MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Mabuk


__ADS_3

Karaoke.


Melody, istrinya saat ini berada di tempat Karaoke!


Bukan karaoke biasa, setahu Yudha tempat karaoke yang Melody kunjungi adalah tempat karaoke khusus dewasa karena memiliki kamar yang berfungsi sebagai love hotel. Memiliki bar juga.


________________________________________


Love hotel di Jepang biasanya identik dengan hotel yang digunakan untuk pasangan bercinta. Hotel bertema seperti ini cukup banyak ditemui di Jepang. Mengingat pornografi di sana termasuk bebas, jadi yah, hal seperti ini sudah dianggap biasa.


________________________________________


Apa yang Melody lakukan di tempat seperti ini? Ada seseorang yang mengajak Melody? Atau Melody sendiri yang ingin menyanyi karaokean?


Tidak mau dipusingkan dengan begitu banyak argumen di otak jeniusnya, Yudhapun berjalan cepat menuju parkiran rumah sakit. Ia lalu mencari mobilnya yang terparkir, dan dengan gusar ia masuk ke dalam mobilnya.


Ia harus segera menjemput Melody!


Tempat karaoke seperti itu sebenarnya cukup rawan, apa lagi didatangi saat malam hari seperti ini. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada Melody? Ia tahu jika Melody datang sendiri ke sana. Melody itu seotang wanita!


"Bodoh, sudah berapa jam dia di sana? Sial, sebentar saja aku tak mengawasinya, dia sudah berani bermain sampai sejauh ini. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu terhadapnya?"


Yudha tidak tenang. Ia tak bisa membayangkan kemungkinan terburuknya. Ia bahkan sampai memukul kasar stir mobilnya. Ia harus cepat, ia harus segera menjemput Melody!


"Sebaiknya kau baik-baik saja, Mel.."


.


.


.


Parkiran Karaoke..


Saat ini Yudha sudah berada di parkiran tempat karaoke. Ketika ia hendak keluar dari mobilnya, Alvin terlihat memeluk Melody. Yudha meremas jemarinya sendiri.


Pemandangan macam apa ini?


Kenapa ia harus disuguhkan pelukkan antara istri dengan kakak iparnya?


“Arigato, Senpai. Gomen, aku sedikit pusing.” Kata Melody.


“Kau terlalu banyak minum tadi, sebaiknya kita pulang! Sudah kubilang tidak usah datang memenuhi undangan Shion-san, kau nekat datang. Kau itu terlihat lelah, Melody. Sebaiknya tadi kau langsung pulang dan istirahat saja di rumah.” Alvin mencoba membantu Melody berjalan.


Shion adalah teman sekelas Melody. Hari ini adalah ulang tahun Shion, dan Shion mengundang teman-temannya untuk karaoke bersama.


Merasa tidak enak, Melodypun menghandiri perayaan ulang tahun temannya itu. Beruntung Alvin juga mengenal Shion, jadi Alvin juga mendapatkan undangan perayaan ulang tahun itu, dan ya, bertemu dengan Melody yang sudah mabuk.


Ketika mengingat bagaimana Melody bernyanyi asal sambil minum minuman berakhohol membuat dadanya terasa nyeri.


Haruslah Melody melakukannya sampai sejauh ini?


Karena Yudha?


“Kau tahu, Senpai...”


“...”


Mereka menghentikan langkahnya.


“Kau adalah orang yang paling mengerti akan diriku. Kau selalu datang di saat aku kesusahan. Apa senpai itu malaikat?” Kata Melody.


Mata Melody telihat indah, sama seperti biasanya. Mata yang selalu meneduhkan perasaannya. Mata yang tak bisa ia lupakan. Mata yang akhir-akhir ini juga membuat lubang di hatinya semakin besar.

__ADS_1


“Melody, kau terlalu banyak minum."


Kata Alvin.


“Aku tidak mabuk, Senpai! Aku sadar!"


"Kalau kau sadar, kau akan menolakku membantumu berjalan seperti ini!"


Melody mencoba melepaskan bantuan dari Alvin. Ia mencoba berjalan sendiri. Tapi ia limbung dan hampir saja terjatuh. Beruntung Alvin menangkap tubuh kurusnya.


"Melody semakin kurus." Batin Alvin miris. "Kan, kau itu mabuk! Tadi itu sangat berbahaya! Bagaimana kalau sampai kau terjatuh?" Kata Alvin.


"Aku hanya minum sedikit, hik.." Melody malah tersenyum.


"Toleransi alkhoholmu itu sangat rendah, baka!"


"..."


"..."


"Senpai, sakit!" Melody memegangi dadanya. "Sakit sekali rasanya."


Alvin tahu itu. Yang sakit bukan karena pengaruh alkhohol, tapi hati yang begitu terluka.


"Kita pulang ya, nanti sakitmu akan membaik!"


Melody kembali tersenyum. Senyuman aneh pikir Alvin. "AYO KITA PULANG! GOOO!" Melody mengepalkan tangannya ke atas.


"Kau bukan superman, Mel! Pose apaan itu?" Alvin memapah Melody.


"Senpai, aku cewek, harusnya supergirl!"


Astaga dibantah. Melody tidak mabuk sepenuhnya rupanya. Setidaknya belum.


"Iya-iya, Melody-supergirl."


"Hah." Alvin menghela nafas.


"Eh, apa itu UFO?” Melody menunjuk ke arah langit.


Alvin menarik senyumannya. Melody memang selalu seperti itu. Iya tarik lagi kesimpulannya, Melody sudah benar-benar mabuk saat ini.


“Itu hanya bintang biasa, Melody!”


Kata Alvin.


“Ayah..” Suara Melody memilu. Alvin tidak menyukainya.


“Ayo kita pulang!”


“Sebentar saja, aku ingin melihat ayah sedikit lebih lama. Jarang-jarang di Tokyo bisa lihat bintang.”


“Kau harus menjaga kesehatanmu..”


“Sebentar saja.”


Alvin melirik Melody yang sedang melihat bintang. Tatapan itu terlihat kosong, Alvin paham, Melody tak benar-benar melihat bintang.


Kemanakah pandangan mata Melody?


Kemanakah itu tertuju?


Apa yang kini sedang Melody pikirkan?

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba merubah total penampilannya? Meski dengan penampilan baru terlihat sangat cocok dengan Melody, tapi Melody saat ini memiliki emosi yang tak ia kenali. Benarkah ini semua karena Yudha? Alvin enggan mengakuinya, terlalu menyakitkan, walau ia sadar itu benar.


“MELODY! PULANG!” Yudha tiba-tiba langsung menyahut lengan Melody.


“Yudha?”


Kaget Alvin yang tak menyangka jika ia akan bertemu Yudha di sini.


“Yu-Yudha?”


Kata Melody.


Orang yang tadi bertengkar dengannya, berdiri di hadapannya. Orang yang tadi tidak mempercayainya, menatap tajam dirinya. Orang yang tadi tidak mengejarnya, datang menjemputnya.


“PULANG!” Yudha menarik kasar Melody menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat Melody dan Alvin.


“Yudha, Melody sedang tidak sehat, jangan terlalu kasar padanya!” Pinta Alvin.


“Dia istriku, aku yang paling tahu akan keadaanya!”


“...” Alvin terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat Yudha dalam sosok yang berbeda.


Ini pertama kalinya juga Yudha berbicara dengan nada keras seperti ini kepadanya.


“Yudha, aku tidak mau pulang! LEPASKAN!” Melody berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Yudha.


“AKU BILANG PULANG YA PULANG!”


“TIDAK MAU, AKU TIDAK MAU PULANG DENGANMU!”


“Melody, Yudha benar, sebaiknya kau pulang. Kau perlu istirahat di rumah.” Kata Alvin. Ia mencoba bijak.


"AKU TIDAK MAU PULANG DENGAN YUDHA! AKU MAU PULANG SAMA SENPAI!"


"Melody, pulang denganku atau dengannya itu sama saja. Pulanglah dengan Yudha, dia sudah menjemputmu.." Bujuk Alvin.


"..."


“PULANG!” Yudha kembali membentak. Jauh lebih keras dari tadi. Melody kali ini langsung menurut. Tangannya sudah memerah, sangat sakit.


Yudha menyuruh Melody masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu menutup pintu mobilnya dengan cukup keras. Terlihat Melody meneteskan air mata dari balik kaca pintu mobil. Membuat perasaan Alvin carut marut.


Alvin tidak pernah menyakiti Melody sampai membuat Melody menangis, tapi Yudha dengan mudahnya membuat Melody menangis. Memang apa yang Yudha pikirkan tentang Melody?


Melody bukan orang yang pantas untuk mendapatkan luka!


“Alvin, kau tidak pulang sekalian?” Tanya Yudha. Meski terlihat seperti biasa, tapi Alvin tahu jika emosi Yudha belum reda.


“Aku ada lembur, aku akan tidur di rumah sakit.”


Jawab Alvin yang memilih menkondisikan diri dengan suasana tak nyaman saat ini.


“Hm, begitukah?”


"Hn. Kau jaga dia, berilah penawar mabuk! Dia minum lebih dari batas kemampuannya."


"Iya aku mengerti. Terima kasih sudah menjaganya."


"Hn."


Yudha masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu membuka kaca jendela mobilnya. “Sebaiknya kau tidak terlalu memforsir dirimu!”


“Ya, terima kasih, Yudha.” Alvin tahu, Yudha itu tidak pernah lupa menghawatirkannya.

__ADS_1


Saudaranya itu adalah sosok yang luar biasa.


"Kalian berdua sangat sulit untuk aku hadapi. Kalian berdua sama-sama sangat berarti untukku. Namun, aku memiliki batas kesabaran itu. Aku tak bisa melihatnya terluka karenamu."


__ADS_2