
“Kau ingin mendengarkan sebuah kisah?” Tanya kakek Wijaya.
“Sebuah kisah?“ Tanya Melody.
Rada tak yakin dengan ungkapan kakek Wijaya, setahunya, kakek mertuanya itu bukan orang yang suka mendongeng sebelum tidur. Tapi ia ingin mendengarnya, sudah lama ia tidak berbincang dengan sang kakek. Iapun lalu mengangguk menyetujuinya.
"Ini adalah kisah yang sangat panjang, jadi dengarkan baik-baik!" Pinta Kakek Wijaya.
"Iya, Kek.. Ano, apakah kisa itu?"
Kakek Wijaya menggeret kursinya agar lebih dekat ke ranjang pasien milik Melody. Ia kemudian meminum air mineral botol yang ada di meja, setelah itu ia menakupkan jemari tangannya dan mulai bercerita.
“Dahulu ada seorang teman kakek, dia sangat baik dan pekerja keras. Dia memiliki impian yang besar."
"..." Melody mendengarkannya dengan seksama. Ia tidak berani menyela.
"Suatu saat, dia harus menikahi wanita yang tak dicintainya karena suatu perjodohan. Karena teman kakek itu adalah orang yang baik, maka dia mencoba berbakti kepada orang tuanya dengan menikahi wanita itu."
"..." Bukankah kisahnya cukup mirip? Menikah karena dijodohkan sebagai bentuk dari perwujudan bakti kepada orang tua?
"Dia mencoba menjalani kehidupannya. Pelan-pelan. Sulit itu jelas. Selang tiga tahun pernikahan, hadirlah seorang putri cantik di dalam pernikahan mereka..”
Ini kisah yang menarik, setidknya memiliki kemiripan dengan apa yang ia alami.
“Apakah mereka akhirnya bahagia?”
Tanya Melody.
“Masalah kehidupan itu selalu datang dan pergi, Melody. Begitupun kehidupan rumah tangga teman kakek. Semua menganggap jika dengan hadirnya anak di antara mereka, maka mereka akan bisa saling mencintai dan hidup bahagia selamanya. Itu hanyalah sebuah harapan semu, teman kakek melakukan kesalahan besar. Dia memilih meninggalkan keluarga kecilnya demi impian besarnya. Dia memilih mewujudkan impiannya.”
Jawab Kakek Wijaya.
“Aku tahu jika impian seseorang itu sangat berarti, tapi apa itu sulit untuk mewujudkannya bersama orang yang ada di sampingnya?”
“Itu kesalahan teman kakek, dia berpikir jika anak dan istrinya itu akan menghalangi impiannya.”
“Itu sangat jahat, Kek..”
Kakek Wijaya menggeleng. “Kakek bilang teman kakek adalah orang yang sangat baik. Dia memang sangat baik. Dia meninggalkan keluarga kecilnya untuk impian besarnya itu benar adanya, tapi..."
"Tapi?" Melody penasaran akan hal ini.
"Dia akan kembali saat impian besarnya itu terwujud. Dia ingin mempersembahkan segala pencapaian impiannya kepada anak dan istrinya.”
“Lalu, apa Beliau sungguh kembali?”
“Dia kembali. Hanya saja...”
__ADS_1
“Hanya saja?”
“Saat dia kembali, anak dan istrinya sudah menghilang entah kemana. Dia hanya bisa meratapi apa yang sudah dia lakukan."
"..." Melody merasa buruk saat mendengarnya.
"Egonya membawa petaka. Meski niatnya bagus, tapi karena dia tak mengatakan apa yang sejujurnya, maka semua menjadi penyesalan yang sangat besar dan tak berujung."
"..." Itu naas.
"Dia ingin keluarga kecilnya kembali, dia mencarinya setiap waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bahkan, tahun berganti tahun. Dia tak pernah lelah mencoba mencarinya."
"Lalu apakah Beliau menemukan istri dan anaknya?" Melody sangat mengharapkan kisah bahagia dari teman kakek mertuanya itu.
"Tidak. Dia tidak menemukan keberadaan mereka. Pada akhirnya, dia meninggal karena penyesalan atas perbuatannya.”
Melody mencolos. Itu kisah yang memilukan. Penyesalan memang datangnya hanya di akhir. Manusia tidak ada yang pernah tahu bagaimana takdir Tuhan itu.
“Miris sekali..”
Melody merasa sedih. Apa katena efek kehamilan jadi emosinya ikutan terpengaruh?
“Begitulah. Semua yang terjadi di dunia ini itu tak mungkin hanyalah sebuah kebetulan. Tuhan pasti sudah merencanakannya. Di saat teman baik kakek tak bisa menemukan keluarga yang ditinggalkannya, kini kakek malah yang menemukannya. Itu juga sebagian janji kakek kepadanya.”
“Menemukan mereka?”
“Hn, dan dia sekarang tengah mengandung keturunan Kazehaya.”
Mata Melody membesar. Mengandung keturunan Kazehaya? Saat ini?
Benarkah ini semua? Dari kisah panjang yang kakek mertunya ceritakan mengungkap kenyataan yang begitu besar? Dan semua sudah terskenario dengan apiknya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa?
“Ja-jadi teman baik kakek itu?”
Tanya Melody hati-hati. Apakah mungkin kesimpulan di benaknya diamini oleh sang kakek mertua?
“Ya, Takahashi Hadinata, kakek kandungmu.”
“Kakekku? Ka-kakek ka-kandung-ku?” Melody terbata.
Melody mencoba menata hatinya yang kaget bukan main. Ia ingat samar-samar tentang silsilah keluarganya, tapi memang benar jika ia tidak mengenal bagaimana sosok kakek kandungnya. Ibunya tidak pernah bercerita apapun soal kakeknya. Apa jangan-jangan ibunya juga tidak tahu?
“Sayang sekali, di saat aku menemukan kau dan ibumu, nenekmu sudah tiada sejak kau kecil. Maafkan kakek yang begitu lama mencari kalian.”
Kakek Wijaya bahkan sampai bangkit dari duduknya dan membungkuk untuk meminta maaf kepadanya.
Cerita macam apa ini?
__ADS_1
Keajaiban?
Takdir?
Sungguh..
Ini sungguh di luar kuasa Melody. Melihat begitu tulusnya kakek Wijaya menceritakan semua ini, memaksanya untuk mempercayainya. Bahkan diakhiri dengan permintaan maaf atas penyesalan yang dibuat. Kisah ini sungguh nyata terjadi.
Jadi, selama ini yang sudah terjadi dalam hidupnya memiliki benang merah? Ia bertemu kakek Wijaya yang terluka, ia menyumbangkan darahnya, lalu ditawari sebuah pernikahan untuk memperbaiki hidupnya. Semua sudah ada jalannya dan saling berhubungan? Serpihan-serpihan kecil setiap kisahnya merupakan satu kesatuan yang utuh?
Sulit dipercaya meski nyatanya sungguh terjadi. Semua sungguh terjadi pada kisah hidupnya. Itu semua ia alami. Haruskah ia tertawa? Haruskah ia bersedih? Ia hanya terlalu terkejut dan tak tahu bagaimana ia harus menyikapinya.
Takdir Tuhan tertulis apik.
“Maaf, kakek tidak mengatakannya sejak awal. Kakek hanya ingin mencari waktu yang tepat saja."
"..." Sekali lagi. Bagaimana ia harus bersikap? Fakta ini baru saja memukul telak kepalanya.
"Andai saja waktu itu kakek tidak tertusuk pisau dan kau tidak menemukan kakek, maka mungkin kakek tidak mencari tahu latar belakangmu dan kau tidak ada di sini. Kakek bersyukur, kakek bisa menemukanmu dan ibumu. Dengan begitu, janjiku pada Hadinata bisa terpenuhi."
"..."
"Nah Melody, apa kau marah dengan kesalahan kakekmu?”
Tanya Kakek Wijaya. Ini cukup serius terdengar di telinga Melody.
“...”
“Jujurlah...”
“Aku rasa Beliau hanyalah orang yang bodoh yang begitu pengecut tak mengungkapkan apa yang Beliau rasakan sebenarnya. Tapi, aku tahu jika Beliau sudah mendapatkan karmanya. Aku tidak memiliki hak untuk membencinya. Justru saya bersyukur, meski aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku bahagia karena ternyata aku memiliki seorang kakek.” Melody tersenyum tulus.
Kakek Wijayapun membalas senyuman cucu menantunya. “Jadi, kau mengerti kan maksud kakek menceritakan kisah ini padamu?”
“...”
“Apa kau sungguh-sungguh membenci ayah dari janin yang kau kandung, Melody?”
“...” Melody meremas seprei tempat tidurnya.
“Bocah bodoh itu memang keterlaluan. Tapi kakek tidak ingin kalian bernasib sama dengan Hadinata dengan nenekmu.”
“...”
“Kalian sudah dewasa, kalian sudah bisa menentukan keuntungan dan dampaknya. Kakek hanya memberi jalan.”
“Arigatou gozaimasu, Wijaya-jiisan..”
__ADS_1
jiisan: kakek