MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Jangan Menyerah!


__ADS_3

Pagi harinya, Melody sedang duduk di teras kost-kostan bersama Mia. Mereka menikmati teh hijau bersama. Suara burung mengalun di pagi yang cerah.


Melody memejamkan matanya ketika rasa teh hijau itu menari-nari di lidahnya.


"Mia.." Panggil Melody.


"Hm? Apa?" Tanya Mia.


"Menurutmu, ada yang aneh tidak dengan Alvin-senpai?"


Mia memincingkan mata. "Aku harus bagaimana mengartikan pertanyaanmu ini, Mel? Kau tidak menghawatirkannya secara berlebihan, kan?"


"Aku hanya menghawatirkannya sebagai teman dan adik ipar yang baik, Bebek Afrika! Jangan menduga-duga melebihi batas karena hubungan masa laluku dengannya!"


"Kan aku hanya bertanya, Jenong Uzbekistan! Mengingat bagaimana kedekatan kalian, wajar kan aku bertanya seperti itu."


Itu memang wajar. Perasaan Alvin ke Melody itu tidak sederhana. Sementara Melody, selalu bergantung pada Alvin.


"Mia, saat aku memutuskan untuk menikah dengan Yudha, saat itu pula aku memangkas semua perasaanku kepada laki-laki lain, termasuk Alvin-senpai. Aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada keluarga ini sebagai istri Yudha. Karena pada akhirnya aku dan Yudha saling mencintai, maka sudah tak ada alasan lagi untukku menerima perasaan laki-laki lain selain dari suamiku." Jelas Melody.


"Aku senang mendengarnya meski akan membuat Alvin-senpai terluka. Dia itu masih sangat mencintaimu. Meski sangat menyakitkan, bisakah kau tegas padanya, Mel?" Tanya Mia. Lama-lama ia menjadi iba juga pada Alvin.


"Hei, aku sudah bilang padanya jika aku mencintai Yudha!"


Mia kaget. Apakah hal penting seperti ini kembali terlewatkan lagi olehnya? "He? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"


"Di apartemen Alvin-senpai waktu aku kabur dari rumah. Aku sudah memberi penegasan kepadanya dan dia bersikap biasa saja." Jawab Melody jujur.


Melody mengingat apa yang terjadi waktu itu. Setelah mengatakan perasaan yang sesungguhnya pada Alvin, ia berpelukkan dengan Alvin dan tak lama kemudian Yudha datang lalu menyeretnya pulang.


Usai kejadian itu, Alvin masih berkomunikasi baik dengannya. Bukankah itu artinya Alvin bisa menerima?


Namun, kenapa semenjak ia di Miyagi, Alvin tidak pernah menghubunginya? Setidaknya mengirimi pesan seperti yang biasa dilakukan.


Sesuatu yang tidak benar pasti telah terjadi.


"Baguslah kalau kau tegas padanya. Kau tahu Mel, saat kau sedih lalu mencari ketenangan pada Alvin-senpai, di saat yang sama kau sudah melukainya. Jangan terlalu jahat padanya, Mel!" Kata Mia.


Mia merasa iba pada Alvin, bukan berarti ia mencari kesempatan karena perasaannya pada Alvin. Ia hanya merasa jika Alvin selalu berada di posisi yang terluka.


Mia hanya ingin Alvin bahagia. Namun, ia juga ingin Melody tetap bahagia dalam hidupnya saat ini.


Melody memeluk cangkir tehnya. Rasa hangat itu menjalar ke seluruh permukaan telapak tangannya. "Aku tahu aku ini sangat jahat, meski sudah tahu mencintai Yudha, tapi aku masih ingin berhubungan baik dengan dirinya. Menurutmu aku ini egois tidak, Bebek?"


"Hmm, egois sih, tapi jika mengingat silsilah keluarga ya memang harus tetap berhubungan baik. Bagaimanapun dia itu kakak iparmu." Mia mencoba maklum.


"Tapi aku sudah tak berhubungan lagi padanya setelah aku ke Miyagi. Apakah sesuatu terjadi padanya? Mia, apa kau berhubungan dengannya beberapa hari terakhir?" Melody menduga-duga.


Khawatir? Apa Melody menghawatirkan Alvin? Tentu saja! Lebih jauh lagi, ia kepikiran perkataan Yudha dan Shuhei semalam. Ia tahu jika Yudha marah ketika dirinya bersama Alvin, tapi ia yakin marahnya Yudha tidak akan sampai sejauh itu. Yudha tak mungkin sampai memukul Alvin atau lebih kasarnya lagi, Yudha akan memusuhi Alvin.


Yang Melody ketahui, Yudha itu sangat menyayangi Alvin sampai rela melakukan apa saja demi Alvin. Termasuk menikahi dirinya juga Yudha lakukan untuk Alvin agar bisa diterima di keluarga Kazehaya.


Yudha tidak mungkin membuat api permusuhan.


Apakah ini ada hubungannya dengan dirinya?


"Ah, benar juga katamu, Mel. Aku juga tak mendengar kabar apapun dari Avin-senpai. Aku terlalu sibuk dengan PKL jadi lupa mengirimnya pesan. Kau juga tahu sendiri kan kedekatanku dengannya itu bagaimana? Kami berteman biasa." Kata Mia.


"Begitu ya?"


"Jika kau sungguh khawatir akan keadaannya, coba kau bertanya padanya!" Usul Mia.


"Aku ingin, tapi aku sudah berjanji pada Yudha untuk tidak berkomunikasi dengannya. Aku tidak mau membuat masalah lagi, Bebek."


"Ya sudah minta Yudha saja suruh tanya."


Ini apa lagi?


Akan semakin runyam malahan.


"Terakhir kali kulihat, Yudha dan Alvin-senpai sepertinya perang dingin karena Yudha memergoki diriku berpelukkan dengan Alvin-senpai di apartemen milik Alvin-senpai." Melody menjelaskan dengan hati-hati.


"Hah? Kenapa kau malah membuat pusing sih? Muter-muter tidak jelas! Itu sih sudah pasti mereka bertengkar karena dirimu, baka!" Seru Mia.


Mia saja menduga itu karena dirinya. Bukankah itu juga sama dengan dugaannya?


"Te-terus aku harus bagaimana, Mia? Jika aku membahas Alvin dengan Yudha, Yudha langsung marah-marah. Aku tidak mau marahan lagi dengannya. Tidak enak rasanya." Kata Melody.

__ADS_1


"Kau bisa bahas pelan-pelan dengan Yudha. Mereka itu bersaudara, Mel. Kasihan jika mereka bertengkar."


Melody berpikir sejenak. "Baiklah. Aku akan memikirkannya."


.


.


.


Yudha sedang sibuk mengetik di laptop. Suaranya terdengar di telinga Melody. Membuat Melody heran, sebenarnya kemampuan Yudha mengetik itu berapa banyak kata per menit? Percayalah, itu sangat cepat!


"Suamiku sayang, kau ke sini untuk menemuiku atau melanjutkan pekerjaan sih? Sibuk terus sejak semalam." Sindir Melody.


Yudha berhenti mengetik. Ia menatap Melody yang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajah itu sedang kesal.


"Tentu saja untuk menemuimu." Jawab Yudha.


"Menemuiku apaan? Yang disayang-sayang pekerjaannya, yang dibelai-belai laptopnya." Melody cemberut.


"Laptop saja dicemburui."


"Daripada kau, cewek juga dicemburui."


Melody tidak mau kalah, Yudha terkekeh pelan. Melody memang menggemaskan.


Yudhapun meminta Melody untuk mendekat. Melody awalnya tidak mau, tapi setelah Yudha menunjuk pahanya, Melodypun mau mendekat.


Melodypun duduk sambil dipangku oleh Yudha.


"Memang tidak berat, Yudh? Aku kan hamil. Kembar lagi." Tanya Melody.


"Kau tidak hamil saja sudah berat, apalagi saat ini? Hamil kembar. Berlipatlah beratnya." Jawab Yudha.


😡


"Ya aku memang berat kayak truk tronton! Tidak perlu memangkuku lagi!" Melody mencoba bangkit, tapi Yudha menahan pinggangnya.


"Jangan marah! Meski kau berat atau bertambah berat, tapi aku ini masih kuat memangkumu. Aku juga masih kuat menggendongmu." Jelas Yudha. Ibu hamil memang sensitifan. Ia memang harus super sabar.


"Mana maafnya?" Tanya Melody.


"..." Melody diam saja.


Yudha menghela nafas. "Aku minta maaf, istriku sayang."


Melody tersenyum senang. Meski ia tak bisa melihat wajah Yudha karena sedang duduk dipangku, tapi ia tahu jika Yudha itu tulus minta maaf.


"Arigato, suamiku."


"Hn."


Mereka masih duduk dengan posisi yang sama. Yudha masih memangku Melody. Mereka menikmati pemandangan luar kost-kostan bersama.


Sesekali Yudha mengusap perut Melody yang membesar.


"Perutmu semakin besar ya, Mel?" Kata Yudha.


"Iya, dan akan terus bertambah besar nantinya." Kata Melody.


"Yang atas juga bertambah besar, padahal dulu sangat rata."


😠


Melody menyiku dada Yudha. Membuat Yudha kesakitan.


"Semalam perut, sekarang dada. Aku tidak mati di tangan pembunuh bayaran, tapi bisa mati karena sikutmu, Mel!" Yudha memegangi dadanya yang sakit akibat sikutan dari Melody.


"Kau sih bahas-bahas kekurangan wanita, ya aku kesallah. Aku tahu milikku itu aslinya kecil, tapi ada lah, tidak rata! Kau saja masih bisa memegangnya!" Melody tambah kesal.


"Jangan marah! Cuma masalah dada juga."


"Meski hanya masalah dada, kau tak boleh menganggapnya enteng! Ini itu harga diri wanita Jepang! Oh aku tahu, kau kan sukanya dada yang besar seperti milik Amamiya-san. Makanya suka ngata-ngatai milikku kecil. Cih, aku hamilpun milikku juga masih kecil, tidak ada apa-apanya dengan milik si ulat genit itu." Kesalnya menjadi-jadi.


"Kenapa bawa-bawa Yura sih, Mel?"


"Pantas saja suamiku yang tampan ini suka pelukkan dengan si ulat genit. Dadanya kan besar dan lebih empuk dari bantal di rumah. Aku mah apa? Hanya papan tripleks yang keras."

__ADS_1


Amarah Melody jika sudah membawa nama Yura akan semakin tidak jelas. Yudha akan selalu salah.


"Aku bahkan tidak pernah berpikir memelukknya. Kenapa kau bisa memiliki pemikiran seperti itu sih?" Kata Yudha.


"Nyangkal? Di rumah sakit apa itu kalau bukan pelukkan?"


"Pelukkan cinta, pelukkan sayang, pelukkan membantu karena iba itu beda konteks, Mel. Jangan dijadiin satu sama rata!"


"Tapi sama-sama skinship. Pegang-pegang begitu!"


"Ya sudah, aku minta maaf. Aku salah terus meski dijelasin, kan? Dari pada kau kesal, mending aku diam saja."


"..."


"..."


"Suami tidak peka!" Melody malah tak hanya kesal, marah juga. "Lepasin! Aku mau tidur di kamar!" Melody mencoba melepaskan diri dari Yudha.


Yudha masih berusaha menahan pinggang Melody agar tak pergi dari pangkuannya.


"Yudha, lepas! Aku lelah, aku mau istirahat!" Ronta Melody.


Yudha tak melepaskan tangannya, ia malah semakin mengeratkannya. Ia memeluk Melody dari belakang. Ia menjatuhkan kepalanya di punggung Melody.


"Aku bertengkar dengan Alvin." Kata Yudha.


Melody berhenti berontak. "..."


"Aku hanya bilang padanya untuk lebih memperhatikan sikapnya kepadamu karena karena kau istriku."


"..."


"Dia tidak mengindahkannya. Aku terlalu emosional dan tanpa sengaja memukulnya.."


"..." Yudha memukul Alvin? Seriusan? Hal seperti ini sungguh bisa terjadi? Karena dirinya?


"Aku tahu aku salah. Aku ingin minta maaf padanya. Tapi saat aku berusaha menemuinya, aku tidak pernah bisa bertemu dengannya lagi. Aku juga sudah ke rumahnya, tapi dia tidak ada."


"..."


Yudha semakin menyandarkan kepalanya pada punggung Melody. Ia juga menambah kekuatannya untuk memeluk Melody lebih erat dari sebelumnya.


"Aku salah ya jika aku hanya ingin membuat laki-laki lain tidak memandang istriku dengan tatapan menginginkan?"


"..."


"Meski aku tahu dia masih mencintaimu, tapi aku salah ya menyuruhnya menyudahi perasaannya kepadamu?"


Yudha tidak salah, ia hanya ingin mempertahankan apa yang menurutnya menjadi miliknya.


"Maafkan aku Yudh, andai aku lebih tegas pada Alvin-senpai sejak awal, mungkin tidak akan menjadi serumit ini."


Yudha menggeleng. "Yang jahat itu aku, tahu-tahu aku hadir di tengah kalian. Jika aku tidak.."


Melody mendekap tangan Yudha. "Jangan dilanjutkan! Tidak ada perwujudtan dari kata 'jika' ataupun 'andai saja'. Kita sudah melalu banyak hal, meski jahat, tapi kita berjalan di atas takdir Tuhan. Memang siapa yang tahu jika kita akan bertemu? Memang siapa yang tahu jika kita akan menikah tiba-tiba? Memang siapa yang tahu jika pada akhirnya kita akan saling mencintai? Bahkan sudah sampai mau ada anak juga."


"Tapi aku dari dulu selalu menempatkan Alvin di tempat yang tidak beruntung, Mel. Aku selalu merebut semua hal yang harusnya Alvin miliki. Bahkan dirimu yang selalu dia cintai, aku rebut juga." Kata Yudha. Ia sungguh merasa bersalah akan hal ini.


Melody menangis. Yudha memang selalu merasa bersalah jika menyangkut mengenai Alvin. Ia juga tak lebih baik dari Yudha. Seenaknya saja menerima perasaan Alvin, seenaknya saja minta putus, seenaknya saja mengeluh pada Alvin jika sedang ada masalah.


"Kau tidak memiliki pemikiran untuk menyerahkanku padanya, kan?" Tanya Melody.


"Tidak! Aku akan memberikan apapun yang dia minta, kecuali dirimu." Jawab Yudha. "Aku sangat mencintaimu, Mel. Aku tidak bisa tanpa dirimu." Lanjutnya.


Melody melepaskan pelukkan Yudha darinya. Ia bangun dari pangkuan Yudha. Kemudian berbalik dan menatap Yudha yang sedang duduk menunduk.


Melody memegang kedua pundak Yudha. "Aku juga sangat mencintaimu, Yudh. Aku juga tidak berniat kembali pada Alvin-senpai. Aku ingin menua bersamamu dan anak-anak kita. Tolong pertahankan diriku!"


Yudha menatap Melody yang sedikit mendunduk itu. Wajah ayu istrinya sedang menangis. Ia bahkan bisa merasakan tetesan air mata Melody jatuh mengenai wajahnya.


"Jangan menyerahkanku pada yang lain! Aku hanya ingin bersamamu, Yudh!" Tangis Melody.


Yudha yang selalu mengedepankan Alvin membuat perasaan Melody tidak tenang. Yudha bisa membuta jika itu tentang Alvin. Yudha pernah menyerahkan hidupnya untuk ditukar dengan impian Alvin, bukan tidak mungkin Yudha akan melakukannya kali lagi.


Yudha menghapus air mata Melody dengan kedua tangannya. Ia lalu menggeleng. "Sampai matipun aku tetap tidak akan menyerah akan dirimu!"


Dan mereka saling berciuman.

__ADS_1


"Kata kematian yang keluar dari mulut Yudha selalu terdengar horor." Batin Melody.


__ADS_2