MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 1


__ADS_3

FLASHBAK ON


SEHARI SEBELUMNYA...


Seseorang datang ke Emperor Group dan meminta untuk bertemu dengan Alvin. Daisuke menyampaikannya secara berbisik karena saat ini Alvin sedang ada acara rapat.


Berhubung acara rapat sudah mendekati klimaks, akhirnya Alvin mempercepat rapat itu ke kesimpulannya. Kemudia ia membubarkan rapat itu dan menemui orang yang sudah menunggunya di dalam kantornya.


Ketika Alvin masuk ke dalam ruangan ditemani oleh Daisuke, ia cukup melayangkan rasa penasaran pada tamunya itu. Pasalnya seumur ia hidup, ia sama sekali belum pernah melihat orang ini.


Ingin menemuinya? Ada apa? Itu pertanyaan dasar yang mulai terlintas di otaknya sesaat setelah ia keluar dari ruang rapat.


Orang itu berdiri dan memberi hormat pada Alvin, kultur dengan membungkuk seperti pada umumnya.


"Silahkan duduk!" Kata Alvin. Daisuke tetap berdiri di belakang Alvin.


Orang itu duduk dan kemudian memberikan sebuah kartu nama pada Alvin.


Saga Masamune dari Kyoto Contruction.


Itu adalah identitas dari tamu yang saat ini duduk di hadapannya. Seingatnya, ia sama sekali tidak memiliki janji temu dengan siapapun hari ini.


"Ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya Alvin ramah dan sopan. Ia harus bertindak layaknya seorang CEO.


CEO yang baik mewakili wajah perusahaan.


"Saya Saga Masamune perwakilan dari Kyoto Contruction datang menemui Anda untuk menawarkan sebuah kerja sama yang tentunya akan sangat menguntungkan untuk Anda dan Emperor Group." Kata Saga.


"Hmm, sangat jarang bahkan tidak pernah ada riwayat Emperor Group mendapatkan tamu dari Kyoto, bahkan dalam bentuk kerja sama seperti ini. Arsip masa lalu ketika di bawah pimpinan kakek saya pun malah Emperor Group yang selalu di tolak jika ingin bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kyoto." Kata Alvin.


"Jika Anda berkenan, Anda bisa membaca sekilas tentang proposal yang Kyoto Contruction tawarkan kepada Anda." Kata Saga.


Saga kemudian membuka tas kerjanya dan memberikan map berisi proposal dari Kyoto Contruction kepada Alvin.


Alvin membuka map itu dan membacanya sekilas. Dua bait pertama sungguh memanjakan matanyanya. Otaknya pun kini bisa berimajinasi sangat liar. Ia menyeringai.


"Jadi intinya, jika saya menyetujui syarat ini, maka Emperor Group akan menjadi satu-satunya perusahaan dari luar Kyoto untuk mendirikan cabang usaha di sana?" Simpul Alvin.


"Ya, Anda benar, Alvin-san." Kata Saga. "Kami bisa membuka akses sepenuhnya untuk Anda dan Emperor Group. Bagaimana, Anda tertarik bekerja sama dengan kami?" Lanjut Saga.


Alvin menutup proposal dari Saga. Ia kemudian duduk tegak sambil menyilangkan kakinya. Ia menyatukan kedua tangannya dan ia letakkan di ujung lututnya.


"Tak masalah, saya bisa menyetujui syarat-syaratnya." Kata Alvin.


Saga tersenyum puas kemudian pamit undur diri dari ruangan milik Alvin. Alvin belum menandatanginya karena ia perlu mempelajari lebih dalam lagi. Lalu, apakah ini bisa menjadi jawaban-jawan yang selama ini ia cari?


Mungkin saja. Yang jelas, ia akan memanfastkan peluang sekecil apapun itu agar semua ambisinya tercapai.


Usai Saga meninggalkan ruangannya, Alvin kini tertawa terbahak-bahak. Ia sampai harus memijat kepalanya karena pusing akibat tertawa berlebihan.


Ia kemudian terbatuk-batuk setelahnya. Daisuke memberikannya segelas air mineral.


Alvin melepaskan dasinya, melepas 2 kancing bajunya, kemudian merebahkan diri di sofa untuk menerima tamu di dalam kantornya.

__ADS_1


Kepalanya kembali pusing.


"Daisuke, obat penghilang rasa saki!" Pinta Alvin.


Daisuke mengambil obat penghilang rasa sakit milik Alvin yang Alvin simpan di dalam laci meja kerjanya. Ia kemudian mengambilkan satu kaplet untuk Alvin. Namun Alvin meminta dua kaplet dan meminumnya dengan sangat cepat.


"Alvin-sama, Anda melebihi batas anjuran dokter! Anda bisa overdosis!" Kata Daisuke.


"Aku ini dokter, aku tahu apa yang aku minum!" Kata Alvin yang tak suka diceramahi. Menurutnya, Daisuke itu sangat cerewet. Suka melarang-larang dirinya untuk melakukan sesuatu.


"Tapi Alvin-sama..."


Dan deg... Alvin merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia lalu terbatuk dan mengeluarkan darah. Daisuke dengan cepat mengambilkan tisu untuk Alvin.


"Anda harus ke rumah sakit!" Kata Daisuke.


Alvin menggeleng dengan tetap membersihkan mulutnya dari darah yang baru saja keluar.


"Anda bahkan sampai mimisan! Ayo Alvin-sama, saya mohon, Anda harusnya masih beristirahat di rumah sakit!" Kata Daisuke.


"Kau itu laki-laki, berhentilah banyak bicara karena aku sudah baik-baik saja!" Kata Alvin. Ia kembali merebahkan dirinya di sofa panjang itu. "Bangunkan aku dalam satu jam ke depan. Pastikan tidak ada yang menganggu tidurku!" Kata Alvin.


Daisuke menatap sendu Alvin. "Baik, Alvin-sama. Sesuai keinginan Anda."


"Arigatou na, Daisuke."


"Do itashimashitte, Alvin-sama."


Alvin memejamkan matanya.


.


.


.


Di lantai 16 rumah sakit Internadional Kazehaya..


Yudha tertawa keras setelah membaca pesan dari Daisuke.


"Kerja sama dengan Tuan Han rupanya... Nah Alvin, peran mana yang kau ambil saat ini? Kau itu malaikat atau iblis bertopeng malaikat? Kau sudah tahu kan, tanpa surat wasiat dan stemple dewa itu, kau tak akan pernah bisa menjadi raja sejati Emperor Group!" Kata Yudha.


END OF FLASHBACK


.


.


.


Merasa khawatir dengan Shuhei, Yudha pun mencoba menghubungi Shuhei, namun tidak ada jawaban. Ia juga sudah menxoba menghubungi lagi, namun lagi-lagi, kini malah menjadi tidak tersambung.


Yudha mencengkram ponselnya keras. Ia ingin membanting ponselnya itu tapi ia urungkan.

__ADS_1


"Sial." Katanya.


Ia tahu jika sesuatu pasti sedang menimpa Shuhei. Ada yang tidak beres. Jika kemungkinan terburuk terjadi, maka sulit baginya untuk berjuang sendirian. Shuhei itu tangan kanannya yang sangat handal.


"Sebaiknya kau jangan mati, Shuhei. Tertangkap pun tak masalah asal kau masih bisa hidup."


Yudha menambah kecepatannya. Ia menyetir dengan tangan satu. Ia menjadikan tangan satunya untuk menopang kepalanya atau dalam bahasa jawanya songgo uwang. Ia tetap fokus mengendarai mobilnya agar cepat sampai ke Chiba.


Yudha sangat percaya diri dengan mobil Lamborghini Aventador miliknya itu.


Lamborghini Aventador adalah mobil sport keluaran Lamborghini yang diluncurkan pada Februari 2011 yang lalu. Mobil milik Yudha ini memiliki kode LB834 sebagai kode mobilnya, dan disebut sebagai mobil yang menggantikan Murcielago sebagai mobil termahal yang pernah dijual Lamborghini.


Beberapa waktu setelah peluncurannya, mobil ini menjadi salah satu supercar yang sangat populer, terlebih di kalangan pecinta sportcar dengan kecepatan tinggi dan Yudha adalah orang pertama yang membelinya.


Yudha memilih model Aventador LP700-4 Roadster, produksi Desember 2012. Aventador LP700-4 Roadster bisa melaju dengan kecepatan hingga 100 km/h hanya dalam waktu 2,8 detik saja. Mobil ini juga memiliki kecepatan maksimal yang sama dengan versi coupe, yaitu 349 km/h. Yudha kesengsem karena dirinya pecinta mobil dengan kecepatan tinggi.


Ia tak mempermasalahkannya meski ia harus mengeluarkab uang sebesar USD 441.600 saat pertama kali diluncurkan waktu itu.


Hanya saja mobilnya lebih sering parkir di garasi miliknya karena Melody tidak mau naik mobil yang 'terlalu pendek'. Entahlah Yudha kurang paham, namun Yudha menilai jika sebenarnya Melody hanya tak ingin terlalu menjadi pusat perhatian karena memakai mobil tetlalu mewah dan eye catching ini.


Bukankah itu artinya materi bukan tujuan Melody menikahinya? Aneh memang padahal awalnya Melody mengambil uang seratus juta itu untuk melunasi hutang.


Bersyukur?


.


.


.


Prefektur Chiba adalah prefektur di Jepang yang terletak di wilayah Kantō, dan berada di Wilayah Tokyo Raya. Jadi tempatnya memang tidak terlalu jauh dari kota Tokyo. Yudha tak terlau merasakan pantat panas karena harus berkendara super lama apa lagi dengan mobil berkecepatan super miliknya itu. Ia mampu menuju tempat tujuannya kurang dari dua jam.


"Aku masuk kawasan Umihatoru. Umihotaru merupakan sebuah destinasi wisata menarik berupa sebuah pulau buatan yang berada di tengah-tengah Teluk Tokyo. Sebenarnya, tempat ini merupakan sebuah tempat istirahat bagi para pengendara yang melintasi Tokyo Bay Aqua Line, sebuah tol bawah laut yang menghubungkan Bandara Haneda dengan area Kisazaru... Tempat ini indah, harusnya waktu ke Yokohama, aku mengajaknya mampir ke sini. Asataga... apa sih yang aku pikirkan? Harusnya yang paling penting itu aku menemukan dan menjemput Melody. Setelah Melody bersamaku, aku dan dia bisa kemana saja yang kami inginkan. Maaf Mel, aku hanya terlalu berekspektasi tinggi soal hubungan kita di masa depan..."


Keluar dari daerah Umihatoru, Yudha pun tak butuh waktu lama lagi untuk sampai ke tempat dimana Melody di sekap. Ia sudah mengikuti panduan GPS yang diberikan oleh para hacker miliknya.


"Kupikir Melody akan disekap di pabrik bekas itu, tapi rupanya malah di sebuah perumahan biasa kelas menengah dengan halaman luas dan berbagai macam bunga tumbuh di sana. Aku harus segera keluar dan menemuinya... Nah hei, aku bahkan tidak membawa pasukkan untuk menjemput istriku."


Yudha mamatikan mesin mobil miliknya. Ia memastikan senjata api miliknya untuk jaga-jaga. Ia memasukkan ke dalam kantong celananya. Setelah itu, ia pun keluar dari mobilnya.


Di luar pintu rumah itu di jaga oleh dua orang bodyguard berbadan tegap dan besar.


"Cih, rupanya aku disambut. Apa aku telat lagi? Cara apapun meski senyap sekalipun rasanya tetap sama. Akan tetap ketahuan. Jika aku bertanya, memang sebanyak apakah orang-orang yang ditugaskan untuk mengincar diriku? Berapa banyak dari mereka yang ditugaskan untuk memata-mataiku?" Batin Yudha.


Ketika Yudha berjalan menuju pintu itu, dua bodyguard yang berdiri di kanan dan kiri pintu itu, membukakan pintu untuk Yudha.


Yudha pun masuk ke dalam rumah itu.


Ia sudah di sambut oleh sang pemilik rumah dengan para bodyguard sewaannya. Sang pemilik itu duduk di sofa sambil merokok, sementara sekitar sepuluh orang bodyguard-nya berdiri di belakangnya dengan senjata api lengkap.


"Nyalimu besar juga berani datang ke rumah ini sendirian." Kata Sang Pemilik Rumah.


"Aku baru tahu jika maniak kesehatan seperti dirimu itu bisa merokok, ne Alvin-nii-sama!" Kata Yudha.

__ADS_1


Bersambung.... 😎😎


__ADS_2