MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Informasi Dari Mia


__ADS_3

Sebuah ruangan nan megah yang bernuansa gothic, dimana terdapat seorang pria yang sedang berdiri di depan sebuah altar. Menanti sang putri yang sedang menuju ke arahnya. Terus berjalan dengan tudung kepala yang menutupi wajahnya, sang putri menundukkan kepalanya. Tudung kepala yang juga bernuansa gothic tersebut menjuntai ke lantai dan terseret bersamaan dengan langkah maju sang putri. Kemudian, sang putri pun menaiki undakan tangga dan disambut oleh uluran tangan sang pria. Sang putri segera mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan sang pria yang akan menjadi pemiliknya.


Berdiri berhadapan, sang pria pun meraih tangan kiri sang putri. Dengan tenang, sang pria mulai memasangkan sebuah cincin yang berhiaskan permata ruby di jari manis sang putri. "Mulai detik ini, akulah pangeranmu. Dan kau adalah milikku," kalimat tersebut terucap dari kedua bibir sang pria yang kini telah resmi menjadi pemilik bagi sang putri.


Terlihat seorang gadis cantik berambut sedada sedang duduk di dalam sebuah mobil sambil membaca sebuah novel yang ditemani oleh camilan manis kue nastar buatan sang ibu mertua.


Sesekali ia menyeruput susu kotak khusus ibu hamil yang kini telah menjadi sahabat setianya yang harus ada kemanapun dirinya berada. Oke, ini berlebihan.


Gadis tersebut bernama Melody Hawang, ah ralat, Kazehaya Melody, seorang mahasiswi jurusan manajemen di Kazehaya University. Ia sangat menyukai novel fantasi dan juga sangat suka untuk mengoleksinya. Salah satunya adalah novel yang sekarang ini sedang dibacanya.


"Ayane-san, jadi pemain utama di kisah novel fantasi sepertinya sangat seru ya?" Tanya Melody.


"Karena fantasi menawarkan kita untuk berimajinasi yang tidak ada di dunia ini. Itu adalah alasannya." Jawab Ayane yang sedang fokus nyetir mobil.


Hari ini mereka berdua sedang ada dalam sebuah perjalanan ke tempat Mia.


"Benar apa yang kau katakan, Ayane-nee. Hah. Aku jadi ingin menjadi Tuan Putri dengan Yudha sebagai Pangerannya. Lalu hidup bahagia selama-lamanya."


"Jika Anda tak menyerah dengan apa yang terjadi pada Anda saat ini, maka Anda akan bisa terus bersama dengan Pangeran Yudha, Tuan Putri!" Ayane mulai menghibur Melody.


Melody lalu tertawa. "Ayane-nee.. kau ini, aku kan bisa terbang kalau disamakan dengan seorang Tuan Putri. Ho ho ho ho ho ho. Aku jadi ingin tertawa ngakak. Astaga.. h h h h h h h h h h h h h h h h." Melody tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya ia jadi terbatuk-batuk.


Ia meminum kembali sisa susu kotak khusus hamilnya.


"Melody-sama, jika Anda mengangkat kedua tangan Anda tinggi-tinggi, maka rasa sakit karwna tersedak akan hilang." Kata Ayane. Ia mengurangi kecepatan dan membelokkan mobilnya di sebuah perempatan jalan.


"Eh, masak?" Tanya Melody tak percaya.


"Coba saja, Melody-sama."


"Baiklah." Melody sungguh melakukan apa yang Ayane katakan padanya. Ia mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya ke atas. Menunggu dalam beberapa saat dan ya, benar, tersedak karena minuman yang menyakitkan tenggorokkan sungguh hilang. "Eh, kok bisa? Aku baru tahu ada cara seperti ini." Tanyanya.


"Memang sudah ada cara seperti itu sejak dulu, Melody-sama."


"Yaah.. aku baru tahu.. kalau tahu dari dulu, aku tak akan kesakitan kalau tersedak. Aku ini cukup sering tersedak. Apa lagi kalau sedang bersama Yudha, suka kaget saat makan."


Ayane hanya tersenyum. Tuan Muda dan istrinya memang suka bercanda saat makan. Tak mau berlarut, ia pun melanjutkan perjalanan.


Meloy juga melanjutkan membaca novel miliknya.


Sedang asyiknya membaca, tiba-tiba terdengar alunan musik yang berasal dari ponselnya. Menandakan bahwa ada panggilan masuk.


Setelah menandai bagian yang sudah ia baca pada novelnya, Melody bergegas menyentuh kata 'answer' pada layar ponselnya.


"Moshi-moshi, hallo?" Ucap Melody setelah menerima panggilan tersebut.


Sayup-sayup terdengar suara dari seberang sana yang menjawab salam Melody.


"Ada perlu apa, Mia?" Tanya Melody kepada sahabat terdekatnya yang juga kuliah di Kazehaya University dan mengambil jurusan yang sama dengannya.


Sahabat dekat sahabat perjuangan. H h h h. Hmm, sudah tahu kok hubungan merea berdua bagaimana. Tak perlu diberi penjelasan gamblang lagi.


"Kapan kau datang? Aku rindu." Kata Mia.


"Ha'i ha'i. Aku akan segera ke sana. Dasar, hah h h h h h, kau kenapa sih? Tak biasanya manja seperti ini?" Tanya Melody.


"Memang tak boleh? Kau saja suka sepedti itu kan? Huh dasar."


"Iya, iya, maaf. Ya sudah, kau tunggu saja kedatanganku!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Melody memutuskan sambungan telpon dan berdiri dari tempat duduknya. Bergegas untuk menuju rumah sahabatnya yang memang dekat dengan rumahnya.


.


.


.


MELODY'S POV


Aku dan Ayane buru-buru ke hotel dimana Mia menginap. Aku baru tahu jika dia menginap di hotel. Aku kira dia akan ada di rumahnya. Tumben sekali dia seperti itu. Hotel tempatnya menginap pun tak jauh-jauh amat dari kediamannya.

__ADS_1


Apa dia sedang mencari suasana baru?


Hanya itu kemungkinan paling masuk akal dari yang bisa aku simpulkan saat ini. Mia juga manusia biasa yang perlu suasana baru, kan? Aku saja suka bosan kalau selalu di rumah sakit, lantai 16, aku pun akan keliling gedung untuk menghibur diri agar tidak penat karena menatap pemandangan yang sama.


Di parkiran mobil, aku berjumpa dengan Alvin-senpai.


Ah, orang yang sangat ingin aku benci saat ini menampakkan diri di hadapanku. Terakhir aku melihatnya sekitar tiga harian yang lalu. Aku masih mengingat dengan jelas apa yang sudah ia lakukan pada Yudha. Aku pun juga tak berniat melupakannya.


Alvin yang aku sangka baik, nyatanya dialah sendiri dalang dari penculikkan Yudha. Bagaimana dia bisa tega menjual adiknya sendiri pada orang jahat? Demi proyek besar di perfektur Kyoto?


Jangan bercanda!


Itu berlebihan dan sangat keterlaluan! Aku sungguh tak akan memaafkannya jika sampai terjadi apa-apa pada Yudha! Aku akan membuat perhitungan dengannya saat Yudha terluka karena dia!


Ingat, siapa pun yang menyakiti Yudha itu artinya juga sedang menyakitiku karena aku dan Yudha itu sama dan satu cinta.


Semoga Alvin tidak berbuat konyol. Namun, ada informasi dari Ayumi dan Ayane yang membuat kegalauanku ini fix nyata.


Apa lagi Mia juga memberitahu jika sesuatu memang tak beres mengenai Alvin-senpai. Aku harus memastikannya lagi.


Tunggu.. lalu...


Alvin-senpai kenapa ada di hotel ini?


Apa yang dia lakukan? Menemui klien? Menyapa menejer hotel? Bukankah ini hotel sudah diakuisi oleh Emperor Group belum lama ini di bawah naungan Alvin? Membahas kerja sama? Proyek? Atau.. bertemu dengan Mia?


Banyak sekali dugaank.


Aku menggeleng cepat. Tidak mungkin kan dia datang menemui Mia untuk mengancam Mia karena Mia sudah membututinya sampai ke Kyoto?


Walaupun bisa sepertinya aku hanya terlalu memaksakan pemikiranku akan sesuatu. Ini tidak baik, tapi kadang juga diperlukan untuk menguatkan posisi demi bertahan diri. Mekanisme pertahanan diri gampangnya.


Mending aku cari informasi saja. Apa yang ada di otakku saat ini hanyalah asumsi. Aku tak bisa terus mengandalkan isntingku saja. Aku harus berpikir logis!


END OF MELODY'S POV


.


.


.


Tanpa Melody duga, Mia tiba-tiba memelukknya dengan sangat erat.


"Ada apa, hm?" Tanya Melody.


"Aku hanya sedang merindukanmu. Tidak boleh ya memelukmu seperti ini?" Kata Mia.


"Tentu saja boleh, tapi kau dilarang menekan perutku!"


Mia lalu tertawa. "Iya maaf, ibu hamil tidak boleh marah-marah! Nanti anaknya mirip aku kan repot. Yudha bisa kesal loh."


"Lhah, ya tentu anakku bakal mirip akulah, masak iya mirip dirimu."


"Hei, paling tidak ya mirip ayahnya lah. Pasti mirip Yudha!'


"Aku yang mengandung, aku yang merasakan sakitnya ditendang perutnya, masak anakku harus mirip Yudha? Jieeeeehh.. terlalu!"


Mereka lalu tertawa.


Di sini Melody sadar jika meski pun Mia saat ini sedang tertawa, tapi mata sendu Mia tak bisa membohonginya. Rasanya miris dan pilu ketika melihat sahabat terdekatnya itu tidak baik-baik saja.


"Ayo Mel, Ayane-san! Duduk dulu! Ayo kita makan! Mumpung ada banyak makanan!" Kata Mia.


Mereka semua duduk di kursi yang ada di kamar hotel milik Mia. Mia saat ini sedang menyiapkan makanan yang sebenarnya dari Alvin. Ia tak berselera makan, tapi ia tak bisa menunjukkannya karena ada Melody. Untuk saat ini, ia sama sekali belum siap untuk menceritakan apa yang sedang ia alami. Ia belum siap cerita pada Melody soal pemerkosaan yang sudah Alvin lakukan terhadap dirinya.


"Sudah tidak mual-mual lagi, Mel?" Tanya Mia. Ia melihat Melody makan udang.


Meldoy menggeleng. "Aku tidak tahu sejak kapan, tapi emesisku sudah membaik. Masih muntah sih, tapi tidak seekstrim dulu." Jawab Melody.

__ADS_1


"Sudah naik berapa kilo, Mel?"


"Hmm.. 16 kg ada kayaknya. Stress mah kalau mikirin berat badan. Tapi tak apalah, Yudha bilang aku tetap cantik walau gendut. Cieh, ketahuan bohongnya, dia pasti tidak akan kuat menggendongku nanti." Sungut Melody.


"Kau harus menurunkan berat badan usai lahiran nanti!"


"Kau benar, aku tetap harus menjaga penampilanku agar suamiku tetap hanya melihatku!"


"Hei, Yudha itu tergila-gila padamu. Tenty dia hanya akan melihatmu!" Mia tahu seberapa cintanya Yudha kepada Melody.


"Tapi cewek-cewek perawan di sekitar dia sangat banyak. Cantik-cantik lagi. Aku suka takut kalau dia tergoda."


Yudha itu memiliki tingkat ketampanan yang tak biasa. Yudha itu ulzzang. Mudah sekali menggoda pandangan para hawa.


"Kau harus percaya pada Yudha. Yudha tak akan melakukan itu. Lagi pula, sebentar lagi ada anak kalian. Yudha itu tipe bertanggung jawab pada keluarga. Kau dan anak-anak kalian tetap akan menjadi nomor satu untuk Yudha." Senyum Mia.


Melody ikutan tersenyum. "Aku jadi merindukan Yudha." Gumamnya.


"Bukankah tiap hari kau bilang jika kau merindukan Yudha?"


"Hahah, iya sih." Cengir Melody. "Nah Mia, kita sudahi saja basa-basi kita, aku ingin bertanya sesuatu padamu." Kata Melody.


"Tanya saja. Aku juga sudah memepersiapkan semua jawaban yang ingin kau ketahui." Kata Mia yang memang sudah sia dengan kedatangan Melody.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Melody.


"Hah?" Mia cengo.


"Aku tanya, apa kau baik-baik saja?" Melody mengulangi pertanyaan.


"Aku sudah sangat siap soal hasil kerja ala detektif yang aku lakukan akhir-akhir ini, kenapa kau malah tanya soal aku sih? Kabarku lagi?" Mia tak habis pikir.


"Kau nampak pucat, matamu sembab, aku tahu kau sedang tak baik-baik saja. Aku khawatir! ... Kenapa kau pakai jaket tebal? Sampai leher lagi. Apa kau sedang sakit?" Kata Melody.


Ayane tak berniat menyela dua sahabat yang sedang asyik bercengkrama ini. Ia akan memberikan waktu yang banyak agar Nona Mudanya dan Mia bisa melepas rindu. Semenjak Melody diculik, sampai kembali, mereka baru ini dipertemukan secara langsung, sebelumnya hanya memakai panggilan video.


"Terima kasih sudah menghawatirkanku! Aku memang sedang tak enak badan, Mel. Aku kedinginan, demam gitu, tapi hari ini sudah jauh lebih baik kok. So, jangan berpikir yang berlebihan. Fokus saja dengan masalah utama yang sedang jau hadapai saat ini! Yudha jauh lebih penting dari apapun!" Jelas Mia.


"Kau yakin?" Melody ingin memastikan.


"Iya. Percaya deh, Mel! Kau sudah membaik!" Mia berusaha semangat.


Dalam hati kecilnya, Melody masih belum yakin. Rasanya masih ada yang mengganjal. Namun lagi-lagi, Mia mencoba meyakinkannya. Alhasil, ia pun mencoba percaya pada apa yang Mia katakan kepadanya.


Mia meminta Melody untuk menghabiskan makanan itu, lalu memberikan segelas juz apel kemasan cup plastik.


"Sampai disediakan juz apel segala." Melody meminum juz apel dari Mia yang sebebarnya juga pemberian dari Alvin.


"Spesisl untuk ibu hamil seperti dirimu! Senyum Mia. "Ayane-san, makan yang banyak! Jangan jaim kepadaku dan Melody! Makanlah semuayabiar tidak kurus!" Tambah Mia.


"Perutku rasanya sudah penuh, aku tak sanggup lagi untuk memakannya." Kata Ayane rak lupa dengan seyumannya.


"Hmm, begitu ya.."


"Ya.."


Melody mengelap tangannya dengan tisu. Tangannya masih di basah karena baru saja cuci tangan. Mia dan Ayane saling bantu untuk membersihkan sampah bekas wadah makanan yang mereka makan tadi.


Setelah itu, mereka kembali duduk bersama untuk membahas inti dari kedatangan Melody dan Ayane menemui Mia.


"Mia, langsung saja, ini soal Alvin-senpai, kau seriusan?" Tanya Melody.


"Ya. Seperti yang sudah aku katakan padamu lewat ponsel, dan kau juga pasti sudah mendengarnya dari Ayumi dan Ayane-san juga, aku tahu dimana Yudha disekap, aku juga tahu jika Alvin-senpai terlibat. Motif aslinya aku belum paham, tapi intinya mereka memang mengincar Emperor Group." Kata Mia.


"Apakah kau melihat orang ini di sana?" Melody menunjukkan sebuah foto pada Mia.


Mia langsung melebarkan matanya. "Iya! Iya! Orang yang ada di dalam foto itu ada di sana! Aku melihatnya... By the why, kau kenal siapa dia? Aku sama sekali belum pernah melihatnya." Kata Mia.


"Saga Masamune. Dia CEO Kyoto Contruction, perusahaan yang saat ini sedang bekerja sama dengan Emperor Group." Kata Melody."

__ADS_1


"Saga ya? Hmm, dia tampan loh aslinya. Menurutku memang tampan! Lebih tampan dari yang di foto!"


"Mia, apa saat ini itu waktu yang cocok untuk bercanda. Haaah."


__ADS_2