MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kisah di Bawah Salju 8


__ADS_3

"Aku sudah memutuskan untuk tidak bertengkar denganmu lagi, Yudh. Jadi aku harap kau mengatakan yang sejujur-jujurnya dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi akhir-akhir ini." Kata Melody.


"Kalau kau memintaku sambil menatapku tajam seperti itu, aku jadi kesulitan mengatakannya. Harusnya kau bersikap manis seperti yang tadi, itu lebih menenangkan hatiku." Yudha menyentuh dadanya.


Melody menghela nafas. "Suamiku sayang, berhentilah bercanda! Istrimu yang hamil ini sungguh ingin mengetahui segala kebenaranya! Jadi please, katakan apa yang sesungguhnya terjadi mulai dari awal mula semua masalah yang menimpa."


"Peluklah aku, istriku sayang! Aku sungguh memerlukan pelukkan hangat dari istri hamilku untuk menengakan hatiku."


Melody berkacak pinggang meski akhirnya ia tak ragu untuk memeluk Yudha. Suaminya ini bisa menjadi sangat aneh. Itu hitam putih yang tak bisa ia terka-terka. Hanya kejujuran Yudha yang bisa menjawabnya.


"Aku sudah memelukmu! Sekarang ceritakan!" Pinta Melody tidak sabar.


Yudha melepaskannya. "Setelah ini kau pasti akan memelukku lagi."


"Jangan terlalu percaya diri, calon papa!"


"Aku ini cukup percaya diri, calon mama!"


Mereka saling pandang dan saling tertawa setelahnya.


Melody kembali menatap Yudha. Suaminya itu masih sama tampannya. Suaminya masih sama tinghgi badannya. Masih sama sexynya, masih sama juga belaian lembutnya. Yang berbeda hanya raut muka yang berubah.


Apakah Yudha memiliki masalah besar? Sangat besar sehingga bisa membuat wajah yang tadinya penuh aura bahagia menjadi berat seperti ini? Apakah ini wajah penuh masalah Yudha? Melody kesal karena ini pertama kali ia melihatnya.


"Kecelakaan Yura dengan mobilku itu salah sasaran. Seseorang ingin melakukan percobaan pembunuhan kepadaku." Kata Yudha.


Melody melebarkan kedua matanya. Ia menutup mulutnya tak menyangka. Air mata bahkan jatuh tanpa siizin darinya.


Tubuh Melody bergetar hebat. Yudha merengkuhnya ke dalam dada bidangnya.


"Bisa-bisanya kau hanya diam saja tanpa menceritakannya padaku. Itu sangat kejam, Yudh. Aku ini istrimu! Sebegitu tak mempercayaiku ya dirimu itu?" Kata Melody.


Yudha masih memeluk Melody. "Aku baru mengatakannya setelah kejadian itu lama berlalu kau sudah ketakutan seperti ini. Bagaimana jika aku mengatakannya saat itu juga? Aku hanya tak ingin membuatmu khawatir. Kau memiliki tanggungan kuliahmu, aku tak ingin menganggumu dengan masalahku.


"Tapi jika kau menceritakannya padaku, aku tidak akan merasa seperti ini. Apakah aku ini istri yang tidak pengertian?"


Yudha melepaskan pelukkannya. "Kau melebihi ekpektasiku. Kau sudah bekerja keras, Mel!"


"Jangan memujiku dengan ucapan manismu, Yudh! Aku merasa diriku ini tak berguna."


"Kata siapa kau tak berguna? Kau tahu, saat aku pulang ke rumah dan melihat dirimu, segala masalah yang aku alami menjadi jauh lebih ringan."

__ADS_1


Melody senang mendengar penuturan Yudha. Dirinya yang seperti ini saja bisa membuat Yudha merasa membaik.


"Kau tidak punya musuh, tapi kenapa ada orang jahat yang ingin membunuhmu?" Tanya Melody.


"Kehidupanku dengan marga Kazehaya yang aku junjung tidaklah mudah. Dari dulu sudah banyak yang menginginkan kematianku, tapi Tuhan selalu memberikan keberuntungan kepadaku." Jawab Yudha.


Lemas.


Kaki Melody melemas. Ternyata suaminya sudah sering diincar untuk dibunuh. Yudha menceritakan setidaknya lebih dari sepuluh kali percobaan pembunuhan yang ia alami sejak kecil. Itulah kenapa sang kakek sampai harus mengirimkannya pengawal. Dulu sewaktu kecil, ia memiliki banyak pengawal yang menjaganya. Namun setelah masuk usia sekolah menengah pertama, Yudha mempelajari beberapa kelas olah diri seperti karate dan juudo agar ia bisa membela diri. Akhirnya, para pengawal itu dikurangi dan menyisakan Shuhei saja.


"Duduklah di situ!" Kata Yudha. Ia menunjuk kursi taman panjang penuh dengan salju yang ada di dekatnya. Ia lalu membersihkannya.


Melodypun duduk di kursi taman itu. Yudha lalu ikutan duduk di sampingnya.


"Setelah tahu fakta ini, apa kau takut menikah denganku?" Tanya Yudha.


"Bohong jika aku berkata tidak, kan? Tapi aku percaya jika kau akan melindungiku. Kita marahan saja kau masih mau menyusulku di tengah badai. Walaupun mungkin itu hanya demi anak-anak yang aku kandung, setidaknya kau peduli." Jawab Melody.


"Bicara apa sih kau ini? Dengar, aku menghawatirkan kalian bertiga! Aku akui aku tak pandai mengendalikan emosiku ketika menyangkut akan dirimu, tapi kau dan anak-anak kita adalah tujuan hidupku yang paling besar."


Melody meraih tangan Yudha dan mendekapnya ke dalam dada. "Meski ini egois, meski ini berat, tolong lindungi kami!"


Yudha memeluk Melody. "Nyawaku taruhannya!"


"Jangan pernah bilang kau mempertaruhkan nyawamu untuk kami, Yudh! AKU TIDAK MENGIZINKANMU, MATI!" Kata Melody di sela tangisannya.


Yudha hanya bisa minta maaf meski dalam hati ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Masa depannya tak akan pernah bisa ia terka-terka. Takdir Tuhan itu sulit ditebak.


"Berjanjilah Yudh, apapun yang terjadi jangan mati! Jangan tinggalin aku sendiri sama anak-anak!" Rajuk Melody.


Yudha mengangguk meski tak yakin. "Aku akan bertahan semampuku. Namun, kumohon padamu, kau jangan pergi-pergi lagi! Jangan sering meninggalkan rumah! Apa lagi sendiri, aku bisa gila hanya dengan memikirkannya!"


Melody menggeleng. "Aku akan tinggal di rumah, aku akan melakukan permintaanmu, apapaun itu, tapi kau berjanji harus terus mengirimi kabar!"


Yudha melepaskan pelukkannya. "Apa kau sedang menjadikan ini agar kau selalu bisa berkirim pesan denganku saat kita berpisah?" Goda Yudha.


Benar sih. Tapi khawatir juga.


"Cih.."


"Kan malu lagi.."

__ADS_1


"Yudha.."


"Haha, kawaii.."


Melody mengerucutkan bibirnya. Yudha yang tak tahan dengan sikap menggemaskan Melody justru mendaratkan kecupan singat dan cepat di bibir Melody.


"Ah, aku membuatnya semakin memerah!" Kata Yudha.


😖


"Kau ini selalu nyebelin deh!" Melody menarik mantel Yudha dan membalas ciuman Yudha. Ia lalu tersenyum puas ketika berhasil membuat Yudha kaget dan malu. "Hee, kau bahkan bisa lebih malu dariku!" Goda Melody tengil.


Yudha mengalihkan pandangannya. "Aku tidak malu!"


"Dasar Pangeran Tsundere!"


"Apa kau bilang?"


"Tsundere.." Ulang Melody.


"Kau ini ya, bagaimana kau bisa mengatai suamimu dengan sebutan laknat itu?" Kesal Yudha.


"Kenapa sih? Itu kan manis, sama sepertimu yang sangat manis sekali bagai gula satu ton dicampur sakarin dua milyar ton!" Kata Melody asal.


"Lebay."


"Biar. Tapi ini romantis, kan?"


"Romantis itu seperti ini, Mel!" Kata Yudha yang memegang pipi Melody dengan tangan kanannya. Ia kembali mencium bibir Melody.


Yudha melepaskan ciuman yang cukup lama itu.


Melody menatapnya kesal, meski suka juga dengan perlakuan Yudha terhadapnya. Padahal ada banyak hal penting yang harus dibahas, tapi ia tidak ingin melewatkan saat-saat indah bersama Yudha seperti ini.


"Mau sampai kapan kau menciumku, Yudh? Sudah berapa kali coba kau melakukannya? Tidak puaskah dirimu?" Tanya Melody. Dalam hati sebenarnya ia juga tidak pernah bisa puas. Ia ketagihan akan bibir Yudha itu. Sangat menyengat, bukan sakit, tapi indah.


"Tidak puaslah!" Beda dengan Melody, Yudha lebih memilih untuk berkata jujur. "Jika kau membuka sediki bibirmu, rasanya akan semakin indah." Kata Yudha.


Dan mereka kembali berciuman.


Lebih berani dari sebelumnya. Mereka berdua berani mengeksplor bibir lawannya. Menyalurkan segala rasa yang bisa dirasa. Menyerahkan segala emosi jiwa dan raga. Saling menuntut dan memberi nyamannya suasana. Salju putih itu belumlah ternoda, tapi apa daya, hanya bisa terdiam menjadi saksi bisu bagaimana dua insan manusia ini saling mencinta.

__ADS_1


Sepertinya memang harus berlanjut lagi, kisah di bawah salju ini ingin lebih banyak memberi cerita.


__ADS_2