MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Mencari Bantuan


__ADS_3

Udah beberapa chapter mulai fokus back to cerita alur nomal. Semangat. Demi menamatkan sinetron ini terus agar bisa fokus ke cerita lain. Lagi mau fokus ke Nyamar Jadi Cowok: Cinta 180 Derajat. Fighting!


Bagi yang tertarik kisah cinta di kehidupan anak-anak kuliahan. Silahkan mampir ke cerita itu ya? Seru banget kok ceritanya. Kisah cewek yang nyamar jadi cowok dan ngekost di kost-kostan yang isinya para cogan. Namun satu dari salah satu cogan-cogan itu adalah musuh bebuyutannya di kampus. Kira-kira dia bisa bertahan tanpa bisa ketahuan tidak ya? Penasaran? Silahkan klik profile milikku dan cari NYAMAR JADI COWOK: Cinta 180 Derajat ya.. Terima kasih sebelumbya.


.


.


.


Di kamar rawat kakek Wijaya..


Melody dipeluk dengan sangat erat oleh nenek mertuanya, nenek Chiyo. Melody tak kuasa menahan tangisannya. Ia juga sangat merindukan nenek mertuanya ini. Semua anggota keluarga Kazehaya itu sangat berarti di dalam hidupnya. Meski mereka semua pada dasarnya keluarganya Yudha, tapi saat ini mereka semua sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mereka juga keluarganya.


Entah itu keluarga inti atau orang-orang yang ada di dalam kediaman Kazehaya seperti Aron, Shuhei, Ayane, atau para maid-maid yang bekerja di sana, semua adalah keluarganya.


"Cucu menantuku Melody, syukurlah kau baik-baik saja. Maafkan nenek, nenek tidak bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkanmu. Kau pasti sangat menderita saat diculik. Kau pasti tidur di ruangan yang sempit dengan sedikit udara yang masuk ke sana. Kailu pasti tidak makan dengan baik... Bagaimana dengan tubuhmu? Kesehatammu? Bagaimana dengan kehamilanmu? Apa calon buyut nenek baik-baik saja?" Tanya Nenek Chiyo panjang lebar.


Melody sampai bingung sendiri bagaimana cara untuk menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan dari nenek Chiyo sangatlah banyak. Ia merasa senang di dalam hati. Itu artinya ia diperhatikan, kan? Ini bukan salah penilaian, kan? Ini tidak belebihan, kan?


"Nenek, diculik memang tak nyaman buatku maupun kandunganku. Apa lagi jauh dari Yudha, ibu, dan keluarga ini. Aku sangat menderita. Namun, Yudha menyelamatkanku. Aku baik-baik saja begitu pula dengan calon buyut-buyut nenek. Aku sudah memeriksakannya dan sama sekali tidak ada keluhan berarti. Tolong hapus air mata nenek! Yudha akan sedih jika melihat nenek bersedih seperti ini." Kata Melody.


Melody memebantu menghapus air kata yang keluar dari kata senja sang nenek mertuanya, nenek Chiyo. Ngilu rasanya ketika harus menyaksikan bagaimana orang yang sudah tua menangisinya.


"Nenek sudah dengar dari ibu mertuamu, Mikan bilang Yudha menghilang dan hilang komunikasi setelah berpisah denganmu di motel. Kau baik-baik saja?" Tanya Nenek Chiyo.


Melody menggeleng. Tentulah ia tak baik-baik saja karena kehilangan komunikasi dengan Yudha. Yudha itu separuh jiwanya. Akan sangat menyakitkan dan membuat menderita jika separuh jiwanya pergi. Tanpa kabar sampai hari ini membuat kepalanya serasa ingin meledak.


Tuh kan, apapun yang menyangkut Yudha saat ini pasti membautnya menangis. Air matanya mengalir deras dari mata lelahnya. Ia ingin berdiri di pinggir pantai dan berteriak jika saat ini ia sama sekali tidak baik-baik saja.


"Jangan menangis, Mel! Nenek yakin, Yudha akan baik-baik saja! Yudha itu anak yang cerdas dan cerdik. Ia mampu berbuat hal di luar pikiran kita. Yang perlu kau lakukan saat ini adalah tetap berdoa untuk kebaikannya. Nenek akan berusaha mencari bantuan untuk mencari Yudha." Kata Nenek Chiyo.


Melody menghapus air matanya. "Terima kadih banyak, Nenek. Aku merasa jauh lebih baik sekarang."


"Ingat, meski banyak sekali masalah yang menggunung di depan mata. Namun kita adalah keluarga Kazehaya. Kita tidak boleh lemah akan semua masalah itu. Semua pasti ada jalan." Nenek Chiyo meyakinkan Melody.


Melidy mengangguk. Ia juga mempelajari bab bagaimana menjadi keluarga Kazehaya. Ayane juga sudah berulang kali menekankan hal ini kepadanya. Keluarga Kazehaya itu harus bermental baju. Menangi diizinkan, tapi lemah bukan alasan untuk menyerah.


Jika kaki kiri pincang, maka gunakanlah kaki kanan untuk berjalan.


Jika kaki kanan pincang, maka gunakanlah kaki kiri untuk berjalan.


Jika sema kaki pincang, maka gunakanlah pantat untuk berjalan.


Ngesot?


Ya. Ngesot.


Jika ngesot tak mampu, merangkaklah seperti ular, gunakan tubuh untuk berjalan.


Banyak cara untuk berjalan meski tak memiliki kaki. Mudahnya, ada kursi roda pun? Tak masalah, kan?


Sebenarnya ini bukan masalah cara berjalannya, tapi ini adalah pola pemikiran diri untuk tidak menyerah akan semua hal buruk yang sedang dialami.


Jika di dalam hati kecil masih ada secerca harapan untuk tidak menyerah, maka semua akan baik-baik saja. Hasil mungkin tak sesuai dengan harapan, atau bahkan sangat jauh. Namun ada hal pasti yang akan bisa dibanggakan, ada hal pasti yang patut disyukuri. Setidaknya di dalam diri tidaklah muncul penyesalan karena sudah berusaha.


"Aku memang tak boleh menyerah. Ini masih terlalu awal buatku. Menangis pun tak masalah. Yang penting aku tetap harus berusaha dan pantang menyerah. Aku tidaklah cacat. Aku memiliki kaki dan tangan yang lengkap. Otakku pun tidaklah bodoh-bodoh amat. Aku akan berusaha mencari dan menyelamatkan Yudha! Aku harus bisa bersatu kembali dengan papanya anak-anak! Aku harus mengeluarkan semua kemampuan dan tenagaku untuk mencari Yudha! Aku yakin, aku pasti bisa melakukannya! Yudha selalu menolongku dalam setiap sulitku. Aku harus membalas budi. Yudha pasti akan marah karena aku menjemput bahaya, maafkan aku Yudh! Aku hanya terlalu mencintaimu dan tak bisa melalui waktu tanpamu. Ini terlalu berat. Tolong jangan salahkan istrimu ini karena berbuat nekat! Tolong hargai aku yang berjuang demi cinta kita berdua!" Batin Melody.


Usai berbincang-bincang dengan sang nenek mertua, Melody pun menyapa kakek mertuanya, kakek Kazehaya. Ia mengucapkan salam dan bertanya soal kabar pada kakek Wijaya. Kakek Wijaya hanya mengedipkan matanya tanda jika ia mendengar apa yang cucu menantunya itu ucapkan.


Melody sangat sedih. Ia lagi-lagi hanya bisa menangis karena sang kakek mertua terbaring tak bisa melakukan apa-apa di ranjang pasien. Ia kilas balik ke setahun yang lalu dimana kakek Wijaya adalah penyelamat keluarganya. Kakek Wijaya adalah orang yang baik, tapi kenapa harus mengalami hal-hal tragis seperti ini?

__ADS_1


Namun kembali lagi, ini semua adalah skenario dari Tuhan. Ia tak mampu melawannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan apa yang bisa ia selamatkan. Berusaha untuk bertahan apa yang bisa ia pertahankan. Berusaha untuk berjuang apa yang bisa ia perjuangkan.


Usai menyapa kakek dan nenek mertuanya, Melody pamitan keluar untuk mencari Ayane, pengawalnya.


Ayane memang hanyalah pemgawal pribadinya. Tapi Ayane melakukan banyak hal untuk hidupnya. Saat mendengar kondisi Ayane yang tertusuk, pikirannya menjadi kemelut. Ia takut dan sangat khawatir pada Ayane.


Di depan kamar inap Ayane, Melody mengetuk pintu, dan tak lama setelah itu, nampaklah sosok wanita anggun dan dewasa yang sedang berdiri di hadapanya.


"Me-Melody-sama?" Kaget Ayane. Nona Mudanya itu sedang tersenyum di hadapannya.


"Konichiwa, Ayane-nee... Oshasiburi.. Lama tak jumpa.." Kata Melody.


Melody yang tak tahan langsung memeluk Ayane dengan sangat erat. Satu minggu lebih tak jumpa dengan Ayane membyatnya sangat rindu. Apa lagi ia tahu jika terakhir mereka berpisah, Ayane terluka parah. Syukurlah, saat ini Ayane nampak baik-baik saja.


"Nona Melody, syukurlah Anda baik-baik saja. Sayang sangat bahagia ketika mendengar Anda kembali." Kata Ayane.


"Ya aku baik-baik saja. Aku senang Ayane-nee juga sudah membaik. Maaf, gara-gara melindungiku, Ayane-nee menjadi terluka seperti ini." Kata Melody. Ia tulus meminta maaf.


"Ini bukan masalah karena ini adalah tugas saya, tapi saya merasa nona Melody itu seperti keluarga saya yang harus saya lindungi." Ayane tidak ingin membuat Melody mikir berat. Sebisa mungkin ia harus bisa meringankan beban pikiran Melody.


Ayane tak ingin Melody stress dan berimbas pada kehamilannya.


Ayane memang luar biasa. Meski dirinya sendiri sedang dalam kondisi yang kurang baik, tapi ia masih bisa menghawatirkan orang lain. Ah, Melody bukan orang lain sih. Melody adalah majikan dan sekaligus sosok yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendirim


"Ayane-nee...." Melody mewek. Ia akui, semenjak hamil air matanya menjadi sangat mudah terjatuh. "Terima kasih banyak sudah melindungi dan bersamaku selama ini." Lanjutnya.


"Saya akan lebih berusaha lagi untuk menjaga Anda. Agar kejadian seperti tempo hari tidak lagi terulang. Nona Melody, Anda masih mempercayai saya, kan?"


"Tentu saja, Ayane-nee. Aku menggantungkan keselamatanku dan anak-anak dalam kandunganku padamu. Siapa lagi yang harus aku andalkan saat ini? Aku tak memiliki sosok yang mampu melindungi seperti dirimu. Yudha menghilang, Shuhei-san apa lagi... Gara-gara banyak hal yang terjadi, aku menjadi sulit memepercayai orang lain."


Ayane sudah mendengar kabar soal menghilangnya Yudha dan Shuhei. Apa yang ia takutkan sungguh terjadi. Melody pasti mengalami hal yang berat karena berpisah dengan Yudha. Ia tahu bagaimana hubungan kedua majikannya itu. Pasangan yang masih sayang-sayangnya.


"Mencari bantuan?"


"Ya. Mencari bantuan. Saat ini yang kita perlukan adalah bantuan. Kita butuh bantuan untuk mencari Yudha-sama dan Shuhei-san. Jika kita bergerak sendirian, akan sangat sulit untuk bergerak. Kita bahkan tidak tahu apakah musuh saat ini sedang mengawasi kita atau tidak."


"Aku tak tahu teman-temanku dengan latar belakang yang kuat itu siapa saja. Aku tak mungkin kan asal meminta bantuan?"


"Nao-sama dan kawan-kawannya bisa sangat diandalkan, Nona."


"Ah, are ka? Mereka ya? Hampir lupa jika aku dan Yudha memiliki mereka. Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengan mereka. Kau istirahat saja dulu. Aku harus melakukan sesuatu."


"Nona Melody..." Panggil Ayane. Melody menoleh ke arah Ayane penuh tanya. "Tolong, meski Anda ingin sekali menemukan Yudha-sama, namun saat ini Anda sedang mengandung, saya mohon, utamakan kesehatan Anda. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Anda. Saya tidak bisa menghadap Tuan Yudha jika Anda seperti itu."


Melody bersyukur karena ia tak pernah kekuarangan orang yang menghawatirkannya. Apapun kondisinya, miskin atau pun menjadi orang kaya, ia tetap memiliki orang-orang yang menghatirkan setiap kondisinya. Tuhan sangat menyayanginya.


"Iya, Ayane-nee... Yudha mengajariku untuk mengetahui batas kemampuanku. Aku tak akan melewati batasku. Aku ini hanyalah seorang ibu hamil. Tentulah aku juga akan bertindak layaknya seorang ibu hamil mampu lakukan." Kata Melody.


Ayane tersenyum. Ia sangt menghormati Melody.


"Ganbatte, Melody-sama..."


"Ganbatte!"


Melody kembali ke kamarnya yang ada di lantai 16. Dari semua tempat yang ada di kota Tokyo ini, sepertinya memang hanya kawasa rumah sakit Kazehaya Internasional saja yang aman. Pasalnya, Yudha banyak menyebar bodyguard di wilayah ini. Setidaknya ancaman kriminal di rumah sakit itu tidak akan ada. Ya tetap harus waspada juga karena kejahatan bisa terjadi dimana saja meski jaminan keamanan sangat mumpuni sekalipun.


Melody mengambil ponsel milik Yudha yang Yudha berikan kepadanya kemarin saat mereka berpisah.


Ia memasukkan nomor untuk membuka kunci ponsel milik Yudha itu.


"Suamiku itu seberapa besar dia mencintaiku sih? Pola kunci ponsel saja memakai tanggal lahirku. Yudha oh Yudha. Aku jadi semakin cinta. Hal kecil yang kau lakukan selalu menambah besarnya cintaku kepadamu."

__ADS_1


Melody membuka menu lagu dan ia hanya menemukan satu judul lagu selain nada-nada ringtone bawaan ponsel.


"I love you? Lagu satu-satunya di ponsel milik Yudha. Coba aku mainkan..."


Melody menekan tombol play yang tertera lada layar ponsel itu.


Sebuah lagu pun mengalaun. Intro yang membuat Melody jatuh cinta. Pelan dan nyaman.


 


I like your eyes you look away when you pretend not to care


I like the dimples on the corners of the smile that you wear


I like you more, the world may know but don't be scared


Coz I'm falling deeper, baby be prepared


I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell


to be your favorite jacket, just so I could always be near


I loved you for so long, sometimes it's hard to bear


But after all this time, I hope you wait and see


Love you every minute, every second


Love you everywhere and any moment


Always and forever I know I can't quit you


Coz baby you're the one, I don't know how


Love you til the last of snow disappears


Love you til a rainy day becomes clear


Never knew a love like this, now I can't let go


I'm in love with you, and now you know


Tiba-tiba Melody meneteskan air mata, tapi bukan sedih, ia tersenyum bahagia.


"Aku jatuh cinta padamu dan sekarang kau tahu itu... Meski kau saat ini sedang tak ada di sisiku, tapi aku merasa jika saat ini kau sedang mengungkapkan rasamu terhadapku, Yudh. Aku juga jatuh cinta padamu dan kau sudah tahu itu."


Melody kembali melanjutkan lagu itu, memutarnya samlai selesai. Melodi lagu yang catchy membuatnya berpikir jika ia akan dapat dengan mudah menghafal dalam beberapa kali dengar.


Usai mendengarkan lagu, Melody membuka galeri ponsel. Ia mendapati banyak sekali fotonya dalam berbagai pose. Ia yakin, kebanyakan dari pose itu diambil diam-diam.


"Jika kita belum suami-istri, maka aku akan menuduhmu sebagai stalker, Yudh! Lihatlah ini, aku yang sedang memakai handuk saja kau abadikan. Hah. Gilaaa, aku segemuk ini ya?"


Melody melihat-lihat foto-foto yang Yudha ambil. Ia kaget bukan main karena ada beberapa foto ciumannya dengan Yudha.


"Ini bocah kapan mengambilnya? Bagaimana bisa aku tak tahu ciuman difoto seperti ini? Sial, mana ciumannya panas lagi. Ini ciuman kapan sih? Saking seringnya ciuman, aku jadi lupa ini pas kapan. Hah, Yudha kau ini benar-benar ya.. Jangan bilang jika dia memiliki lebih banyak dari ini? Mungkin saja di laptopnya? Huwaaa.. Aku harus mencaritahu saat dia kembali nanti!"


Melody kemudian membuka aplikasi pesan milik Yudha. Katakan saja itu WA. Di sana ada sebuah group pesan yanv dibuat oleh Nao. Ia juga adalah salah satu anggotanya.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan. Tolong semua bantu aku!"


Melody mengetik pesan atas nama Yudha. Intinya ia ingin ketemuan di rumah sakit. Tepatnya di atap gedung. Tanpa butuh waktu yang panjang, ia pun mendapatkan balasan jika Nao dan kawan-kawan akan datang malam nanti agar tidak terlalu menimbulkan kecurigaan. Sepertinya tidak juga, karena Nao dan kawan-kawan tahu dengan pasti bagaimana cara bermain dengan aman.

__ADS_1


__ADS_2