MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 21


__ADS_3

Tokyo, hari berikutnya..


"Yudha tak bisa ikut pulang bersamamu?" Tanya Alvin.


"Ya, masih ada hal yang perlu Yudha-sama selesaikan." Jawab Shuhei.


"Shuhei, kita ini teman sejak lama. Tak bisakah kau menceritakan apa yang sedang terjadi?" Tanya Alvin.


"Maaf Alvin-sama, saya tidak bisa melakukannya." Jawab Shuhei.


"Aku kakaknya Yudha!"


"Meski Anda aaah kakaknya Yudha-sama, tapi tidak semua hal harus Anda ketahui. Namun percayalah, Yudha-sama itu tidak menghianati Emperor Group." Jelas Shuhei.


"Dia memang tidak akan menghianati Emperor Group, tapi dia bisa menghianatiku kapan saja." Kata Alvin.


"Apakah Anda menyanksikan adik Anda sendiri?" Tanya Shuhei.


"..." Alvin terdiam.


"Yudha-sama memilih Anda untuk menjadi raja Emperor Group. Jika saat ini Yudha-sama tidak kembali karena ada urusan, Yudha-sama tentulah sudah mengetahui konsekuensinya. Namun Yudha-sama tetap melakukannya, itu artinya urusan Yudha-sama tidak ada hubungannya dengan Emperor Group ataupun yang akan merugikan Anda." Shuhei kembali menambah penjelasan.


"..."


"Yudha-sama dari dahulu tidak pernah berubah. Dia hanya ingin melindungi orang-orang yang dikasihinya." Kata Shuhei. "Saya tahu ini tidaklah sopan, tapi saya rasa, Andalah saat ini yang sedang berusaha menghianati diri Anda sendiri. Andalah yang mencoba merubah diri Anda." Tambah Shuhei.


"..."


"Kalau begitu, saya undur diri." Kata Shuhei.


Shuheipun meninggalkan kantor Alvin. Setelah kepergian Shuhei, Alvin merenungkan banyak hal. Salah satunya perkataan dari Shuhei.


"Aku yang berusaha merubah diriku sendiri? Haha, kau benar Shuhei, kau adalah teman yang selalu mengawasi perubahan yang ada pada diriku maupun Yudha. Kau tahu perubahan sekecil apapun di antara kami. Namun sejak dahulu, yang kau ikuti hanyalah Yudha. Ya, aku memang tak pantas kau ikuiti juga, kan? Di antara diriku dan Yudha, hanya Yudhalah yang selalu bersinar... Aku selalu menjadi bayangan yang tak dianggap. Semakin bersinar, maka bayangan semakin tak nampak. Ya seperti itulah diriku. Namun, bayangan ini memiliki rencanannya sendiri. Bayangan ini hidup dan bergerak dengan pola pikirnya sendiri. Aku tak berharap kau dan Yudha akan mengerti apa tujuanku di masa depan... Aku tak seperti yang kebanyakkan orang pikirkan. Di saat semua masuk dalam permainan kakek, aku datang dan membuat permainanku sendiri. Aku akan menang! Aku akan menang! Meski nyawa ini taruhannya sekalipun. Sebaiknya kalian semua juga mempertaruhkan nyawa karena permainan ini adalah hidup dan mati." Batin Alvin. Ia menyunggingkan senyuman penuh arti.


Tok..tok..tok.


"Masuk!" Kata Alvin.


Daisuke pun masuk ke dalam ruangan sesuai perintah Alvin.


"Alvin-sama, data-data tak masuk akal proyek Miyagi sudah didapatkan." Kata Daisuke.


Alvin kembali tersenyum. Ia menggenggam tangannya sendiri. "Kena kalian semua!"


.


.


.


Shuhei berjalan cepat menuju rumah sakit. Ia harus memberitahu nona mudanya itu jika Yudha, sang suami yang amat sangat dicintai dan dibanggakan itu tidak bisa pulang karena masih ada urusan mendadak yang tidak bisa dijelaskan secara rinci apakah arti dari urusan mendadak itu. Oke, satu kalimat yang sangat panjang itu seharusnya dijeda dalam beberapa penggalan kata. Ah, sudahlah. Yang jelas Shuhei sedang banyak pikiran. Ia sedang menduga-duga tentang reaksi Melody setelah mendengar kabar jika Yudha tidak bisa kembali ke Tokyo hari ini bersamanya.


"Urusan dengan Alvin-sama sudah usai. Kini aku harus berhadapan dengan Nona Melody. Aku harus putar otak. Yang dibicarakan di sini adalah Nona Melody! Nona Melody! Mungkin banyak yang berpikir jika menangani Nona Melody itu jauh lebih mudah dari pada menangani Alvin-sama. Namun, asa diketahui saja, Nona Melody adalah orang yang sangat Yudha-sama sulit kendalikan. Nona Melody membuat Yudha-sama yang serba hebat itu kuwalahan. Yudha-sama saja merasa seperti itu, apa lagi dengan diriku? Hah, aku harus terjebak lagi dalam dramatika romansa para majikanku." Batin Shuhei ngenes.


Ngenes: Malang.


Shuhei menyapa Nenek Chiyo dan Mikan. Ia menceritakan apa yang sedang terjadi. Mikan takut setengah mati jika terjadi apa-apa dengan Yudha. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena ia merasa tak memiliki kekuatan lebih untuk membantu Yudha.


"Shuhei, kau temuilah Melody di lantai enam belas. Dia sedang bersama Ayane. Masalah Yudha, biar aku saja yang mengurusnya." Kata Nenek Chiyo.


"Baik, saya paham, Nyonya Besar." Kata Shuhei, ia lalu berjalan menuju lantai enam belas untuk menemui Melody sesuai perintah dari nenek Chiyo.


Usai kepergian Shuhei..


"Ibu, bagaimana ini? Jika terjadi apa-apa dengan Yudha bagaimana? Yudha sendirian, Bu. Aku sangat menghawatirkan dirinya." Panik Mikan.


"Tenanglah, Mikan! Ibu memiliki rencana." Kata Nenek Chiyo.


Nenek Chiyo kemudian mengambil ponselnya. Ia lalu mencari nomor telepon yang ada di kontak ponselnya. Ia menekan tombol panggil.


"Awasi semua pergerakkan yakuza yang ada di Kyoto! Jangan biarkan mereka menyentuh cucuku, Yudha! Kalian mengerti?" Kata Nenek Chiyo di telepon.


Mikan tidak tahu siapa yang ibu mertuanya telepon itu. Ia juga tidak berniat bertanya. Yang jelas, selama itu demi kebaikkan Yudha, maka ia tak mempermasalahkan apapun itu.


Kini kembali ke Shuhei yang harus kembali berlelah ria untuk menjalankan tugasnya. Sepertinya jika ia menilik ke aktivitasnya hari ini, semua sungguh berat. Bernegoisasi dengan wanita-wanita itu lebih alot daripada bernegoisasi dengan laki-laki. Satu kata yang keluar bisa ditafsirkan seribu macam di telinga wanita.


Wanita memang unik.


Dan juga..


Uhuk.. merepotkan.


Shuhei sudah berdiri di depan pintu kamar khusus milik Melody. Ia menarik nafas panjang-panjang dan segera mengeluarkannya setelahnya. Sudah sejak lama ia tak merasa segugup ini. Bahkan lebih gugup dari sidang akhir kuliahnya tahun lalu.


Shuhei mengetuk pintu perlahan.

__ADS_1


"Yudha sayangggg..." Kata Melody manja bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Selamat malam, Melody-sama." Sapa Shuhei.


"Selamat malam juga, Shuhei-san." Kata Melody. Melody langsung celingak celinguk mencari Yudha, suaminya. "Yudha dimana?" Tanya Melody karena merasa tidak mendapati Yudha di depan pintu kamar miliknya.


"Yudha-sama belum bisa kembali hari ini, Melody-sama." Jawab Shuhei.


Shuhei mencoba tersenyum sebaik mungkin agar nona mudanya ini tidak marah.


"Ah, kau bisa saja, Shuhei-san. Katakan sejujurnya, dia ada dimana? Aku tahu dia sedang membuat kejutan. Ne?" Kata Melody yang tak percaya jika Yudha belum bisa kembali.


"Yudha-sama belum bisa kembali hari ini, Melody-sama." Jawab Shuhei lagi. Jawaban yang sama.


"Apa?"


"Yudha-sama belum bisa kembali hari ini, Melody-sama." Shuhei kembali mengulang jawaban yang sama untuk yang ketiga kalinya.


😡


"Shuhei-san, bilang padanya untuk tidak usah kembali sekalian!" Kata Melody kesal.


"Ya, nanti saya akan sampaikan." Kata Shuhei.


"Maaf Shuhei-san, kau beristirahatlah di kamar sebelah! Kau pasti sangat lelah, kan? Perjalanan Kyoto ke Tokyo itu sangat jauh. Sampai kan juga pada Tuan Mudamu untuk tidak usah menghubungiku!" Kata Melody.


"Ya, Nona Melody, nanti saya akan bilang pada Yudha-sama."


Shuheipun akhirnya terbebas dari tugasnya. Hari yang melelahkan untuknya. Ia cukup senang karena Melody menahan amarahnya dengan sangat baik. Setidaknya tidak menunjukkan langsung kepadanya.


Majikan wanitanya lebih baik dari Tuan Mudanya.


"Gomenasai, Yudha-sama. Untuk pemahaman emosi, saya lebih memilih Nona Melody." Batin Shuhei.


.


.


.


Melody berbalik dan langsung duduk di ranjangnya usai menemui Shuhei.


"Aku sudah dandan cantik dibantu Ayane-nee, aku sudah memakai baju yang bagus pula, tapi kau tidak pulang."


Melody menatap foto Yudha di wallpaper ponsel miliknya.


Melody melampiaskan kekeasalannya pada ponselnya. Pada wallpaper foto Yudha.


"Oke, fine, sak karepmu, sak senengmu, sing penting kowe bahagia, sesuk aku gampang! Aku gampang bahagianya. Iya, gampang kok. Lihat saja, aku akan lebih bahagia tanpamu."


Sak karepmu, sak senengmu, sing penting kowe bahagia, sesuk aku gampang: Terserah dirimu, sesuka dirimu, yang penting kau bahagia, aku besok gampang. (Jawa)


"Bahkan, kau tidak mengucapkan apapun alasannya langsung padaku. Hanya lewat Shuhei saja. Kau tidak berinisiatif untuk mengirimku pesan atau menelponku dulu? Bagus ya, Yudh. Bagus!


Melody semakin kesal karena ia tak mendapati kabar apapun dari Yudha. Yudha tak mengirimi sepatah kata atau sepenggal kalimat lewat ponselnya.


"Lihat saja, Yudh! Meski kau nanti menelponku seratus satu kali panggilan telepon pun, aku tidak akan mengangkatnya! Bodo amat! Salah sendiri mengabaikanku dan lebih penting menyelesaikan segala urusanmu di Kyoto.


Melody memilih untuk tidur lebih cepat agar amarahnya hilang. Rasanya tidak nyaman jika harus marah-marah sendirian di kamar seperti ini. Berulang kali ia mengelus perutnya. Anak-anaknya terpengaruh dengan emosinya yang tak stabil. Beberapa kali ia merasan tendangan dari anak-anaknya. Sakit? Tentu saja sakit. Anak-anaknya sudah semakin aktif.


"Kalian kenapa? Sakit loh mama. Pahami papa kalian ya, papa memiliki banyak pekerjaan. Nanti papa pasti pulang. Sabar ya.."


Melody mencoba menenangkan anak-anaknya. Seharusnya ia tak marah-marah seperti ini. Anak-anaknya terpengaruh karena dirinya. Ujung-ujungnya malah menyakiti dirinya sendiri.


"Ini salah Yudha! Awas saja kalau pulang nanti! Aku akan membuat perhitungan! Aku juga tidak akan mebalas pesan singkatmu! Aku juga tidak akan mengangkat panggilan ponselmu!"


Melody mencoba memejamkan kedua matanya. Ia harus segera melupakan rasa kesal hari ini dan membuatnya jauh lebih baik esok hari.


Jam sembilan malam.


Jam sepuluh malam.


Jam sebelas malam.


Jam dua belas malam.


Melody kembali membuka ponselnya. Ia menacroll ke atas untuk mencari tahu jika ada panggilan dari Yudha atau tidak.


Ternyata nihil.


Kosong.


Sampai tengah malam, ponselnya masih bersih tanpa pesan singkat ataupun riwayat panggilan dari suaminya, Yudha. Ia meletakkan kasar ponselnya di atas kasur. Ia kembali mencoba memejaml


Jam satu dini hari.

__ADS_1


Jam dua dini hari.


Jam tiga dini hari.


Jam empat fajar hari.


Lanjut sampai jam lima pagi hari, kemudian jam enam pagi.


"Bocah itu sama sekali tidak mengabariku. Sampai pagi seperti ini, sampai ganti hari, Yudha tidak mengabari aku apa-apa. Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah makan? Apa dia sudah mandi? Siaaalll, harusnya semalam aku tak mengucap sumpah serapah tidak jelas untuk menolak penggilan telepon dari Shuhei. Lalu lihat sekarang ini, mataku sembab dan menghitam kedua pelupuknya! Aku tidak bisa tidur karena otakku terlalu penuh dengan Yudha. Aku memikirkannya sampai tidak bisa tidur. 😢"


Melody kembali menangis. Sejujurnya semalaman dalam kamar, ia menangis sejadinya. Sudah lima hari tak bertemu Yudha. Kini hari-hari tanpa Yudha masih terus berlanjut.


Keluhan Melody ini bukan tanpa dasar. Rasa rindu yang besar membuatnya seperti ini. Ditambah kehamilannya, rasa rindunya menjadi-jadi.


"Yudha..." 😢


Melody meremas sprei ranjangnya. Ia menangis, menangis, dan menangis lagi.


"Maafkan aku semalam sangat berlebihan. Tolong jangan abaikan aku! Tolong tetap hubungi aku! Yudha, aku butuh dirimu."


.


.


.


Di kamar Shuhei..


Shuhei sedang uring-uringan tidak jelas. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ia tidak tenang. Beberapa kali ia membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Yudha, tapi tidak terhubung sama sekali. Semua pesan yang ia kirimkan juga hanya terkirim saja tanpa asa balasan. Sepertinya pesannya sedang nyangkut entah dimana.


Beberapa kali ia menggumamkan kata-kata tidak jelas yang intinya berharap jika Yudha akan baik-baik saja. Yudha tidak mengalami hari yang buruk. Yudha tidak terluka. Dan jyga..


Yudha..


Tidak..


Mati..


Harapan yang tulus ia panjatkan kepada Tuhan. Pasalnya, Shuhei merasa jika saat ini khawatirnya itu tidak wajar. Ia merasa tidak pernah sekhawatir ini di dalam hidupnya. Ia selalu bisa mengatasi emosi-emosi di dalam dirinya. Ia pandai mengatur tingkat emosional dirinya agar tetap berada di titik yang normal. Tetap berada di titik yang tidak berlebihan.


Lalu apa ini?


Perasaan khawatir pada Yudha yang tak biasa. Apakah karena ia menganggap jika Yudha itu susah seperti saudaranya sendiri? Karena merasa sudah seperti saudara maka ia merasa seperti ini?


Sial. Shuhei merasa jika selain sangat khawatir pada Yudha, ia juga mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Yudha-sama, sebaiknya Anda baik-baik saja! Tolong.. tolong jangan sampai Anda terluka!" Kata Shuhei.


Ia harus segera bergerak! Ia harus segera kembali ke Kyoto untuk menemui Yudha! Ia harus mengobati rasa frustasinya karena menghawatirkan Yudha!


Shuheipun menata pakaiannya dan bersiap-siap untuk kembali ke Kyoto. Masa bodoh dengan rasa lelah yang melemahkan fisiknya, yang paling penting ia harus segera tahu apapun yang sedang terjadi pada Yudha.


Mengingat apa yang sedang Yudha kerjakan, ia merasa itu sangatlah besar. Yang Yudha hadapai saat ini adalah para penculik Aron yang ia yakini sebagai orang-orang profesional karena berhasil sembunyi dalam kurun waktu hampir sebulan.


Itu gila!


Dalam waktu sebulan Aron diculik dan disekap, tapi masih memiliki kesempatan untuk hidup.


Shuhei yakin jika saat ini keadaan sosok guru bela dirinya pastilah sangat buruk. Seburuk apakah itu? Buruk dari yang lebih buruk. Shuhei tak bisa menjelaskannya dengan baik dan benar. Ia merasa kurang pandai dalam hal ini.


"Katakan padaku apa yang sedang terjadi! Kenapa Yudha-sama sama sekali tidak bisa dihubungi?" Tanya Shuhei lewat panggilan telepon pada orang-orang suruhannya yang ia sewa untuk menjaga Yudha.


"Yu-Yudha-sama.. Dia-dia diculik orang-orang yang tak dikenal." Jawabnya.


"Apa?" Shuhei kaget bukan main.


"Kami sedang mengejar orang-orang itu. Kami sedang mengawasi pergerakkan mereka. Kami susah tahu dimana mereka membawa Yudha-sama." Jelasnya.


"Lalu bagaimana dengan Aron-san?" Tanya Shuhei.


"Aron-san juga dibawa oleh orang-orang yang membawa Yudha-sama." Jawabnya.


"Apa kau sedang berusaha memberiku informasi jika ada pihak lain yang menginginkan Yudha-sama dan Aron-san?" Simpul Shuhei.


"Ya, seperti itu kondisi di lapangan saat ini, Shuhei-san." Katanya.


"Kalian tetaah awasi mereka. Jika memungkinkan untuk menyelinap, tolong berhati-hatilah jangan sampai ketahuan. Saya tidak mau nyawa mereka berdua terancam!"


"Baik, Shuhei-san!"


________________________________________


Nulisnya sambil berngantuk ria. Pasti banyak typo. Maaf ya, nanti aku coba perbaiki semampunya ya. Tidak janji 😎


Oh iya, ini malah banyak bahas dari sudut pandang Shuhei ya.. 😂 Tidak apa-apa. Biar Shuhei dapat bagian yang cukup lama. Biar adillah meski karakter sampingan. Namun Shuheilah yang banyak berjasa ngajari Yudha soal kehidupan.

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk segala bentuk dukungannya. Like, komen, ataupu share dan vote-nya. Aku bahagia bisa berbagi cerita ini pada kalian semua. Terima kasih juga karena masih setia sampai ke tahap ini.


Sabar mas Yudh, jatah mesummu berkurang banyak. 😎


__ADS_2