
"Yudha?" Melody terlihat bosan menunggu jawaban dari Yudha. Ia lantas mengambil jus jambu bijinya dan meminumnya.
"Kau mau melakukannya?" Kata Yudha.
BRRUUAAKKHHH
"Uhuk uhuk uhuk.. uhuk.. uhuk." Melody terbatuk-batuk karena tersedak minumannya saat mendengar pertanyaan Yudha. Ia kaget bukan main.
Melakukannya?
Maksudnya.. itu.. err.. itu.
"Kau menjijikan, Melody!"
"Gomen.. uhuk.. uhuk.. gomen."
Yudha merasa kasihan dengan Melody yang terlihat cukup kesakitan karena tersedak minumannya. Dengan cepat Yudha menyambar jus tomatnya dan memberikannya kepada Melody. Melody menerima itu dan meminumnya dengan cepat.
Ciuman tidak langsung? XD
"..."
"Merasa jauh lebih baik?" Tanya Yudha.
"Ah, arigato Yudha."
"Sama-sama. Lagian kenapa kau bisa sampai seperti itu? Aku hanya bertanya! Heboh amat sih?" Kata Yudha.
Bagaimana tidak heboh? Enak saja Yudha berkata enteng seperti itu. Pertanyaan ini itu tidaklah sederhana yang hanya bisa dijawab ya atau tidak. Perlu alasan kuat mengikutinya.
"Iya, tapi pertanyaan seperti itu bisa keluar dengan entengnya dari bibirmu! Bagaimana aku tidak kaget?" Kata Melody. Sumpah, tenggorokannya terasa sakit sekali.
Tersedak itu menyakitkan. Ia bahkan kembali terbatuk-batuk kali. Sepertinya ada jus tomat yang masuk ke dalam hidungnya. Hidungnya kini ikutan perih seperti saat ia gagal berenang dan hampir tenggelam.
"Tinggal jawab apa susahnya sih? Mau tidak melakukannya denganku? Dengan begitu aku mudah mencari cara menghindari permintaan ibuku." Kata Yudha.
"TIDAK!" Jawab Melody lantang.
Tentu saja ia tidak mau. Yudha memberi pertanyasn yang tak memaksa untuk membias pada satu pilihan. Maka dari itu, tidak adalah pilihan yang paling ia inginkan saat ini.
"Baguslah, dengan begitu, kita bisa berpura-pura jika kita sudah melakukannya dan belum juga dikaruniai anak." Kata Yudha.
"Jadi maksudmu aku harus ikut berpura-pura denganmu, Yudha?" Tanya Melody.
"Ya seperti itulah." Jawab Yudha.
"Tidak!"
__ADS_1
"Tidak?"
Kini Yudha yang menjadi bingung. Jadi Melody mau melakukan itu dengannya?
"Kita sama saja dengan membohongi orang tua kita, Yudha." Jelas Melody.
Bagi Melody, sebagai wujud bakti anak kepada orang tuanya, maka berbohong ada di list atas yang tidak boleh dilakukan oleh anak kepada orang tuanya.
Ah, bohong rupanya. Yudha mengerti arah pembicaraan Melody. "Lalu apa kau memiliki ide lebih baik dari itu?" Tanyanya.
"Sore wa… nai!"
Sore wa nai: Itu tidak ada.
Yudha menatap intens mata Melody. "Kau saja tidak tahu. Dengar Melody, aku tahu ini agak canggung untuk membahas hal-hal seperti ini. Tapi untuk saat ini, akupun juga sama denganmu, aku tak begitu mengerti, jangankan itu, aku tak tertarik dengan hal-hal seperti itu, walau aku normal, namun untuk saat ini, aku belum begitu membutuhkannya. Ah, bagaimana menjelaskannya?"
Melody tahu, Yudha juga kesulitan membahas hal seperti ini dengannya. Canggung! Sudah pasti, kan? Mereka tidak saling memiliki rasa dalam konteks romance, tapi disuruh seperti itu.
Mereka normal, tapi mereka masih memiliki akal sehat dan hati yang selalu ingin berperan.
Melody menatap teduh Yudha. Ia iba melihat Yudha yang cukup kesulitan membahas hal seperti ini dengannya.
"Sudah Yudha, tak apa, kau tak pelu menjelaskannya! Aku paham kok, aku mengerti. Toh kita masih muda. Lagian, kita juga tidak saling mencintai, kita menikah karena kita memiliki kepentingan masing-masing. Aku tidak ingin menciptakan kecanggunggan di antara kita karena membahas topik ini. Jadi, biarkan saja seperti biasanya! Aku yakin, lambat laun, ibu mertua pasti akan melupakannya." Kata Melody.
"Kau benar, gomen na, Melody. Kau harus mengalami hal seperti ini." Ucap Yudha.
Semenjak mereka saling berjabat tangan untuk memerankan perannya masing-masing, sedikit demi sedikit Yudha mulai mengerti Melody dan lebih bisa berekspresi. Yudha bahkan mulai bisa mengucapkan maaf untuk mengekspresikan rasa khawatirnnya pada orang lain.
Melody menggeleng. "Hmm, tidak apa-apa, Yudha. Kau mau menyapaku, mengajakku bicara saja, aku sudah senang. Rasanya aku seperti mendapatkan teman baru."
Yudha tersenyum tipis dan mengacak-acak rambut Melody. "Jadi benar, kau memang sangat jelek, Melody."
Melody menyingkirkan pelan tangan Yudha dari kepalanya. "Aku tahu, aku ini jelek dan tidak cantik sama sekali."
"Marah?"
"Tidak!"
"Tapu cemberut seperti itu."
"Hanya kesal."
"Marah dan kesal sama saja, Mel."
"Beda. Itu beda level!"
"Laah.."
__ADS_1
😁😁
Mereka kembali saling mengobrol. Tidak tahu apa yang membuat mereka berdua seperti itu. Seolah kecanggunggan karena topik pembicaraan mengenai permintaan ibu Mikan sudah berlalu.
Hanya obrolan ringan dan diselingi candaan jail mereka. Ya, biasa, bertengkar lebay ala Melody dan Yudha.
Saking banyaknya cerita yang tak jelas apa topiknya, membuat mereka lupa waktu. Mereka tak menyadari jika hari semakin larut saja.
Hembusan angin malampun semakin menusuk kulit. Menyelimuti dengan hawa dinginnya. Membuat tubuh terasa semakin kaku jika bersandar di posisi yang sama.
"Udara semakin dingin." Kata Melody.
"Aku tahu."
"Hah, ayo masuk! Aku tidak mau terkena masuk angin!" Ajak Melody.
"Jika kau terkena masuk angin, maka aku akan tertawa." Celetuk Yudha.
"Haiiishhh, kau orang yang jahat ya."
"Baru tahu?"
"Aku serius, Yudha. Tak hanya aku yang akan sakit, mungkin kau juga. Jika itu terjadi, maka itu akan merepotkan."
Mereka itu tinggal sekamar, jika salah satu di antara mereka terkena virus dan sakit, maka satunya juga akan tertular.
"Kalau begitu jangan sakit, Melody!"
Kata Yudha serius.
Melody tersenyum kembali. Sudah berapa kali ya ia tersenyum karena Yudha? Banyak juga.
Yudha memang seperti itu orangnya. Kaku dan tak begitu bisa menampilkan banyak ekspresi. Tapi 2 minggu lebih ia mengenal Yudha, sedikit demi sedikit ia mulai bisa memahami karakter Yudha.
Yudha itu rupanya perhatian juga dengannya. Yudha menjadi lebih sering meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ia alami. Apakah bukan suatu hal yang berlebihan jika ia menarik kesimpulan jika Yudha itu peduli dengannya?
Rasanya menyenangkan bukan?
Melody mengakuinya!
Hening malam itu mengantar pasangan pengantin baru menuju alam mimpi mereka. Dengkuran lirih terdengar samar-samar. Menciptakan alunan melodi halus yang memecah keheningan malam. Dua insan manusia yang tak dimabuk cinta, terikat dalam jalinan ikatan suci pernikahan. Mereka masih muda. Mereka masih buta akan cinta. Mereka menikah karena terpaksa. Mereka harus hidup bersama.
Mereka, Yudha dan Melody.
Tidur saling membelakangi sudah biasa mereka lakukan. Menyisakan ruang cukup lebar dalam dekapan. Menciptakan jarak yang memisahkan. Dua tubuh muda yang terasa berjauhan. Bukan apa, bukan tanpa tujuan. Apa lagi alasan.
Kadang memang demikian.
__ADS_1
Jika hidup mereka hanyalah ciptaan. Bukanlah hati yang berkeinginan. Berat dan penuh kecanggunggan. Meski wajah pandai menyembunyikan. Hanya saja, emosi terasa kelabakan. Mengobrak-abrik berkesinambungan.
Ini impian atau khayalan? Tanpa sekat yang kelihatan. Biar Tuhan yang menentukan dan waktu yang memberi jawaban.