
Kamar istirahat Melody...
Suasana kemelut dan penuh rasa engap menyelimuti Melody, bahkan Aron juga tak bisa menyembunyikan rasa tak menentunya. Ini seperti lagi santai kenapa ada yang tega mengirimi benda menakutkan seperti itu?
"Aron-san, aku ingin melihat tangan itu! Sesuatu sangat aku kenali." Kata Melody. Sungguh, apa yang tadi sekelebatan ia lihat sangat nyantel di otaknya. Ia mengenali sesuatu dari penghilatannya yang super sangat sekilas itu.
Oke, bahasanya memang berlebihan.
"Anda yakin Anda kuat? Anda baru saja muntah-muntah, Melody-sama." Tanya Aron. Ia khswatir. Bukankah Nona Mudanya ini tadi langsung mual-mual dan muntah-muntah saat melihat isi dari paket itu?
Ini adalah benda mengerikan. Sangat mengerikan. Setelah melihat Nona Mudanya ini ketakutan, tak mungkin ia membiarkan Melody kembali ketakutan, kan? Meski dirinya itu hanya seorang pengawal, tapi tetap saja, sisi manusianya juga sangat khawatir. Bagaimana pun, ia juga paman angkat Yudha yang mana di hadapannya ini adalah istri dari keponakannya yang harus senantiasa ia jaga bahkan sampai memepertaruhkan nyawanya juga.
"Apa Anda kuat? Tadi Anda kaget dan terkejut saat pertama kali melihatnya." Kata Aro yang ingin memastikannnya sekali lagi.
"Ya." Melody nampak serius. "Aku ingin melihatnya, Aron-san. Ada sesuatu yang harus aku pastikan dari potongan tangan itu." Lanjutnya.
"Baiklah jika Anda memaksa. Saya akan menunjukkan potongan tangan ini kepada Anda." Aron pun memperlihatkan potongan tangan itu kepada Melody.
Melody langsung meneteskan air matanya. Ia kembali harus bersusah payah menahan gejolak perutnya yang mual dan ingin muntah. Diambilnya tisu dan ia gunakan untuk menutup mulutnya. Ini untuk jaga-jaga jika ia akan muntah lagi.
"Melody-sama, ada apa? Anda baik-baik saja? Kenapa Anda menangis?" Aron melihat Melody yang sangat buruk apa lagi diiringi dwngan air mata.
Apa yang menyebabkan Melody menangis? Ada sesuatu di dalam potongan tangan itu?
"Di jari manisya, itu cincin pernikahanku dengan Yudha." Tangis Melody.
Badannya melemas. Rasanya seperti kehilangan seluruh kekuatan otot-otot tubuhnya. Rasa yang sama seperti ketika ia ingin pingsan.
Aron dengan cepat meletakkan kotak paket itu dan meraih Nona Mudanya ini. Ia membantu Melody duduk. Ia memberi Melody minuman hangat sisa makan malam tadi.
"Melody-sama, Anda harus lebih memperhatikan diri Anda! Jika Anda tak yakin kuat, jangan mencoba-coba untuk menghadapinya! Bagaimana jika hal yang buruk menimpa Anda? Bagaimana saya harus menatap Yudha-sama jika terjadi hal buruk menimpa istri kecilnya ini?" Omel Aron.
Ini pertama kalinya Melody terkena omelan dari Aron. Ia baru tahu jika Aron bisa secerewet ini. Apa memang ini sifat asli Aron? Ataukah, karena dirinya sedang hamil jadi harus diperlakukan berbeda? Bukankah juga selama ini yang selalu Aron jaga itu laki-laki semua? Kakek Wijaya dan suaminya, Yudha.
"Maafkan aku Aron-san, maaf! Lain aku akanebih berhati-hati lagi." Kata Melody.
Aron mengerti memang tak seharusnya ia memarahi Nona Mudanya ini juga. Ia akui dirinta ini sudah berlebihan. Terlalu khawatir juga perlu batas rupanya. Melody namlak ketakutan padanya.
Lalu, sungguhkah itu cincin penikahan Melody dengan Yudha? Kalau tak salah ingat, bentunya memang sama dengan cincin lamaran yang ia gunakan dulu untuk melamar Melody. Mata dan ingatannya pasti belum seburuk itu untuk melupakan cincin lamaran itu yang ia ambilnya dari toko setahun yang lalu. Ia sendiri yang memesan cincin lamaran itu di sebuah toko mas paling terkenal di Jepang.
"Saya sudah meminta pihak hotel untuk membersihkan muntahan ini. Anda jangan terlalu banyak pikiran! Tolong tenangkan diri Anda!" Kata Aron yang ikut khawatir karena melihat kondisi Melody yang tak stabil.
Potongan tangan itu, terhitung dari pergelangan tangan. Itu adalah potongan tangan kiri dengan sebuah cincin di jari manisnya. Potongan tangan yang membuat Melody gemetar dan kaget bukan main. Wajahnya pucat pasi, tak hanya syok, tapi juga ketakutan.
Bagaimana di malam yang indah ini, ada orang yang tega mengirimi Melody potongan tangan? Tidakkah itu sangat mengerikan?
Ini bukan prank, kan?
Aron yakin jika potongan tangan yang tadi ia lihat itu adalah asli. Itu adalah tangan asli! Darah yang mengering pun juga asli! Bau anyir darahnya masih ada! Ia juga merasa mual jika harus berlama-lama menatap potongn itu.
Lalu ia kembali teringat soal cincin yang ada di jari manis tangan yang terpotong itu. Inimembuatnnya was-was dan sangat khawatir.
Itu sungguh mik Yudha? Jadi itu adalah potongan tangannya Yudha?
"Maafkan aku, Aron-san. Maaf karena membuatmu tak nyaman dengan muntahanku." Kata Melody.
"Tidak apa-apa, Melody-sama. Ini bukanlah salah Anda... Apa Anda sudah merasa lebih baik?" Tanya Aron.
"Ya. Sehabis minum teh hangat, perutku menjadi lebih nyaman. Terima kasih banyak, Aron-san."
"Sama-sama, Melody-sama."
__ADS_1
Melody kembali memibum teh hangatnya. Ini sudah cangkir keduanya. Ini pertama kalinya pula ia meminum teh hangat lebih dari satu gelas. Melody tidak membenci teh, ia hanya lebih suka jus buah seperti jus jambu biji. Atau jika saat ini, ia sering meminum jus tomat kesukaan Yudha. Just tomat yang saat ini malah membuat Yudha mual-mual.
Ngidam yang terbalik. Itu kata orang terhadapnya.
"Apa Aron-san sudah mengabari Tuan Nakamura? Aku pikir beliau perlu tahu akan hal ini." Tanya Melody.
"Saya tadi sudah menghubunginya. Beliau bilang untuk merahasiakan hal ini, beliau yang akan mengurusinya." Jawab Aron.
"Baiklah, kita serahkan ini pada Tuan Nakamura saja. Aku penasaran siapa orang yang mengirimiku hal sekejam ini. Mereka pasti sudah gila. Apa lagi sampai menyusup ke pesta yang sifatnya cukup privat ini. Anehnya, bisa tahu aku ada di sini, di dalam salah satu kamar dari sekian banyak kamar yang ada di hotel. Aneh bukan? Apa pengirimnya salah satu dari tamu pesta?" Cerocos Melody panjang lebar.
"Itu kemungkinan yang masuk akal, Melody-sama. Hal itu memang bisa terjadi. Saya akan mengurus si pengirim yang memakai pakaiaj cleabning service itu. Anda jangan nenghawatirkannya berlebihan!" Kata Aron. Melody hanya mengangguk setuju. "Lalu, Melody-sama, berhubung itu adalah cincin pernikahan kalian berdua, jadi apa tangan itu milik Yudha-sama?" Lanjut tanya Aron penasaran. Ia ingin memastikannya.
Aku yakin seyakin-yakinnya, potongan tangan ini bukanlah tangan Yudha. Meski cincinnya itu benar, milik Yudha, tapi ini bukan tangan Yudha. Aku sangat mengenali bentuk dan rupa tangan suamiku."
Rulanya Melody juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Itu memang sepertinya bukanlah tangan milik Yudha. Itu beda.
"Saya pun juga berpikir demikian, Melody-sama. Tangan itu jauh lebih besar dari tangan Yudha-sama. Namun bukan masalah itu tangan milik siapa, tapi arti dari kiriman paket itu. Anda paham kan kemana maksud saya?"
"Ya, saya paham, Aron-san. Mereka mencoba mengancamku. Aku yakin, setelah ini akan ada permintaan dari mereka yang mana jika aku menolaknya, kemungkin mereka akan mengirimu tangan asli milik Yudha atau jika tidak, bisa saja mereka akan mengirim mayat Yudha."
"Jika sampai mengancam mengirim mayat, saya yakin, permintaan mereka sangat besar seharga nyawa Yudha-sama. Apa yang akan Anda lakukan, Melody-sama?"
Melody berpikir sejenak. Pikirannya sangat ruwet saat ini. "Jika aku memiliki saham tertinggi Emperor Group, apa aku bisa menguasai Emperor Group?" Tanya Melody.
"Apa Anda ingin memiliki kekuasaan?" Tanya Aron.
Tentu saja tidak ingin. Bagi Melody memiliki kekuasaan itu sangat berat dimana nyawa menjadi taruhannya.
"Jika kekuasaan itu bisa digunakan untuk menyelamatkan Yudha, maka aku akan dengan senang merebut kekuasaan itu dari Alvin."
"Namun meski Anda memiliki saham tertinggi pun, semua tak bisa begitu saja menjadi milik Anda. Apa lagi saat ini, orang-orang yang berada di pihak Alvin-sama itu kuat-kuat dominasinya di Emperor Group. Anda akan sulit masuk meski untuk sekedar mengutarakan pendapat Anda." Jelas Aron. "Lain halnya dengan saham yang sangat tinggi. Yang tingginya jauh di atas Alvin dan Tuan Besar. Walau itu terkesan tidak mungkin. Saham Yudha-sama ditambah milik mereka yang pro dengan Yudha-sama saja tidak bisa menyamai milik Alvin-sama." Tambah Aron.
"Jika aku memiliki Emperor Group, bagaimana?" Melody mengandai-andai asal. Tapi Aron menanggapinya dengan serius. Ia jadi ingin membahasnya.
Memiliki Emperor Group?
"Ibu Mertua bilang jika ada surat wasiat yang ditinggalkan ayah mertua, semua tidak ada yang tahu apa isinya itu. Namun yang jelas, kepemilikan Emperor Group akan diwariskan kepada dua keturunan ayah mertua. Yudha atau Alvin. Surat itu akan dibacakan tanggal 23 Juli pas ulang tahun Yudha. Aku berasumsi, jika isi surat wasiat itu diincar oleh mereka. Satu, Shuhei adalah pemegang stempel akun bank Swiss yang mana surat wasiat itu di simpan. Kedua, dia menghilang... Ini sudah sangat jelas apa yang mereka incar. Emperor Group dan seisinya!" Jelas Melody. Ia mengutarakan apa yang harus ia utarakan. Otaknya dipenuhi banyak pemikiran-pemikiran yang ruwet dan sangat rumit.
Sungguh, itu sangat melelahkan. Benar-benar sangat mennguras tenaga. Apa lagi tabla Yudha di siainya, semua menjadi berat.
"Dugaan Anda benar, Melody-sama. Mereka memang mengincar stempel itu untuk memanipulasi isi surat wasiat. Ini memang anti mainstream. Namun, sulit bagi mereka menumbangkan dominasi Emperor Group hanya dengan bersaing secara legal dan sehat. Kita hanya bisa berharap jika Shuhei bisa mengamankan stempel itu dan dia bisa mengambil dokumen yang tersimpan di bank Swiss." Kata Aron.
"Surat wasiat memang penting, tapi ada yang lebih penting lagi dari itu. Aron-san sudah tahu, kan?" Melody nampak serius.
"Saham 30% misterius yang menjadi legenda Emperor Group." Kata Aron yang paham arah pembicaraan Melody.
"Ya. Saham 30% itu menjadi incaran banyak orang. Alvin, Tuan Han, atau para pemegang saham lain, termasuk Yudha. Mereka mengincar saham milik anonim itu. Jika saham 30% itu bisa didapatkan, pemilik Emperor Group pasti hanya sebuh nama di atas kertas. Ini adalah incaran asli mereka!"
Aron memberikan sebuah kertas pada Melody yang ia dapatkan terselip di kotak paket berisi potongan tangan itu.
"Apa ini, Aron-san?" Tanya melody.
"Bukalah, ini semua berhubungan." Kata Aron.
Melody pun membuka secarik kertas itu dan ia membacanya. Ia melebarkan kedua matanya.
"Serahkan saham 10% milik Yudha atau Yudha mati."
Begitulah isi pesan singkat yang ada di dalam secarik kertas itu.
Melody tertawa dengan sangat keras. Membuat Aron mengernyitkan alisnya. Ia tak menyangka jika Nona Mudanya ini bisa tertawa semengerikan ini.
__ADS_1
"Hahaha, sudah jelas! Semua sudah jelas. Semua petaka ini hanyalah soal saham. Hanya soal perebutan saham! Mungkin orang akan menanggapinya biasa, tapi harga saham untuk Emperor Group itu memiliki harga yang sangat tinggi dimana, satu lembar saham saja seharga 4 gr mas murni. Uang dan kekayaan melimpah tujuh turunan tanpa kerja bisa didapatkan hanya dengan memiliki beberapa persen saja dari saham Emperor Group... Bagaimana bisa semua menjadi mengerikan hanya karena saham? Dendam memang mengawalinya, tapi godaan tahta dan harta lebih mendominasi. Kumpulan orang-orang munafik yang bisa dibeli dengan uang." Kata Melody panjang lebar.
"Jadi, apa rencana Anda setelah ini, Melody-sama?" Tanya Aron.
"Kita abaikan dahulu ancaman dari mereka! Kita fokus mencari siapa pemilik saham 30% misterius itu! Jika kita tidak bisa membelinya, setidaknya kita membujuknya untuk berada di pihak kita, di pihak Yudha. Dengan kekuatan saham 30% miliknya, Emperor Group bisa di bawah kendali kita. Kakek pasti tak diragukan lagi jika dia akan berpihak pada Yudha.. Setelah kita mengendalikan Emperor Group, kita basmi mereka yang menghianati Emperor Group dari dalam!" Kata Melody.
"Berarti kita harus segera mengambil dokumen-dokumen yang ada di bank Swiss itu?" Tanya Aron.
"Ya. Kita harus mengambilnya. Termasuk surat wasiat itu. Kita harus menempatkannya di tempat yang lebih aman sampai dibacakannya isi surat itu nanti pada ulang tahun Yudha."
Aron bangga pada Melody. Ini situasi yang sebenarnya membuat Melody tertekan, tapi wanita hamil ini lebih kuat dari yang ia duga.
"Anda selangkah lebih maju, Melody-sama." Kata Aron.
"Ini hanya karena aku sudah lelah dan ingin menyudahi semuanya, Aron-san. Aku ingin ketika anakku lahir nanti, dunia yang ia lihat adalah dunia yang bersih dari karma buruk yang menjerat keluarga ini." Melody tersenyum dipaksakan.
"Semua penderitaan yang melelahkan ini pasti akan terbayar lunas. Kita hanya perlu sedikit lebih bersabar."
"Dan terus begerak cepat." Tambah Melody. "Aron-san, antar aku ke Next In Co!" Pinta Melody.
"Next In Co? Perusahaan milik Yudha-sama?"
"Ya. Ada hal yang harus aku lakukan di sana."
Aron belum berniat bertanya lebih lanjut, tapi ia yakin jika hal itu pasti sangat penting.
"Saya akan menyiapkan mobil untuk Anda." Kata Aron.
"Ya."
.
.
.
Lorong menuju pintu keluar gedung hotel.
"Nona ketika kita sampai di parkiran nanti, nona menunggu saja di pintu keluar gedung, parkiran mobil kita agak jauh. Biar Saya saja yang mengambilnya!" Kata Aron.
"Baiklah, Aron-san. Aku akan menunggumu di sana nanti." Kata Melody. Ia juga sudah lelah. Badannya lemas karena paket potongan tangan itu.
Aron lalu melas jas miliknya dan memakaikannya pada Melody. Nona Muda istri Yudha ini nampak cukup kedinginan karena angin malam.
"Terima kasih banyak, Aron-san."
"Sama-sama."
Mereka berdua tak lama kemudian sampai di luar pintu gedung hotel yang berbatasan langsung dengan parkiran. Suasana sangat sepi. Tidak ada siapa-siapa.
"Saya ambil mobil dulu." Kata Aron.
"Ya, Aron-san."
Aron berjalan meninggalkan Melody menuju mobil mereka yang terparkir.
Ketika keluar dari hotel tempat pesta itu diadakan, di parkiran Melody melihat Alvin yang sedang berbicara dengan menggunakan ponsel.
"Apa yang Alvin lakukan di tempat seperti ini? Bukannya harusnya ia ada di dalam memamerkan senyumannya untuk menyapa tamu-tamunya? Bukankah dia nampak bangga karena berhasil membawa Emperor Group memasukku wilayah Kyoto?" Batin Melody penasaran.
Melody menganggap jika pembicaraan Alvin dengan seseorang yang ada di ponsel sangat serius. Ia menjadi sangat penasaran dan memutuskan untuk curi dengar. Meski ini tak sopan dan tak patut untuk dilakukan, tapi ia tetap melakukannya. Dan ya, ia pun melotot seketika setelah mendengar apa yang Alvin bicarakan dengan lawan bicaranya di panggilan telepon.
__ADS_1
"Alvin yang membuat Yudha diculik?" Kagetnya.