MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 20


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian.


"Terima kasih atas kerja samanya. Saya sangat senang karena ini sangat menguntungkan untuk saya." Kata Alvin dengan senyuman setannya.


"A-Anda keturunan iblis!" Kata seorang laki-laki paruh baya. Sebuat saja Tuan Shen.


"Oh ya jelas. Jika saya bukan keturunan iblis, saya tidak akan setega ini kepada para tikus pemakan uang Emperor Group." Kata Alvin.


Alvin lalu memberikan map bukti jual-beli saham yang baru saja ia sepakati dengan Tuan Shen kepada Daisuke, sekretaris pribadinya.


"Dan ini..." Alvin memberikan sebuah surat kepada Tuan Shen.


Tuan Shen membuka lipatan kertas surat itu dengan cukup tergesa-gesa. Setelah terbuka, iapun membacanya perlahan isi surat tersebut. Betapa kagetnya ia saat mengetahui isinya. Matanya membulat besar karenanya.


"A-Alvin-sama... i-ini?" Kata Tuan Shen terbata.


Alvin lalu kembali tersenyum. Orang tua yang sangat kaget di hadapannya ini terlihat sangat syok ketika membaca surat darinya.


"Anda menjadi orang ke lima puluh empat yang saya pecat! Terima kasih sudah berkontribusi di Emperor Group!" Kata Alvin.


Alvin lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.


"Alvin-sama! To-tolong jangan melakukan hal kejam ini kepada saya! Bagaimana nasib keluarga saya setelah ini? Saham saya sudah saya jual dengan harga yang sangat murah kepada Anda, lalu saya tidak bekerja." Tuan Shen mencoba mencegah Alvin meninggalkan ruang kerjanya.


Alvin berhenti berjalan. Ia menatap rendah mantan bawahannya ini. "Saat Anda memutuskan untuk korupsi dan menggunakan uang curian itu untuk menghidupi keluarga Anda, apa Anda memikirkan mereka semua?" Tanya Alvin.


"..." Tuan Shen terdiam.


"Anda beruntung karena saya tidak memenjarakan Anda! Jika Anda berani bertindak di luar batas, Anda akan masuk bui! Anda paham betul kan konsekuensinya?"


"..." Tubuh Tuan Shen bergetar.


"Ya, bukti-bukti korupsi Anda akan saya kirim ke kepolisian Tokyo, dan dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, hidup Anda dan keluarga Anda akan hancur!"


"Ja-jangan jebloskan saya ke penjara, Tuan Alvin! Sa-saya berjanji, saya tidak akan muncul lagi di Emperor Group!" Kata Tuan Shen yang akhirnya lebih memilih menerima segala keputusan yang sudah Alvin buatkan untuknya.


"Saya suka jawaban Anda! Jangan lupa ambil pesangon dari Emperor Group! Bagaimanapun pengabdian sepuluh tahun Anda untuk perusahaan ini perlu mendapatkan apresiasi." Kata Alvin yang kemudian berlalu melanjutkan langkahnya diikuti Daisuke.


Tuan Shen hanya bisa bersikap legowo akan semua yang terjadi dalam hidupnya. Alvin terlalu kuat untuknya. Ia tidak bisa melawan Alvin. Ancaman Alvin mengerikan.


.


.


.


Alvin berjalan menuju ruang kerjanya. Ruang kerja bekas milik kakek Wijaya. Ruang kerja yang membuatnya muak dan engap berada di dalamnya. Ruang kerja yang sangat dibenci olehnya.


"Sial, kepalaku sakit sekali. Loh? Pandanganku mulai memburam." Batin Alvin.


Alvin memijat kepalany. Merasa pandangannya memburam dan seakan menggelap, ia limbung sebelum akhirnya si Daisuke meraih lengannya dan memapahnya sampai ke kursi sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu.


Alvin tidak pingsan. Ia hanya tiduran di sofa panjang itu. Daisuke membantu melepas dasi yang ia pakai. Membantu melepas dua kancing baju kemejanya. Daisuke juga membuatkan teh hangat untuk Alvin. Alvin meminumnya secara perlahan.


"Alvin-sama, Anda tidak apa-apa? Apakah saya harus memanggil dokter untuk Anda?" Tanya Daisuke.


"Tidak, terima kasih, Daisuke. Aku tidak perlu dokter. Aku hanya sedang lelah saja karena banyak hal yang harus aku lakukan untuk meringkus tikus-tikus menjijikkan itu." Jawab Alvin yang masih setia dengan tidurannya.


Alvin memejamkan kedua matanya. Rasa lelah tak terkira mendera tubuhnya yang semakin kurus tiap harinya. Pekerjaan sebagai seorang CEO Emperor Group sungguh menggerogoti tubuh mudanya yang kekar itu.


"Daisuke, jam.." Tanya Alvin.


"Jam setengah tiga siang, Alvin-sama." Jawab Daisuke.


"Katakan pada Asisten Yuri, aku akan pulang cepat hari ini!" Pinta Alvin.


"Ya, Alvin-sama. Saya akan mengatakannya pada Asisten Yuri."


"Arigato. Kau beristirahatlah! Aku ingin tidur sebentar." Kata Alvin.


"Ya, saya mengerti. Saya undur diri." Pamit undur Daisuke.


"Hn."

__ADS_1


Dua jam kemudian, Alvin sudah berada di rumah sakit. Untuk dirawat? Tentulah tidak, ia sedang mengamati Melody dari jarak jauh. Sesuai dengan bodyguard yang ia sewa, Melody saat ini sedang makan ramen di kantin sendirian. Ia ditemani Daisuke diam-diam memandangi bahagia ibu hamil yang sedang makan.


Oke, bahasanya sangat perlu perbaikkan.


Tidakkah itu keterlaluan?


"Alvin-sama selalu melakukan ini setiap hari. Alvin-sama akan menyisakan waktu untuk melihat keadaan Nona Melody. Selalu. Sejak pertama aku mendapatkan tugas untuk menjadi sekretaris Alvin-sama, aku selalu menemainya 'mengintip' nona Melody. Tidak ada hari yang terlewatkan. Meski itu hanya sepuluh menit per harinya, Alvin-sama tidak pernah lelah apalagi bosan untuk melakukannya. Namun beda dengan hari ini, aku merasa jika saat ini bukan waktu yang tepat mengingat kondisi kesehatan Alvin-sama. Tubuhnya terlihat sangat lelah... Tidakkah dia sayang tubuhnya? Harusnya dia lebih bisa mencintai dirinya sendiri. Namun, aku tak bisa memaksakan pemikiranku terhadap bosku ini. Ketika aku melihatnya tersenyum saat dia menatap Nona Melody, saat itu aku tahu, Alvin-sama sangat mencintai nona Melody. Senyum bahagia itu tidak pernah berbohong... Mungkin ini hanyalah kesimpulan tak berguna dari sosok figuran tak penting seperti diriku, tapi, aku bersyukur karena meski banyak tekanan luar biasa di kantor, bossku ini memiliki obat untuk mengobati rasa menderitanya... Alvin-sama akan kembali ceria usai melihat nona Melody." Kata Daisuke di dalam hati.


Alvin tersenyum untuk yang ke sekian kalinya. Melody makan ramen sendirian di kantin rumah sakit yang sangat luas itu. Makan dengan sangat lahap, menghabiskan dua mangkok, dan dua gelas jus jambu biji.


"Kehamilanmu membuat sangat lapar ya, Mel? Tidak juga, dari dulu kau memang suka makan banyak. Serunya, kau tidak malu mengakuinya. Kau adalah wanita yang apa adanya, Mel. Aku sungguh menyukai sifatmu yang satu ini... Setelah Yudha aku tugaskan mengurus perjalanan bisnis, aku harus ekstra menjagamu. Aku menambah personel bodyguard untukmu. Personel bodyguard yang tak muncul terang-terangan seperti perintah Yudha tentunya. Aku tak ingin mereka bentrok karena salah duga dengan musuh... Bersenang-senanglah, Mel! Aku cukup bahagia bisa melihatmu dari jarak jauh seperti ini. Nanti, jika semuanya sudah beres, aku akan membawamu. Kau pasti tidak akan bisa menolaknya." Batin Alvin.


.


.


.


Yudha mematikan ponselnya. Ia baru saja berteleponan dengan istrinya, Melody. Melepas rindu karena belum bisa bertemu. Sayang-sayangan, kangen-kangenan, lalu cinta-cintaan? Tidak juga, karena sudah cinta sungguhan. Pasangan alay abad ini memang tidak malu menahan diri untuk menunjukkan pada dunia betapa mereka saling mencintai. Betapa mereka bergantung satu sama lain. Betapa mereka begitu menderita saat berjauhan. Apa lagi Melody sudah hamil, ada pengikat kuat di antara keduanya.


Oke, lagi itu memang berlebihan.


Ya walau Yudha dan Melody menganggapnya biasa saja. Alasannya tentu saja karena cinta. Memang ada lagi?


Hanya modal cinta yang selama ini mereka lakukan. Meski terseok-seok di awal pernikahan, tapi setelah tahu sama tahu bagaimana perasaan aslinya, semua menjadi berubah. Semakin sayang, semakin cinta, semakin manis, semakin berbunga-bunga, dan semakin pink.


Bahasa planet mana lagi itu?


Tentu saja bahasa planet cinta yang di huni dua manusia bucin, Yudha dan Melody.


Memang ada?


Baru tahu?


"Shuhei, bagaimana kabar proyek tidak normal di Miyagi?" Tanya Yudha yang kini baru saja menyelesaikan makan malamnya.


"Takaoka-san sudah berhasil menghimpun orang-orang yang tanah dan lahannya di sita paksa dua minggu yang lalu oleh Emperor Group. Mereka bisa dikumpulkan kapan saja diperlukan. Sepertinya mereka sangat mempercayai Anda untuk membantu membebaskan tanah dan lahan mereka." Jawab Shuhei.


"Mereka pasti memblokade semuanya, Yudha-sama." Jawab Shuhei.


"Iya, tapi apa mereka memiliki kekuatan sampai sejauh ini? Aku sendiri meski bisa menggunakan uangku, aku tetap tidak akan bisa memiliki kemampuan sebesar ini. Membeli pena media masa? Itu tidak akan mungkin. Nyatanya kekuatan media masa terutama sosial media itu luar biasa." Kata Yudha yang memilih berpikir rasional.


"Ada organisasi yang bisa melakukan ini, Tuan Muda Yudha." Gumam Shuhei.


"Siapa?"


"Dunia bawah."


"Ah, mereka ya.. Hmm.."


"Jepang di kuasai oleh dua kubu yakuza. Jepang selatan dikuasai oleh ayah tiri Tuan Muda Alvin dan Jepang Utara dikuasai oleh paman Anda sendiri, Kazehaya Orion."


Yudha berpikir sejenak. Apakah dua kubu Yakuza ini ikutan bermain dalam bisnis Emperor Group? Bukankah selama ini ketiganya tidak ada yang bersinggungan bisnis? Ketiganya tidak pernah menyentuh area kekuasaannya. Ketiganya tidak pernah menyentuh teritorialnya.


Lagipula, Uchiyama Azumane adalah pemilik Uchiyama Corp, bisnis legal yang dikelola keluarga Uchiyama. Memiliki kerja sama dengan Emperor Group, tapi tidak terhubung dengan dunia bawah.


Dan lagi, yakuza di bawah naungan Kazehaya Orion juga sama sekali tidak pernah menjalin apapun mengenai bisnis yang dikelola Orion maupun Emperor Group. Selain itu, Yudha merasa tidak sopan mencurigai pamannya sendiri yang begitu baik terhadapnya. Pamannya ini adalah sosok yang mengajarinya cara menembak dan memanah. Di usianya waktu sekolah menengah atas, pamannya dan Aron yang selalu setia secara bergantian mengajarinya teknik membela diri.


Kenangan masa itu sangatlah manis ketika kedua orang pamannya ini saling berdebat untuk merebutkan pendapatnya mengenai gaya melatih mana yang paling hebat. Mereka berdua bedebat seperti anak kecil. Yudha saat itu memilih mengapresiasi keduanya. Paman kandungnya itu sangat pandai bertarung jarak jauh, sedangkan paman angkatnya atau yang sudah ia anggap layaknya sosok seorang ayah itu sangat mahir dalam pertarungan jarak dekat.


Kenapa jadi nostalgia seperti ini?


"Kau tahu ayah, dari semua orang di masa lalu, hanya mereka berdua dan kakek yang membangun karakterku hingga menjadi diriku yang seperti ini. Aku bahkan samar-samar mengingat wajahmu, ayah. Aku sampai saat ini tidak pernah mau melihat fotomu meski hanya sekali. Apakah itu bentuk trauma masa kecilku? Apakah jiwaku terluka karena aku kehilangan sosok ayah di usiaku yang masih sangat muda? Entahlah, yang jelas, aku memang ingin meninggalkan kisah masa lalu. Aku hidup di jaman ini dan masa yang akan datang. Masa lalu akan aku tinggalkan, aku akan optimis menatap masa depan. Nah ayah, apa kau pikir aku ini keterlaluan karena berusaha melupakanmu?" Batin Yudha.


Tiba-tiba Shuhei berdiri usai mendapatkan kabar dari sebuah panggilan telepon. Membuat Yudha heran karena melihat tampang Shuhei yang tak biasa itu.


"Shuhei, ada apa?" Tanya Yudha.


"Aron-san ditemukan lokasinya. Anak buah kita sedang mengawasi pergerakkannya." Jawab Shuhei.


"Mereka ada dimana saat ini?" Tanya Yudha.


"Di kota ini, Yudha-sama. Di Kyoto." Jawab Shuhei.

__ADS_1


"Hah?" Yudha kaget bukan main.


"Ya, mereka ada di sini, Yudha-sama." Shuhei menegaskan sekali lagi.


"Berapa orang kita yang ada di kota ini, Shuhei?" Tanya Yudha.


"Sekitar sepuluh orang, Yudha-sama." Jawab Shuhei.


"Itu lebih dari cukup. Kita bergerak malam ini!" Kata Yudha.


"Tuan Muda Yudha! Anda tidak boleh gegabah! Saya mohon kembalilah ke Tokyo dahulu dan susun rencana. Anda tahu kan konsekuensinya jika Anda telat kembali ke Tokyo? Tuan Muda Alvin akan memecat Anda dari jabatan wakil CEO!" Kata Shuhei, ia mencona menghentikan langkah Yudha dengan ide yang menurutnya itu gegabah.


Pasalnya, jika Yudha sampai kehilangan jabatan wakil CEO Emperor Group, maka semua akan semakin sulit setelahnya. Sukai tidak disukai, nyatanya memang Yudha butuh kekuasaan tinggi di Emperor Group untuk mempertahankan pengaruhnya.


"Aku tidak bisa menahannya, Shuhei! Aku tidak mau kehilangan jejak paman Aron lagi! Aku harus menyelamatkannya!" Kata Yudha.


"Yudha-sama! Saya mohon, jangan lakukan ini!"


"Shuhei, kau kembalilah ke Tokyo dan beri laporan perjalanan bisnis kita pada Alvin!" Pinta Yudha.


"Hah? Woy Yudha, itu semakin tidak masuk akal!" Kata Shuhei yang akhirnya meninggalkan kesopanannnya agar sahabat masa kecilnya ini tidak gila.


"Tidak ada cara lain! Lakukan itu dan katakan pada Melody jika aku sedang memiliki urusan di Kyoto!" Kata Yudha.


"Yudha!"


"Tolong!"


"..." Shuhei terdiam. Yudha bahkan sampai berkata 'tolong' dengan ekspresi wajah yang menurutnya itu sangat jarang ia temui.


"Shuhei, aku mempercayaimu." Kata Yudha.


"Resiko dimarahi Nona Melody adalah tanggunganmu." Kata Shuhei yang memilih untuk menyerah akan kekeras kepalaan Tuan Mudanya yang super egois itu.


"Kau yang akan kena marah duluan." Yudha tersenyum setan.


Shuhei tahu itu. Dirinya pasti akan menjadi sasaran empuk luapan rasa kesal Melody karena Yudha tak jadi pulang bersama esok hari. Mengingat hubungan Yudha dan Melody yang aduhai mesranya kelewat batas, maka pola pikir kedua budak cinta oni juga kelewat batas. Rindunya ngeselin. Cemburunya dilampiaskan ke orang lain. Bahkan, marahnya juga dilampiaskan ke orang lain, dan besok, dirinya adalah sasaran empuk yang mantap.


"Saya memiliki cara untuk meredamnya." Kata Shuhei.


"Apa itu?" Tanya Yudha penasaran. Pasalnya, jika Melody sedang kesal, ia menjadi sulit mau bermesraan dengan Melody. Jika Shuhei tahu cara meredam emosi Melody, maka ia juga harus tahu. Ia harus menggunakan cara itu agar istrinya itu mau diapa-apain lagi.


****, iner mesumnya meraja rela kemana-mana. Untung Melody tak ada di sini. Kalau ada, habislah susah Melody itu. 😎


Shuhei menatap Yudha. Ia lalu tersenyum setelahnya. Membuat Yudha menaikkan sebelah alisnya karena curiga dengan jawaban apa yang akan ia dengar dari sosok sahabat masa kecilnya itu.


"Saya akan bilang pada Nona Melody jika sebaiknya Nona Melody melampiaskan kekesalannya pada Anda karena semua ini adalah ide Anda!" Jawab Shuhei.


😡


"Hah? Itu artinya kau sedang berusaha menyelamatkan dirimu sendiri!"


Shuhei malah memamerkan jari lambang peace-nya kepada Yudha. Dengan gaje yang sangat out of character tentunya.


"Maafkan saya, Yudha-sama! Untuk yang satu ini, saya tidak bisa setia pasa Anda!" Kata Shuhei.


"Cih, kau ini.."


"Yudha-sama.." Panggil Shuhei.


"Ya?"


"Apapun yang terjadi, jangan mati!"


"Perintahmu ngeselin ya?"


"Saya tidak suka Anda menolaknya, Yudha-sama."


"Egois juga dirimu."


"Bodo amat!"


Dan keduanya terlarut dalam tawa yang hampa. Mereka berdua sama-sama tahu jika apa yang mereka hadapi itu tidaklah mudah.

__ADS_1


__ADS_2