MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 4


__ADS_3

Seorang laki-laki dengan kedua tangan dan kakinya diikat dalam posisi duduk. Tangannya diikat kebelakang. Matanya ditutup dengan kain hitam pekat yang tak tembus pandang. Banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Menghitam, membiru, dan memerah. Ada goresan luka sayat di lengan dan dada bidangnya. Ujung bibir mengeluarkan darah. Bau anyir darah bisa tercium. Rupanya ada luka pukulan di kepalanya. Ia adalah Aron.


Ya. Aron, sekretaris pribadi Kazehaya Wijaya yang sangat terkebal dengan kesetiaannya.


Setelah mengalami kecelakaan dengan kakek Wijaya, Aron diculik oleh orang-orang yang tak dikenal. Aron dibawa ke suatu tempat yang tak bisa Aron kenali mengingat dari hari pertama ia diculik, ia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, dan ketika ia sadar, matanya sudah tertutup. Hanya pandangan gelap yang dapat ia lihat. Ya, ini sudah hari ke empat belas terhitung sejak kejadian kecelakaan itu menimpa. Sudah empat belas hari juga ia tidak bisa melihat indahnya dunia. Ia tak bisa melihat warna selain hitam. Ia tak bisa melihat bagaimana cara matahari tersenyum di atas langit sana.


Selama diculik, Aron mengalami kekerasan fisik. Luka dari kecelakaan itu sudah cukup parah, ia yakin ada tulang rusuk yang patah mengingat bagaimana ia mencoba menyelamatkan diri saat kecelakaan terjadi. Mobil yang ia kendarai dengan kakek Wijaya berguling beberapa kali sebelum akhirnya tertahan oleh tiang listrik. Luka dari kecelakaan itu tak hanya membuat tulang rusuknya patah, tapi melukai tempurung kepalanya juga. Lalu kini, orang-orang yang menculiknya melakukan perisakkan pada tubuh lemahnya.


Mereka memukulnya dengan kayu, batu, menghantam dengan bogem tangan, menampar, dan masih banyak lagi cara untuk menyiksa Aron. Itu sangat menyedihkan jika harus diceritakan. Ia menahannya dalam diam demi amanah yang dimandatkan kepadanya. Amanat yang tak ingin ia bongkar meski mereka menyiksanya sampai mati sekalipun.


"Katakan dimana benda itu?" Tanya seorang penculik, sebut saja penculik A.


"..." Diam Aron. Aron adalah orang yang terlatih. Ia menempuh pendidikan militer sebelum menjadi sekretaris pribadi kakek Wijaya.


Benda yang dimaksud di sini adalah stemple milik kakek Wijaya. Stampel penting yang dianggap bisa merusak tatanan yang sudah ada. Stampel pembuka akun bank di Swiss milik kakek Wijaya yang di sana terdapat dokumen penting tentang penguasa Emperor Group yang sebenarnya.


"Apa kau bisu? Hei, ini sudah dua minggu! Kau tak ingin membuka mulutmu? Kau ingin mati?" Tanya penculik satunya, penculik B.


"Bunuh saja jika itu bisa membuat kalian bahagia. Aku akan menunggu kalian di neraka setelah kalian mati nanti." Kata Aron akhirnya.


Aron terpenjara gerak dan penglihatannya. Ia disiksa kesekian kalinya selama dua minggu ini. Ia merasakan neraka dunia yang sangat menyakitkan fisiknya. Meski ia masih bisa bertahan, tapi kematian baginya sepertinya tidak akan lama.


Penculik A melayangkan pukulan tangan ke dada Aron. Aron terbatuk-batuk merasakan nyeri di dadanya. Ia sudah sangat sabar menanggapi Aron yang selama ini bungkam.


"Hei, aku ingin ke toilet. Bisa kalian bantu diriku?" Tanya Aron.


"Cih. Kau ingin berusaha kabur lagi seperti yang sudah-sudah?" Tanya Pencuri B.


"Meski aku mencobanya, aku tetap tidak akan bisa kabur, kan? Tubuhku sudah mencapai batasnya." Kata Aron.


Sebenarnya ini agak lucu mengingat orang-orang yang menculik Aron itu harus 'merawat' Aron dengan sangat baik. Tak hanya menyiksa Aron agar buka mulut mengenai keberadaan stampel itu, tapi mereka juga harus menyuapi Aron makanan dan minuman. Mereka juga harus mengantarkan Aron jika Aron ingin ke toilet untuk melakukan kodrat biologisnya sebagai manusia.


Mau tidak mau, merekapun tidak bisa mengabaikan keinginan Aron.


.


.


.


Di dalam toilet..


ARON'S POV


Sial, mereka kali ini memang tak ikut mengawasi sampai ke dalam toilet. Namun mereka tak melepaskan ikatan di tanganku. Jika sudah begini, bagaimana caranya aku bisa buang air kecil?


Cih, bukan waktunya untuk bercanda. Nyatanya aku minta izin ke toilet bukan untuk melakukan itu. Aku hanya ingin berpikir.


Setelah sekian lama, aku bisa melihat lagi. Maksudku mereka membuka kain yang menutup kepalaku. Tapi tetap saja, jika sebelumnya pemandangan yang aku lihat berwarna hitam pekat, kali ini akupun hanya bisa melihat pemandangan berwarna putih. Cat tembok toilet putih, plapon putih, toilet duduk putih, lantai putih, dan juga pintu putih. Hoi, pintu toiletpun juga berwarna putih. Tidakkah itu pemaksaan warna?


Ah, tidak juga. Gagang pintu toilet itu warnanya beda. Berwarna silver. Ya, walau umumnya silverpun bisa dikatakan sebagai warna putih.


Toilet ini rupanya lebih tertutup dari yang aku kira. Bukan ventilasi pada umumnya, itu hanyalah lubang angin dimana hanya tikus dan hewan kecil yang bisa melewatinya.


Aku tahu orang-orang yang menculikku tak hanya dua orang. Aku mendengar banyak nada suara yang berbeda. Lebih dai enam dugaanku, bisa saja mencapai sepuluh orang. Maksimalnya.


Kemampuan bela diri mereka juga lumayan. Mereka tahu caranya memukul tanpa membunuh. Mereka tahu caranya menyayat tanpa memutus urat nadi.


Jadi..


Mereka adalah profesional!


Siapa yang menyuruh mereka? Apakah orang sekelas fraksi penentang dominasi Tuan Besar bisa memiliki akses untuk menyewa orang-orang itu?


Background mereka tidaklah sesederhana itu. Jika mereka ada profesional, apakah mereka adalah yakuza?


Jangan bilang...


Hmm, masuk akal. Masuk akal sekarang ini. Aku memahaminya. Aku ingin tertawa jika mengingatnya.

__ADS_1


"Tuan Besar, Anda terlalu baik hati. Jika Anda dulu memilih untuk kejam, Anda tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Anda sangat malang, Tuan Besar. Meski begitu, saya tetap menyukai sikap Anda."


Andai bibirku tak memar, aku sungguh ingin tertawa terbahak-bahak. Sial sekali, aku tak bisa menertawakan momen langka seperti ini.


Sialnya lagi, sepertinya kisahku juga akan segera berakhir.


Aku rasa aku memang akan mati dengan cara seperti ini. Ini akan menjadi akhirku dan gedung ini akan menjadi tempat bersemayamku.


Jika aku tak memberitahu orang lain mengenai stampel milik Tuan Besar, maka kisah legendaris Emperor Group yang sudah ada sejak jaman dahulu tidak akan pernah terbongkar.


Aku harus melakukan sesuatu sebelum ajal menjemputku.


Ya, aku akan membuat sisa hidupku kembali berguna untuk keluarga ini. Keluarga yang amat sangat aku sayangi.


"Tuhan, jika aku masih bernafas esok hari, apakah aku memiliki kesempatan untuk menceritakan kisahku? Tak perlu sepanjang novel, cukup selesai dalam satu dua lembar cerita pendek. Aku pastikan akan selesai menceritakannya. Kisahku sederhana, isinya hanya keluarga Kazehaya, keluarga Kazehaya, dan keluarga Kazehaya."


Tok, tok, tok. Aku mendengar pintu toilet diketuk. Sepertinya aku memang terlalu lama.


"Hoi, keluarlah! Waktumu sudah habis." Salah satu penculik menyuruhku untuk segera keluar.


Mau tidak mau aku memang harus segera keluar.


Akupun memberi ketukkan dengan bahuku pada pintu sebagai tanda jika aku sudah menyeselesaikan dengan urusanku di toilet. Mereka membuka pintu toilet untukku.


Mereka menuntunku kembali ke kursi yang digunakan untuk mengingatku.


Aku ingin sekali melirik untuk melihat pemandangan di sekitarku. Namun, salah satu penculik kembali menutup kepalaku dengan kain hitam lagi. Mereka sungguh-sungguh tak mau memberiku kesempatan untuk mengetahui posisi gedung tempatku disekap ini.


Namun aku memiliki ide. Aku harus membuat rencan sebelum eksekusi kematianku.


"Maaf, sebelum aku mati, bolehkah aku menelpon pacarku?" Tanyaku.


"Kami tidak akan membiarkanmu mati." Kata Penculik A.


"Sudah dua minggu lebih aku tak menghubunginya. Dia pasti menghawatirkanku." Kilahku.


"Itu bukan urusan kami." Kata Penculik B.


Sebisa mungkin aku memasukkan permainan nada suara yang emosional. Beruntung sebelumnya aku belajar mengenai psikologis, harusnya ini akan bekerja.


Dan benar, mereka menyetujuinya.


"Kalau dia cantik, aku akan memilikinya setelah kau tak berguna lagi." Kata Penculik A. Aku mendengar tawa menggelegar setelahnya.


Sudah aku duga, mereka akan membunuhku jika aku mengatakan dimana keberadaan dari stempel milik Tuan Besar itu.


Memang hanya tinggal menunggu waktu hingga aku buka suara.


Penculik B memintaku menyebutkan nomor kekasihku yang ingin aku telpon. Akupun mengatakannya. Setelah mengatakan sesuatu pada orang yang mengangkat telpon, penculik B mendekatkan ponsel miliknya ke dekat telingaku dan menyuruhku untuk berbicara.


"Siapa ini?" Tanya seseorang di seberang sana. Suaranya terdengar kesal di telingaku.


"Aku, kekasihmu." Jawabku.


"Aku tidak megenalmu!" Kata dia di seberang sana.


"Dia bilang tidak mengenalimu. Apa kau sudah dicampakkan?" Para Peculikku itu tertawa merendahkanku.


Aku harus mengabaikannya. Aku harus melakukan tugasku dengan baik. Ide terakhirku harus segera terlaksana.


"Dengarkan lagu yang ingin aku nyanyikan untukmu!" Kataku di telepon.


"Hah? Apa-apaan kau ini? Kau sedang tidak waras ya?"


Katakan sesukanya, tapi tolong jangan dimatikan teleponnya.


"Bintang kecil, di langit yang biru. Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari. Jauh tinggi ke tempat kau berada." Aku menyanyikan sebuah lagu bintang kecil kepada 'kekasihku', orang yang menerima panggilanku.


"Dasar orang gila! Aneh! Tidak waras! Suaramu sangat jelek. Kau tersedak ban motor satu ton ya?" Omelnya.

__ADS_1


Sangat dia. Itu memang dirinya. Suka marah-marah dan mengumpat kasar.


"Aku merindukanmu, maaf tidak bisa menemuimu lagi di bawah pohon akasia." Kataku.


"Jangan menganggu lagi!" Dan klik. Tut. Tut. Tut. Telepon dimatikan sepihak olehnya.


Aku merasakan ada tangan menepuk pundakku pelan. Tidak kasar seperti biasanya.


"Relakan saja, Bung! Dia sudah mendapatkan penggantimu. Kau dengar sendiri tadi yang mengangkat telepon adalah seorang laki-laki. Dia pasti pacar baru kekasihmu." Ujar Penculik A.


Aku menyunggingkan senyumanku. "Meski dia laki-laki, tapi dia memang kekasihku." Jawabku sekenanya.


Seketika itu, tangan yang kurasakan ada di atas bahuku langsung menghilang dari sana. Jika aku bisa melihat dengan kedua mataku saat ini, aku yakin mereka berdua pasti sedang sangat kaget dengan penuturanku barusan.


Haha.


Mereka pasti menyangka diriku ini seorang gay karena memiliki kekasih seorang laki-laki. Syukurlah mereka bukan kaum gay. Mereka jadi tidak bermain gila denganku. Rada beresiko juga ketika aku memutuskan untuk melakukan rencanaku yang gila ini.


Rencanaku berhasil meski tak mulus.


Yang aku panggil tadi adalah nomor Nona Melody, tapi Yudha-sama yang mengangkatnya.


Sudah sangat jelas jika Yudha-sama pasti akan marah-marah karena seorang laki-laki menelpon istrinya pada jam-jam malam seperti ini. Aku tahu jika kadar cemburu Yudha-sama itu sangat tinggi tingkatannya. Yudha-sama adalah suami super cemburuan yang bisa menggila kapan saja.


Itu bagus.


Menggilalah, Yudha-sama!


Cari tahu siapa yang menghubungi nomor istri Anda! Tolong kenali suara saya meski suara saya terdengar berbeda di telepon karena luka di bibir dan lidah saya!


Anda tak perlu mencari saya. Namun, tolong pahami pesan dari saya! Anda adalah orang yang sangat jenius. Anda pasti akan memahami pesan dari saya.


Saya mempercayai Anda, Yudha-sama!


.


.


.


Ini adalah akhir dari kisahku, kisah seorang anak angkat yang sangat beruntung bisa merasakan kehangatan pelukkan keluarga barunya.


Aku sudah sangat bahagia dengan hidup ini. Aku sangat bersyukur.


Untuk itu, maaf Tuan Besar, ah maksud saya, maaf ayah angkat, saya tidak bisa melihat Anda untuk yang terakhir kalinya. Saya juga tidak bisa memanggil Anda dengan sebutan 'ayah angkat' untuk berpamitan.


Jaga diri Anda!


Arigato gozaimasu.


Saya bisa pergi tanpa beban.


END OF ARON'S POV


________________________________________


Yakuza dari bahasa Jepang: (やくざ atau ヤクザ) atau gokudō (極道) adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Organisasi ini sering juga disebut mafia Jepang, karena ada kesamaan dengan bentuk organisasi yang asalnya dari Italia tersebut. (wiki)


Yakuza adalah merupakan sebuah kelompok kriminal yang terorganisir di Jepang. Kelompok kriminal ini termasuk yang terbesar di dunia karena memiliki anggota lebih dari ratusan ribu. Mereka bekerja seperti mafia-mafia di negara barat, atau seperti preman di Indonesia. Namun, Yakuza adalah sebuah organisasi profesional yang memiliki kantor dan populer di seluruh lapisan masyarakat.


Kehidupan yakuza sangat rahasia dan misterius. Tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka akan muncul. Geng ini juga dikenal sebagai geng yang keras dan sadis. Mereka tidak segan-segan membunuh orang yang mencoba melawan mereka.


Yakuza biasanya identik dengan tatoo di badan. Ada hukuman potong jari untuk ritual minta maaf jika terjadi kesalahan.


Yakuza ini, meski terkenal sangat sadis dan kejam, tapi mereka menjadi penyelamat di bencana tsunami Jepang tahun 2011 lalu. Terutama membantu menyetok pangan untuk para korban bencana tsunami.


________________________________________


Seru ya soal yakuza, huhu. Aku nyampai masalah yang lebih luas lagi. Ikutin konsep awal saja dah. Padahal aku ingin segera tamat, tapi konsep yang sudah aku buat jika ditulis ternyata sangat panjang. 😑😑 Tidak mungkin kan aku maksain untuk tamat begitu saja?

__ADS_1


Apakah nanti para yakuza akan ikutan mendapatkan porsi di dalam cerita ini? Hmm, sepertinya akan seru. Kita lihat saja nanti ya! Makanya ayo jangan pelit jempolnya ya! Dukung aku supaya semakin semangat menulusnya. Karena menulis butuh inspirasi dan suasana hati yang membaik. 😉


__ADS_2