MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Boneka


__ADS_3

Kamar Melody dan Yudha..


Melody langsung merebahkan diri ke ranjang. Hari ini ia sangat lelah karena menemani Yudha seharian. Ia sangat merindukan bau ranjangnya. Ia ingin segera tidur dan bermimpi indah.


Yudha berkacak pinggang. "Cuci kaki, tangan, dan muka dulu, Mel!" Perintah Yudha.


"Nanti saja, ya? Aku sudah enak di posisi ini." Kata Melody.


Entah apa yang sedang Yudha pikirkan, dengan sigap Yudha langsung mengangkat tubuh Melody dan membawanya ke kamar mandi. Melody teriak-teriak berontak ingin dilepaskan.


Yudha itu super ngeselin!


"Aku bilang nanti membersihkan dirinya, Yudh! Biarkan aku beristirahat sebentar saja kenapa sih?" Gerutu Melody.


"Nanti keburu tidur dan tidak jadi membersihkan diri. Aku tak mau kamar kita jadi bau dan kotor." Kata Yudha.


😡


"Yudha, aku boleh tidak memukul wajah tengilmu itu?" Tanya Melody menahan rasa kesalnya.


"Tidaklah." Jawab Yudha.


"Haiishh."


Melodypun melepaskan blazer yang ia pakai lalu memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor yang ada di dalam kamar mandi. Yudha juga melakukah hal yang sama. Yudha melepaskan jaket miliknya dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor itu.


"Pakai ini!" Yudha menyodorkan sebuah pembersih wajah mahal kepada Melody.


Melody menerimanya.


Melody membasuh wajahnya dan menggunakan pembersih wajah yang dibelikan oleh ibunya Yudha, ibu Mikan. Mengusapnya perlahan agar busa dari pembersih itu memenuhi setiap penjuru wajahnya. Dirasa sudah mulai bersih, iapun membasuhnya dengan air.


"Gunakan ini!" Kini Yudha menyodorkan sebuah pasta gigi dan sikat gigi pada Melody.


"Hei Tuan Muda Suami Nasional!"


"Apaan sih? Panggilanmu sangat lebay."


"Bagaimana tidak lebay sih, Yudh? Kau juga berlebihan sekali terhadapku. Kenapa kau mengambilkan semua itu kepadaku? Itu mudah kulakukan sendiri! Kenapa kau memperlakukanku layaknya boneka sih?" Cerocos Melody.


"Layaknya boneka bagaimana? Hei, aky tidak sedang mengendalikanmu! Aku hanya sedang berbaik hati untuk membantumu, baka Melmel!" Kata Yudha.


"Apa kau bilang?".


"Baka Melmel."


"Yudha, namaku itu Melody bukan Melmel!" 😬 Melody tidak terima dipanggil Melmel oleh Yudha. Rasanya asing dan aneh.


"Kenapa sih? Memanggil orang itu dari tiga huruf paling depan. Namamu Melody, tiga huruf paling depannya M-E-L, Mel! Maka Melmel! Kau juga bisa memanggilku dengan sebutan YudYud." Kata Yudha.


"Ih, sebel deh. Bukan masalah tiga huruf paling depannya. Tapi Melmel itu terdengar aneh, Yudh."


"Lha kenapa? Itu kan namamu." Yudha tak mau ambil pusing.


"Cih. Yudha ngeselin." Kata Melody cemberut.


Yudha tersenyum. "Cepat sikat gigimu sebelum bau daging sapi yang kau makan tadi membuatku pingsan!"

__ADS_1


"Yudha!"


"Benar, kan? Coba deh kau endus bau mulutmu sendiri, bau daging sapi!"


Bodohnya, Melody melakukan perintah Yudha. Sial. Yudha benar. Iapun hanya bisa nyengir.


"Kan? Masih ngeyel mau menunda bersih-bersihnya?" Tanya Yudha.


Melody menggeleng dan lamgsung sikat gigi.


Dua pasangan suami istri ini sikat gigi bersama. Sambil mengaca di cermin kamar mandi, mereka berdua berlomba siapa yang paling bersih giginya. Permainan yang unik. Tidak lucu dan tidak romantis sama sekali.


"Karena kau sudah gosok gigi, maka aku memiliki hadiah untukmu." Kata Yudha.


"Apa?" Tanya Melody antusias. Mendapatkan kado itu membuat bahagia.


"Tapi ada syaratnya."


"Katakan apa itu!"


"Punggungku pegal-pegal, nanti minta pijit ya?"


"Iya gampang, nanti aku pijat. Terus apa kadonya?" Melody lebih penasaran dengan kado yang akan Yudha berikan kepadanya.


"Ponsel baru." Jawab Yudha.


"Kirain boneka. Aku lagi ingin boneka." Gumam Melody agak kecewa.


Bukan berarti ia tak menyukai ponsel, tapi saat ini ia belum membutuhkan ponsel baru.


"Ada bonekanya." Kata Yudha.


"Hn."


"Boneka apaan?"


"Steech."


Melody langsung tersenyum bahagia. "Darimana kau tahu aku menyukai karakter Steech?" Tanya Melody.


"Shuhei yang memilihkannya." Jawab Yudha singkat.


Dan jleb. Memang ia tak bisa berharap banyak pada Yudha. Namun, ia menghargai kejujuran Yudha itu.


"Arigato." Kata Melody.


"Hn."


.


.


.


Tempat lain..


Memberikan tatapan tajam dan mempesona. Bergerak berkelas ala putri raja. Menatap percaya diri lensa kamera di depannya. Tanpa berkedip meski harus melawan kilatan cahaya. Bunga di tangan, berpindah kesana kemari. Gaun melambai indah tersapu angin. Berkali-kali tanpa gerakan yang tak berguna. Setiap inchi gerakkannya penuh dignity dan kepercayaan diri. Diri yang bertanggung jawab akan impiannya. Semua hasil begitu sempurna.

__ADS_1


"Kerja bagus, semua."


"Kerja bagus, Amamiya-san."


"Arigataou gozaimasu." kata Yura.


Semua kru di dalam ruang pemotretan itu bertepuk tangan. Pemotretan lancar tanpa banyak mengalami hambatan. Yura menunjukkan kelasnya sebagai seorang model profesional. Ia memang selalu seperti itu.


.


.


.


Setelah meninjau hasil pemotretannya, Yura lantas ke kamar rias untuk membersihkan riasan yang cukup tebal di wajahnya itu. Kemudia ia mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih simple dari gaun panjang untuk pemotretannya itu. Ia kembali ke meja rias dan mengaplikasikan bedak tipis yang selalu ia bawa. Memakai eye shadows coklat, eyeliner hitam, dan mascara. Tak lupa ia juga memoles alisnya.


Cantik bawaan lahir!


Namun ada yang kurang. Sangat penting bagi kecantikan hakiki seorang wanita. Tanpa benda satu ini, semua riasannya terasa kurang. Tidak sempurna. Akan terlihat pucat.


Lipstick.


Ya.


Lipstick!


Saat Yura mencoba mencari lipstick di tas make upnya, Kurenai datang menghampiri.


"Lipstick apa yang sering kau pakai, Amamiya-san?" Tanya Kurenai.


Yura menoleh perlahan. "Sakura no 12, Uchiyama-san."


Kurenai tersenyum ramah. "Tak aku sangka seorang model terkenal seperti dirimu memakai produk kosmetik milikku."


"Bukan, bukan seperti itu, Uchiyama-san. Selain karena saya menjadi model produk kecantikan perusahaan Anda, tapi memanglah produk keluaran perusahaan Anda yang terbaik. Sangat cocok untuk saya." Yura mengungkapkan isi hatinya yang tulus.


"Benarkah?"


"Iya, itu benar. Lipsticknya tahan lama dan tidak membuat bibir kering. Saya benar-benar sangat menyukainya."


"Make up adalah lambang kecantikan wanita. Ada yang bilang jika wanita tak bisa percaya diri tanpa make up. Make up bahkan memberikan keajaiban luar biasa bagi wanita. Make up juga bisa menutupi kekurangan wanita dan mengubah wanita menjadi sosok yang baru bahkan tak dikenali."


"..."


"Apapun itu, wanita memanglah membutuhkan make up untuk menunjang kecantikannya. Wanita bermake up juga akan terlihat berbeda di hadapan laki-laki. Wanita ingin terlihat baik di hadapan laki-laki yang dicintainya. Kau bisa menggunakannya."


"Ano, Uchiyama-san, maaf, saya kurang mengerti maksud Anda."


Kurenai mendekati Yura. Ia membuka lipstick Yahiko no 12 yang selalu ia bawa. Memutar pelan stick pangkal lipsticknya, batang lisptick bewarna orange kemerah-merahan pun nampak dab terlihat indah. Kurenai lalu menyentuh anggun dagu tirus Yura. Dengan senyum peecaya diri, ia pun mengaplikasikannya ke bibir sexy milik Yura.


Kurenai memakaikan lipstick pada bibir Yura!


"Kau itu cantik, lebih cantik dari siapapun! Kau bisa mendapatkan laki-laki yang kau sukai sekalipun laki-laki itu sudah ada yang memiliki!" Kata Kurenai.


Bagai terhipnotis dengan kata-kata mantra dari Kurenai membuat dorongan tersendiri di hati Yura. Entah Kurenai mengerti dirinya atau sedang membaca isi otaknya, rasanya kata-kata dari Kurenai itu memang sangat tepat dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini.


Yura benar-benar gundah dengan gejolak rasa yang menyiksanya. Yudha terus saja berputar-putar di otaknya.

__ADS_1


"Gadis ini akan menjadi boneka yang menyenangkan. Pion pertama yang akan aku korbankan." Batin Kureni.


__ADS_2