
Mia meletakkan tasnya dengan kasar. Ia berkacak pinggang. Menatap sahabatnya yang tengah memakan buah apel di depannya.
“NYONYA KAZEHAYA! APA KAU SUDAH GILA, HAH? BAGAIMANA KAU BISA PERGI DARI RUMAH DAN PAMIT KE TEMPATKU PADAHAL KAU TAHU JIKA AKU SEDANG TIDAK ADA DI RUMAH?”
“Maaf, tapi aku sedang kesal dan sumpek di rumah, aku ingin menghirup udara segar.”
Jawab Melody jujur.
“SETIDAKNYA BERITAHU AKU JIKA KAU INGIN KE RUMAHKU, BUKAN SEPERTI INI!"
"Maaf, maaf Mia. Semua sulit untukku. Aku tak ingin merepotkanmu."
"Yudha mengirimku pesan semalam, dia bertanya apakah kau sudah tidur, aku sempat bingung apa maksudnya, apa dia salah kirim atau bagaimana, tapi kalimat selanjutnya menjelaskan jika ia meminta diriku menjagamu selama menginap di tempatku!"
"..." Yudha mengirimkan pesan seperti itu pada Mia? Sungguhkah itu?
"ASTAGA... JADI KAU PERGI DARI RUMAH KARENA BERTENGKAR LAGI DENGANNYA? LALU KAU MEMBUAT ALASAN KABUR KE RUMAHKU? KAU TAHU APA YANG AKU LAKUKAN? AKU LANGSUNG BOOKING TIKET PESAWAT TERCEPAT UNTUK SEGERA MENEMUIMU! HAAH..”
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf karena menjadikanmu sebagai alasan.”
“Maaf iya minta maaf. Untung aku langsung paham, aku langsung membohongi Yudha jika kau sedang bersamaku. Kau tahu betapa khawatirnya aku semenjak semalam? Aku sampai tidak bisa tidur. Untungnya juga aku bertanya pada Alvin-senpai. Kau ini benar-benar keterlaluan, Melody!”
“Sekali lagi maaf, Mia..”
Hanya kata maaf yang bisa Melody keluarkan dari mulutnya. Rumit.
Mia lalu duduk di samping Melody. “Apa karena Amamiya Yura lagi? Aku sudah lihat beritanya. Headline semua media gosip.”
"..." Melody hanya terdiam. Mia paham itu.
“Yudha memang tak bisa diharapkan. Tapi Melody, kau istri sah Yudha, kau mengandung anaknya, Yudha pasti memiliki rasa padamu meski hanya sedikit. Dia menunjukkan kekhawatirannya. Dia memperlakukanmu dengan baik. Jangan seperti ini, wanita yang sudah menikah tak seharusnya melakukan hal seperti ini! Jika ada masalah kau langsung kabur, masalahmu tidak akan pernah selesai. Cobalah untuk berbicara dengannya!”
Saran Mia.
Melody mengelus perutnya. Yudha memang memperlakukannya sangat baik.
“Aku menikah dengannya karena bisnis. Aku mengandung anaknya karena insiden yang sama-sama tak kami inginkan. Dia sudah membayar segalanya untukku. Dia menafkahiku dengan banyak uang, membelikanku ini itu. Harusnya aku bersyukur karena dia menerima orang asing yang menikah dengannya hanya karena butuh uang. Tapi aku sulit mengendalikan perasaanku padanya, Mia."
Itu lagi! Lagi-lagi itu yang selalu Melody jadikan alasan. Bukankah Yudha memilih Melody itu sudah cukup kuat untuk dijadikan alasan saat ini? Mia tak mengerti pola pikir sahabatnya ini.
Namun, sebagai sahabat yang baik, ia akan mendengarkannya. Apapun, Melody juga hanyalah manusia biasa yang memiliki hati untuk merasa dan otak untuk berpikir.
__ADS_1
"Saat aku tahu ia memikirkan Amamiya-san, dadaku terasa sesak, aku langsung ingin marah. Namun aku coba tahan, ketika aku mencoba menahannya, rasanya semakin besar dan tak tertahankan. Aku juga tak ingin bertengkar dengan Yudha, tapi aku tak bisa menahan emosiku, makanya aku memilih pergi darinya untuk menenangkan diri.”
“Kau hanya cemburu, Melody.”
Simpul Mia.
“Ce-cemburu?”
“Ya, kau cemburu. Itu artinya kau MENCINTAINYA! KAU JATUH CINTA PADANYA, PADA KAZEHAYA YUDHA!”
Mia bahkan harus mengeraskan volume suaranya agar Melody memahami perasaannya yang muter-muter tidak jelas.
Kenapa Melody harus bingung? Harusnya itu mudah, kan?
Ah, Melody minim pengalaman soal asmara. Mia merutuki dirinya. Harusnya ia mengatakannya sejak awal.
“Ha-ha? Tidak mungkin.”
Melody mencoba menyanggahnya.
“Jujurlah pada dirimu sendiri! Kau harusnya paling memahami dirimu, memahami hatimu. Berhentilah berargumen dengan egomu! Terimalah fakta jika kau mulai mencintainya!”
Melody menangis saat mendengarkan kata-kata dari Mia. Mia langsung memeluknya.
Benar kata Mia, saat ia membiarkan perasaan itu masuk ke dalam hatinya, ada rasa lega yang menyapa. Seperti angin yang membelai dirinya yang terasa pengap.
“Apa yang harus aku lakukan, Mia? Aku sudah hamilpun, Yudha tetap memilih Amamiya-san. Aku tahu perasaannya pada Amamiya-san, kukira aku akan baik-baik saja, tapi semakin lama aku bersamanya, semakin banyak kisah yang kutulis bersamanya, rasa ini muncul begitu saja. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku mencintainya. Aku tidak tahu jika jatuh cinta akan sesakit ini. Hiks...”
Melody menangis di pelukkan Mia.
Mia mengelus rambut Melody. “Cobalah berbicara baik-baik padanya! Melihat Yudha sampai mengirimiku pesan, dia pasti sangat mengkhawatirkanmu.”
Yudha bahkan bisa memiliki nomornya. Apakah Yudha bertanya pada Nao? Itu adalah kemungkinan terbesarnya. Yang Mia tahu, Yudha itu tak begitu mementingkan kehidupan sosial, tapi jika Yudha menurunkan ego demi bertanya kabar Melody, maka itu adalah perubahan yang baik.
Melody mengangguk. “Mia, terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Melody sudah mengakui perasaannya. Ia tidak menampik cintanya pada Yudha. Ini kabar yang bahagia. Kuharap aku juga tak salah menilai Yudha, laki-laki bungsu Kazehaya itu hanya terlalu naif jadi orang, kurang peka, terlalu kaku, terlalu berfikir lurus ke depan. Namun, orang yang terkenal selalu mengabaikan orang lain itu sampai memiliki waktu untuk bertanya keadaan Melody, aku yakin, ini bukan hanya khawatir soal janin yang Melody kandung, tapi pasti ia memikirkan Melody juga. Selain itu, melihat usia kandungan Melody, aku yakin mereka berdua tak hanya sekali melakukannya, itu sudah jadi bukti jika ada ketertarikan di antara mereka berdua. Iiihhh, kenapa kalian kucing-kucingan melulu sih? Tinggal jujur saja kenpa? Bikin greget saja deh. Ini semua karena si model gagal itu, bukannya dia sudah menolak Yudha? Oh, jadi sekarang menyesal begitu? Aku harus membuat perhitungan dengannya. Enak saja dia menyakiti sahabatku.”
Batin Mia.
__ADS_1
Mereka melepaskan pelukkan sahabat. Melody sudah kembali tenang. Mood kehamilannya berubah gila-gilaan. Ia memang membutuhkan Yudha saat ini.
"Mia.."
"Hn?"
"Aku ingin naik mobil patroli polisi dan keliling kota Tokyo." Kata Melody.
Mia melebarkan matanya. "Ha-hah?"
"Aku ingin naik mobil patroli polisi dan keliling kota Tokyo!" Melody mengulangi perkataannya.
"Hoe, hoe.. Kenapa tiba-tiba? Naik mobil patroli milik polisi? Keliling kota Tokyo? Buat apa, Mel?"
Melody mengelus perutnya. Ia memalingkan wajahnya. "Aku hanya ingin.."
"Jangan bilang kau ngidam?"
"Tidak tahu! Aku hanya ingin!"
Oke, Melody meninggikan suaranya menjadi penegasan suatu pemaksaan. Sisi egoismenya muncul juga.
Apa ini?
Bukankah tadi sedang mellow, lalu tiba-tiba menjadi acara komedi tidak jelas seperti ini? Mia memijat keningnya. Apakah ibu hamil bisa sampai seperti ini? Apakah di masa depan ia juga akan mengalaminya?
"Ok, aku telpon Yudha ya agar dia menemanimu?" Tawar Mia.
"Tidak! Aku tidak mau dengannya!" Tolak Melody keras.
"Kau mencintainya, maka dia orang yang paling cocok menemanimu!"
"Tapi aku tidak mau!"
"Dia bapaknya, Mel!"
"Aku tidak mau dengan bapaknya anak-anak!"
Egois dan pemaksa akut. Baiklah, ini seperti pengalaman baru yang bisa ia ceritakan kepada cucunya di masa depan. Mia akan mencoba memahaminya!
"Baiklah, aku akan menemanimu! Kau senang?"
__ADS_1
Melody menyunggingkan senyuman bahagianya. "Iya, senang sekali."
Mia hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sih?