MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Laporan


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepatnya. Melody memulai PKL-nya. Yudha kembali ke Tokyo untuk mengurusi urusan pekerjaannya. Ia juga harus menghadapi hukumannya sebagai tahanan kota yang ‘kabur’ ke kota lain.


Beruntungnya Yudha tidak mendaptakan kurungan, ia hanya mendapatkan peringatan.


Saat di kantor polisi, ada kejadian lucu di sana. Salah satu komandan kepolosian yang juga kenal dengan Yudha mengatakan jika Yudha itu sangat romantis karena rela menentang hukum demi menyelamatkan istrinya. Itu memang benar, tapi malu juga jika dipuji polisi karena hal itu.


"Kazehaya-san, apa Anda tahu, beberapa saat yang lalu, istri Anda bahkan juga ke sini untuk menyewa mobil patroli kami." Kata Komandan Kepolisian, Pak Nakamura.


Yudha memincingkan matanya. Melody menyewa mobil patroli miliki kepolisian Tokyo? Untuk apa? Kenapa ia tidak tahu ada hal seperti ini?


Yudha menoleh ke Shuhei yang berdiri di sampingnya. Ia ingin meminta kepastian itu dari Shuhei, tapi nihil, Shuhei juga tidak mengetahui hal itu.


"A-apa yang dia lakukan, Nakamura-san? Apa dia melakukan kesalahan?" Tanya Yudha. Ia bahkan cukup kesulitan untuk mengendalikan perkataannya.


"Bukan melakukan kesalahan, Kazehaya-san. Seperti yang tadi saya bilang, istri Anda hanya menyewanya saja. Ah, kalau tidak salah dia datang bersama dua orang temannya. Satu perempuan dan seorang laki-laki tampan. Laki-laki itu adalah kakak Anda. Saya cukup yakin akan hal itu." Jawab Pak Nakamura.


Siapa sih yang tidak kenal dengan keluarga ternama di Jepang ini? Keluarga kaya raya dengan segala drama panjang kisahnya.


Bagi pejabat kepolisian seperti dirinya yang selalu menangani kasus keluarga Kazehaya tentulah hal ini tidak asing untuk mengingat nama dan wajah anggota keluarga Kazehaya.


Dulu Nakamura membantu menangani kasus kecelakaan Yoga Kazehaya atau ayah Yudha. Nakamura juga membantu mengirimkan agen polisi terlatih untuk menjaga Yudha dari upaya percobaan pembunuhan.


"Oh, itu Avin. Lalu, apa yang mereka lakukan dengan mobil patroli itu, Nakamura-san?" Tanya Yudha penasaran meski sedikit kesal juga.


"Sepertinya istri Anda mengidam ingin keliling kota naik mobil patroli milik polisi. Dia bahkan meminta untuk menyalakan sirine juga." Jawab Pak Nakamura.


Hah?


Jika bukan sedang di kantor polisi, Yudha pasti susah mangap tidak jelas. Bagaimana bisa istrinya itu mengidam naik mobil patroli milik polisi lalu keliling kota Tokyo? Dengan sirine yang menyala? Bukankah itu aneh bin absurd?


Kok tiba-tiba kesal ya?


Kesalnya karena Melody tidak memberitahukan keinginannya pada dirinya. Ini menyangkut anaknya, janin yang Melody kandung, kenapa Melody tidak mencoba mendiskusikan hal itu padanya? Apakah Melody menganggapnya itu tidak penting sehingga lebih memilih tidak memberitahu dirinya?


Stop!


Pemikiran itu tidak boleh mencuat ke atas lagi! Meski kesal, tapi jika diingat time line-nya, sebenarnya itu adalah kesalahannya. Yudha sadar akan itu. Ia harus menyingkirkan segala prasangka buruk yang tidak perlu.


Saat ini, ia merasa bahagia dengan Melody. Itu sudah cukup.


"Istri saya memang suka meminta aneh-aneh. Saya mohon maaf atas ketidak nyamanannya, Nakamura-san." Kata Yudha.


"Tidak masalah, Kazehaya-san. Istri Anda sangat melindungi imej Anda dan nama baik keluarga Kazehaya. Dia bilang tidak mengajak Anda karena tidak ingin membuat Anda malu. Istri Anda hebat, dia bahkan tahu cara menyembunyikan wajahnya di tempat umum. Istri Anda dan dua orang temannya itu memakai topeng." Jelas Pak Nakamura.


Clear!


Semua sudah jelas. Yudha memang tak harus memiliki perasaan kesal itu pada Melody. Melody sudah melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri meski tahu pada saat itu Melody sedang bertengkar dengannya.


Perbincangan ringan itupun berakhir. Yudha pamit pergi meninggalkan kantor kepolisisan Tokyo.

__ADS_1


.


.


.


Tempat parkir wilayah kantor kepolisisan Tokyo..


"Shuhei, kau masuklah ke mobil duluan! Aku ingin menelpon Melody." Pinta Yudha.


"Baik, Yudha-sama." Angguk Shuhei dan mengerjakan perintah Yudha.


Yudha mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Melody.


"Yudha kenapa lama sekali tidak menghubungiku, hah? Kau mencoba selingkuh dengan ulat genit itu ya? Coba jelaskan!" Sambar Melody.


Yudha bahkan sampai harus menjauhkan telinganya dari ponselnya.


"Jika ada orang telepon, sapalah dahulu, bukan menanyai hal yang tidak jelas seperti itu!" Protes Yudha.


Melody mendecih di Miyagi sana.


"Moshi-moshi, suamiku selamat siang.." Melody menahan kesalnya.


Moshi-moshi: Hallo.


"Selamat siang juga, istriku! Nah ini loh yang aku maksud. Kan enak jadinya. Aku tak harus memeriksakan tensi darahku setelah ini."


"Sekarang jelaskan padaku, suamiku! Dari tadi pagi kenapa kau tidak membalas pesanku? Kemana saja kau? Dengan siapa? Ngapain saja? Kau tidak selingkuh kan dengan si ulat genit itu?" Pertanyaan Melody semakin bertambah banyak.


"Kau bertanya apa sedang introgasi sih?" Kesal juga lama-lama kalau dicurigai.


"Jawab saja apa susahnya sih, Yudh! Aku kan hanya bertanya! Jangan bilang kau mau mencoba mengeles membuat alibi untuk mengelabuhiku? Aku sungguh tak akan pernah mau kau sentuh lagi!"


Ancaman itu lagi.


"Pagi-pagi aku ke kantor polisis untuk memenuhi panggilan karena tidak wajib lapor selama dua hari beturut-turut. Sampai ini baru keluar dari kantor polisi. Aku pergi dengan Shuhei dan aku tidak selingkuh dengan Yura! Aku juga tidak pernah berpikir untuk menghianatimu!"


Melody sudah menduga jika Yudha pasti akan kena masalah karena ke luar kota di masa sedang menjadi tahanan kota. Tapi kan tetap saja ia masih kesal karena diabaikan.


"Aku minta bukti sekarang juga!" Pinta Melody.


Yudha mendesah panjang. Ia lalu mengubah panggilannnya menjadi mode video.


"Kau lihat shuhei ada di dalam mobil?" Tanya Yudha.


"Iya aku melihatnya." Jawab Melody.


Yudha menoleh ke Shuhei, Shuhei menyadari tatapan Tuan Mudanya. "Shuhei, lambaikan tanganmu!" Pinta Yudha.

__ADS_1


Shuhei cukup paham, iapun melambaikan tangannya.


"Sudah percaya?" Tanya Yudha.


"Hehe, iya percaya." Kekeh Melody.


"Kau ini curigaan melulu, padahal kau sudah tahu perasaanku padamu itu bagaimana."


"Ya maaf, tapi aku kan hanya khawatir kau akan meninggalkanku. Aku masih takutlah mengingat kau suka pergi-pergi meninggalkanku sendirian." Gerutu Melody.


"Jika kita saling percaya dan setia satu sama lain, meski mau kelayapan dengan siapa saja atau kemana saja, perasaan kita tetap tidak akan berubah, Mel."


Benar juga sih. Melody tahu kok seberapa dalam perasaan Yudha pada dirinya. Hanya diancam dapat pengurangan jatah saja, Yudha sudah uring-uringan tidak jelas.


Tapi sepertinya ia ingin menggoda suaminya itu.


"Jadi maksudmu aku boleh kan kelayapan dengan teman pria di kantor PKL? Berarti meski itu Alvin-senpai sekalipun, kau tetap percaya padaku, kan?"


"ITU DILARANG!"


"Loh kenapa? Katanya asal kita saling percaya dan setia maka tidak masalah? Perasaan kita akan tetap sama.. Hm, jadi kau belum mempercayaiku ya?"


Yudha marah. Melody menahan tawanya.


"Dengar Mel, aku sangat cemburu saat ini! Jangan coba menguji batas cemburuku lagi. Kau akan tahu akibatnya. Akhir pekan nanti jika proses ivestigasi tahap akhirku selesai, aku akan ke sana! Aku akan membuat perhitungan denganmu yang sudah menguji rasa cemburuku! Aku pastikan kau tidak akan bisa bangun dari ranjang!" Ancam Yudha. Ia cukup serius akan hal ini.


"Hei, aku hanya bercanda!" Teriak Melody.


Sial batinnya. Ia malah menempatkan dirinya terjebak di dalam kemesuman Yudha.


"Mel, kau tunggu saja waktunya! Persiapkan dirmu baik-baik. Aku pasti akan membuatmu hanya menyebut namaku!"


"Aku bilang, aku hanya bercanda! Aku sedang hamil, bodoh! Kita dilarang melakukan hubungan intim yang berlebihan! Itu bahaya untuk anak-anak kita!"


"Sampai jumpa di ranjang akhir pekan nanti, Melody-sayang." Tutup telpon Yudha.


Yudha senyum-senyum sendiri. Ia menjadi tak sabar menunggu hari itu.


.


.


.


Sementara itu di Miyagi..


"YUDHA BRENGSEK!" Kesal Melody karena Yudha mematikan ponselnya.


Sepertinya akhir pekan nanti dirinya harus lembur. 😑

__ADS_1


__ADS_2