
"Melody-sama, jika Anda merasa sudah tak sanggup lagi melanjutkan pertemuan ini, sebaiknya Anda berisirahat! Ini juga susha malam." Kata Ayane yang kini mengambil kursi dan duduk di samping belakang Melody.
Melody tersenyum ringan pada Ayane. Pengawal setianya ini selalu saja menghawatirkannya. Ini memang seperti mengalami pengalaan berharga andai kata ia memiliki seorang kakak.
Ayane lebih dari sekedar pengawal, penjaga, pengasuh, asisten, atau sejenisnya. Ayane itu adalah kakak, seorang kakak yang sudah seperti anggota keluarga sendiri.
"Aku masih sangat kuat, Ayane-nee. Maaf tadi membuatmu khawatir. Aku memang akan sangat tak berdaya jika sesuatu yang buruk menimpa Yudha. Membayangkan saja sudah melumpuhkam saraf-sarafku." Kata Melody.
"Anda hanya sangat mencintainya, Melody-sama." Kata Ayane.
"Ya. Itu adalah kenyataannya dan aku tak berniat membantahnya. Aku tak tahu dia akan sangat melekat di seluruh aliran darahku dan bahkan mengikat jiwaku... Mencintai seseorang sangat dalamnya itu sebenarnya tidaklah baik, apa lagi sampai membabi buta. Namun tenanglah, cinta yang aku bangun dengan Yudha itu cinta yang menguatkan satu sama lain. Cinta yang saling mendukung... Nao-kun, Ayumi-chan, dan Neil-san menyadarkanku untuk bertahan saat Yudha tak ada di sisiku. Aku memiliki nyawa lain di dalam rahimku. Separuh nyawa-nyawa itu milik Yudha, aku tak akan kalah demi mereka juga... Sekali lagi, terima kasih banyak sudah menghawatirkanku.. selama ini.. sampai detik ini juga." Kata Melody tulus.
Ayane hanya tersenyum. Ini adalah pencapaian tertinggi dari seorang pelayan seperti dirinya. Ah, Melody bahkan tak menganggapnya sebagai pelayan. Yang Melody lakukan hanya menjalin hubungan rasa keluarga terhadapnya. Memanusiakan manusia lebih dari sekedar manusiawi.
"Oke-oke, pertemuan di atap gedung ini memang banyak pembicaraan yang alot dan sangat panjang. Bahkan membosankan karena yang dibahas hanya itu-itu saja. Tidakkah kalian pikir jika otak kalian terasa panas dan mau meledak? Tidakkah kalian ingin segera menyudahinya?" Kata Nao. Ia lalu menuang wine berakohol ringan ke dalam gelas miliknya. Meneguknya dalam sekali tenggak.
"Kau berencana mabuk malam ini?" Kata Ayumi.
"Ini tidak terlalu kuat kadar alkoholnya." Kata Nao.
"Sama saja karena kau sudah meminumnya lebih dadi lima gelas, bodoh!" Kata Ayumi.
Nao nyengir. "Kan ada abang Neil yang akan mengantarkanku pulang kalau aku mabum, ne Neil-nii-sama?"
"Aku bukan sopirmu! Pulang saja sendiri!" Kata Neil.
"Jieeeeehhh..."
"Apa?"
"Lha apa?"
"Lah."
__ADS_1
Semua orang tepok jidat. Memang perlu ya sampai seperti ini? Aron pun jadi berpikir meski pemikiran teman-teman Yudha cukup dewasa, apa lagi sampai menduduki jabatan Komisaris Tertinggi, mereka tetap saja masih kumpulan fresh graduate usia 22-23 tahun yang labil dan menyukai hal-hal konyol kenak-kanakan.
"Sesudah mengetahui jika Oyabun kota Kyoto adalah Tuan Han, pemegang lencana Spade adalah dia juga, dan bahkan orang yang menculikku juga ada hubungannya dengannya, jadi apakah ini juga petunjuk yang memiliki benang merah dengan hilangnya Yudha-sama? Aku sudah memikirkan ini sejak lama, latar belakang seorang Oyabun kota Kyoto adalah yakuza. Sedang Tuan Besar Wijaya-sama juga seorang yakuza dulunya. Apa ini saling berkaitan?" Ungkap Aron.
Aron ingin tahu pendapat dari para kawula muda. Meski masih labil dan kekanak-kanakan tapi fakta jika mereka masuk 10 anak muda yang paling berpengaruh di Jepang sudah tak dapat diragukan lagi. Lagi pula, untuk saat ini, Aron harus berjuang lebih keras lagi. Sesudah kakek Wijaya terbaring tak berdaya di ranjang, ia harus berjuang sendirian. Kini waktunya ia mencari sekutu agar beban yang ia pikul semakin ringan.
"Matte! Matte! Praduga paman terlalu banyak. Sebaiknya kita urai satu per satu, Paman!" Usul Nao. Ia bingung. Ia kurang bisa memahami jika semua dijelaskan secara singkat tapi dengan tidak padat. Ini menimbulkan ketidak jelasan baginya. Rasanya kurang memuaskan. Ia harus membuat Aron menceritakan masa lalu dan apa yang terjadi dengan cara yang sanamgat rinci agar tidak ada masa lalu yang tertinggal, agar tidak ada masa lalu yang terlewatkan.
Benar juga apa kata Nao. Harusnya ia berbicara mengimbangi lawan bicaranya. Aron tahu apa yang sebaiknya harus ia lakukan. Ia mengerti karena kecerdasan dan pengalaman hidupnya selama ini membuatnya tahu mana yang baik da mana pula yang benar.
"Baiklah, kita mulai dengan dasar dari semuanya yaitu masa lalu Kazehaya Wijaya, founder dan mantan CEO Emperor Group." Kata Aron. Ia akan membuka apa yang perlu dibuka. Apapun itu. Masa lalu, orang-orang yang terlibat, dan lingkaran yang mengikatnya. Lelah juga lama-lama jika seperti ini.
Menyudahi pembicaraan soal Yudha dan Oyabun kota Kyoto, kini pembicaraan kembali ke masalah masa lalu Kazehaya Wijaya yang diketahui sebagai mantan anggota yakuza Red Dragon.
Ini ada hubungannya ketika Neil dan Ayumi menyadari adanya kejanggalan soal masa lalu kakek Wijaya dengan Tuan Han.
Ini seperti memaksakan jawaban atas pertanyaan, kenapa Tuan Han mengincar Yudha? Atau, mana mungkin Tuan Han hanya mengincar Yudha padahal Yudha sudah tak lagi mengusai Emperor Group? Atau, gagal mengincar kakek Wijaya maka gantian mengincar Yudha?
Pemikiran ini memang di dasari atas dasar cocoklogi yang dipaksakan. Namun memang harus seperti itu. Asumsi-asumsi dan kecurigaan inilah yang akan membawa diri pada terangnya semua misteri rentetan musibah mengerikan yang mengintai keluarga Kazehaya.
Sesuai yang Aron duga. Teman-temannya Yudha ini memanglah bukan anak-anak sembarangan. Mereka tahu apa yang mereka lakukan. Sepertinya ia tak harus khawatir jika ia bekerja sama dengan anak-anak 'kecil' ini. Ia ingin melakukan perubahan agar bisa melindungi keluarga Kazehaya ini. Keluarga yang memberikan perasaan dimana ia bisa kembali. Keluarga memberikan kesan nyaman dan rasa ingin pulang ketika pergi jauh. Keluarga yang memberikannya arti dari sebuah kata rumah yang dirindukannya sejak kecil ketika dunia menghianatinya.
Meski harus bekerja dengan anak-anak kecil ini, ia tak masalah. Faktanya, teman-teman Yudha ini bukanlah anak-anak sembarangan yang bisanya mengandalkan kekayaan orang tua. Mereka tidak manja. Mereka tahu bagaimana harus beradaptasi dengan dunia ini yang selalu mengalami perubahan. Mereka tahu bagaimaba harus mengambil langkah yang tepat untuk menghadapi kejamnya dunia yang kadang tidak adil. Mereka tahu bagaimana cara terbaik untuk bertahan ketika dunia menulis ulang mimpi-mimpi mereka. Mereka tahu apa yang tidak dan harus dilakukan.
Yudha pasti bahagia memiliki teman-teman seperti mereka.
"Persaingan di dunia bawah maupun atas itu akan selalu terjadi. Bahkan dalam satu payung yang sama sekalipun. Mereka yang iri akan selalu menunjukkan eksitensinya untuk menekan musuh mereka. Tuan Besar memiliki banyak musuh itu benar adanya. Terutama dalam persaingan bisnis. Jangankan itu, dari dalam Emperor Group sendiri juga banyak yang tak menyukainya. Sebagai bukti jika di Emperor Group memiliki fraksi oposisi yang akan sulit sejalan dengan Tuan Besar." Jelas Aron.
Merasa haus karena ketegangan akibat cerita dari Aron. Neil pun mengambil gelas minumnya dan segera menenggak isi gelas itu. Ia memilih air putih bukan wine karena ia tak mau mabuk malam ini. Ia ingin terus bisa berpikir jerniah agar otaknya mampu berpikir dengan baik akan fakta baru yang sudah pastinya akan sangat mengejutkan dan juga kira-kira langkah tepat seperti apa yang kiranya harus ia ambil nantinya.
"Itu memang benar, paman. Yang dimaksud oleh Nao adalah musuh selama kakek Wijaya berada di yakuza red Dragon. Persaingan di dunia bawah menurut kami itu jauh lebih mengerikan apa lagi untuk kelas kehidupan seorang yakuza yang katakanlah setiap hari itu dekat dengan kematian." Kata Neil.
"Singkatnya, apakah masa lalu kakek Wijaya membawa karma berkepanjangan sampai berimbas di masa ini?" Tanya Nao. Nao sudah tak tahan. Rasa penasarannya membuatnya menjadi sangat gemas. Ia geting setengah mati. Bisakah ia melakukan perjalanan waktu dan kembali ke masa lalu? Sepertinya perjalanan itu akan sangat mengasyikkan. Tidak. Tidak! Yang ada itu pasti akan sangat mengerikan.
__ADS_1
Melody, Ayumi, dan Ayane juga penasaran akan hal ini. Mereka semua serempak menunggu jawaban dari Aron atas pertanyaan dari Nao. Maunya dijelaskan dengan cara yang singkat, padat, dan jelas, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Ada alur untuk sampai ke sana. Tidak bisa serta merta mengungkapkannya dengan sederhana, nyatanya tidak ada kejadian sederhana dalam kisah masa lalu. Rumit. Kisah masa lalu yang mengikat kakek Wijaya itu sangat rumit. Ini seperti mencoba membebaskan tali-tali yang terikat satu sama lain dengan ikatan mati, meliuk-liuk dan sangat sulit dilepaskan. Butuh waktu, bukan?
Aron menakupkan kedua jemari tangannya di atas meja. "Sangat sulit untuk benar-benar lepas dari kehidupan yakuza dan dunia bawah. Jika kalian semua menyebut ini sebagai karma, maka ya, mungkin penyebutan dengan kata itu adalah yang paling cocok. Malah mungkin ini memang bagian dari karma itu sendiri karena faktanya, sesuatu yang besar sudah pernah Tuan Besar lakukan di masa lalu." Jawab Aron.
Sesuatu yang besar?
Sesuatu yang besar itu pernah dilalukan oleh kakek Wijaya. Yang mana sesuatu itu menimbulkan efek dan buntut yang panjang akan semua rentetan masalah yang terjadi saat ini. Masalah mengerikan, percobaan pembunuhan layaknya sebuah kutukan. Dosa apa yang sudah kakek Wijaya lakukan di masa lalunya?
Apakah itu?
"Tolong ceritakan tentang hal itu, Aron-san! Kami semua ingin mengetahuinya." Pinta Melody. Ia sudah tak sabar ingin segera mengetahuinya.
"Tuan Besar Wijaya-sama adalah orang yang membantu Tuan Hadinata atau mendiang kakeknya Melody-sama meruntuhkan dominasi yakuza Red Dragon." Jawab Aron.
"Apa?"
"Membantu?"
"Tuan Hadinata?
"Kakeknya Melody?
Dan seketika itu semua dipenuhi rasa kaget dan terkejut yang tak terkira. Semua tahu, semua paham, semua kejadian yang tak mereka alami, semua kejadian yang sifatnya diceritakan, maka akan menimbulkan rasa kaget dan terkejut. Memang ada hal lain yang bisa mewakilinya? Sulit menerima dan otak memaksanya seperti itu.
Fakta kake Wijaya yang merupakan seorang yakuza saja sudah membuatnya merinding. Apa lagi ditambah membantu kakeknya Melody dalam pemusnahan yakuza Red Dragon?
Masa lalu memang selalu mengundang misteri. Selalu membuat penasaran. Apa lagi bagi pemegang generasi lanjutan masa kini. Semua ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi secara jelas, gamblang, dan nyata layaknya bagaimana fakta berbicara.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung dulu. Masih lanjut, ini menuju titik akar masalah. Mari berjuang untuk hidup yang lebih baik. Takaran harapan hidup layak itu beda-beda. Kalau itu aku, maka aku hanya ingin hidup yang bahagia. Gamba!