MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 23: Mau Melakukannya?


__ADS_3

"OBAT PERANGSANG?" Kaget Melody.


"Kecilkan suaramu, Melody!"


Kata Yudha. Ia harus menutup telinganya karena Melody mengatannya dengan sangat keras.


Melody langsung refleks menjauh dari Yudha dan duduk bersandar di ujung tembok, ia merapikan kimono tidurnya, ia bahkan memandang penuh curiga pada Yudha.


Yudha hanya duduk mengamati tingkah Melody yang terlalu waspada itu.


"Ja-jangan ma-macam-macam padaku, Yudha!"


"Hah?"


Melody yang kelewat waspada itu membuat Yudha sedikit kesal. Kenapa coba Melody harus bersikap seperti itu? Bukankah hal ini harusnya ditanggapi santai dan biasa saja? Memang Melody kira dirinya itu laki-laki brengsek yang suka memanfaatkan keadaan?


Meski ia adalah suami sah Melody, tapi ia tidak sepicik itu untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!


Ia tidak akan memaksa Melody untuk melakukan hal yang tidak-tidak dengannya!


"O-obat perangsang bu-bukannya a-akan memb-membuat kita... itu?"


Kata Melody terbata. Ia masih menutup tubuhnya di sudut ruangan.


Bingo, tarik kesimpulan akan obat perangsang itu tertuju pada hal 'itu'.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak!"


Kesal Yudha. Melody terlalu jauh menanggapinya.


"I-iya."


Yudha adalah laki-laki bijak dan bertanggung jawab. Itu sosok yang Melody kenal selama ini. Ya walau banyak ngeselinnya juga sih.


Namun..


Melody ingin percaya pada Yudha. Ia ingin percaya pada suaminya yang baik hati dan tampan itu!


Loh.


Tampan?


Sebentar, bukankah tadi ia sudah merangkai unek-unek yang indah untuk Yudha? Kenapa saat ia memikirkan sambil menatap Yudha lekat-lekat, Yudha justru semakin tampan?


Tambah kata tampan agar susunan unek-uneknya semakin sempurna?


Melody langsung menggeleng cepat. Apa sih yang saat ini ia pikirkan? Kenapa semakin kacau dan tidak jelas?


"Ada apa?" Tanya Yudha yang menangkap basah Melody begitu intens menatapnya. Risih juga lama-lama.


Mana Melody malam ini nampak manis dengan ekspresi 'anehnya' itu lagi.


Eh?


Apaan barusan? Yudha merutuki arah pikirannya yang mulai ikutan kacau. Semakin ngelantur tidak jelas.


"Ada apa?" Tanya Yudha lagi. Ia ingin kembali normal.


"Ti-tidak." Jawab Melody.

__ADS_1


Mereka saling memalingkan pandangannya.


Mereka saling berdiam diri. Berkutik dengan pikirannya masing-masing.


"Apa Yudha selalu tampan seperti ini?"


"Apa Melody selalu manis seperti ini?"


.


.


.


10 menit kemudian. Suasana masih sama. Tetap masih diam.


25 menit kemudian. Masih kuat dengan suasana yang diam.


30 menit kemudian. Tik tok tik tok tik tok. Suara jam dindingpun menjadi semakin jelas di dengar seiring malam yang semakin larut.


40 menit kemudian. Suasana menjadi semakin gerah saja. Yudha bahkan sudah membuka pakaian atasnya cukup banyak hingga memperlihatkan dadanya yang bidang.


Sementara Melody masih sibuk dengan kipas bambunya.


"Jika kau kepanasan, kau bisa membuka bajumu itu, Melody!" Ucap Yudha.


Yudha melihat Melody yang terlihat sangat tersiksa dengan pakaiannya yang cukup tebal itu.


Ia yang memakai pakaian lebih tipis dari Melody saja merasa kepanasan. Apalagi dengan Melody?


"Ti-tidak apa-apa. Aku masih tahan. Cuma panas seperti ini juga. Tidak ada apa-apanya."


Melody tidak sadar sepertinya jika waktu Yudha membatunya keluar dari kolam, Yudha sudah 'sedikit' melihat tubuh miliknya.


"Aku tidak akan kalah dengan obat murahan itu! Aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Tidak dalam keadaan seperti ini." Suara Yudha terdengar serius.


Melody mengamati Yudha. Laki-laki itu adalah suami yang sangat pengertian. Ia selalu memberikan kemudahan pada Melody dari berbagai posisi.


Melody sangat mempercayai Yudha.


"Aku juga tidak akan kalah! Aku akan menahannya sampai efeknya hilang!"


Kata Melody akhirnya.


Jika Yudha sedang berusaha keras untuk mengalahkan efek obat perangsang itu, maka ia hanya harus mengambil sikap yang sama. Ia juga akan mendukung sikap Yudha.


Mereka saling percaya akan keyakinan fikiran waras mereka. Mereka harus melakukan sesuatu agar melupakan efek yang akan ditimbulkan obat perangsang itu.


Mereka yakin jika mereka mampu mengalahkan efek laknat dari obat perangsang!


"Kau takut denganku saat ini, kan?" Tanya Yudha.


"..."


"Jujur saja itu melukai harga diriku." Yudha terlihat kecewa.


Bukan seperti itu. Bukan itu yang Melody rasakan.


"Maaf, tapi bu-bukan seperti itu. A-aku hanya belum terbiasa."

__ADS_1


Melody lalu mendekati Yudha. Ia memang takut pada Yudha, tapi bukan takut untuk melukai harga diri Yudha.


"Percayalah, aku akan menang melawan efek obat ini!" Yudha memegang kedua pundak Melody.


Melody mengangguk dan tersenyum. "Aku juga akan memenangkannya!"


.


.


.


Mereka menghabiskan waktu dengan bermain batu-kertas-gunting untuk mengalahkan efek obat perangsang itu. Sudah lama rasanya mereka tak seperti ini lagi. Bermain seperti ini cukup membantu melupakan efek obat perangsang itu. Mereka bisa tertawa lepas malam itu.


Meski panas semakin mendera, tapi mereka akan membiasakan diri.


Berapa kalipun mereka bermain, nyatanya Melody selalu saja kalah. Ia terlihat sangat kesal. Dia sudah mendapatkan 20 pukulan jari tengah di jidatnya yang mulus.


Yudha itu tidak main-main pukulan jarinya. Padahal dirinya itu cewek. Yudha tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan hukuman, bahkan Yudha bisa tersenyum setan karena kemenangannya.


"Sudah ah, aku bosan kalah terus. Sakit, Yudha! Jidatku sudah memerah!" Omel Melody. Ia memegangi jidatnya yang baru saja kena sentilan oleh Yudha.


"Itu resiko karena kau sudah kalah. Itu perjanjiannya, kan?"


Kata Yudha di atas angin.


Seru juga bisa terus mendominasi Melody.


"Huh." Melody memanyunkan bibirnya.


Ia kesal. Sudah kesal, ditambah ia tidak bisa lagi melawan omongan Yudha lagi.


Dan suasana kembali terdiam.


Melody tidak membalas kata-kata Yudha lagi. Pembicaraan semakin minim topik saja. Kenapa minim kata bisa datang di saat seperti ini? Bukankah biasanya mereka memiliki banyak topik?


Haruskah mereka bernyanyi 'anak ayam turun sejuta'? Mati satu tinggal sembilan ratus ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan?


Tidak mungkin, kan?


Meski sudah menemukan hal yang perlu dilakukan, tapi lama-lama bisa bosan juga.


Yudha duduk bersandar di punggung Melody. Mereka duduk saling membelakangi.


"Melody?"


"Hm?"


"Apa kau mau melakukannya?"


Melody melebarkan matanya. "APA?" Ia menoleh ke arah Yudha.


"Kalau kita melakukannya, maka kita akan keluar dari tempat nista ini!" Jelas Yudha.


Melody membalikkan arah pandangannya, kembali membelakangi Yudha. "Tidak dalam keadaan seperti ini.."


Jika seperti ini terus maka obat akan semakin kuat efeknya. Mereka harus segera melakukan sesuatu untuk menghindari kemungkinan yang terjadi.


Terjebak di ruangan sempit seperti ini sangat tidak nyaman. Apa lagi hanya berdua, lawan jenis dengan pengaruh obat perangsang. Semakin lama, maka akan semakin panas.

__ADS_1


Gerahhhhh.


__ADS_2