MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 26


__ADS_3

Alvin menoleh ke arah kiri. Ia melebarkan matanya ketika melihat wanita yang saat ini sedang memenuhi otaknya, berdiri anggun sambil menatap ke arah dirinya.


Ya, Kazehaya Melody, mantan kekasih yang tak bisa ia lupakan.


Alvin menatap sayu Melody, takut-takut jika Melody akan kabur dan menhindari tatapan menginginkannya. Namun, apa yang ia takutkan tak menjadi kenyataan, nyatanya Melody masih berdiri di tempat yang sama, masih berdiri di pijakkan kakinya. Bahkan menatap dirinya.


Ada angin bahagia. Ada hujan yang membasahi hati keringnya.


Hanya dengan melihat Melody baik-baik saja saat ini sudah membuat hatinya membaik. Hatinya jauh lebih tenang. Bahkan pikirannya yang sangat kacaupun juga terasa jernih. Tubuhnya yang berat juga ikutan meringan.


Sedahsyat inikah pesona Melody terhadap dirinya?


Apakah ini berlebihan?


Bagi orang yang tak memahaminya mungkin akan menilai seperti itu. Namun, bagi mereka yang paham cinta dan perasaan, mereka akan menilai dari sudut pandang yang berbeda. Cinta memang banyak kejutan meski cinta itu tak terbalas dan sangat menyakitkan.


"Dia tidak pergi. Ini sudah detik ke 189. Sudah tiga menit lebih. Bagaimana aku tahu jumlah pastinya? Maaf saja, aku menghitungnya dengan perasaanku. Aku ini sungguh pandai menghitung waktu. Aku selalu menghitungnya akhir-akhir ini. Ya.. aku memang selalu menghitungnya. Waktu yang sangat berat. Waktu yang tak bisa aku kendalikan. Waktu yang membunuhku secara cepat. Tak ingin dicegah, tak ingin aku kuasai. Hah, memang diriku ini siapa? Aku hanyalah manusia biasa yang begitu hina di hadapan-Nya." Batin Alvin.


Alvin masih tak memalingkan pandangannya pada Melody. Ia selalu setia menikmati indahnya wanita yang sangat dicintainya itu. Itu seperti obat.


Bisa sebagai penyembuh, bisa juga sebagi penambah luka.


Seperti dua mata pisau saja atau buah simalakama? Ah, silahkan nilai sendiri.


"Apa aku ini sedang bermimpi? Apa mataku tak salah lihat? Ataukah aku sedang berhalusinasi? Tuhan tolong tampar diriku agar aku bangun dari imajinasi tak menentu ini! Melody berjalan mendekatiku!"


Melody berjalan ke arah Alvin dengan anggunnya. Meski sedang mengandung sekalipun, Melody nampak mempesona di mata Alvin. Rambut sedada Melody terurai indah meski angin atas atap gedung berhembus cukup kencang.


"Konichiwa, Kakak Ipar." Sapa Melody.


"Ko-konichiwa, Melody." Jawab Alvin sedikit terbata.


Alvin masih tak percaya jika Melody tak hanya berjalan mendekati dirinya, tapi juga menyapa duluan. Bukankah selama ini ia yang selalu mengejar Melody? Maksudnya, ia yang selalu berinisiatif untuk memulai semuanya terlebih dahulu.


"Mencari angin?" Tanya Melody.


"Menikmati hidup." Jawab Alvin.


"Begitukah?"


"Ya."


"..."


"..."


Alvin menggeser pantat. "Mau duduk?" Tanya Alvin.


"Boleh.." Melody pun duduk di kursi panjang sebelah Alvin.


"..."


"..."


Selalu saja timbul jeda untuk sekian detik di antara mereka berdua. Canggung? Bukan, bukan perasaan yang seperti itu. Namun lebih ke menahan diri.


"Apa tak masalah kau bersamaku seperti ini? Kau bisa bertengkar dengan Yudha." Kata Alvin.


"Kalau dia tak tahu, tidak masalah." Kata Melody.

__ADS_1


Alvin mengernyitkan alisnya. "Apa kau selalu melakukan ini di belakangnya?"


"Tidak juga. Aku hanya tidak bisa melawan takdir Tuhan lewat konsep kebetulan."


Melosy memang mengobrol dengan Alvin, tapi ia tidak menatap Alvin langsung. Ia menatap lurus ke depan.


"Ah, sodesu ka? Memang benar, manusia biasa tidak bisa melawan takdir Tuhan lewat konsep kebetulan. Termasuk dirimu. Kau tidak akan tahu dengan siapa kau akan bertemu. Meski berusaha setengah mati untuk menghindar sekalipun, nyatanya kebetulan untuk bertemu selalu ada." Alvin mencoba memahami kata-kata Melody.


Takdir Tuhan lewat konsep kebetulan memang memiliki kemungkinan besar untuk terjadi. Menimpa siapa saja. Dirinya maupun Melody.


Lagian, siapa yang bisa melawan takdir Tuhan? Tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa melakukannya.


"Kau benar, Kakak Ipar." Melody menyempatkan diri untuk tersenyum tipis.


Alvin tidak menyadarinya.


"Jika Yudha tahu kau kebetulan bertemu denganku seperti ini, kau pasti akan bertengkar dengannya." Kata Alvin.


Melody kembali tersenyum. Kini ia mulai mengusap-usap perut buncitnya. "Kami kalau bersama selalu berdebat. Masalah sekecil apapun akan kami perdebatkan. Bertengkar, bertengkar, dan terus bertengkar."


"Kau menjalani hubungan yang seperti itu?" Tanya Alvin.


"Ya. Apa kau menghawatirkanku?" Melody balik bertanya.


"..." Alvin terdiam. Tentu saja ia sangat menghawatirkan Melody, kan?


"Karena kau diam saja, maka aku anggap itu iya. Terima kasih sudah menghawatirkanku."


"Ah."


"Aku dengar dari nenek, kau sedang berusaha menginvestigasi mega proyek di Miyagi. Apa semua berjalan lancar?" Tanya Melody.


"Sepertinya sangat seru. Hanya saja aku tak memiliki bakat di bidang itu." Jawab Melody.


"Ada beberapa orang yang bermain kotor di sana."


"Bermain kotor ya.." Gumam Melody.


Alvin tahu arti dari gumaman Melody itu. Melody mungkin sedang menyindir dirinya. Ah, ia memang bermain kotor secara tidak langsung. Tahta CEO yang disandangnya kali ini memanglah tak murni ia dapatkan atas dasar kemampuannya sendiri.


"Aku akan menyingkirkan mereka." Kata Alvin.


Melody sejenak berpikir. "Ne Kakak Ipar.."


"Ya?"


"Kau.. di pihak siapa saat ini?" Tanya Melody penasaran.


Segala tingkah dan pola Alvin tidak bisa ia baca. Daripada ia menduga-duga tidak jelas, lebih baik ia bertanya langsung saja pada Alvin. Semua kebimbangannya pada Alvin menagih jawaban. Ia tidak ingin salah menilai.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Alvin.


"Hanya ingin bertanya saja."


"Oh."


"..."


"..."

__ADS_1


"Kenapa tidak menjawabnya?" Tanya Melody.


"Aku sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan darimu." Kata Alvin.


"Bukankah itu mudah? Kau yang memerankan permainanmu sendiri."


"Kau benar. Kenapa aku harus berpikir jauh-jauh? Segala hal yang aku lakukan saat ini untuk siapa? Aku membela siapa? Aku berpihak pada siapa? Aku akan menjawabnya. Aku ada di pihaj dimana semua orang akan membenciku." Jawab Alvin.


Melody tertegun. Ia mendengar kejujuran dari nada suara Alvin. "Kenapa kau memilih pihak dimana semua orang akan membencimu? Itu artinya kau memilih berakhir sendirian? Tidakkah itu menyakitkan?"


Alvin tertawa sekilas. "Aku sudah terbiasa berteman dengan luka. Sudah terbiasa sakit dan jatuh berkali-kali."


Suara Alvin terdengar miris di telinga Melody. Semakin tidak bisa memahami Alvin yang ada di sampingnya saat ini.


"Kau berhak bahagia!" Kata Melody.


"Kehadiranku di dunia ini saja sudah membuat mala petaka. Kesusahan ibuku, kematin ayah, masalah di keluarga Kazehaya dan juga semua orang di sekitarku. Anak haram sepertiku hanya akan membawa bencana. Diriku tak berhak menyandang kebahagiaan."


Nyesek.


Sakit.


Terasa teriris.


"Dulu kau tak seperti ini. Kau adalah seorang pejuang sejati. Kenapa kini kau tanpa harapan? Kakak Ipar, kau terlalu jauh berubah. Kembalilah ke warnamu yang dulu!" Pinta Melody.


Sebagai teman, Melody tidak ingin Alvin menderita seperti ini.


"Dulu ada kau, sekarang kau sudah pergi." Kata Alvin datar.


"Kakak Ipar!"


"Jika semua warna pelangi menghilang, maka kini yang tersisa hanyalah tak warna. Hitam bukan, putih pun bukan. polos, tanpa warna apapun." Lanjut Alvin.


"Kau bisa mengecat ulang! Pilihlah warna sesukamu. Merah, kuning, atau hijau, bahkan biru! Kau bisa memilihnya sendiri!" Melody tak ingin Alvin berhenti menyerah pada hidup.


"Berbicara itu lebih mudah daripada beraksi. Kau tahu betul itu."


"Meski begitu, jika itu Kazehaya Alvin, maka aku yakin bisa melakukannya."


"Pandanganmu terlalu egois. Seperti memaksa kaki yang sudah patah untuk kembali berjalan."


"Jika kau sulit berjalan, merangkaklah! Jika itu juga sulit, merayaplah! Jangan hanya karena diriku kau menjadi seperti ini! Aku ini tak seberharga itu untuk kau tukar dengan hidupmu! Alvin-senpai.. kumohon.." Melodu tak tahan lagi, iapun menangis.


Alvin bisa mendengar tangisan Melody di sampingnya. Isakkan itu terasa menyayat hati. Ia sudah terbiasa dengan tangisan Melody. Ini bukan pertama kalinya ia mendengarnya.


Namun, ada sedikit lega di sela-selanya. Melody kembali memanggilnya dengan sebutan 'Alvin-senpai'.


"Kau sangat berharga untukku, Mel. Aku tak akan memintamu memahamiku kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti itu! Aku tak akan memintamu mengganggap beruntung karena sudah aku cintai. Cukup biarkan aku mencintaimu dengan caraku! Meski luka ini akan semakin dalam. Meski kau tidak akan pernah aku dapatkan. Meski cinta ini tak terbalaskan. Cukup aku yang merasakan! Cukup aku yang menanggungnya! Aku tak mengapa terluka. Aku tak mengapa menderita. Ini pilihanku! Aku tidak akan menyesalinya." Jelas Alvin panjang lebar.


"..." Melody tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menangis. Kenapa orang seperti Alvin bisa memberikan cinta yang begitu besar kepada dirinya?


"Aku sudah siap dengan segala resiko ketika aku memutuskan untuk mencintaimu. Kau sudah tahu pastinya, aku tak sampai hati untuk menyentuhmu."


"Aku mohon, berhentilah mencintaiku! Kau akan semakin menderita! Kau bisa mati perlahan! Aku akan semakin bersalah karena tidak bisa membalas perasaanmu!" Melody masih saja menangis.


Alvin bangkit dari duduknya. Ia tidak menoleh ke arah Melody. Iapun tak berniat menghapus air mata Melody.


"Ketika orang yang sangat dicintai menyuruh untuk berhenti mencintainya, maka hati itu sudah seharusnya mati, kan? Namun, hati itu memilih mati untuk tetap memegang teguh cinta yang sangat besar itu!"

__ADS_1


Alvin melangkah pergi meninggalkan Melody yang semakin tak bisa mengendalikan tangisannya.


__ADS_2