
Yudha masuk ke kamarnya. Ia melihat Melody sedang tertidur. Padahal jika Yudha tahu, Melody sebenarnya hanya sedang pura-pura tidur.
Melihat Melody yang begitu nyamannya tertidur, Yudha hanya membenarkan selimut Melody yang sedikit berantakkan. Ia lalu berjalan ke balkon kamarnya. Ia duduk di kursi yang ada di balkon itu. Ia memandang jauh ke luar pemandangan sekitar hotel. Matanya menyiratkan kepedihan.
Melody membuka matanya, ia menoleh ke arah Yudha yang ada di balkon kamar mereka. Cukup jelas karena di dominasi oleh jendela kaca transparan. Saat itu, ia merasa lara melihat suaminya memandang hampa pemandangan indah di depannya. Melody paham, suaminya itu pasti mengalami banyak kesulitan.
Itu pasti karena dirinya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya. Seperti kata Yura kemarin.
Tak terasa, air matanya tiba-tiba saja mengalir begitu saja.
Ini pertama kalinya ia menangis begitu dalamnya hanya karena seorang laki-laki, ayahnya pengecualian. Dan rasanya sangat menyesakkan.
.
.
.
Sore harinya...
"Kau tidak boleh pergi! Perhatikan luka di kakimu!" Kata Yudha.
Ini cukup alot. Awalnya Melody tak berniat membuka suara dengan Yudha, tapi karena ia ingin pergi ke festival musim panas yang kemarin ia kunjungi, ia harus berbicara pada Yudha. Ia ingin meminta izin pada Yudha. Namun Yudha melarangnya hanya karena luka di kakinya. Mereka menjadi bicara dengan nada pertengkaran.
"Nao-kun mengundang kita. Kalau kau tak mau ikut, tinggal saja di hotel!"
Melody tak ingin membalas dengan nada ketus seperti ini. Tapi jika mengingat apa yang terjadi tadi siang, rasanya ia ingin emosi terus. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau kesal seperti itu?"
"Apaan sih, siapa juga yang kesal? Dasar sensian."
Mereka bahkan melupakan insiden mammoth tadi pagi. Kecanggungan yang mereka pikirkan tidak terjadi. Berganti pertengkaran yang tak mereka duga.
Sebenarnya alasannya sepele, hanya karena mood yang buruk semua berubah menjadi semakin buruk. Naik otot sedikit aja memancing pitam.
"Sebaiknya kau tak berkata seperti itu, Melody!"
"Aku sudah menyetujui undangan Nao-kun, aku hanya menepati janjiku. Aku juga bosan di hotel, aku ingin jalan-jalan. Kakiku baik-baik saja." Melody melenggang pergi.
"Hei!"
Melody juga mengabaikan panggilan dari Yudha.
Yudha tidak mengerti.
Ia lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengamati baju kimono hitam di sampingnya. Kimono hitam itu pasti Melody yang menyiapkannya. Kebanyakan orang jepang akan memakai baju adat seperti kimono atau yukata saat menghadiri perayaan/ festival seperti festival musim panas.
Apa mengkhawatirkan keadaan Melody itu salah? Kenapa Melody sewot seperti itu? Ia bahkan membangkangnya. Selama ini, Melody itu sangat penurut. Ini pertama kalinya Melody bersikap seperti ini di depannya.
Ini membuatnya kesal.
Melody bahkan menyuruhnya untuk tinggal di hotel sendirian.
__ADS_1
Melody pergi tanpa izin darinya.
Bagaimana kalau luka di kaki Melody semakin parah?
Bagaima kalau nanti terjadi apa-apa pada Melody?
Bagaimana kalau Melody menghilang lagi? Tersesat seperti kemarin?
Sial.
Ia memang tak bisa membiarkan Melody pergi sendirian. Maksudnya tanpa dirinya.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon Shuhei.
"Shuhei, dalam 20 menit siapkan mobil! Kita akan menyusul Melody dan yang lainnya. Jangan lupa memakai kimono!"
Setelah mendapat persetujuan dari Shuhei, ia lalu menyambar kimononya dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dengan kimono hitam itu.
.
.
.
Melodi Cinta.
.
.
.
Yukatta yang Melody pakai dibawa oleh Neil, termasuk kimono milik Yudha. Neil bilang, itu dari kakek Wijaya. Hadiah karena sudah menjalankan bisnis dengan baik yang secara tidak langsung membawa nama baik Emperor Group.
Mia dan Ayumi yang merias wajah Melody. Ayumi yang keibuan juga menata rambut Melody yang panjang itu dengan model bund. Ayumi menghiasi mahkota milik Melody itu dengan tusuk konde cantik berhiasan bunga ungu dan pink.
Melody sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik dari saat mereka melihat Melody di pernikahannya dengan balutan pakaian adat. Mereka merasa jika Melody itu semakin lama semakin cantik saja.
.
.
.
Sesampainya di tempat diadakannya festival musim panas, rombongan mobil Nao bertemu dengan romobongan mobil Sai yaitu Yura, Alvin, dan Neil. Mereka pun masuk ke dalam festival musim panas itu.
Mengamati, melihat, dan membeli jajanan, kerajinan yang di tawarkan para pedagang di festival musim panas itu.
Mood Melody memang sedang tak begitu baik. Wajah cemberut kesalnya tidak bisa ia sembunyikan dengan baik. Semua ini karena Yudha!
Padahal ia ingin senang-senang di liburan terakhirnya di Okinawa.
"Yudha tak ikut?" Tanya Alvin.
__ADS_1
"Ya begitulah." Jawab Melody bosan.
"Dia tidak menyukai keramaian juga sih. Kau sedang kesal?" Tanya Alvin.
Melody tidak boleh membuat Alvin berpikir yang tidak-tidak. "Haha, kesal sedikit kok. Tapi aku ke kesini untuk bersenang-senang!"
"Hah, baiklah. Ayo bersenang-senang!"
Mereka memang masuk ke dalam festival bersama, tapi tidak tahu kenapa mereka menjadi terpisah-pisah. Ayumi dengan Mia, Nao dengan Sai dan Neil, Melody dengan Alvin, dan Yura memang bilang ingin sendirian.
.
.
.
Melody dan Alvin.
Mereka berdua membeli manisan apel. Melody terlihat lahap memakannya. Membuat Alvin penasaran dengan rasanya.
"Ingin mencobanya?" Melody menyodorkan manisan apel yang ia makan kepada Alvin.
Alvin mengangguk dan memakan manisan apel milik Melody. Hanya segigitan.
"Enak."
Melody tersenyum. Saat dengan Alvin memang yang ada hanya rasa bahagia. Seniornya ini selalu menciptakan ruang nyaman baginya.
"Kata paman pedagang, apel ini asli dari kebunnya. Ah, jika masih punya waktu, aku sungguh ingin mengunjunginya."
"Lain kali pasti bisa."
"Kuharap."
"Ne senpai."
"Hm? Apa?"
"Lihatlah! Itu bukankah ikan koi? Ayo lomba menangkap ikan itu!"
"Baiklah. Siapa takut."
Dengan sangat semangat mereka berdua beradu menangkap ikan koi. Senyum dan tawa lepas selalu mereka sunggingkan. Membuat aura sekitar berubah cerah dan berhiaskan bunga.
Gagal.
Ikannya lepas lagi.
Coba lagi. Gagal lagi.
Ya selalu seperti itu. Melody maupun Alvinpun. Ikan koi itu sangat lincah. Berlari kesana kemari menghindari jala mini milik Alvin dan Melody.
Mereka ingin tertawa karena kalah dengan anak SMP setempat yang berhasil menangkap 6 ikan koi kecil. Mereka, satupun tidak dapat.
__ADS_1
Meskipun begitu, mereka merasa sangat senang. Seperti mengulang kenangan beberapa tahun silam. Mereka dulu juga mengunjungi festival musim panas dan melakukan hal yang sama. Membeli permen kapas, manisan apel, takoyaki, dan tak lupa bermain menangkap ikan koi.
Kenangan manis itu terukir di benak Alvin, bahkan Melody juga tak bisa melupakannya.