MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Penebusan Dosa


__ADS_3

TIME SKIP


"Semua berjalan lancar, operasi donor sumsum tulang belakang berhasil dengan baik. Ayahnya si kembar orang baik, Yudha orang baik, adiknya Alvin-senpai orang baik... Ne Yudh, terima kasih banyak. Terima kasih karena sudah membuat keputusan yang besar, keputusan yang tak mudah untukmu." Ucap Melody ketika menemani Yudha yang masih lemah karena efek obat bius."


"Melihatmu nangis aku tak tenang. Mau bagaimana lagi." Kata Yudha.


"..." Melody senang. Ia tak perlu minta pembuktian cinta dari suaminya. Yudha sudah sangat mencintainya.


"Saat aku di dalam ruang operasi, kau pasti menangis. Matamu bengkak."


"Wajar kan aku seperti itu? Aku istrimu. Melihatmu berjuang tanpa bisa menemani langsung di dekatmu membuatku merasa buruk. Tentu saja aku ingin kau menyelamatkan Alvin-senpai, tapi ketika ada resiko buruk terhadapmu aku pun juga tak bisa tenang. Namun, syukurlah, semua sudah terlewati."


"Boleh kok kalau mau peluk, tapi hati-hati." Yudha tahu jika Melody gemetaran. Itu artinya Melody sedang ketakutan.


"Boleh?"


"Hn..."


Melody tersenyum dan langsung memeluk Yudha. Memeluk dengan hati-hati tentunya.


"Butuh sekitar 3 bulan untuk sumsum tulang belakang dalam memperbaiki sel yang rusak. Setidaknya dalam setahun akan membaik dengan sempurna. Dokter bilang, tubuh Alvin merespon dengan baik sumsum tulang belakang darimu." Jelas Melody.


"Hn." Yudha tak mau berkomentar banyak soal ini. Yang jelas, intinya ia lega dan Melody tahu itu.


"Yudh..."


"Ya?"


"Kau mau makan sesuatu? Ini sudah 4 jam, kau bisa makan atau minum." Tanya Melody.


"Nanti saja..."


"Begitukah?"


"Hn."


"Oh iya, kita akan menjadi paman dan bibi tak lama setelah ini. Si kembar akan punya kakak."


"Jadi Mia diperkosa Alvin ketika Alvin mabuk ya?" Inti dari kisah itu, Yudha sudah mendengarnya usai Mia mengatakan soal kehamilannya.


"Ya, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Alvin-senpai setelah ini, tapi dia sudah tahu soal kehamilannya Mia. Semoga saja mereka bisa lebih dewasa saat menghadapinya."


"Tanggung jawablah... biar dia tidak ngejar-ngejar kamu lagi." Gumam Yudha tidak jelas.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak..."


"Aku yakin tadi kau mengatakannya..."


"Tidak mengatakan apa-apa."

__ADS_1


"Haish, tapi aku mendengar samar-samar."


"Kau salah dengar, Mel..."


"..." Melody cemberut.


"..." Yudha diam saja.


"..."


"..."


Suasana jadi diam hingga akhirnya Melody membuka mulutnya.


"Yudh..."


"Hn?"


"Mana mungkin aku meninggalkan suamiku si pemegang Kartu As yang bisa mengalahkan 2 Joker sekaligus. Joker Merah si Alvin-senpai dan Joker Hitam Kakek... ATM berjalanku adalah yang paling berharga." Senyum Melody sambil menatap Yudha.


"Cih, i'm not your moneybag! I'm your husband!" Yudha ikutan tersenyum. Ia tak akan meragukan cinta Melody sampai kapanpun.


Sepasang suami istri ini pun larut dalam tawa kebahagiaan.


.


.


.


Semua orang sudah saling bergantian menjenguk Alvin yang sudah siuman itu. Mulai dari kakek Wijaya, nenek Chiyo, Mikan, Shuhei, dan Aron.


Kini meninggalkan ibunya Alvin, Kurenai dan Mia. Tentunya ada polisi juga yang bertugas menjaga Kurenai.


"Maafkan ibu, Alvin... Maaf karena keegoisan dan dosa ibu, kau harus menanggung karma atas perbuatan jahat ibu selama ini... Ibu tidak minta apa-apa lagi, ibu hanya ingin kau sehat dan berumur panjang. Hidup dengan baik dan bahagia.... Ibu, sudah tahu soal kehamilan nak Mia. Ibu menyerahkan apapun keputusan terbaik di kalian berdua. Ibu tak akan mencampurinya... Namun, karena harapan ibu bebas tidak ada, maka dari itu, bisnis kosmetik milik ibu, ibu serahkan kepadamu. Jika kau tak ingin, maka, kau bisa memperkerjakan CEO untuk menghandle semuanya. Ibu tahu, hatimu di rumah sakit, bukan bisnis seperti itu... Jika nanti cucu ibu sudah besar, serahkan saja kepadanya." Kata Kurenai panjang lebar.


"Ibu..." Alvin yang masih lemah tidak tahu harus berbicara apa.


"Nak Mia..." Kurenai menoleh Mia yang duduk di sebelah ranjang Alvin.


"Ya?"


Kurenai memegang kedua tangan Mia. Mia membiarkannya.


"Tolong maafkan Alvin. Alvin memang melecehkanmu, tapi percayalah, Alvin itu orang yang baik. Dia tidak sejahat itu. Dia tidak seperti diriku."


"..." Mia juga tahu Alvin memang baik hati. Sangat baik malahan.


"Lalu... meski ibu ini sangat jahat, tapi mohon biarkan ibu mengakui janin yang kau kandung sebagai cucu ibu..." Kurenai serius soal ini. Mata indahnya juga sangat mengharapkannya.


Mia mengangguk, karena tidak tahu mau jawab apa, ia malah menangis.

__ADS_1


"Tolong jaga Alvin dan cucu ibu..."


"I-iya..."


"Terima kasih banyak... Ibu bisa tenang saat masuk penjara nanti." Senyum Kurenai. Ia melepaskan tangannya dari Mia dan kemudian saling berpelukan.


"Ibu, meski ibu berbuat jahat, tapi ibu tetap ibuku. Meski ibu akan menua di penjara, aku akan tetap menunggu ibu keluar. Jadi, jangan sampai sakit." Ucap Alvin.


Kurenai langsung memeluk Alvin. Ia menangis sejadinya.


"Waktu sudah habis, Nyonya Kurenai, Anda harus kembali..." Seorang polisi memperingatkan.


Kurenai melepaskan pelukannya pada Alvin. Ia mengusap air matanya.


"Baik, Pak..." Ia menunjukkan kedua tangannya, polisi memborgolnya. Ia menoleh ke arah Mia, kemudian ganti ke Alvin. "Ibu akan berjuang sampai saatnya tiba..."


"Sampai jumpa lagi, Ibu..."


Acara perpisahan ibu dan anak pun selesai, kini tinggallah Alvin dan Mia. Semenjak Alvin siuman, mereka berdua belum benar-benar bicara meski dalam ruangan yang sama.


Canggung.


Ada kecanggungan di sana.


Alvin tahu soal kehamilan Mia karena sewaktu Mia memohon kepada Yudha, ia mendengarkannya. Ditambah soal ibunya yang membicarakan cucu, tentulah ia semakin percaya soal kehamilan Mia. Mungkin ini agak buru-buru mengingat ia baru saja melewati hidup dan mati, tapi, ini sesuatu yang tak bisa ia tunda-tunda.


"Sudah berapa bulan? Harusnya 6 mingguan ya?" Alvin berkata sambil melihat ke atas. Ia tak menatap Mia.


"Ya. Maaf, aku tak tahu jika aku akan hamil dalam sekali coba. Maaf, maafkan aku. Tapi tenang saja, aku tak akan membuatmu repot hanya karena aku mengandung anakmu. Kau juga tak perlu menikahiku... Aku tahu, kau memiliki orang yang kau suka." Jelas Mia.


"Apa kau mual-mual? Sick morning mu normal? Ada keluhan lain?"


Kenapa Alvin malah tidak menanggapi ucapannya? Jelas-jelas ia sudah berbicara dengan kalimat yang mudah dipahami, kan?


"Apa kau menginginkan makanan yang aneh-aneh? Sesuatu yang tak biasa seperti mengidam? Kau ingin naik mobil polisi sambil dinyalakan sirine-nya?"


"Senpai..."


"..."


"Jangan memaksakan dirimu. Aku baik-baik saja."


Alvin menoleh ke arah Mia. "Kau tidak baik-baik saja! Kau menghindariku setelah malam itu. Setiap kali aku mendatangimu, kau mengabaikanku! Aku selalu memikirkanmu! Apa kau makan dengan baik? Tidur dengan baik? Apa kau baik-baik saja? Aku kepikiran soal itu semua!"


"Se-Senpai... aku... maaf... waktu itu.. aku belum siap... maaf..." Mia tidak tahu harus bagaimana. Sungguh, hari ini dirinya tak bisa mengendalikan mulutnya. Padahal biasanya ia akan sangat cerewet.


"Yang salah itu aku, yang harusnya minta maaf itu adalah aku..."


"..."


"Mia... meski aku belum sepenuhnya bisa melupakan perasaanku kepada Melody, mau kah kau menungguku?"

__ADS_1


"Heh?"


"Ayo kita menikah!"


__ADS_2