
Di kursi itu Melody berdiri dengan mata terbuka lebar dan mulut terkatup yang bergetar. Matanya menatap nanar ke bawah, tertuju pada satu titik yang tak terlihat di sana.
Yudha.
Melody tak ingin berharap, tapi harapannya sangat besar dan banyak. Ia sangat ingin bertemu dengan Yudha dan Yudha sungguh ada di depannya saat ini.
Melody kembali memastikanya lagi tentang apa yangdilihatnya, tak terasa hingga membuat rambutnya yang kusut bergerak liar ditiup angin yang keluar dari AC ruangan.
Sekitar di dalam sana, di dalam ponsel, Yudha terbaring kaku, bagai tak bernyawa.
"Yu-Yudha?" Gunam Melody. Ia menutup mulutnya tak menyangka jika sosok yang ia lihat di dalam posnsel itu sungguhan Yudha dengan banyak luka.
Ia tak kuasa menahan air matanya.
"Ayane-san, Yu-Yudha terluka parah.." Lalu, Melody yang menangis menghampiri Ayane yang berdiri tak jauh dari sampingnya.
Rasanya tak peduli, Melody tak peduli dengan isakannya yang semakin lama semakin keras. I memeluk Ayane yang sudah ia anggal sebagai kakaknya sendiri itu untuk mencari pekuat.
Air mata menetes satu-satu dari mata bening wanita hamil ini. Bagi Ayane, tangisan Melody terdengar sangat pilu.
"Melody-sama, tenang! Anda harus tenang!" Pinta Ayane.
Melody menangangguk dan ia kembali duduk. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja itu. Ia mengamati sang suami yang sepertinya sedang menerima perawatan medis cukup lengkap.
Tiba-tiba layar tak lagi menampilkan gambar Yudha, tapi ganti menampilkan sebuah pesan yang intinya Melody harus menyerahkan saham milik Yudha tanpa syarat apapun. Jika Melody tak mau, maka Yudha yang akan dikorbankan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Melody.
Ia tak menyangka jika harinya akan diawali seperti ini. Jadi ceritanya, pagi tadi ia mendapatkan sebuah paket yang isinya sebuah ponsel. Bukan paket mengerikan seperti biasanya yang ia lihat. Seperti biasanya yang mereka kirimkan kepadanya.
Ponsel itu adalah alat penghubung. Ketika ia mengamatinya, ponsel itu berbunyi dan langsung memperlihatkan keadaan Yudha yang terluka parah.
.
.
.
Satu menit…
Melody masih juga belum mendapat apa yang diinginkannya. Tangannya terkepal, meyakinkan dirinya sendiri kalau memang ia masih punya harapan. Sementara hatinya berusaha menimbulkan keyakinan, pikirannya berkata lain.
Pikirannya masih menolak, tak percaya, berusaha menghancurkan kepercayaan Melody.
Jika ia menuruti permintaan untuk menyerahkan saham milik Yudha tanpa syarat, apa Yudha akan mereka bebaskan?
__ADS_1
Dua menit…
Air mata Melody lagi-lagi turun.
Satu...
Dua...
Dan semakin lama semakin banyak. Jatuh ke pipinya, mengalir ke rahang, dan meluncur bebas ke bawah. Melody melemah. Mungkin mereka akan tetap membunuh Yudha ketika sudah tak butuh lagi.
Tiga menit…
Pelan-pelan, Melody berusaha lagi meyakinkan dirinya. Yudha itu kuat. Yudha hebat. Yudja punya banyak teman yang siap membantu. Dirinya sendiri juga sudah meminta bantuan dua penguasa bawah tanan Jepang. Yudha pasti tak apa-apa. Yudh pasti selamat.
Tapi tadi Yudha terluka parah saat ini. Yudha hampir mati jika melihat ketidak berdayaan Yudha sama seperti di gambar yang ia terima. Yudha sekarat? Jadi yang dikatakan oleh Mia itu sungguhan? Yudha sungguh sedang sekarat?
Deg!
Rasanya baru saja ia mendalatkan pukulan yang keras di dadanya. Pukulan itu menghantam Melody dengan telak. Ia pusing, tubuhnya pun bergetar. Dia terduduk sambil memilin keningnya.
Empat menit…
Melody mulai mati rasa. Pening yang begitu menyiksa kepalanya membuat semuanya bertambah buruk. Dia tak bisa lagi melihat kenyataan. Sejujurnya, dia tak tahu lagi seperti apa kenyataan. Pertentangan hati dan pikirannya terus berlangsung. Membuatnya tak bisa memilih.
Salam jurnal planning rencana yang sudah Yudha tulis, Melody membaca jika Yudha tak ingin sahamnya terjual atau dikuasai yang lainnya.
Namun, Melody tak mau kehilangan Yudha.
Rasa bersalah itu masuk ke hatinya, mencengkram paru-parunya erat, membuatnya sesak.
Lima menit…
Melody hampir saja tenggelam dalam dunia gelapnya jika saja tak ada tepukan yang membuatnya kembali berada di daratan.
Melody melihatnya sedih. Dia pun masih menangis. Antara kebingungan dengan Yudha yang terluka parah dan Yudha yang dijadikan alat untuk mengancam, serta pesan Yudha untuk nempertahankan saham miliknya Yudha… entahlah, terlalu menyedihkan mengatakan semuanya.
Ayane menepuk pelan pundak Melody dan mengisyaratkan untuk tak terlalu memikirkannya terlalu dalam.
Enam menit…
Hanya bisa menangis.
Meldoy hanya bisa menangis untuk saat ini. Ayane memeluknya. Memeluknya untuk yang kedua kalinya. Ia sadar betapa lemahnya dirinya itu. Ia tak akan menyangkalnya.
Melody masih menangis keras dalam pelukan Ayane. Ia masih ingin percaya, tapi sampai saat ini semuanya belum menunjukkan apapun.
__ADS_1
Jangan! Jangan biarkan Yudha mati! Yudha orang baik. Yudha suaminya. Yudh ayah dari anak-anaknya yang bahkan belum lahir itu. Yudha...
Tujuh menit…
Tak bisa membuat keputusan dalam waktu yang cepat. Pilihan yang ditawarkan kepadanya terlalu sulit, terlalu berat baginya.
Dirinya hanya belum terbiasa menghadapi hari-hari berat dengan pilihan sulit seperti ini. Otaknya tak mampu sampai sejauh itu.
Delapan menit…
Ia teringat senyuman manis Yudha.
Pikirannya mulai goyah.
Bukan goyah, tapi memang seperti inilah yang seharusnya.
Rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Melody. Telinganya, wajahnya, memanas. Kakinya berasa lemas. Tapi ia tak peduli, yang ingin dipilihnya kali ini adalah kata hatinya. Melody percaya. Melody percaya akan kata hatinya itu.
Melody tak mau memikirkan yang lain lagi untuk saat ini. Jadi dia berlari, berlari, memacu kakinya lebih cepat lagi dan lagi menuju senyuman Yudha yang ia rindukan.
Sembilan menit…
Pilihan sudah ia temukan. Ia sudah memantapkannya.
"Ayane-nee?" Panggil Melody.
"Ya, Melody-sama?" Kata Ayane.
"Aku sudah berpikir dalam waktu yang sangat singkat, sepertinya aku memang tak bisa membiarkan Yudha tersiksa di tempat seperti itu. Aku... aku akan melakukan apapun agar dia kembali kepadaku dalam keadaan selamat. Aku ingin menyelamatkan Yudha!"
"Melody-sama, jika Anda melakukannya, maka dominasi Yudha-sama sungguh akan menghilang dari Emperor Group!"
"Itu lebih baik daripada aku tak bisa melihatnya lagi."
"..." Ayane terdiam. Yudha memang akan dibunuh jika Melody tak mau menyerahkan saham milik Yudha.
"Beberapa kali Yudha bertanya kepadaku, maukah aku hidup miskin dengannya, aku selalu menjawab aku tak masalah hidup miskin dengannya, asal dengannya, aku bahagia... Maka, jika ini akan berakibat hidup kami berdua menjadi miskin, tak tak mengapa. Yang penting aku dan Yudha bisa bersama."
"..."
"Ayane-san, aku bodoh ya? Di dalam otakku isinya hanya cinta, cinta, dan cinta saja."
"Anda hanya terlalu mencintai Yudha-sama. Namun untuk masalah ini, mari jangan gegabah dulu, Melody-sama! Kita bahas ini dengan Paman Anda dan Aron-san terlebih dahulu. Paman Anda dan Tuan Azumane sedang menyusun rencana penyelamatan Yudha-sama, jika mereka berhasil menyelamatkan Yudha-sama dengan cepat, maka Anda tidak perlu menyerahkan saham Anda kepada mereka." Kata Ayane.
"Ahh.. benar juga. Baiklah, aku akan bersabar sedikit lagi."
__ADS_1