
Alvin Café and Resto...
Namikaze Nao mengundang makan bersama para sahabatnya. Yudha beserta istrinya, Melody adalah wajib datang dalam undangan makan bersama. Ia juga mengundang Alvin, Sai, Yura, Neil, dan Ayumi. Mereka semua berkumpul di cafe milik Alvin.
Mumpung masih di Jepang, Nao merasa ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Kapan lagi ia memiliki kesempatan seperti ini lagi, kan? Ia memang harus memanfaatkan setiap moment yang ada.
"Makanlah dengan baik kalian semua! Aku yang bayar!" Kata Nao.
"Jiah, pamer duit." Sindir Neil yang memang selalu adu argumen dengan Nao. Ingat, sisi sister-complex miliknya masih melekat.
"Kenapa sih sensi seperti itu? Hei kakak ipar, aku ini hanya sedang berbagi rezeki!" Nao tidak terima.
"Hangan memanggilku kakak ipar! Sejak kapan aku merestui hubunganmu dengan adikku?" Kesal Neil.
"Kalian berdua bisa diam tidak sih?" Ayumi mencoba melerai. "Bintang utama kita itu Yudha dan Melody. Pengantin baru kita!" Lanjutnya.
"A-Ayumi-san, ka-kami bukan pengantin baru!" Sanggah Melody malu.
"Cih, kaluan berisik sekali sih? Bisa tidak diam untuk semenit saja? Aku sedang menikmati pastaku." Kata Sai.
"Sudahlah Nao, Neil, Ayumi, kasihan Sai jika kalian berisik. Sebentar lagi kalian akan mendapatkan senyuman maut dari Sai." Kata Yudha asal.
Sai jika tersenyum itu bagai mayat hidup. Tiba-tiba saja suasana menjadi horor. Tidak tahu kenapa bisa seperti itu, tapi itu sungguh terjadi. Nao saja tidak mau jika harus terkunci berdua dengan Sai di ruangan yang sama.
"Sudah, mari lanjut makan saja!" Kata Alvin.
Yudha menoleh ke Melody yang duduk di sampingnya. Ia tahu suasana seperti ini tidak biasa Melody hadapi. Tanpa sepengetahuan yang lain, Yudha menggenggam tangan kiri Melody.
Yudha tak berkata apa-apa pada Melody. Namun Melody merasa jauh lebih baik ketika Yudha menggenggam tangannya. Rasanya hangat dan merasa tidak sendiri.
Usai makan, mereka berbincang ringan.
"Kau akan ikut kan, Alvin?" Tanya Yudha.
"Undangan dari Yudha mana bisa aku tolak, kan?" Kata Alvin.
"Waah, dengan begini maka akan semakin rame liburan musim panas kali ini." Kata Nao yang terlihat sangat bersemangat siang itu.
"Kita kesana tak hanya untuk liburan saja, Nao-kun. Bukankah kau sedang meninjau pembangunan resort kerja samamu dengan Yudha-kun?" Sela Ayumi.
__ADS_1
Nao hanya garuk-garuk saja. "I-iya juga sih, hehe.."
"Dasar, pentingkan kerjaan dulu baru liburan!" Kata Yudha.
"Nao bodoh." Kata Neil.
"Neil, kau.." Kesal Nao.
"Sudah, sudah! Berhenti bermesraan! Kalemlah sedikit seperti Melody dan Yura!" Kata Sai.
Semua menoleh ke arah dua wanita cantik yang sedari tadi tak mengeluarkan suaranya meski suasana percakapan sangat ramai oleh tingkah konyol Nao.
Melody yang duduk di sebelah Yudha hanya tersenyum kikuk saja menanggapi sindiran dari Sai. Sudah dibilang kan, meski sudah mengenal teman-teman Yudha, tapi obrolan mereka tak begitu Melody mengerti. Ditambah lagi di situ ada Alvin sang mantan dan Yura-cewek yang Yudha sukai.
Apa ada hal lain yang bisa dilakukan selain berdiam diri?
"Melody-chan baik-baik saja?" Tanya Nao yng duduk di sampingnya Melody.
"Hm, baik-baik saja, Nao-kun. A-aku hanya senang melihat keakraban kalian jadi kurasa aku tak perlu mengganggunya." Jawab Melody.
"Hee, apaan coba, Melody-chan? Melody-chan juga harus berbicara donk! Kita semua kan berteman." Kata Ayumi.
"Ba-baiklah, aku akan lebih banyak bicara." Kata Melody akhirnya.
Haruskah ia menggenggam tangan Melody lebih erat lagi?
"Lalu, ada apa denganmu, Yura? Aku tahu kau memang tak begitu banyak bicara, tapi kali ini kau hanya diam saja, kau sedang tidak enak badan?" Tanya Sai.
"I'm ok, Sai-kun." Jawab Yura singkat.
Jujur saja, sedari tadi yang Yura lakukan hanya memperhatikan Yudha yang duduk begitu dekat dengan Melody, padahal dulu dirinyalah yang selalu duduk di dekat Yudha. Rasanya kesal karena tempat duduknya diambil oleh Melody hanya karena status istri yang menurut Yura adalah status bodoh dan menyebalkan.
"Loh, Yura, bukannya kau biasanya cerewet jika ada Yudha?" Tanya Nao.
Semua memelotot kepada Nao. Sementara Nao seolah melemparkan tatapan 'apanya yang salah?'
Rasanya menjadi canggung.
"Mungkin ada yang sedang kau pikirkan, Yura?" Tanya Neil mencoba mencairkan suasan canggung itu.
__ADS_1
"Ah kau benar, Neil-kun. Aku ada pemotretan sebentar lagi." Yura melihat ke jam tangannya. "Sepertinya aku harus bergegas." Yura berdiri dan mengambil tasnya.
"Aku akan mengantarkanmu." Kata Sai.
Yurapun hanya mengangguk. Dan mereka berdua berpamitan untuk pergi.
"Ada apa sih dengan mereka berdua?" Tanya Nao.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Nao itu. Karena Nao terlalu bodoh dan sangat tidak peka atau apa makanya ia bisa dengan enteng melontarkan pertanyaan itu.
Yudha tak banyak bicara di luar rencana ke Okinawa sudah pasti karena Yura ada di situ.
Melody memang sudah terjebak antara Alvin dan Yura.
Neil dan Ayumi begitu memahami bagaimana hubungan Yudha dan Yura sebelumnya, mereka juga tahu jika saat ini sudah berbeda karena Melody adalah istri Yudha.
Alvin? Ia mati-matian bersikap senatural mungkin di depan Yudha maupun Melody.
.
.
.
Yudha, Melody, Nao, Alvin, Ayumi, dan Neil melanjutkan acara mengobrol mereka dengan makan siang bersama. Menikmati lezatnya hidangan penutup restoran yang Alvin kelola adalah hal yang menyenangkan.
Semakin mereka dewasa, rasanya semakin sulit saja waktu untuk bersama. Setelah masa sekolah terpisah jarak, rasanya tidak berlebihan mereka jika berharap hari ini adalah awal untuk kebersamaan yang lebih sering ke depannya.
.
.
.
Dari arah luar restoran, tepatnya kursi pengunjung di teras restoran, sebenarnya Kurenai telah mengawasi percakapan anaknya dengan teman-temannya. Ia berniat menemui Alvin, tapi ia urungkan karena ia melihat anaknya terlihat sedang terjebak di obrolan-obrolan bersama teman-temannya.
Sebagai ibu, Kurenai paham betul jika anaknya itu tak begitu menikmati obrolan itu, maka dari itu, Kurenai lebih memilih mengamati. Mungkin saja ia menemukan sesuatu karena di antara teman-teman Alvin ada Yudha, anak dari orang yang dulu sangat dicintainya dan juga cucu kesayangan Kakek Wijaya sang lawan main gamenya.
"Hmm, Begitu ya, rupanya seperti itu. Anak muda memang menyenangkan.." Batin Kurenai.
__ADS_1
Kurenai mengambil kaca mata hitam dan memakainya.
"Pelayan!" Panggilnya pelan saat melihat pelayan yang melintas di dekatnya. "Bayarlah ke kasir, sisanya boleh kau ambil!" Katanya langsung pergi setelah menyerahkan beberapa lembar uang yen pada pelayan itu.