MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Fakta Terbongkar


__ADS_3

Malampun tiba, Yudha tengah mengamati sang ibu yang sedang duduk melamun di balkon utama. Duduk sendiri sambil menatap langit yang hitam kelam tanpa bintang.


Rupanya awan menutupi semua bintang-bintang yang ada di langit. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan.


Ibunya yang sudah semakin tua dapat Yudha rasakan. Kulit ibunya yang dulu sangat halus, kini mulai terdapat kerutan-kerutan tipis meski tidak begitu kelihatan.


Ibunya memang termasuk ke dalam kategori wanita kurus, tapi tidak mengalahkan jika ibunya adalah sosok wanita cantik. Dalam usia ke empat puluh limanya saja masih terlihat cantik, apalagi mudanya dahulu? Yudha hanya membayangkan jika dulu ibunya pastilah sangat cantik.


Yudha melihat sang ibu beberapa kali mengusap kedua lengan atasnya. Ia tahu jika ibunya merasa kedinginan. Yang membuatnya heran, kenapa ibunya tidak beralih ke kamar jika merasa kedinginan? Cuaca mendung seperti ini pastilah angina herhembus cukup kencang. Apalagi malam hari.


Apa ibunya itu tidak memikirkan kesehatannya? Yudha memang selalu mengkhawatirkan keadaan ibunya, apalagi setelah ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, ia berjanji akan menjaga ibunya menggantikan sosok sang ayah.


Yudha berjalan pelan menghampiri ibunya. Lalu ia melepaskan jaket yang ia pakai dan memakaikan jaket itu untuk menutupi bahu ibunya.


"Jika ibu hanya memakai baju seperti itu, ibu bisa sakit."


"Ah, kau Yudha. Malam ini langit tidak secerah biasanya ya?"


"Jika malam pernah cerah sebelumnya, maka akan kembali seperti sebelumnya."


Ibu Yudha tersenyum mendengar penuturan anaknya. "Kau memang paling bisa meluluhkan hati ibu."


"Aku ini anakmu, Bu. Tentu saja aku tahu. Aku juga tahu apa yang tengah ibu rasakan. Maafkan aku sebelumnya, Bu. Aku tahu, aku sudah menyakiti hati ibu. Aku hanya merasa tertekan jika terus seperti ini. Bagaimanapun aku dan Alvin haruslah memiliki hak yang sama. Aku merasa egois jika aku sendiri yang menerima hak itu."


"Ibu mengerti. Kau memang anak yang baik. Hanya saja ibu merasa takut."


Ibu Yudha, Mikan mulai meneteskan air mata.


Yudha berdiri setengah jongkok untuk mensejajarkan diri dengan posisi ibunya yang sedang duduk di kursi.


Dengan lembut Yudha mulai menghapuskan air mata ibunya. Yudha tersenyum menatap ibunya.


"Jangan khawatir, itu hanya masa lalu. Jika ada yang Ibu takuti, maka aku akan menjadi tempat untuk Ibu berlindung. Jika masih kurang, masih ada Melody. Bukankah Ibu juga menyayangi Melody?"


Ibu Yudha langsung terbangun dan menyuruh Yudha untuk berdiri, lalu memeluk Yudha dengan erat dan hangat. Pelukan tulus dari seorang ibu kepada anaknya.


"Terima kasih, Sayang. Ibu sangat menyayangimu dan tentu dengan Melody juga."


"Apa aku boleh ikut berpelukan?" Tanya Melody yang tiba-tiba muncul di depan pintu menuju balkon utama.


Ibu Yudha menoleh, tersenyum, dan mengangguk. Dengan cepat Melody berjalan menuju Yudha dan ibu mertuanya. Ia langsung memeluk ibu mertuanya.


Yudha ikut tersenyum melihat kelakuan Melody yang dengan cepat bisa membuat ibunya tertawa. Terbawa suasana akan hal itu, Yudha ikut memeluk kedua wanita yang ada di hidupnya saat ini.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini." Batin Melody.


.


.


.


Setelah mengantarkan sang ibu, Yudha dan Melody kembali ke kamar mereka. Kali ini mereka tidak berniat untuk berdebat atau bermain batu-kertas-gunting seperti biasanya.


Melihat Yudha yang berjalan tenang menuju kamar mereka menciutkan niat Melody untuk mengganggu suaminya. Sebenarnya Melody juga sedang tidak mau bercanda dengan Yudha, tapi melihat Yudha yang terdiam membuatnya gemas. Ia lebih menyukai Yudha yang usil padanya.


Mau tidak mau, Melody hanya mengekor Yudha sambil menatap punggung Yudha penuh tanya. Apa ada yang Yudha pikirkan batinnya. Aneh memang, ini pertama kalinya ia melihat Yudha terdiam dengan begitu serius.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Yudha masih diam.


Melody hanya memperhatikan Yudha yang menyibakkan selimut, merebahkan diri di kasur mereka, lalu menariknya sampai setengah dada. Yudha kemudian memiringkan badannya ke arah kanan.


Apa Yudha sudah mengantuk? Melody juga melakukan hal yang sama dengan Yudha, tapi ia memiringkan badannya ke arah kiri membelakangi Yudha.


Mereka tidur saling membelakangi seperti malam-malam biasanya.


Yudha tetap saja terdiam. Hal ini membuat Melody semakin penasaran. Ingin sekali bertanya, tapi ia takut Yudha akan memarahinya. Ia bingung harus bagaimana. Ia membalikkan badannya menatap punggung Yudha yang tiduran membelakanginya, ia memutuskan untuk mengajak Yudha berbicara, tapi tidak jadi, ia kembali ke posisinya.


Malam semakin larut, tapi entah kenapa mata Melody tak kunjung terpejam. Mungkin karena masih memikirkan kediaman Yudha. Tanpa sadar, akhirnya ia membuka mulut yang sedari tadi ia tahan untuk tidak mengeluarkan suaranya.


"Ne Yudha, aku tidak bisa tidur. Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu. Apa kau sedang tidak baik-baik saja? Hmm, kau sudah tidur ya? Ya sudah, selamat tidur." Kata Melody yang masih tidur membelakangi Yudha.


"Jadi kau mengkhawatirkanku? Haruskah aku tertawa?" Sahut Yudha pelan.


Reflex Melody membalikan badan dengan cepat menghadap ke Yudha yang membelakanginya.


"Ka-kau belum tidur? Lalu kenapa kau hanya diam saja? Kau membuatku penuh tanya akan kediamanmu."


"..."


"Yudha, jangan diam saja! Katakan sesuatu! Kau membuatku geregetan!"


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Melody senang, akhirnya ia berhasil membuat Yudha mau ngobrol dengannya.


"Soal ibu, maaf tadi aku tidak sengaja melihatmu menghapus air mata ibu. Aku tahu aku tidak sopan untuk menanyakannya, tapi aku mengkhawatirkan ibu. Aku yakin ibu sedang bersedih."


Yudha membalikan tubuhnya, lalu duduk dengan menggunakan bantalnya sebagai sandaran. "Kau benar, ibu sedang bersedih dan itu karena aku."


"Karena kau sudah menjadi bagian dari keluarga Kazehaya, sepertinya kau juga harus mengetahuinya."


"Maksudnya? Aku belum mengerti."


"Aku bukan cucu tunggal kakek."


"Ma-maksudmu kakek memiliki cucu lain? Bukankah kau itu pewaris tunggal kakek? Itu berarti kau cucu satu-satunya, kan?"


"Sayangnya tidak seperti itu. Ada Alvin. Dia kakakku."


Melody melebarkan kedua matanya karena kaget bukan main. Setahu Melody, sejak SMA ia mengenal Alvin, Alvin adalah anak tunggal.


"Ti-tidak mungkin, Yudha. Jangan bercanda! Alvin-senpai memang tidak pernah bilang jika ia memiliki saudara atau adik, tapi aku tahu dia anak tunggal."


"Ayahku memiliki seorang anak sebelum menikah dengan ibuku dan anak itu adalah Alvin."


"Hah? Bagaimana mungkin? Berarti mendiang ayah mertua meninggalkan ibunya Alvin-senpai?"


"Ayah dijodohkan dengan ibuku."


Melody masih berusaha mencerna setiap kata yang Yudha katakan. Ia memang sulit mempercayainya.


"Tapi rasanya ibu mertua sangat menyayangi mendiang ayah mertua."


"Ibu memang menyayangi ayah. Tapi cinta ayah hanya untuk ibunya Alvin. Sampai ayah meninggalpun, ayah masih mencintai ibunya Alvin."

__ADS_1


"Apa ada hubungannya dengan sifat kakek tadi sore? Aku merasa aneh saat Alvin-senpai mencoba berbicara, tetapi selalu saja dialihkan oleh kakek. Kakek bahkan sering mendiamkannya seolah menganggap Alvin-senpai tidak ada. Sebenarnya ada apa dengan kakek?"


Yudha menghembuskan nafas beratnya. Memang istrinya itu bodoh atau memang tidak peka sama sekali.


"Tentu saja karena kakek tidak menyukai Alvin."


"Tidak menyukai Alvin-senpai? Bukankah Alvin-senpai itu pintar, calon dokter berbakat juga?"


Yudha kembali menghembuskan nafas beratnya. Sepertinya ia harus menjelaskan secara rinci kronologi ceritanya.


"Alvin adalah anak di luar nikah Ayah dengan wanita yang sama sekali tidak kakek restui. Kakek menjodohkan ayah dengan ibukku, tapi ternyata ayah sudah memiliki anak dari wanita yang menjadi ibunya Alvin. Walau kakek membiayai biaya hidup Alvin, tapi tetap saja kakek enggan mengakui Alvin sebagai cucu pertamanya."


"Yudha.." Melody secara tiba-tiba memeluk Yudha yang tengah duduk bersandar di sambingnya.


Yudha hanya pasrah menerima pelukkan dari Melody. Rasanya saat ini Yudha memang butuh sosok untuk menjadi sandarannya.


"Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Tapi, jika aku ada di posisimu, aku pasti tidak akan menerima begitu saja takdir yang harus dihadapi. Mungkin saja aku akan protes kepada mendiang ayah. Tapi, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Apa yang harus disesalkan? Jika itu memang menyesalkan, tapi bisa kan memperbaikinya?"


Kata Melody.


"Aku merasa tidak adil pada Alvin. Aku menikmati hakku dari keluarga Kazehaya, sementara dia hanya ingin diakui saja sangat sulit padahal di dirinya mengalir darah Kazehaya juga, sama sepertiku."


"Kasihan Alvin-senpai, tapi ibu mertua pasti juga merasakan hal yang sama. Dia mencintai mendiang ayah mertua, tapi ternyata di hati mendiang ayah mertua ada wanita lain. Ibu mertua pasti mengalami hari-hari yang sulit. Aku rasa aku tidak mungkin bisa jika aku jadi ibu mertua. Pasti sangat berat dan menekan mental."


"Ibu memiliki jiwa yang kuat."


"Semoga saja semua akan baik-baik saja.."


"Semoga saja.."


Melody melepaskan pelukannya pada Yudha. Melody juga tak tahu kenapa ia bisa tiba-tiba memeluk Yudha seperti itu, tanpa kecanggungan, itu berlangsung spontanitas. Mungkin karena malam ini suasananya terkesan mellow dan rada sedih.


"Ne Yudha.. Apa dijodohkan sudah mendarah daging di keluarga ini?"


Tanya Melody.


"Ya, dari dulu seperti itu. Sepertinya, ayah dan ibuku adalah contoh perjodohan yang gagal."


Jawab Yudha yang belajar dari pengalaman.


"Kurasa tidak sepenuhnya benar. Jika ayahmu tidak mencintai ibumu, mana mungkin ada kau. Meski sedikit, aku yakin perasaan cinta itu pasti ada."


"Haha, kau ini.." Yudha mengacak-acak rambut Melody.


"Merasa lebih baik?" Tanya Melody.


Yudha mengangguk dan mereka melanjutkan tidur mereka yang sempat tertunda. Rasanya setelah berbicara dengan Melody, Yudha bisa tertidur dengan lelap. Mereka bahkan tak saling membelakangi.


Pertanda baik?


.


.


.


________________________________________

__ADS_1


Karena udah mulai inti dan sulitnya pembagian chapter, jd sehari up 1 chapter panjang ya... oh iya, aku ingin menunjukkan romantisme Yudha dg Melody dr sisi yg positif. Yudha bukan tipe cowok brengsek kok.. nyepoiler dikit dehh.. 😅😅😅


__ADS_2