
“Tuan, semua sudah siap!” Kata sang bawahan.
Seorang berbaju hitam sedang tersenyum ketika bawahannya memberitahukan hal yang diinginkannya. “Tunggu aba-aba dariku! Setelah itu, culik menantu keluarga Kazehaya yang terhormat itu!” Katanya.
“Baik, Tuan! Kami akan segera melaksanakan perintah dari Anda!”
.
.
.
Aula pesta...
Kembali ke acara pesta, Alvin memutuskan untuk meninggalkan kerumunan Yudha dan kawan-kawannya. Ayahnya, ayah tiri tepatnya, Uchiyama Azumane datang bersama sang ibu, Kurenai. Ia harus menyapanya terlebih dahulu sebagai wujud penghormatan kepada orang tuanya.
Usai kepergian Alvin...
“Kami tahu apa masalah yang sedang kau hadapi, Yudh. Tak maukah kau bercerita secara langsung?” Tanya Sai.
“Jika kalian sudah tahu, kenapa aku harus menceritakannya lagi? Buang-buang tenaga saja.” Gerutu Yudha. Ia tak suka banyak cerita apa lagi soal masalah yang saat ini sedang ia dadapi.
“Mendengarmu secara langsung jauh lebih afdol. Seperti dianggap sebagai sahabat.” Kata Nao.
“Mulutku lelah harus banyak cakap hari ini. Apalagi aku harus tersenyum sana-sini kepada mereka orang-orang yang bermuka dua. Rahangku pegal dan terasa seperti ingin lepas.” Kata Yudha. Alasanya membuat kesal, tapi ini adalah kejujuran Yudha. Ini benar-benar yang sedang ia rasakan saat ini.
“Senyum itu ibadah! Kau ini, pantas saja sulit mendapatkan dukungan dari para pemegang saham di Emperor Group! Kau ini, jika kau tahu mereka bermuka dua, maka kau bisa melakukan hal yang sama. Bermukalah dua, tiga, atau sepuluh sekalipun! Dunia bisnis itu licik, Yudh!” Kata Neil mencoba menasihati.
“Tak hanya licik, tapi busuk juga.” Tambah Yudha.
“Saking busuknya, kau bahkan sampai harus berseberangan dengan kakakmu sendiri. Itu menyakitkan bagi kami yang melihatnya. Kalian berdua adalah sahabat-sahabat kami. Melihat kalian perang dingin seperti itu, tentulah kami merasa sedih.” Kata Nao. Sebagai sahabat yang dekat dengan Yudha, tentulah ia tidak memejamkan mata mengenai hal ini.
“Hoo, kalian bisa merasa seperti itu juga rupanya? Terima kasih sudah merasa sedih pada kami. Tapi aku tidak merasa sedih. Biasa saja. Dia yang memulainya lebih dahulu, aku hanya mengikuti apa yang diinginkannya.” Kata Yudha.
“Kau meragukan ikatan persahabatan kita, Yudh? Aku merasa sedih jika kau sungguh melakukannya.” Kata Sai. Apa ini wujud pengakuan sari Miura Sai? Ayolah, rasanya kesal juga mengingat ia dan Yudha sudah mengenal dekat sejak sekab dasar.
“Yudh, kau membuat si mayat hidup sakit hati!” Kata Neil. Sai itu memiliki kelit putih pucat karena memiliki gen langka keturuan Siberia dimana di Jepang sendiri yang memiliki gen ini tak sampai 1%. Karena saking putihnya, Sai sering dijuluki mayat hidup. Sebenarnya vampir jauh lebih cocok, hanya saja teman-temannya ogah mengakui si pemilik senyum palsu ini sebagai vampir.
“Bukan berarti meragukan. Hanya itu yang aku rasakan. Maaf, aku tak pandai mengekspresikan apa yang harus diekspresikan dalam masalah ini.” Kata Yudha.
“Yudha-sama hanya lebih berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Dia lebih insecure dari biasanya. Masalah yang menimpa Yudha-sama mengubah banyak dalam karakternya saat ini. Pukulan telak baginya ketika harus ‘dikhianati’ oleh kakaknya sendiri. Mengingat semua yang ia lakukan selama ini hanyalah untuk sang kakak.” Kata Shuhei mencoba menjelaskan apa yang sedang Yudha rasakan saat ini.
__ADS_1
“Woy Shuhei, jangan sembarangan berbicara!” Kata Yudha.
“Yudha-sama, saya hanya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Anda saat ini.” Kata Shuhei.
“Tapi tidak seperti itu juga kali!” Kata Yudha.
“Beruntunglah kau memiliki Shuhei yang memahami, Yudh! Jangan sia-siakan dia! Jika dia pergi darimu, habislah sudah kau!” Kata Nao.
“Aku paham intinya. Kudengar dari koran, kau yang memilih Alvin sebagai CEO Emperor Group sendiri. Sampai akhir pun kau masih menomor satukan Alvin. Kau lebih mencintainya daripada dirimu sendiri. Kau adik yang hebat, Yudha! Sebagai teman aku bangga padamu!” Kata Sai.
“Pujianmu terdengar menyakitkan telinga!” Kesal Yudha.
Kenapa harus menggunakan kata mencintai sih? Menyayangi jauh lebih cocok dari semua kata yang ada. Namun jika diterapkan pada kondisi saat ini, apakah perasaan yang dimaksud oleh Sai itu masih ada?
“Aku ingin tahu, setelah apa yang terjadi saat ini, apa kau masih mempercayai Alvin?” Tanya Neil.
“...” Yudha terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar pertanyaan dari Neil.
Percaya pada Alvin?
Masih?
Yang seperti apa maksudnya? Alvin sudah menguasai kursi tertinggi Emperor Group. Alvin sudah memiliki saham yang banyak, hampir mendekati milik sang kakek. Lalu, setelah Alvin mendapatkan itu semua, Alvin ingin merebut Melody dari dirinya.
“Memegang tahta dan mempertahankannya itu sangatlah berat, Yudh. Kau pastilah paham itu. Setelah Alvin duduk di kursi panas itu menggantikan kakekmu, dia mengalami serangan dari segala penjuru. Fraksi dari oposisi yang yak setuju dengannya, mulai menyerangnya. Fraksi yang pro dirimu dan kakek Wijaya juga tidak tinggal diam. Mereka semua membuat banyak cara untuk menumbangkan Alvin. Belum lagi para penghianat yang bermuka dua di depan Alvin. Sebagai sama-sama orang yang berkecimpung di dunia bisnis seperti diriku, tentulah paham betul bagaimana beratnya bertahan dari gempuran sana-sini. Kau pun pasti juga paham soal ini. Kau sering sekali mendapatkan upaya percobaan pembunuhan.” Jelas Nao.
Bagi Yudha dan yang lain, passion Nao di dunia bisnis itu luar biasa. Yudha belajar banyak dari Nao. Meski Nao terlihat sering bercanda dan bertindak konyol, tapi jika itu tentang bisnis, maka Nao akan jauh lebih bijak.
Rasanya wajar-wajar saja jika Nao sudah sukses sebelum umur 30. Dalam majalah bisnis kenamaan Jepang, Nao masuk dalam kategori itu. Diikuti oleh Yudha, dan Neil.
“Kau mengharapkan aku bisa bekerja sama dengan Alvin? Apa kau pikir dia akan menerimaku? Hei, salama voting pemilihan CEO Emperor Group pun, semua sudah tahu jika kami memilih untuk berseberangan!” Kata Yudha.
“Apa kau yakin jika semua itu yang Alvin incar selama ini darimu?” Tanya Neil.
Jujur saja, bagi Yudha ini adalah pertanyaan yang serius. Namun ia memiliki jawaban yang ia yakini selama ini.
“Kakekku berbuat dosa padanya dan juga ibunya. Jika saat ini dia sedang balas dendam, itu hak dia. Namun aku tak akan membiarkannya merebut Melody dariku!” Kata Yudha.
“Me-Melody?” Kaget Nao. “Apa maksudmu itu, Yudha?” Tanyanya.
“Sweet Home Alabama itu tidak mungkin, kan?” Kata Sai.
__ADS_1
Istilah “sweet home alabama” sering dikaitkan pada hal berbau incest. Boleh dibilang karena keisengan orang sana, setelah membuat/menceritakan lelucon/sindiran tentang anggapan orang di bagian selatan Amerika sering melakukan incest, diputar lagu dengan judul tersebut 'sweet home alabama' lagu yang populer pada saat itu.
Semenjak itu melekat konotasi incest padahal lagu tersebut konon mengarah ke masalah segregasi (masalah pemisahan berdasarkan warna kulit) disana.
Pemakain di sini hanya untuk istilah saja ya... 😅
“Jika dia bisa melupakan mantannya, maka permusuhan antara diriku dengannya tidak akan pernah ada. Soal dia yang ingin balas dendam pada kakek dan keluarga Kazehaya, aku sudah mempertimbangkannya sejak dahulu. Kemungkinan hal seperti ini terjadi pastilah tetap ada.” Jelas Yudha.
“Hah? Ma-maksudmu Alvin dulu berpacaran dengan Melody?” Tanya Nao.
“Ya, sewaktu mereka sekolah menengah.” Jawab Yudha.
“Fakta yang membuatku kaget.”
“Sungguh aku tak menyangkanya.”
“Alvin dan Melody? Berpacaran di masa lalu?”
“Jika saat ini dia masih belum melupakan perasaannya kepada Melody, menurutku perasaannya pastilah sangat besar. Jika aku jadi Alvin yang memiliki rasa itu, kurasa mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.” Kata Neil.
“Merebut istri dari adiknya sendiri? Seperti itu?” Tanya Yudha yang tak habis pikir dengan pemikiran Neil.
“Bukan seperti itu. Salah sih. Tahu, tapi ingin berjuang saja meski pada akhirnya tidak akan tercapai. Intinya hanya ingin mencoba agar tidak menyesal. Kau tahu, kadang laki-laki juga ingin melakukan hal yang unik.” Jelas Neil.
“Apa Alvin memiliki pemikiran yang sama denganmu? Apa yang dia lakukan itu tidaklah sesederhana seperti pemikiranmu, Neil.” Kata Yudha.
“Ya, mungkin memang tak sama..” Gumam Neil. “Tapi aku ingin berharap lebih pada Alvin.” Lanjutnya.
“Kau berhak berpihak pada siapa pun, Neil.” Yudha tersenyum.
“Aku memilih bersikap netral, tapi jika kau mau memohon kepaku, aku akan memilihmu, Yudh.” Kata Sai.
“Dasar plin-plan!”
“Aku memilih menasihati keduanya. Aku ikuti apa yang kuanggap benar.” Kata Nao. “Kalau kau, Shuhei?”
Semua orang menoleh ke arah Shuhei. Laki-laki yang cukup misterius ini sesungguhnya menyimpan banyak hal yang tak mereka pahami.
“Hidup dan mati seorang Shuhei ada di tangan keluarga Kazehaya.” Jawab Shuhei.
“Jawaban macam apa itu?”
__ADS_1
“Horor sekali.”
“Sangat Shuhei sekali.”