
Kediaman Kazehaya, pukul 1 dini hari...
Melody belum bisa tidur. Ia membaca buku tentang kehamilan yang dibelikan ibu mertuanya tempo hari. Ia beberapa kali melirik ke ponselnya. Yudha sama sekali tidak menghubunginya. Yudha bahkan belum pulang.
“Aku akan menunggunya sebentar lagi. Dia pasti akan pulang. Dia sudah berjanji kepadaku.”
Melody mengelus perutnya yang mulai kelihatan membesar.
“Papamu pasti akan pulang! Mungkik di sana sedang terjadi sesuatu yang tak terkendali sehingga memaksa papamu untuk tinggal lebih lama. Tapi mama yakin, papamu akan pulang. Mama percaya pada janji papamu. Ayo kita tunggu sebentar lagi!”
10 menit.
30 menit.
1 jam.
2 jam.
3 jam kemudian.
Sampai akhirnya Melody tertidur. Yudha belum juga mengabarinya. Ketika ia mencoba menghubungi Yudha, ponsel Yudha tidak aktif. Ketika ia ingin menanyakannnya pada Sai, ia sama sekali tidak memiliki nomor Sai. Ia juga tidak enak membangunkan Shuhei hanya untuk meminta nomor Sai.
.
.
.
Melody terbangun kaget, ia tak menyangka jika ia akan tertidur saat menunggu Yudha. Ia melihat ke ranjang sebelahnya, masih rapi. Rasanya hanya tertidur sebentar, tapi nyatanya Sudah jam 8 pagi. Yudha tidak pulang?
Ah, rupanya seperti itu.
Lagi.. lagi.. dan lagi.
“Aku memang bodoh, aku terlalu bodoh karena menaruh harapan tinggi padanya. Semuanya akan berakhir sama, meskipun aku mengandung anaknyapun, pada akhirnya, aku tetaplah orang asing baginya. Hahaha, tololnya diriku ini, miris sekali.”
Gumam Melody.
__ADS_1
Kediaman Kazehaya pagi ini sangat sepi. Kakek Wijaya kembali melakukan perjalanan bisnis seperti biasanya. Karena ia tak mengizinkan Yudha melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dengan alasan kehamilan Melody, maka ia menjadi pengganti Yudha untuk menghandel banyak meeting di luar negeri.
Sementara itu, nenek Chiyo, Tsuchiya, dan Mikan pergi ke daerah Hokaido untuk berziarah ke makam nenek Melody. Mereka bertiga berangkat tadi pagi dan akan menginap di sana untuk beberapa hari. Maklum saja, Tsuchiya juga merindukan kampung halamannya. Kampung masa kecilnya. Ia ingin bernostalgia disana.
Sebenarnya, Melody ingin ikut, ia ingin melihat makam neneknya, ia ingin menyampaikan jika kakeknya, Hadinata, sangat mencintainya dan tidak pernah melupakan neneknya, tapi Yudha tak mengizinkannya, lagipula, ia juga harus siap-siap demi PKLnya di Miyagi pertengahan bulan Desember ini.
"Kenapa masalah selalu muncul ketika aku sendirian? Kenapa kali ini tak hanya kakek, tapi ibu juga berpergian? Aku menyesal menuruti keinginan Yudha, harusnya aku ikut kalian saja. Yudha brengsek! Sial, hanya memikirnya sudah membuatku mual."
Melody bangun dari ranjangnya. Ia menuju kamar mandi dan memuntahkan rasa enegnya.
"Sudah jam 8 pagi kenapa masih kena efek six morning sih?"
Mual dan pusing, itu yang sering ia alami. Tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Semenjak ia tahu jika dirinya sedang berbadan dua, ia menjadi mudah mual dan pusing. Padahal sebelum ia tahu akan kehamilannya, rasanya semua baik-baik saja.
Parahnya lagi, hidungnya kini menjadi sangat sensitif. Ia tidak kuasa mencium bau menyengat. Termasuk parfum. Ia bahkan meminta Ayane untuk mengganti semua kebutuhan mandinya yang berbau menyengat. Parfum miliknya dan Yudha juga sudah tidak ada di meja rias.
"Apa dulu ibu juga seperti ini saat mengandungku dulu? Astaga, aku pasti sangat merepotkan. Ibu, maafkan aku. Harusnya aku lebih bisa berbakti pada ibu. Harusnya aku tidak berdebat dengan ibu. Harusnya aku tak membuat ibu bersedih. Maaf, maaf, maaf.."
Usai muntah, Melody membasuh muka dan menggosok gigi. Ia lalu menatap dirinya sendiri di cermin yang ada di kamar mandi. Menggunakan handuk kecil di sampingnya, iapun mengelap wajah basahnya.
Melody memeluk lembut perut membuncitnya itu. Ia menangis dalam diam. Sesungguhnya ia tidak ingin menangis, apa lagi soal lupa janji Yudha. Namun tak bisa, air matanya selalu di luar kendalinya.
"Yudh.. Di masa depan, kau tak perlu menjanjikan apa-apa lagi padaku! Aku sudah lelah. Aku sudah sangat lelah. Kau lakukanlah sesukamu, aku juga akan melakukan sesukaku! Mungkin bagimu kesalahan yang kau buat itu sederhana, tapi bagiku itu keterlaluan. Sampai hati. Aku sudah tak mau mengharapkan apa-apa lagi padamu. Jadi kuharap kau tidak perlu menggodaku dengan segala perhatian semumu dan berhentilah menghujaniku dengan janji manismu!"
.
.
.
Dari pada pusing dan sakit hati, Melody akhirnya memilih untuk mandi air hangat agar pikirannya lebih fresh. Setelah mandi ia duduk di ranjang dan mengambil ponselnya. Benar juga, satu pesan atau panggilan dari Yudha tetap tak nampak di sana.
"Jika ada namamu di situ, aku mungkin akan kembali luluh, Yudh.. Kau tahu, aku ini bodoh dan memiliki hati yang besar. Aku ini mudah memaafkan kesalahan orang lain. Kau minta maaf meski hanya memakai pesan sms, aku pasti akan memaafkanmu. Namun, nyatanya tak ada. Setelah ini jangan salahkan aku jika aku menjadi sangat kolot!"
Melody mengklik menu kontak dan menscroll ke bawah untuk mencari nama 'Mia-Bebek Sayang' kemudian tanpa pikir panjang ia menekan tanda panggilan.
"Hoaamz, Jenong ada apa pagi-pagi seperti ini menelponku? Aku masih ngantuk." Tanya Mia di ujung sana.
__ADS_1
"Hari ini jadwal kontrol kehamilan, aku mau coba USG. Kau bersedia menemaniku?" Tanya Melody.
"Tumben, Ayane sama Shuhei kemana?"
"Mereka sibuk. Aku tidak enak sering mengganggu mereka."
"Yaelah, kau itu majikan mereka. Itu kan sudah tugas mereka untuk menjagamu!"
"Iya juga sih.. Jadi, kau tidak mau ya menemaniku?" Suara Melody terdengar kecewa.
"Eiih, apaan coba? Tentu saja aku mau, baka! Kupikir kau akan bersama Yudha. Sejak dia tahu kau hamil, diakan menjadi super protektif padamu. Kau ingat, kita sudah dilarang jalan-jalan bersama lagi usai pulang kuliah."
Tentu saja Melody mengingatnya. Karena kondisinya yang tak stabil, Yudha membatasi aktivitasnya akhir-akhir ini.
"Yudha sibuk jaga Amamiya-san di RS." Kata Melody.
"APA? WANITA RUBAH ITU LAGI.."
Melody menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara Mia begitu meledak di telinga.
"Amamiya-san mencoba bunuh diri semalam, Yudha sangat khawatir. Aku bisa apa, kan? Aku ini hanya istri yang kebetulan hamil anaknya saja. Ya tak bisa berbuat apa-apalah saat dia bersedih ria menghawatirkan sahabat tercintanya."
"Kalau kau cemburu bilang saja! Jangan main kode-kodean. Laki-laki mana paham. Buka paha di ranjang, nanti dia juga luluh!"
😡
"MIA BERHENTI BERCANDA!"
"Hahaha, maaf, tunggulah, aku akan bersiap-siap ke tempatmu!"
"Iya. Bye-bye."
"Bye."
Klik. Layar ponselnya menghitam. Melody meletakkan ponsel miliknya itu di ranjang.
"Waktunya bertemu anakku! USG, USG, ahh tidak sabar diriku! Untung aku hamil, aku jadi memiliki pengalihan rasa. Anakku memanglah pekuatku. Aku memiliki alasan kuat untuk bertahan dari semua ini. Gambare Melody!
__ADS_1