
"Kakek.. Ano, bolehkah aku memeluk kakek?" Tanya Melody hati-hati.
Bukan apa, tapi ini memang murni karena ia memiliki hubungan tersendiri dengan kakek Wijaya. Kakek Wijaya lah yang sangat berjasa di dalam hidupnya.
Kakek Wijaya menganggu, Melody pun memeluk kakek mertuanya itu.
"Kerja bagus, aku sudah mendengar detail ceritanya dari Aron dan Shuhei. Kau memang cucunya Hadinata. Terima kasih sudah setiap pada keluarga ini dan Yudha tentunya. Lalu, maaf, maaf karena sudah menempatkanmu di posisi yang berbahaya." Jika sesuai rencana, harusnya Melody tidak terlibat. Tapi benar kata Alvin, Melody lebih cocok jadi pemain daripada diam menunggu hasil.
"Aku tidak paham bagaimana mendiang kakekku itu, tapi keluarga Kazehaya dan Yudha adalah keluarga baruku. Aku sudah menjadi bagian keluarga ini sejak aku menjadi istri Yudha, ini tugasku sebagai anggota keluarga. Tidak ada penyesalan tentang apa yang terjadi, lebih ke bersyukur karena aku tidak lari." Jelas Melody.
"Kau pandai berbicara... Jadi, intinya kau sudah tahu kan sisa keluarga dari mendiang kakekmu?"
"Paman Azumane dan Saga Masamune. Lalu, Tuan Han, meski aku tak mau mengakuinya."
"Ya, mereka semua adalah keluargamu dari pihak kakekmu... Akhirnya sudah sampai ke tahap ini. Akhirnya, saham milik Hadinata bisa aku berikan kepada pewaris sahnya. Setelah ini, aku merasa sudah tak memiliki tanggungan lagi. Sudah lega dan ringan tanpa beban, dipanggil Tuhan pun sudah tak masalah." Senyum kakek Wijaya.
Ya benar, saham misterius itu adalah milik Hadinata. Hadinata dan kakek Wijaya memulai bisnis bersama. Kekek Wijaya butuh uang banyak di awal Emperor Group berdiri, dan Hadinatalah yang menyuntikan banyak dana dengan imbalan kepemilikan saham tentunya. Kakek Wijaya amanah dan bertanggung jawab sampai akhir. Ia tetap setia pada Hadinata meski Hadinata sudah wafat sekali pun.
"Jangan bilang seperti itu, Kek. Dua cicit kakek menunggu buyutnya." Melody membalas dengan senyuman.
Kakek Wijaya kembali tersenyum. "Kau benar, Kakek Tua ini memang harus ikut mendidik mereka mengingat Bapaknya mereka suka kurang dewasa."
"Kakek, aku mendengarnya..." Sindir Yudha yang memang berada di ruangan yang sama dengan Melody dan kakek Wijaya.
Ha ha ha...
Banyak hal yang mereka bahas. Mulai hal sederhana, kompleks, atau pengulangan dari kisah masa lalu.
Melody sedang memeras asi untuk anak-anaknya yang sedang berada di inkubator dibantu oleh suster. Sedangkan Yudha dan kakek Wijaya berbincang-bincang.
"Setidaknya aku sedikit paham tentang apa yang kakek dan Alvin rencanakan. Jadi, garis besarnya, karena kakek sudah tahu nyawa Alvin tinggal sedikit, kakek mengorbankan Alvin?" Tebak Yudha.
"Ya. Kasarnya memang seperti itu. Kakek memang mengorbankan Alvin yang sekarat demi keluarga kita." Kakek Wijaya mengamini.
"Tidakkah itu sangat kejam?"
"Ya, itu kejam. Tapi Alvin bersedia melakukannya dan dia berhasil sampai akhir. Kau jadi ahli warisnya, kan? Padahal rencana kakek bukan seperti itu. Tak aku sangka, bocah itu mengumpulkan semua saham oposisi kakek dan menjadikannya milikmu. Jika ditambah dengan milikmu, maka saham milikmu yang terbanyak. Kakek dan Melody tak bisa berbuat banyak ketika pemilik saham terbanyak membuat keputusan. Apa lagi kau itu pemegang komisaris tertinggi Emperor Group, otoritas mutlak ada di tanganmu." Jelas Kakek Wijaya. "Dia benar-benar-benar balas dendam pada kakek atas sikap dingin kakek selama ini kepadanya. Kakek tak jadi orang nomor satu lagi di Emperor Group." Pungkasnya.
"Apa aku terlihat mengorbankan Alvin ketika aku mengambil saham warisan darinya?"
__ADS_1
"Kau mungkin merasa seperti itu, tapi kau tak bisa mengubah isi wasiatnya Alvin. Ya memang sudah seperti itu keinginannya... Kakek tahu, sisi lain hatimu enggan menerimanya, kan? Merasa tak pantas karena itu dari saudaramu yang mencintai istrimu?"
"..."
Kakek Wijaya tahu apa yang ada di dalam benak Yudha. Dalam hati, ia yakin jika Yudha bual soal Alvin yang sekarat.
"Yudha, kali ini, kakek tidak akan memaksa apa yang tak kau sukai. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Kakek tidak akan memaksa." Kakek Wijaya menepuk pundak sekilas sebelum akhirnya keluar dari kamar inap milik Melody.
Yudha tahu maksud kata terakhir kakeknya sebelum pergi meninggalkannya. Lagi, lagi, ia masih belum bisa membuat kesepakatan terbaik dengan hati kecilnya.
Alvin sekarat ya?
Kalau Alvin mati, maka tidak ada lagi Alvin di dunia ini..., kan?
Ah, kepala Yudha terasa sangat pening hanya dengan membayangkannya.
.
.
.
"Masih kah kau ingin bertaruh lagi denganku untuk menentukan siapa yang menang dan kalah? Yoga-san memilihmu? Ya, kau benar dia memang memilihmu. Namun, apa kau tak tahu pembicaraan terakhirku dengannya?" Kata Mikan.
"..." Kurenai memandang tak suka Mikan.
"Dia memilihmu, tapi semua harta darinya menjadi milik Yudha. Aku sangat percaya diri dengan hal ini karena aku tahu dia tidak akan menghianatiku. Kau mengincar akta kepemilikan Emperor Group dari tangan Yoga-san, kan? Penasaran dengan wasiatnya? ... Semua diberikan untuk Yudha ketika dia memilihmu dan Alvin."
"..." Kurenai mencengkram selimut pasiennya. Ia tahu ini, kekesalannya 15 tahun yang lalu bahkan belum hilang sampai detik ini ketika ia mengingatnya.
"Semua usahamu gagal, lalu anakmu sepertinya juga menghianatimu. Tak aku sangka, Alvin bahkan memilih Yudha... Kau tahu apa yang dia lakukan untuk Yudha?"
"..." Kurenai kembali masih terdiam
"Dia menyerahkan semua saham dan kepemilikannya atas Cafe dan Restoran beserta aset vila mewah kepada Yudha."
"A-Apa maksudnya itu? Tidak mungkin Alvin melakukannya. Dia berjuang keras untuk sampai ke posisi ini! Dia tak mungkin sebodoh itu!" Kurenai tidak percaya. "Aku tak ikhlas semua hartanya jatuh ke tangan Yudha!" Tambahnya.
"Bahkan sampai akhir pun kau tidak juga sadar, kenapa kau tidak bisa menghormati keinginan terakhir orang yang menyayangimu?" Mikan emosi soal ini. Ketika tahu jika Alvin sekarat, ia menjadi tak menentu. Bagaimanapun ia sangat menyayangi Alvin.
__ADS_1
"Keinginan terakhir?" Gumam Kurenai tak mengerti.
"Anakmu... dia..." Mikan harus mengatur emosinya sebisa mungkin agar tak meledak. "Dia sekarat karena kanker darah!"
Kanker darah.
Alvin terkena kanker darah.
Bagai tersambar petir, Kurenai langsung syok mendengarnya. Perasaannya tak bisa dijelaskan. Ia kacau seketika. Ia tak bisa mengucapkan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Semua seolah membeku di ujung bibirnya.
Tidak mungkin, kan?
Namun, Kurenai menatap Mikan. Mata Mikan sama sekali tidak membohongi dirinya.
"Setelah tahu anakmu sekarat, apa kau masih berambisi untuk merebutkan harta Yoga-san? Masih berambisi untuk menghancurkan keluarga Kazehaya?"
"..."
"Kau mungkin tak paham, tapi inilah karma. Apa yang kau tabur, kau tuai."
"..."
"Kau tak mungkin akan menang. Dulu atau pun saat ini."
"..."
"Kau tahu kenapa?"
"..."
"Karena kau terlalu serakah."
"..."
"Andai saja dulu kau Legawa dengan keputusan Yoga-san untuk memulai hidup baru denganmu, meski tanpa sokongan harta dari keluarga Kazehaya, Yoga-san pasti mampu... Andai kau bersabar dan terus menemaninya, dia pasti sudah berhasil membuat Emperor Group 2! Namun apa yang kau lakukan? Kau membuatnya kecelakaan dengan teman tidurmu itu! Kau membuatnya mati meninggalkan kita semua!"
"..." Kurenai menunduk dan menangis.
"Terima saja nasibmu karena ini pilihanmu. Air matamu sudah tak ada gunanya lagi." Kurenai pergi meninggalkan kamar inap Kurenai. Meninggal Kurenai yang hancur sehancur-hancurnya.
__ADS_1