MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Maaf


__ADS_3

Pagi harinya. Rumah Sakit milik keluarga Kazehaya..


Mata Yura sedikit demi sedikit menunjukkan persembunyiannya. Ia melihat warna cat putih di plapon kamar inapnya.


“Yura, kau sudah sadar?” Tanya Yudha.


Mendengar suara Yudha di telinganya membuat gejolak tak menentu di hatinya. Ia enggan melihat Yudha. Iapun memilih menatap ke arah lain. Menatap ke tembok samping kirinya.


“Pergilah Yudha, aku tahu kau akan membenciku.” Yura sungguh tak kuasa melihat wajah Yudha.


Ada ego yang membuatnya enggan mengakui kesalahannya. Keyakin untuk membuat Yudha kembali seperti dulu lagi di hatinya masih terpaku dalam. Ia sudah melakukan banyak hal untuk mewujudkan keinginannya. Jika ini adalah akhir dari semuanya, berasa menyedihkan. Tersudutkan dan tak berdaya.


“Berhentilah untuk berpura-pura seperti ini! Kembalilah menjadi dirimu yang dulu!” Pinta Yudha.


Ini adalah bukti ketulusan perasaan Yudha pada Yura, sahabat dekatnya.


Seorang sahabat yang baik tak seharusnya membiarkan sahabatnya terlalu lama berkubang di dalam danau kesalahan.


Selama masih bisa diperbaiki, kenapa dibiarkan?


“...”


"Aku tidak akan membencimu atas kejadian ini, tapi aku juga tidak akan membenarkan segala kelakuanmu."


"..."


Yudha menarik nafasnya. Banyak hal yang luput dari pandangannya. Banyak hal yang terlewatkan. Banyak hal yang lepas dari kontrol dirinya.


Kejeniusannya memang tak ada gunanya untuk menghadapi hal-hal seperti ini.


“Melody... hamil. Dia membutuhkanku.”


Kata Yudha akhirnya. Ia memilih tidak ingin bertele-tele.


Ia juga sudah lelah.


"..." Yura tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya setelah mendengar pengakuan dari Yudha yang menurutnya tiba-tiba itu.


Hamil?


Yura meteskan air matanya. Meski menangis tapi suaranya masih stabil. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi kabar hamilnya Melody. Tidak tahu harus melakukan apa. Semua terjadi begitu mendadak dan tanpa bisa ia tangani.


“Begitukah?” Gumam Yura.


Jadi rupanya Melody sungguh mengandung anak Yudha. Bukan hal yang aneh, nyatanya mereka sudah menikah dan tinggal bersama. Hal seperti ini lambat laun pasti akan terjadi.


Namun, Yura hanya tak menyangka jika Melody akan secepat ini hamil. Yang ia tahu Yudha tidak memiliki perasaan apapun pada Melody. Jadi meski yang ia tahu begitu adanya, Yudha dan Melody memiliki cara lain untuk berhubungan rupanya. Mereka bahkan bisa melakukannya meski tanpa didasari rasa cinta.


“Hn.”


Yudha menegaskan fakta itu.


“Pergilah!”

__ADS_1


Terlalu menyayat hati. Jika berlama-lama, luka sayatan itu akan bertambah semakin lebar. Semakin menganga dan dalam. Tidak bisa tertutup dalam waktu yang dekat. Meski bisapun, luka itu pasti akan meninggalkan bekas. Bekas luka yang akan selalu membuat otak ingat, ingat, dan ingat. Terus terngiang dan menghantui seperti mimpi buruk tak kunjung usai.


.


.


.


YUDHA’S POV


Di sini aku, di kamara VVIP nomor 8. Aku duduk di kursi rumah sakit di samping Melody yang masih tertidur. Ada selang infus di tangan kirinya. Sudah cukup lama aku menunggunya, tapi matanya enggan terbuka. Kata Alvin, mungkin Melody akan sadar dalam satu jam ke depan.


Cukup lama, tapi tidak apa-apa. Aku akan tetap menemaninya. Menunggunya sampai ia tersadar dari tidurnya.


Aku membenarkan posisi selimut Melody. Dia terlihat nyaman dengan tidurnya. Kuharap dia benar-benar istirahat dengan baik kali ini.


Melihat wajahnya yang begitu pucat, membuatku khawatir. Tidak hanya anemia parah, dia juga terserang tifus. Butuh waktu lama untuk pemulihan kondisi badan. Dia sudah begitu banyak menanggung beban. Dia pasti sangat kesulitan selama ini.


.


.


.


Hamil ya..


Aku mengamati arah perut Melody yang tertutupi selimut pasien. Masih belum kelihatan jika dia sedang hamil.


Bahkan data pemeriksaan sebelumnya juga mengatakan hal yang sama.


Melody benar-benar bodoh, kenapa dia tidak membaca hasil pemeriksaannya dua minggu yang lalu sih?


Jika dia sadar lebih dulu soal kehamilannya, mungkin semua tidak akan menjadi runyam dan rumit seperti ini.


Kenapa susah sekali bagi kita untuk memiliki waktu luang untuk saling membuka diri? Kenapa begitu banyak hal yang bertentangan di antara kita berdua? Jika kita mencoba memulai pembicaraan, kita akan berakhir dengan debat.


Apa sebegitu tidak cocoknya diri kita?


Kau hamilpun, aku sampai tidak tahu.


.


.


.


Sudah 3 bulan. Sudah 3 bulan kehamilan Melody.


Berarti saat di rumah ibu mertua rupanya.


Memang benar sih, aku merasa ada yang lain ketika aku menyentuhnya saat itu. Ada rasa hangat menjalar di sekujur tubuhku. Jantung hatikupun mengamininya. Menerima setiap alunan nyaman darinya.


Tunggu, kenapa aku tidak menyadari perubahannya sih? Bukankah Melody itu sekarang mudah marah? Mudah kesal? Emosinya labil? Bukankah itu adalah tanda-tanda orang hamil? Tapi aku jarang melihatnya mual-mual?

__ADS_1


Lalu..


Jadi waktu aku bilang dia bertambah berat saat di pantai Yokohama, itu benar adanya, harusnya aku tahu jika itu juga efek kehamilan.


Parah..


Aku bahkan digendong dirinya saat dia berusaha menepati janjinya kepadaku.


Bukankah ibu hamil tidak boleh mengangkat beban yang berat?


Bodoh!


Kemarin malam dia bahkan banyak minum. Untung janinnya tidak apa-apa.


Lebih parahnya lagi, semalaman juga aku.. aku memaksanya tidur denganku! Aku bermain sangat kasar dengannya. Aku tak memberikan sedikit ruang untuknya menolak keiginanku. Astaga, aku memang sudah gila.


Aku terima segala penyebutan kasarmu, Mel. Aku memang sudah gila!


Jika saat itu aku tahu dia sedang hamil, aku pasti akan mengesampingkan egoku. Bagaimanapun, aku tidak akan membiarkan janin itu terluka karena ulahku. Aku tidak setega itu menyakiti janin yang masih suci.


.


.


.


Ada apa dengan diriku?


Melody itu lebih sulit dari soal Matematika yang pernah aku kerjakan. Dia bisa begitu penurut, tapi bisa juga memberontak diriku.


Dia memiliki banyak ekspresi yang asing buatku. Aku tidak bisa meluluhkannya hanya dengan rumus yang aku buat. Aku harus membuat alternatif lain untuk membuatnya nurut padaku.


Melody itu seperti soal yang diwajibkan untukku mengerjakannya dengan tuntutan jawaban yang benar.


Ketika apa yang sudah menjadi milikku direbut orang lain, aku tidak menyukainya. Meski itu oleh kakakku sendiri.


Aku memang menggila malam itu. Aku tidak akan menyangkal keegoisanku. Aku memang laki-laki brengsek. Aku tidak ingin menyakiti wanita, tapi nyatanya aku sendiri sering sekali menyakiti perasaan Melody.


Dia sudah berusaha percaya padaku, tapi aku belum bisa percaya padanya. Di saat aku meragukan kejujurannya, aku mendapatkan azab kesalahanku.


Maaf Melody.. Ini memang sangat sulit untuk kita berdua. Saat kau bangun nanti, bisakah kita memperbaiki hubungan kita? Aku kalang kabut ketika kau berusaha menjauhiku.


END OF YUDHA’S POV


.


.


.


Yudha bangkit dari kursi duduknya, berjalan mendekati kepala Melody. Kedua mata indah itu sedang terpejam. Lingkaran hitam lelah nampak di pelupuk matanya. Yudha menundukkan kepalanya, ia lalu mendaratkan kecupan ringan di jidat Melody.


"Gomenasai, gomen kudasai."

__ADS_1


__ADS_2