


Lucu.


Seperti anak kecil.


Melody bersyukur, dengan hal ini ia bisa tahu betapa Yudha sangat menginginkan anak-anaknya. Awalnya ia sempat berpikir jika anak-anaknya ini akan menjadi beban untuk Yudha. Namun salah, Yudha begitu menikmati setiap moment kehamilannya.


Usai 'bermain' dengan anak-anaknya, Yudha lalu kembali mencium kening Melody. Mencium kening Melody memang sangat indah. Ada kebahagiaan tersendiri di sana. Namun tidak lengkap jika ia tidak melanjutkan ciumannya ke bibir Melody.


"Kau tega mau tidurin aku yang sedang kurang sehat, Yudh?" Tanya Melody.


"Aku ingin tega, tapi tidak bisa. Tidurlah dengan santai, aku tidak akan macam-macam padamu!" Kata Yudha.


"Tidak akan pegang-pegang juga, kan?"


"Tidak."


"Janji."


"Iya, aku berjanji. Paling sedikit kalau aku tak tahan."


"Jiah, memang tak bisa diharapkan."


"Aku laki-laki, Mel. Tidur denganmu itu butuh perjuangan!"


"Lebay."


"Biar. Sudah, cepat pejamkan matamu dan tidur!"


Melody mengangguk dan berusaha memejamkan mata.


Dua puluhan menit berlalu, setelah memastikan Melody benar-benar tertidur, Yudha bangun dari tidurannya dan ke luar kamar menuju ruang tamu.

__ADS_1


Namun rupanya Melody tak tidur sungguhan, ia hanya pura-pura tidur. Ada hal yang begitu menyeruak di hatinya. Begitu mengganjal dan tak bisa ia abaikan. Membuatnya kesulitan untuk pergi ke alam mimpi.


"Apa yang kau maksud dengan Alvin-senpai yang mencoba memberontak, Yudh?"


__ADS_2