MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 29


__ADS_3

Kurenai merasa sangat bahagia karena keberhasilan Alvin dalam menyingkirkan Yudha dari Emperor Group. Meski tak sepenuhnya terusir karena Yudha masihlah salah satu pemegang saham tertinggi Emperor Group. Sepertinya ia memang harus bersabar menunggu sampai saatnya tiba. Sampai hari dimana Alvin bisa memililki semua saham Emperor Group.


"Jika kau bisa membuat Emperor Group kolaps, maka harga saham Emperor Group akan turun. Para pemegang saham pasti akan berbondong-bondong menjualnya. Kau bisa membeli saham-saham itu dengan harga yang murah, Vin." Kata Kurenai.


Alvin mengaduk teh matcha yang baru saja ia seduh. Ia tersenyum menanggapi ocehan dari sang ibu yang sangat menarik itu.


Alvin belum berniat menanggapi ide yang menggoda itu. Ia justru fokus pada teh buatannya. Ia menuangkan teh uang sudah ia seduh itu ke dalam cangkir mini. Satu untuk ibunya dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


"Dozo, Oka-san." Kata Alvin.


Dozo, Oka-san: Silahkan, Bu!


"Arigato, Alvin-chan." Kurenai mengambil cangkir teh hangat miliknya. Ia lalu meneguknya perlahan. Rasa khas teh matcha itu menari-nari di lidahnya. Ia bahkan sampai memejamkan kedua matanya untuk meresapi betapa nikmatnya teh matcha buatan anaknya itu.


"Ibu menyukainya?" Tanya Alvin.


Kurenai meletakkan kembali teh yang baru saja ia minum ke atas meja. Ia lalu menatap anak semata wayangnya dengan Kazehaya Yoga itu. "Ya, ibu sangat menyukainya. Ini teh terbaik karena dibuat olehmu, anakku." Kata Kurenai.


"Aku senang ibu menyukainya." Kata Alvin yang tak bosan menyunggingkan senyuman pada ibu yang sudah melahirkannya itu.


"Nah Alvin, kau tak berniat menjawab ide ibu?" Tanya Kurenai.


"Ide mengenai membuat Emperor Group kolaps agar harga sahamnya turun?" Alvin menegaskan.


"Ya. Jika harga saham turun, kau bisa mengusai semuanya, Vin."


Alvin kini yang gantian meniknati teh matcha itu. Ia menyesapnya perlahan. "Itu ide yang sangat menarik, Bu. Namun ketahuilah, dengan harga yang sangat tinggi seperti inipun, saham Emperor Group menjadi incaran banyak orang. Aku harus berlomba dengan orang-orang itu untuk merebutkan saham Emperor Group."


"Orang-orang itu?" Gumam Kurenai.


"Ya orang-orang itu. Musuh besar Emperor Group!"


"Vin, salah satu dari orang-orang itu adalah ayahmu sendiri. Tak bisakah kau mempercayainya?" Tanya Kurenai.


Alvin menatap ibunya. "Apakah ibu sungguh mempercayai paman Azumane?"


"..."


"Ibu bahkan tidak bisa menjawabnya. Akupun sama dengan ibu. Aku saat ini tak bisa mempercayai siapapun, meski itu paman Azumane sekalipun."


"Tapi ayah tirimu itu sangat berjasa dalam membantumu duduk di kursi utama Emperor Group."


"Jujur saja Bu, sebenarnya Yudhalah yang sangat berjasa akan pencapaianku saat ini. Bukan paman Azumane."


Kurenai mencengkram gagang cangkir teh miliknya. "Yudha lagi, Yudha lagi! Jika bukan dia, pasti gadis bunting itu. Kau bisa tidak, tidak usah membahas mereka berdua? Kau membuat perasaan ibu memburuk."


"Yang melukai hati ibu, ayah Yoga. Ayah Yoga yang menghadirkan Yudha ke dalam dunia ini, ini bukan salah Yudha! Berhentilah menyalahkan Yudha ataupun ibu Mikan akan masalah yang terjadi dalam hidup ibu!"


"Alvin!" Kurenai kesal. Ia tidak ingin membentak anak yang sangat ia sayangi ini, tapi baginya ini sudah sangat berlebihan.


"Seorang anak tidak bisa memilih orang tuanya. Aku tak mempermasalahkan siapa dan bagaimana orang tuaku. Begitupun dengan Yudha. Jika ibu ingin menyalahkan apa yang terjadi pada ibu saat ini, salahkan saja ayah Yoga! Sampai saat inipun aku sama sekali belum pernah mendengar kisah masa lalu dari sudut pandang ibu Mikan. Aku pikir rasanya tidak adil jika aku dijejali pemikiran untuk memojolkan ibu Mikan dan Yudha." Jelas Alvin.


"Kau mencoba untuk membrontak? Kau mencoba untuk tidak mempercayai ibumu sendiri? Dengar Vin, jika bukan karena Mikan dan Yudha, kita bisa hidup bahagia dengan ayahmu! Ayahmu tidak akan bimbang malam itu saat mendengar Yudha sakit. Kecelakaan itu tidal akan terjadi!" Kurenai menangis.


Kurenai menangis sangat buruk di hadapan Alvin. Tangisan yang tak pernah Alvin lihat sebelumnya. Alvin yang tak tegapun akhirnya bangkit dari duduknya dan mendekati sang ibu. Ia jongkok di hadapan ibu. Ia meraih kedua tangan Kurenai.

__ADS_1


"Ibu maaf, kumohon jangan menangis seperti ini! Aku tahu, aku ini sangat berlebihan." Kata Alvin merasa sangat bersalah pada sang ibu.


"Ibu tak ingin kau tahu masa lalu menyedihkan itu. Cukuplah ibu saja yang menyimpannya. Kau tataplah masa depanmu! Tulislah kisahmu! Jadilah penguasa maka kau akan bisa melakukan segalanya!" Kata Kurenai.


Alvin hanya mengangguk. Dalam hati ia memiliki banyak pikiran. Semua begitu membelenggu di otaknya.


"Ibu menutupi sesuatu. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu. Bukan berati aku tak mempercayai ibuku sendiri. Aku hanya merasa jika ibu tak menceritakan semuanya secara lengkap. Ibu selalu menghindar jika aku aku ingin bertanya lebih. Ya, aku harus mencari tahu apa itu. Semuanya. Aku tak akan menyesal jika aku melangkah nanti. Setidaknya aku melangkah berdasarkan kebenaran yang ada." Batin Alvin.


.


.


.


Yudha dan Melody sedang ada di kamar khusus milik mereka yang ada di lantai enam belas. Tepatnya, Yudha sedang malas-malasan di ranjangnya. Melody berusaha keras untuk membuat Yudha bangun dari tidurannya.


"Yudh, bangun kenapa sih? Hei? sudah jam sepuluh pagi!" Kata Melody. Ia sudah menepuk-nepuk punggung Yudha, tapi Yudha tak kunjung bangun juga.


Ya, Yudha tidur tengkurap.


Melody mencoba membalikkan tubuh Yudha. "Aarggh, beraaat. Yudha, bangun!" Ia berhasil membuat Yudha berbalik badan.


Melody memencet-mencet mata Yudha agar mata itu terbuka. Namun sama, Yudha tetap tidak mau bangun. Kesal. Semakin kesal saja. Yudha mau tidur sampai jam berapa sih?


Ada satu ide yang terlintas di kepalanya. Melodypun menyeringai.


Ia memencet hidung mancung Yudha.


Tentu saja karena hidungnya dipencet oleh Melody membuatnya sulit bernafas. Melody justru tersenyum senang karena merasa jika Yudha akan segera bangun. Namun salah, Yudha justru memeluknya dengan sangat erat.


"Hmm.." Yudha cuma berdehem saja. Ia masih memejamkan kedua matanya.


Melody terus saja meronta. "Kau.. mem..membuat da..daku.. sesak, Yudha no baka!"


"Mereka tambah besar." Kata Yudha.


Tambah besar?


Melody tahu apa itu.


Dengan cepat ia menggigit dada Yudha. Yudha merintih kesakitan. Gigitan Melody itu tidak main-main sakitnya.


"Sakit, Mel!" Kata Yudha.


"Dasar mesum! Itu hukuman paling mantap untuk orang mesum seperti dirimu. Apaan coba tambah besar? Menyebalkan!" Omel Melody.


"Yang mesum itu pola pikirmu. Mereka tambah besar itu si kembar yang ada di dalam perutmu!" Kata Yudha.


Melody cengo. "Hah?"


"Makanya jangan salah tafsir dulu!"


"Ma-maaf. Habisnya kau tiba-tiba berbicara seperti itu."


"Iya tak apa, lagipula imej mesum memang sudah aku sandang sejak dulu." Kata Yudha. "Hah, untuk Melody bisa aku bodohi. Jelas dadamulah Mel yang bertambah besar. Perutmu itu tidak terlalu menempel saat aku peluk tadi." Lanjut Batin Yudha menyeringai.

__ADS_1


"Marah ya?" Tanya Melody.


Sumpah Yudha sangat bersyukur, Melody bahkan minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.


"Tidak, lagian kenapa sih kau memintaku bangum? Aku tidak memiliki pekerjaan. Aku ingin bersantai ria, Mel. Jarang-jarang hari selasa bisa libur seperti ini." Kata Yudha.


"Langit sangat cerah, sakura bermekaran. Aku ingin menggelar tikar dan menikmatinya bersamamu sambil tiduran." Kata Melody.


"..."


"Membawa onigiri dan cola. Bercanda bersama sambil menikmati indahnya musim semi."


"Ibu hamil tidak boleh minum cola." Sela Yudha.


"Ya sudah, air putih saja tak masalah."


Yudha terkekeh. "Sebegitu inginnya ya keluar rumah?" Tanyanya.


Melody mengangguk. "Ingin sekali."


Mata Melody nampak sedih. Yudha jadi tidak tega. "Ya sudah jika kau memang sangat ingin. Namun, kita tidak bisa melakukannya di tempat ramai. Kau tidak masalah, kan?" Tanya Yudha.


Melody kembali mengangguk. Ia sangat senang. "Tidak masalah, yang penting ada bunga sakuranya." Jawab Melody.


"Semua tidak gratis loh, Mel." Seringai Yudha.


Melody menghantam pelan dada Yudha. Ia lalu mencium Yudha sekilas. "Sudah, kan?" Tanyanya.


"Hn. Semakin paham saja dirimu."


"Lah, apaan sih? Biasa saja."


"Istriku oh istriku."


"Suamiku oh suamiku."


"Yaelah, dibalas."


"Biarin kenapa sih?"


"Iya, iya. Ya sudah, aku siap-siap dulu." Kata Yudha.


Melody menangguk. Iapun juga siap-siap untuk memakai pakaian yang cocok untuk jalan-jalan menikmati bunga sakura.


.


.


.


Di dalam kamar mandi yang kedap suara.


"Shuhei, perketat penjagaan di Tulip House! Aku akan ke sana menikmati keindahan bunga sakura." Perintah Yudha di telepon.


"Baik, Yudha-sama. Segera laksanakan." Kata Shuhei.

__ADS_1


Yudha mematikan ponselnya. "Semoga tidak terjadi hal yang buruk." Gumam Yudha sangat khawatir.


__ADS_2