MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Berkunjung ke Rumah Mertua 2


__ADS_3

Malam harinya, sepertinya Yudha cukup kesulitan tidur karena merasa agak sempit tidur berdua dengan Melody di ranjang yang tak begitu luas itu.


Melody memang tak banyak bergerak, hanya saja ketika Melody bergerak saat tertidur di samping kali ini, kadang terlihat sangat, ah Yudha tidak tahu bagaimana mengungkapkan apa yang mengganjal di otaknya.


Pakaian Melody nampak sangat cocok dengan kulit Melody yang putih bak porselin itu. Baju tidur cantik, berenda itu cukup tipis sehingga saat Melody bergerak baju tidur itu seolah menempel dan mengikuti bentuk indah tubuh Melody. Memang bukan baju tidur yang sexy atau bahkan transparan, tapi yang membuat Yudha sulit tidur itu karena rasa panas yang tiba-tiba saja muncul saat ia melihat baju tidur istrinya terbuka satu kancing di atas.


?


Posisi tidurnya yang miring ke kanan, berhadapan langsung dengan Melody yang memang miring ke kiri yang entah sejak kapan posisi itu berubah. Seingat Yudha, Melody tidur membelakanginya. Seperti biasanya. Tapi, ketika ia terbangun, ia melihat Melody begitu dekat dengan matanya.


Yudha memang tidak kaget dengan adanya Melody yang tiba-tiba saja ada di depannya itu. Ia juga tidak berteriak kaget ketika mendapati sosok Melody di depan wajahnya. Yang Yudha lakukan hanya mengamati istrinya yang cerwet itu.


Mulai dari rambut, jidat yang lebar, hidung kecil yang mancung, bibir tipis yang errrr. Dagu yang cantik, leher yang indah, ke bawah, lalu yah, ia mendapati kancing baju Melody yang terbuka.


Dengan posisi tidur Melody yang miring seperti itu, Yudha dengan sangat jelas bisa melihat belahan dada Melody yang nampak, Ahh entahlah, rasanya sangat panas jika harus menjelaskannya. Sekilas melihatnya saja sudah membuat keringetan.


??


Yudha berusaha mati-matian untuk membalikkan tubuhnya dan bersiap tidur kembali, tapi rupanya usahanya sia-sia saja. Ia justru semakin kepikiran sosok di sampingnya itu dan semakin membuatnya tak bisa tidur.


Yudha melirik jam dinding warna putih yang ada di kamar Melody. Sudah pukul dua pagi. Tik tok tik tok, detik demi detik jarum kecil itu berjalan. Waktu terus berjalan tapi bagi Yudha, waktu itu berjalan sangat lambat.. Beberapa kali Yudha merubah posisinya. Sepertinya ia sedang gelisah.


Entah kenapa, tak tahu apa, dan bagaimana, Yudha justru kembali menghadap ke posisi tidur Melody. Ia mengamati, memandangi kembali Melody yang sedang tertidur lelap itu.


Melody nampak damai di tidurnya yang nyaman itu- sangat jauh berbeda dengannya yang justru sedang gelisah. Yudha yakin, Melody sedang mimpi indah karena Melody bisa tidur di kamarnya yang sudah sangat Melody rindukan.


Yudha sedikit iri dengan kenyamanan tidur Melody itu.


Melody yang tertidur nyaman seolah menghipnotisnya. Tak tahu kenapa, tangan Yudha tiba-tiba saja bergerak, mengusap pipi mulus Melody. Mengusapnya lembut-sangat lembut.


Yudha sempat berhenti karena tiba-tiba saja Melody bererak pelan. Tapi Melody nampak tak terganggu oleh usapannya di pipi Melody. Yudha menghembuskan nafas leganya. Ia kembali mengelus pipi Melody itu.


Cukup lama mengelus pipi Melody, tangan Yudha bergerak ke bibir Melody yang berwarna pink alami itu. Bibir tipis dan sedikit basah itu sangat menggoda.


Jadi ingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ia tak sengaja mencium Melody. Ia tak munafik jika bibir itu rasanya sangat manis.


"Apa bibir Melody masih sama dengan yang waktu itu?" Tanya batin Yudha.


Rasa penasarannya sangat besar. Ada keinginan kuat untuk ingin sekedar merasakan kembali rasa manis bibir milik Melody.


Yudha sangat merasa penasaran!


Dengan tangannya, Yudha menyibakkan poni Melody yang menghalangi waah cantik Melody. Ia mengusap pelan bibir tipis Melody lalu dengan pelan ia mencium bibir itu dengan penuh perasaan.


YUDHA MENCIUM BIBIR MELODY LAGI!


Manis.


Rasa itu masih sama.


Bibir Melody memang manis seperti ada gula yang menempel di sana. Atau mungkin ada madu karena bibir Melody terlihat mengkilat…?


Rasanya, membuat ketagihan. Hasrat apa yang memasuki otaknya, mengendalikan otak normalnya membuat Yudha berkeinginan untuk terus dan terus menikmati bibir milik Melody itu.


Ada candu di bibir Melody. Yudha yakin itu. Buktinya ia tak mau segera pergi dari bibir itu. Ingin lagi dan lagi. Menciumi, menyesap penuh perasaan, menghayati setiap inchi bibir Melody.


Semakin nikmat saja.

__ADS_1


Astaga ini di luar kendali. Yudha semakin menginginkannya, terus dan terus, berpautan meski Melody tak membalasnya.


Tidak.


Tidak.


Tidak. Yudha kesulitan. Yudha semakin menginginkannya. Bahaya, ia tak bisa berhenti, ia ingin terus berlanjut, ia ingin lebih, Yudha ingin lebih dari sekedar ini.


Rasanya nanggung.


Ini terlalu menggoda, ini terlalu nikmat untuk hanya sekedar ciuman, ini bisa jauh lebih nikmat jika lebih, ini membuat terbang, ini lebih nikmat dari seton tomat di kebun pribadi pamannya, Orion. Ini lebih menggoda dari mobil sport edisi terbaru. Ini lebih enak dari segala hal yang pernah ia rasakan selama ini. Ini gila!


GILA!


Rasa yang gila!


Menggila.


Membuatnya ingin lebih, ingin tambah, ingin lagi dan lagi.


Sial..


Sial…


Sial, Yudha tak bisa menampiknya, ia kesulitan mengendalikan otaknya yang selalu berfikir normal dan dalam kendalinya.


Ini tak seperti soal matematika dengan jawaban pasti. Ini tak seperti soal bahasa yang bisa dikorek banyak opini. Ini jauh lebih mudah, hanya saja memiliki rasa yang rumit dan sulit dijelaskan.


Bagaimana?


Ah, lupakan apa itu normal, apa itu terarah, apa itu batas kewajaran, apa itu berfikir positif, yang ada hanya rasa nikmat, enak, sedap, membuat ketagihan, ingin lebih.


Lebih dan lebih.


Yudha menciumi Melody cukup lama. Anehnya, semakin ia mencium Melody, semakin nikmat saja rasanya. Yudha bahkan menyesap lama bibir Melody. Yang membuatnya semakin gila dan hilang berfikir normal tangannya bergerak ke leher mulus Melody terus ke bawah, ke bawah, dan ke bawah dengan gerakkan sangat pelan.


Sudah.


Cukup!


Yudha sudah tak peduli lagi.


Kepalang tanggung.


Ia juga tak bisa mengendalikannya.


Jika ia mencoba mengendalikannya, rasanya semakin tersiksa. Itu menyakitkan. Sungguh!


Gila! Yudha yang menggilapun membuka kancing ke dua baju tidur Melody. Menyibakkan sedikit sisi kain yang ada kancingnya. Mencoba melihat, mengintip 'tempat' yang membuatnya penasaran. Tempat memang sangat menggoda sedari awalnya. Tempat yang menggoda, membuat sangat penasaran yang bersembunyi rapat di balik baju tidur Melody.


Putih dan mulus.


Kulit Melody memang putih dan bersih sejak pertama kali Yudha bertemu dengan Melody. Namun baru ia sadari jika kulit Melody sekarang ini jauh lebih putih, bahkan sangat indah untuk dipandangi.


Apa itu karena efek perawatan di salon bersama Mia atau apa, yang jelas Yudha menyukainya. Yudha ingin melihatnya lebih, iapun membuka kancing ke tiga.


Ia ingin menyibakkan lebih lebar lagi kain yang ada kancingnya itu hanya saja, ada gejolak lain yang melarangnya. Protes untuk tidak melanjutkan aksinya tersebut. Ada sisi lain yang mengatakan jika tindakannya saat ini tidaklah benar. Meminta untuk berhenti. Meminta untuk kembali berfikir selaras dan normal.

__ADS_1


Berfikir tertata seperti bagaimana semestinya seorang Yudha.


Apa yang baru ia lakukan adalah salah! Tak seharusnya ia melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan Melody! Melody akan merasa sakit hati jika mengetahuinya. Bagaimana bisa seorang Yudha dengan segala kesempurnaan hidupnya bisa melakukan hal tak terhormat seperti itu?


Tak terhormat? Tak pantas?


Sebenarnya bisa juga bukan seperti itu. Dia suami sah Melody, bukankah hal itu memang sudah wajar? Maksudnya memang itu adalah haknya, dan Melody memang berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya atas hak Yudha itu.


Itu tidak salah, kan?


Tidak ada yang salah? Benar, tak salah juga.


Lalu apa masalahnya?


Apa?


Masalahnya, Yudha merasa bersalah dengan perlakuannya pada Melody. Tiba-tiba saa ia merasa menjadi laki-laki yang jahat, laki-laki pengecut yang mempermainkan wanita sepolos Melody. Wanita yang tak seharusnya ikut dalam permainan yang ia mainkan dengan kakeknya.


Yudha sudah terlalu dalam menyeret Melody dalam permainan dan hidupnya, jika pada akhirnya Melody hanya pion kemenangannya, maka Melody akan menderita dan itu karena ulahnya.


Bukankah itu keterlaluan?


Yudha selalu menjujung tinggi prinsipnya untuk tidak akan membuat seorang wanita menangis. Tapi jika pada akhirnya apa yang ia lakukan ini akan membuat Melody menangis, atau menderita, menyebut dirinya laki-laki kejam sepertinya wajar.


Kegelisahannya rasanya semakin tak berujung. Semakin ia berperang dengan kemelut di otaknya. Hatinya yang sangat jarang berpartisipasi seperti inipun juga ikutan berperang.


Apa yang sebaiknya ia lakukan?


Yudha tahu, ia tak akan semudah itu seutuhnya dikuasai hasrat sisi gelapnya. Ita masih sadar batas kewajaran. Sudah saatnya ia berhenti dari kenikmatan setan yang menggoda ini.


Itu yang terbaik, kan? Setidaknya untuk saat ini.


Walau ia sadar benar, hasrat yang tak kesampai sangat menyesakkan.


Tangan yang hampir menyibakkan kain baju Melody langsung Yudha hentikan. Ia lantas bangkit dari ranjangnya dan Melody.


Gerakkannya yang cukup cepat membuat ranjang ikutan bergerak. Hal itu cukup membuat Melody terganggu. Melodypun ikutan terbangun. Melody mengucek pelan matanya yang masih sangat mengantuk itu.


Saat Melody menggerakan tangannya untuk mengucek matanya, baju tidur Melody yang terbuka tiga kancing terlihat menampilkan sebagian besar dadanya yang mulus bersih. Bahkan menampilkan sebagian harta penting wanita yang tertutupi bra pink milik Melody.


Melody menjadi terlihat sangat sexy saat rambut panjangnya nampak berantakkan.


Yudha tak sengaja melihatnya.


Dan itu rasanya semkin panas, jauh lebih panas dari yang tadi. Lebih panas dari ciumannya dengan Melody tadi. Yudha wajib untuk tidak tergoda! Ia tak boleh menyia-yiakan usahanya mengendalikan dirinya yang hampir menggila itu.


"Hooammm, Yudha kau terbangun? Ada apa?" Tanya Melody yang masih mengantuk.


Suaranya serak pelan dan membuat darah Yudha mendesir ketika mendengarnya.


Yudha berfikir keras. Jujur saja ia kelabakan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan sederhana Melody. Jika ia menjawab dengan jujur, jawabannya tak sesederhana itu. Bisa sangat panjang dan belum tentu Melody akan biasa saja saat mendengar pengakuannya.


Lebih baik ia merahasiakannya saja. Ia tidak mau menimbulkan kecanggungan dengan Melody. Bertingkah layaknya tak terjadi apa-apa sepertinya pilihan terbaik.


Yudha, terlalu banyak berakting!


"A-aku haus, aku ingin minum, kau tidur saja!" Kata Yudha gelagapan.

__ADS_1


"Ah, begitukah? Terserah kau saja. Aku masih mengantuk." Melody melanjutkan acara tidurnya. Ia terlalu bodoh untuk menyadari perlakuan Yudha terhadapnya.


__ADS_2