MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 4: Tidak Mengikutimu Lagi


__ADS_3

Pantai Okinawa…


Pantai itu identik dengan pasir putih, ombak menawan, payung, orang rebahan, dan pakaian sexy.. Yaa, itu yang ada di benak Nao. Ia bahkan teriak-teriak tidak jelas untuk mengekspresikan rasa bahagianya.


Bukan hanya itu, mungkin ini kali pertamanya ia bisa bersama-sama teman-temannya setelah sekian lama tak berkumpul untuk liburan.


Nao dan Sai membuat istana pasir, jangan ditertawakan karena mereka berdua memang membuatnya! Efek masa kecil kurang bahagia mungkin?


Yudha, Shuhei, dan Alvin tengah berbincang di bawah payung. Biasa, orang irit bicara dan tak begitu suka keramaian mungkin memang seharusnya seperti itu.


"Ne, Ayumi, kenapa Amamiya tidak ikut berkumpul dengan kita? Kenapa dia menyendiri di kursi santai itu? Sial tubuhnya sangat sempurna." Kata Mia yang kesal tak jelas.


"Yura-chan itu aslinya memang tak banyak bicara, meski kami berteman, tapi kami jarang pergi bersama. Intinya kami tidak begitu dekat. Jika main di pantai, dia memang suka berjemur di bawah sinar matahari. Mungkin itu cara dia untuk menikmati liburan di pantai." Kata Ayumi.


"Eh, Begitu ya? Ne, kenapa Ojou-sama (Tuan Putri) kita malah berpakaian rapat seperti ini? Mana bikinimu yang aku kasih? Tidakkah kau merasa jika memakai jaket di pantai itu justru akan membuatmu kepanasan?" Tanya Mia.


"Takut hitam?"


"Tidak.."


"Lalu?"


"Ano.. etto.. Aku hanya tidak nyaman berpakaian seperti itu di depan banyak orang. Lagipula, aku ini sudah bersuami. Rasanya sudah tidak pantas lagi. Tidak seperti kalian. Kalian juga memiliki tubuh bagus dan sempurna. Jadi kalian terlihat kawaii dan dewasa dengan bikini yang kalian pakai." Jawab Melody.


Melody sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti ini makanya ia mempersiapkannya.


"Waah, Melody-chan sangat dewasa ya?" Puji Ayumi.


"Ayumi, itu bukan dewasa. Rasanya Melody hanya tidak mau menunjukkan tubuh sexynya di depan laki-laki lain yang bukan suaminya.. Hahahah." Kata Mia tertawa renyah.


Ayumi malu sendiri. Melodypun juga.


Pembicaraan dewasa ala suami-istri di usia muda itu manis sekali.


"Bu-bukan seperti itu, Bebek." Melody jadi mengingat adegan kiss mark tadi pagi. Ah, kenapa jadi panas ya? Bodoh, matahari saja sudah meninggi! Yakin karena itu? Hmm, ano.

__ADS_1


"Hoi, hoi, mukanya memerah."


"Berhenti menggodaku!"


"Sudah, Mia-chan, Melody-chan jadi malu."


"Baiklah. Iya paham, iya paham."


Hahhahahaha


.


.


.


. Melody Cinta


.


.


"Shuhei baru saja pergi membeli makanan ringan dan minuman bersama Alvin. Nao dan Sai kau bisa melihatnya sendiri jika mereka sedang menikmati masa kecil yang sempat terlewatkan."


"Melody?"


"Dia bersama Mia dan Ayumi. Tadi bilang ingin mencari ice cream."


"Hm, begitu?"


"…"


"Ne Yudha-kun…"


"Hn?"

__ADS_1


"Kau semakin berbeda saja."


"Apanya?" Bukan berarti Yudha tak tahu, ia memang sengaja melakukannya.


Bisa dibilang mencoba berubah.


"Semenjak kau menikah, kau menjadi sulit dihubungi. Padahal dulu kau pasti akan menemuiku jika aku membutuhkanmu."


"Gomen."


Yura menggeleng pelan. "Rasanya aku mencoba untuk mengerti. Apa aku membuatmu kesulitan?"


"…"


Yura memandang jauh ke pantai. Menatap sepanjang jangkauan matanya. Birunya laut terlihat sangat indah di mata indahnya.


"Kau berjanji akan selalu menjagaku. Kau ingat?"


"..."


"Dulu waktu kita kecil, kita sering bermain di taman sekolah sembari menunggu mobil jemputan masing-masing dari kita. Aku naik ayunan dan kau yang mengayunkannya. Saat itu pula kau berjanji akan selalu menjagaku. Kita selalu bersama, tapi kini semua terasa berbeda. Kau berubah dengan begitu cepatnya."


"Maaf membuatmu merasa seperti itu. Tapi ketahuilah, tak selamanya aku akan mengikutimu karena janji kekanakan kita dulu. Kupikir mudah bagimu untuk memahaminya."


Yura mencolos mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Yudha.


Berhenti mengikuti dirinya dan memutuskan janjinya kepada dirinya adalah kata-kata paling menyakitkan dari Yudha terhadapnya. Ia bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan mendapatkan kata-kata seperti itu.


Raut wajah Yura terlihat memucat, kedua matanya juga terlihat berair.


"Kuharap kau bahagia selalu, Yudha-kun." Kata Yura.


Ia lantas bangkit dari dudukknya dan meninggalkan Yudha.


Yudha yang memang tak menatap Yura saat berbincang karena ia sudah tahu jika kata-katanya akan menyakiti Yura.

__ADS_1


Ada dilema di dalam hatinya. Ia masih ada rasa sakit hati karena Yura lebih memilih karirnya daripada menikah dengan dirinya, lebih dari itu, sepertinya itu memang yang terbaik. Ya, walau rasanya di dada sesak juga.


__ADS_2