MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Melody Bertemu Alvin


__ADS_3

Yudha sulit dipahami? Melody tahu itu.


Yudha kaku? Melody juga tahu.


Yudha minim ekspresi? Melody tahu itu juga.


Dan yang lain tentang sikap Yudha atau sifat Yudha yang membuatnya kesulitan memahami Yudha, Melody tahu itu semua!


Ia memang bukan siapa-siapa yang bisa menjadi sosok paling ingin Yudha percayai untuk menerima segala keluh kesahnya. Ia hanyalah sosok yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidup Yudha. Masuk secara paksa lebih tepatnya.


Tapi, ia juga sadar, kehadirannya dalam hidup Yudha yang awalnya Melody rasa hanya sebagai pengganggu, atau mungkin akan merepotkan, nyatanya tak sepenuhnya salah.


Benar jika ia mengganggu hidup Yudha. Benar jika ia mengobrak-abrik kenyamanan Yudha. Benar juga jika ia merasa jika Yudha itu mulai membuatnya merasa bahagia. Bahkan, yang awalnya Melody kira hidupnya akan sengsara jika menikah muda, apalagi dengan sosok seperti Yudha, kini mulai perlahan luntur anggapan itu.


Menempatkan dirinya sebagai teman Yudha lumayan menyenangkan. Ia dan Yudha bisa menjalani pernikahan karena perjodohan dengan cukup baik dan lancar.


Setidaknya untuk saat ini.


Bagaimana besok, lusa, nanti?


Melody maupun Yudha tidak ada yang tahu hal itu.


.


.


.


"Cepatlah Melody, aku tidak mau telat gara-gara kau!" Kata Yudha cukup keras karena sedari tadi ia menunggu lama istrinya.


Beberapa kali ia menengok jam tangannya.


"Iya, iya maaf, Tuan Muda berisik! Ayo berangkat!" Sahut Melody yang langsung melenggang di depan meninggalkan Yudha.


Sebenarnya gara-gara kemarin main sampai sore di taman bermain, makanya pagi ini ia bangun cukup siang. Yudha sampai harus membangunkannya. Jadi tidak enak, tapi mau bagaimana, rasa lelah memang sulit ditawar.


"Cih, dasar. Aku yang menunggumu, tapi kau malah meninggalkanku."


Melody tidak menyangka jika setelah menikah dengan Yudha, ia akan bisa akrab dengan Yudha. Justru kebalikannya, keakraban mereka berdua terbilang aneh, ia dan Yudha sering sekali berdebat untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting tapi mereka besar-besarkan.


Walaupun tidak ada yang memulai untuk mengucapkan maaf duluan, tapi nyatanya mereka akan akur dengan sendirinya. Pasangan yang unik bukan?

__ADS_1


Melody memutuskan untuk menjadi teman Yudha, meski nyatanya statusnya adalah teman hidup Yudha. Itu memang benar secara hukum, tapi secara perasaan? Hati? Melody tidak bisa berharap lebih akan hal itu. Cukup ada rasa kesal karena hanya sebatas itu ia mendiskripsikan posisinya terhadap Yudha.


Kesal, heh?


"Tangan apaan?" Tanya Melody yang heran karena Yudha menjulurkan tangan kanan kepadanya. "Salaman?" Tanyanya lagi.


"Cium tanganku! Bukankah ini yang seharusnya dilakukan seorang istri saat hendak berpisah dengan suaminya?" Jawab Yudha.


"Ini Jepang, Yudha-sama!"


"Memang kenapa? Aku memiliki darah Indonesia, bukankah kau juga memilikinya?" Tanya Yudha.


Sumpah, muka Yudha saat ini polos sekali. Membuat tidak tahan ingin mengusap-usapnya.


"Iya juga sih, ya sudah sekali-kali tidak apa-apa agar tak lupa adat leluhur." Kata Melody yang kemudian menyambut tangan Yudha, lalu menciumnya.


Yudha tersenyum senang. Misi dari sang nenek terpenuhi!


Jadi tadi sebelum berangkat ke kampus, nenek Chiyo meminta Yudha melakukan hal ini dengan Melody sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya kakek Wijaya yang asli orang Indonesia.


"Tidak sekalian mencium pipiku?" Goda Yudha sambil menunjuk pipi kirinya.


Yudha kembali memberinya uang. Melody menerimanya.


"Apa harus seperti ini, Yudh?" Tanya Melody. Ia mengamati uang yang ada di tangannya.


"Aku menikahimu, maka aku juga bertanggung jawab akan keuanganmu. Tak perlu mikir yang aneh-aneh! Aku tak akan miskin meski tiap hari memberimu uang." Kata Yudha.


"Hm, baiklah. Arigato." Melody tak mau pikir panjang.


Mobil miliknya Yudha berhenti di depan gedung kelas Melody.


"Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku." Kata Yudha.


Melody hanya mengangguk dan berterima kasih pada Yudha dan sopirnya, Shuhei.


Melihat mobil Yudha melaju meninggalkannya, entah kenapa ia merasa senang karena tiap hari ia bisa pergi ke kampus bersama Yudha.


Karena mobil mewahnya? Tumpangan gratis yang membuatnya tidak akan telat masuk kelas? Ya memang alasan itu ada benarnya juga, Melody tidak munafik akan hal itu. Tapi, perasaannya kali ini lebih dari sekedar itu. Hatinya seakan berbunga-bunga.


Apalagi saat ia mendapatkan komentar iri dari teman-teman sekelasnya, ia benar-benar bahagia. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu terbang menemani setiap langkah kakinya. Bagaimana dengan kumbang? Lebah madu? Bukankah itu juga identik dengan bunga?

__ADS_1


Tidak, kalau menyengat itu akan menyakitkan. Melody menghilangkan kumbang dan lebah madu dari imajinasinya.


"Loh, Alvin-senpai? Kenapa ada di sini? Tidak ada jam kuliah?" Tanya Melody yang heran Karena melihat Alvin yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Bukankah mereka beda fakultas? Dia ekonomi, sementara Alvin kedokteran.


"Ada, tapi nanti. Aku akan menemui dosen, kebetulan aku lewat fakultas ekonomi dan bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? Sudah sebulan tidak pernah bertemu. sepertinya kau baik-baik saja."


Kata Alvin.


"Hm, tentu saja aku baik-baik saja. Alvin-senpai bilang jarang bertemu denganku, tapi kenapa tidak main ke rumah kakek, bukankah kau dan Yudha saudara?"


"..."


Sejenak Alvin terdiam akan perkataan dari Melody yang memang tidak tahu apa-apa akan hubungan dirinya dan keluarga Kazehaya.


"Hallo, Senpai. Kenapa Alvin-senpai malah diam?"


"Ah, maaf Melody, aku sudah ditunggu dosen. Sampai jumpa."


Melody hanya manggut-manggut dan kembali hanya terdiam saat Alvin berjalan cepat meninggalkannya. Ia merasa sedikit janggal dengan sikap Alvin. Apakah ada sesuatu antara Alvin dengan keluarga Kazehaya?


Tiba-tiba seseorang menutup kedua matanya.


"Hayo, tebak siapa?"


"Mia bebek jelek."


"Loh kok tahu?"


"Kalau tidak ingin ketahuan, kau seharusnya menyamarkan suara bebekmu itu! Dasar! Pakailah masker atau topeng ultramen!"


"Haha, iya-iya. Hei, kau kenapa? Aku melihatmu tersenyum seperti orang gila saat berpamitan dengan Yudha, tiba-tiba kau terdiam saat bertemu dengan Alvin-senpai. Sedari tadi aku mengamatimu. Jangan bilang kau belum melupakan Alvin-senpai. Hei Melody, kau itu wanita yang sudah bersuami, tidak baik memiliki perasaan seperti itu pada pria lain meski itu bekas kekasihmu dulu!" Omel Mia yang langsung mendapatkan jitakan di jidat cantiknya.


"Jangan berbicara yang bukan-bukan! Tentu saja aku tahu bagaimana harus memerankan perananku sebagai seorang istri yang baik. Aku hanya mengkhawatirkan Alvin-senpai, bagaimanapun ia bersaudara dengan Yudha. tapi yang tidak aku tahu, kenapa di rumah kakek tidak ada yang pernah membahas tentang Alvin-senpai? Bahkan Yudha sendiripun juga seperti itu, padahal dia sendiri yang memberitahuku jika dia dan Alvin-senpai bersaudara."


"Hm, sepertinya lebih baik kau diam saja, Jenong! Aku takut malah kau akan disalahkan."


"Tentu saja, aku tidak akan bertanya hal-hal yang bukan bagianku. Aku ini hanya orang luar, aku tahu batasanku dan aku menyadarinya." Melody menjawabnya dengan senyuman.


Mia juga tersenyum memaklumi. Mereka berdua berjalan menuju kelas untuk mengukuti mata kuliah manajemen.

__ADS_1


__ADS_2