MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Stemple Kepemilikkan


__ADS_3

Jika kurang nyaman, silahkan bacanya habis maghrib ya. Tidak ada adegan kotor. Cuma mungkin emosi rada kebawa.


________________________________________


Masih di tempat yang sama, taman kota...


MELODY’S POV.


Aku masih di sini, di taman kota Tokyo. Masih dalam posisi yang sama pula. Duduk sendiri di kursi taman yang menghadap ke danau buatan di depanku.


Maaf Ayane-nee, aku mengusirmu tadi. Bukan maksudku seperti itu. Tapi aku sungguh ingin sendiri saat ini. Terima kasih untuk ice creamnya. Tadi sangat memalukan bagaimana aku muntah-muntah dengan menjijikannya dan kau membantuku. Aku tak bisa membiarkanmu melihatku yang seperti ini. Gomen..


.


.


.


Suasana taman cukup sepi.


Siapa juga yang ingin mati di tengah hawa dingin ini? Ah, itu berlebihan. Tapi sungguh, siang ini memang cukup dingin. Lebih dingin dari hari kemarin. Benar, sebentar lagi musim dingin.


Ah musim dingin ya?


Aku ingin melihat salju. Aku ingin membuat boneka salju dan main lempar salju.


Siapa yang ingin aku ajak main? Ayane-nee? Shuhei-san? Dengan kekuasaan, pasti mereka mau menemaniku.


Ahh, Lebih baik tidak usah jika itu bukan dari hati. Haaah.


Aku menoleh kearah Ayane-nee, sedari tadi pagi dia terus bersamaku. Dia sangat sabar menanggapiku yang super kesal dan merepotkan ini. Aku tahu dia pasti sangat kerepotkan menanganiku. Mungkin saja ia merasa jenuh denganku atau ingin menyumpal mulut kasarku.


Mungkin Ayane-nee juga lelah denganku, tapi nyatanya ia tetap di sini bersamaku, aku harus bersyukur. Sungguh, aku tahu jika Ayane-nee adalah orang yang sangat baik.


Dia bahkan membantu membersihkan muntahanku di mobil. Sebelumnya aku muntah lagi? Ya seperti itulah. Perutku memang sangat tidak nyaman. Terasa pahit juga di lidah. Sepertinya asam lambungku naik mengingat aku tidak jelas makan apa akhir-akhir ini.


Sial, tadi muntahanku sangat banyak lagi..


Maaf, sedikit jorok memang, tapi aku tadi mabuk di mobil. Semalam aku terlalu banyak minum dan tadi pagi melupakan sarapanku, ditambah aku sering makan tidak jelas. Aku ini memang bodoh dan ceroboh. Aku harus berterima kasih padanya. Dia adalah pelayan sekaligus sosok seperti kakak buatku.


Ayane-nee, terima kasih banyak ya..


.


.


.


Aku merasa tidak enak badan sudah sejak dua mingguan yang lalu. Meski tergolong ringan, tapi jika pusing mendera, rasanya seperti dunia ini mutar-mutar tak karuan. Membaik, memburuk lagi. Begitu selama dua minggu terakhir. Aku sudah ke dokter, aku juga sudah minum obat, rasanya tidak ada perubahan.


Terhitung sudah dua kali aku berobat di 2 rumah sakit berbeda.


Jika kata Mia benar, apa sesungguhnya aku ini memang terlalu banyak memikirkan Yudha?

__ADS_1


Aku ingin berkata wajar, tapi ini sungguh tak wajar. Aku memang memikirkan suamiku itu. Dia adalah orang jahat.


Sangat jahat!


.


.


.


Bagaimana dia bisa MEMPERKOSA ISTRINYA SENDIRI, HAH?


CIH, SIAL. Aku akhirnya tak bisa menahan unek-unek bebal di otakku ini. Aku tak tahan sedari tadi terus menahannya.


Aku meneteskan air mata lagi.


SAKIT SEMUANYA. SEMUANYA SAKIT!


Yudha jahat, gila, tidak waras, egois, kejam! Hanya protes seperti ini yang bisa aku layangkan padanya seharian ini.


Ini memang bukan pertama kalinya dia menyentuhku. Sebelumnya di Okinawa dan rumah ibu, kami pernah melakukannya. Tapi beda dengan semalam, aku enggan melakukannya, namun dia memaksaku melakukannya.


Aku bahkan tidak pernah memiliki pemikiran dalam situasi yang kalut seperti ini akan melakukan hubungan sex dengannya. Aku sudah menolak dengan baik-baik, tapi dia tidak memberikan sedikitpun ruang untukku menyanggahnya.


Aku sudah memohon, bahkan menangis tersedu-sedu, tapi dia seolah tuli dengan tangisanku. Dia tidak menghiraukan suaraku, jeritan penolakanku, permohonanku. Dia tetap melakukan hal yang begitu keji kepadaku.


Jika bukan pemerkosaan, lalu namanya apa?


Dia melakukannya dengan sangat kasar, dia tidak kenal ampun. Dia juga merobek pakaianku. Meski aku berteriak kesakitan, dia tidak peduli. Dia menuli akan suaraku. Dia membuta akan air mataku.


Tentu saja sakit bukan main..


Aku bahkan masih bisa merasakan nyeri di sekujur tubuhku.


Hatiku justru jauh lebih sakit. Karena itu dari Yudha, karena ulahnya, karena itupula aku merasa semakin sakit.


.


.


.


Aku mengambil beberapa kerikil kecil di dekatku. Kotor. Aku tahu itu, tapi tak apa. Aku menggenggam kencang kerikil itu.


Ada apa denganmu, Yudha?


Aku sungguh tidak mengerti bagaimana jalan pikiranmu. Aku tak tahu apa isi kepalamu. Aku sungguh tak paham akan dirimu.


Kita bertengkar karena masalah Amamiya-san, kita berjauhan. Jika bertemu yang ada hanya selisih pendapat dan debat. Lalu, kenapa kau melakukan itu padaku? Kenapa kau bisa menyentuhku dengan cara kasar seperti semalam?


*Aku memang istrimu, kaupun memiliki hak akan hal itu padaku. Tapi kisah kita berbeda, kau tidak mencintaiku, dan akupun.. aku.. aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku kepadamu.


Kenapa kau malah menyentuhku*?

__ADS_1


Aku membuka genggaman kerikil di tanganku, lalu dengan tenagaku yang melemah, aku melemparnya ke arah danau. Dan plugg, kerikil-kerikil itu menciptakan bulatan-bulatan indah saling bertabrakkan di air permukaan danau.


Kau anggap aku ini apa, Yudha? Apa karena aku adalah istrimu, lalu aku harus siap melayanimu? Kapan saja dan dimana saja?


Itu memang tidak ada dalam syarat dari pernikahan bisnis kita, tapi aku memang hanya memiliki tubuh untuk bisa membalas budi kebaikan keluargamu. Namun, haruskah dengan cara kasar seperti semalam?


Kuharap itu hanya mimpi buruk, Yudha. Tapi sakitnya masih terasa sampai saat ini. Lebih sakit lagi karena kau bahkan tidak mengucapkan kata maaf padaku.


Yudha...


Aku ingin tahu apa yang kau rasakan semalam. Apa yang kau pikirkan semalam saat kau menyentuhku.


Bukankah kau memiliki rasa pada Amamiya-san?


Kau menyentuhku sambil memikirkannya?


Ban9sat! Aku aku ingin melempar batu yang lebih besar lagi! Aku ingin melempar Yudha ke danau itu! Bodoh! Bodoh! Bodoh!


Katakan Yudh, apa saat kau menyentuhku semalam kau memikirkannya?


Apa benar dugaanku itu, Yudha?


Apa benar seperti itu?


Jika iya, sungguh, itu terlalu kejam buatku, Yudha. Namun aku paham, itu juga sulit buatmu.


Meski aku memilki dugaan seperti itu, tetap saja aku masih belum mengerti dirimu. Semalam begitu melelahkan. Begitu menyesakkan. Aku sulit membaca arah pikiranmu. Kau mengeluarkan kata-kata yang sulit aku mengerti. Sulit aku cerna. Memikirkannya sampai saat ini justru membuatku semakin pusing.


Kau membuatku tak bisa tidur karena memikirkannya. Apa karena aku ini bodoh, maka kau melontarkan kata-kata yang sesungguhnya tak memiliki arti?


Jika itu tak berarti, lalu kenapa dengan ekspresi wajahmu semalam? Kau begitu lantang mengucapkannya, suaramu begitu jelas memekik di telingaku.


.


.


END OF MELODY’S POV


.


.


.


“Kau harus paham Melody, siapa yang memilikimu!” - Kazehaya Yudha.


________________________________________


Genks, ojo lali jempolnya biar popularitasku naik. Ini penting bgt buat keberlangsungan novelku. Aku masih stuck di level 7 😭😭😭😭


Masak aku kudu bikin yg bnyk adegan sexnya? Kan gak mungkin! Itu bukan gayaku! Aku lebih suka murni cerita, bukan fanservice! 😑 Lagian, kasihan yg di bawah umur.


So, please nyempetin likenya. Bagus lagi nambah komen 😅

__ADS_1


Thanks


__ADS_2