
Kediaman Kazehaya..
Kakek Wijaya, nenek Chiyo, Mikan, dan Tsuchiya duduk di ruang tamu. Mereka saling berhadapan satu sama lain. Ada teh dan makan ringan di meja tamu itu. Sebuah fas berisi bunga lily asli melengkapi ruang di permukaan meja itu.
"Seperti itulah kisahnya." Kata Kakek Wijaya mengakhiri ceritanya tentang teman baiknya, Takahashi Hadinata pada semua orang yang ada di situ, terutama Tsuchiya, putri tunggal Hadinata.
Tsuchiya menangis tersedu-sedu. Fakta yang baru ia ketahui itu membuatnya memiliki banyak rasa. Campur aduk dan morat-marit di benaknya. Ternyata ia memiliki seorang ayah rupanya. Ia ingat betul bagaimana sang ibu terus menolak menjawab jika ditanya mengenai ayahnya. Ia bahkan menjalani masa lalu dimana lingkungan mengatainya anak haram karena tidak memiliki ayah.
Tsuchiya bahkan juga pernah hampir mengamini jika ibunya adalah wanita penghibur seperti kata orang. Ia harus meminta maaf pada ibunya.
"Saya ingin melihat kuburan Beliau, bersediakah Tuan Besar memberitahu saya dimanakah itu?" Tanya Tsuchiya.
"Tentu saja, mari kita kunjungi bersama saat kondisi Melody membaik!" Jawab Kakek Wijaya.
Nenek Chiyo dan Mikan mengangguk setuju. Takdir Tuhan memang luar biasa penuh kejutan.
"Lalu bagaimana dengan Melody dan Yudha? Kau sudah tahu alasan ayah mertua menikahkan mereka, kan? Jujur saja Tsuchiya-san, aku sangat menyayangi Melody. Dia yang terbaik untuk Yudha. Ini memang keinginan egoisku, tapi bisakah kau merelakan hidup Melody di atas tanggung jawab Yudha?" Tanya Mikan. Ia serius untuk hal ini. Ia tak menutup mata mengenai masalah Melody dan Yudha. Ia tahu banyak hal, meski tak banyak yang bisa ia lakukan.
Ia bahkan tahu jika Melody meminta cerai pada Yudha. Ia mendengar mereka berdebat saat menjenguk di rumah sakit pagi tadi.
"Mikan-san, kebahagiaan buah hati bagi orang tua adalah segalanya. Aku tak bisa memaksakan apapun lagi pada Melody. Sebelumnya aku bahkan menjual Melody untuk menikah dengan nak Yudha. Untuk kali ini, biarlah mereka sendiri yang memutuskannya. Biarlah Melody memilih jalan terbaiknya sendiri." Jawab Tsuchiya bijak.
"Tapi, Tsuchiya-san.." Mikan belum ikhlas. Ia sungguh tak ingin ada perpisahan di antara Melody dengan Yudha. Ia tak bisa bercerita tentang Kurenai pada Tsuchiya. Kurenai menyususun rencana buruk terhadapnya dengan memanfaatkan kepolosan cinta Melody dan Yudha.
"Mikan, tenanglah! Mereka sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan yang terbaik untuk mereka. Lagipula, Melody sudah hamil. Melody tidak akan mengambil resiko, begitupun dengan Yudha." Kata Nenek Chiyo menengahi.
"Ibu mertuamu benar, biarlah mereka memilih jalan hidupnya sendiri. Tugas orang tua hanya perlu mengawasi dan meluruskan jika itu adalah sebuah kesalahan." Kata Kakel Wijaya.
Suasana ruang tamu membaik. Benar juga kata nenek Chiyo dan kakek Wijaya. Apapun yang akan dipilih Melody maupun Yudha biarlah mereka sendiri yang bertanggung jawab. Mereka sudah tahu mana yang benar, mana yang salah. Yakinlah jika anak-anak yang mereka besarkan dengan curahan kasih sayang luar biasa itu akan bisa memilih kisah yang indah dalam hidup mereka.
.
.
.
Taman Rumah Sakit..
Melody berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit untuk menghilangkan rasa bosan yang menderanya. Ia berjalan penuh rasa sewot. Harapan bosannya hilang berubah menjadi rasa kesal yang menjadi-jadi.
“Aku bilang tidak perlu mengikutiku!” Kata Melody. “Pergi sana!”
“Kau masih lemah, Melody...” Kata Yudha.
“Aku tidak selemah itu!”
Melody kembali berjalan sambil meneteng tongkat gantungan infusnya.
__ADS_1
Yudha meraih bahu Melody dan menatap Melody tajam. “Kenapa kau susah sekali dibilangi sih? Kau itu masih lemah, kau perlu banyak istirahat! Kondisimu belum pulih!” Suara Yudha meninggi.
Melody menhempaskan tangan Yudha dari bahunya. “Jangan menyentuhku!” Melody membalas menatap tajam.
"Aku berhak menyentuhmu!"
"Aku tidak suka disentuh olehmu!"
"Meski kau merasa menjijikkan sekalipun, aku berhak menyentuhmu. Aku ini masih suamimu!"
"Meski kau masih suamiku, tapi aku tetap tidak suka! Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku! Pergilah! Enyahlah dari hadapanku!"
Enyah dari hadapan adalah perintah yang cukup menyakitkan bagi Yudha. Apa Melody tidak memikirkan perasaannya. Hatinya terluka.
Namun Yudha mencoba paham, ia memilih mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat. Mood swing Melody sungguh keterlaluan.
“Kau hanya perlu menganggapku tidak ada kan beres!”
Walau ketus, tapi yakinlah Yudha menghawatirkan Melody.
Kondisi Melody belumlah membaik, ia tidak bisa membiarkan Melody jalan-jalan sendirian di taman rumah sakit.
“Bagaimana bisa memintaku mengganggapmu tidak ada? Kau itu nyata, kau itu hidup dengan raga!”
“Dengar Melody, aku adalah suamimu dan kau adalah istriku! Kita menikah secara sah. Kau mengandung anakku saat ini, bisakah kau mengesampingkan egomu meski sebentar demi anak kita?”
“...”
“..." Melody menatap Yudha.
"Maafkan aku!” Suara Yudha melembut.
“Yu-Yudha?“
Air mata Melody menetes. Yudha minta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya? Sial, hatinya ternyata selemah ini jika dihadapkan dengan Yudha.
Yudha cukup terkejut saat melihat air mata istrinya. Ia lalu menarik senyumannya. Seharusnya ia lakukan ini lebih awal tanpa perlu kucing-kucing dengan istrinya. Ia memeluk Melody penuh kehangatan. Menghadirkan sensasi nyaman. Ia mengecup pucuk kepala Melody dan mengelus rambut Melody yg sudah Melody potong itu.
Yudha mendengar isak tangis Melody di dalam pelukkannya.
Melody memeluknya semakin erat. Ia bisa merasakan cengkraman kuat di kemeja putihnya. Membuat Yudha kembali menyunggingkan senyuman tipisnya.
Melody sudah luluh. Luluh sungguhan atau memng efek mood swing Melody karena sedang hamil? Haruskah ia memastikannya sekali lagi?
“Kau ingin aku berlutut untuk meminta maaf kepadamu?” Tawar Yudha.
Melody menggeleng di dalam pelukkan Yudha.
__ADS_1
"..."
“Jadi... apa kau memaafkanku?”
Melody mengangguk.
Yudha ingin melihat wajah Melody, tapi Melody menolaknya. Ia kembali mengeratkan cengkraman kedua tangannya di pinggang Yudha.
“Biarkan seperti ini lebih lama lagi!”
"Hn."
"..."
"..."
"..."
"Mel?"
"Ya?"
"Hati-hati tanganmu masih diinfus!"
😡
"Kau mengganggu moment indah, Yudh!"
Yudha terkekeh pelan. "Kini tahu kan rasanya moment indah diganggu? Kau melakukannya saat di Okinawa."
Melody ingat itu, usai nyasar Yudha dan ia berpelukan tapi ia mengganggu dengan mengatai Yudha bau keringat.
"Rasakan ini!" Melody justru menginjak keras sepatu Yudha untuk menunjukkan rasa kesalnya. Yudha memang menyebalkan sih.
"..." Anehnya Yudha hanya diam saja. Malah masih tetap memeluk dan menatapnya dengan senyuman.
"Tidak sakit? Tadi kan keras?" Tanya Melody.
"Sakit kok.." Jawab Yudha.
"Kenapa tidak marah atau membalasku?"
"Haruskah aku melakukannya?" Seringai Yudha.
Melody menggembungkan pipinya. "Aku hamil loh, kau tega?"
"Tentu saja tidak, kan?"
__ADS_1
"Eh?"
Yudha meraih dagu Melody dan mencium bibirnya Melody. Mencoba menautkan diri selama yang mereka bisa. Tidak ada penolakkan dari Melody. Ini juga keinginan sadar Yudha tanpa obat, tanpa pengaruh emosi, tanpa sisi egoismenya. Ini adalah ciuman tulus darinya.