MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Uniknya Sikap Yudha


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai, semua keluarga Kazehaya kembali ke rumah. Tidak menginap di hotel. Sepanjang perjalanan pulang, Melody muntah-muntah. Beruntung tidak mengotori gaun nikahnya. Melody memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan.


Malam-malam, muntah-muntah di pinggir jalan, dan memakai gaun pengantin? Drama terbaru apa ini?


Yudha tanpa jijik membantu memijat tengkuk Melody. Ia merasakan keringat dingin Melody di telapak tangannya.


Setelah dirasa cukup, Yudha memberikan tisu pemberian dari Shuhei. Ayane memberikan minyak angin untuk menghangatkan leher dan kening Melody.


"Aku belum menyentuhmu, kau sudah muntah-muntah. Kita bahkan belum malam pertamaan." Celetuk Yudha.


Melody mendelik. Suami yang belum genap sehari ini maunya apa sih?


"Bercandamu tidak lucu, Tuan!" Ketus Melody.


"Siapa bilang itu lucu?"


"😠"


"Ini minuman hangat untukmu!" Kata Yudha.


"Terima kasih, Yudh.."


"Shuhei tadi yang membelikanmu minuman inj. Bukan aku." Jelas Yudha.


😡


"Shuhei-san, terima kasih banyak.."


"Sama-sama, Nona Melody. Tapi tadi saya ditemani oleh Ayane-san" Shuhei menujuk ke arah ayane yang berdiri di sampingnya.


Melody menahan kesalnya. "Terima kasih juga, Ayane-nee.."


"Sama-sama, Nona Melody.." Kata Ayane.


Sumpah demi apa. Kenapa Melody merasa sangat kesal padahal orang-orang di sekitarnya itu sangat baik karena sudah membamtunya?


Melody hanya tak paham dengan keunikan bahasa mereka bertiga. Bagaimana mereka bisa sambung-menyambung layaknya estafet seperti itu?


Sudahlah pada dasarnya ia memang harus berterima kasih karena sudah dibantu. Cukup adil, kan?


.


.


.


Agak sempoyongan ketika Melody bangki dan ingin masuk ke mobil. Merasa kasihan dengan Melody, Yudha membantu menuntunnya. Sedikit risih karena tangan Yudha berada di pinggangnya. Namun ia coba terima, yang paling penting saat ini adalah ia ingin segera sampai ke rumah dan istirhat. Ah makan dahulu.


Sesampainya di rumah, Yudha menemani Melody makan di dapur. Beruntung ibunya Yudha, Mikan dan ibunya Melody, Tsuchiya sudah memanaskan makanan untuk Melody. Yudha mengirim pesan jika Melody kelaparan sampai muntah-muntah segala. Asam lambungnya naik.


"Baru pertama kali aku menemui orang lupa sarapan di acara pernikahannya! Tadi siang pas jamuan kenapa kau tidak makan, hah?" Tanya Yudha.


Mereka sedang berada di ruang makan keluarga Kazehaya.


"Dua pakaian yang aku gunakan untuk menikah itu warnanya putih, jika sampai aku ceroboh saat makan dan membuat pakaian itu kotor, kau bisa malu." Jawab Melody usai menikmati makanannya.


Yudha melepaskan jas hitamnya. Ia lalu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Ia kemudian menyingsingkan lengan kemeja putihnya.

__ADS_1


"Itu jauh lebih baik daripada kau sakit! Aku bisa menyuruh orang untuk mencari pakaian gantinya. Sebelumnya kau juga tahu, kan? Ada banyak gaun pengantin yang pas di tubuhmu." Kata Yudha.


"Iya maaf.." Melody menundukkan kepalanya.


Yudha menghela nafas. "Tapi kau sudah berusaha dengan baik. Terima kasih sudah bekerja keras, Melody.


Melody mengangkat wajahnya. Ia tak menyangka jika Yudha akan mengapresiasi usaha kerasnya untuk 'menyukseskan' acara pernikahan Yudha dengan dirinya.


"Iya. Terima kasih juga sudah banyak membantuku."


"Tunggu!" Pinta Yudha.


"?"


Yudha mengelap bekas 'kuah soup' di ujung bibir Melody dengan jempolnya.


"Ah, te-terima kasih.." Kata Melody gugup.


"Hn."


.


.


.


"Kau lihat ini, Tsuchiya-san! Bukankah ini manis sekali?" Tanya Mikan. Ia menunjukkan hasil jepretannya pada Tsuchiya, besannya.


"Benar, ini juga manis. Lebih manis dari hasil jepretanku tadi." Jawab Tsuchiya.


Ibu-ibu gaje!


.


.


.


Usai makan, Yudha dan Melody masuk ke dalam kamar pengantin mereka atas perintah kakek Wijaya.


"Kau sudah baikkan?" Tanya Yudha.


"Iya, toh aku hanya kelaparan saja. Setelah makan semuanya membaik." Jawab Melody.


"Syukurlah."


Acara pernikahan yang bisa dikatakan berlangsung hampir sehari penuh membuat badan terasa sangat lelah karena menguras banyak tenaga. Dengan gontai Melody mengikuti langkah Yudha yang sudah berjalan sedikit agak cepat di depannya.


"Yudha, tunggu!" Panggil Melody sambil mengangkat gaun pengantinya yang lumayan panjang.


Gaun nikahnya sangat mengganggu langkah kakinya.


Yudha menoleh ke arah Melody. "Buruan, Mel. Aku sudah lelah!"


"Jangan terlalu cepat jalannya! Kalau aku kau tinggal, aku bisa tersesat di rumah ini. Gaun ini membuatku tidak bisa berjalan dengan cepat." Lanjut Melody.


"Ck, besok suruh saja pengawalmu untuk mengopikan denah rumah ini agar kau tidak tersesat lagi!" Saran Yudha.

__ADS_1


"Ihh, kau ini benar-benar."


"Lalu aku harus apa? Jika kau punya denah rumah ini, kau bisa mempelajarinya. Gunakan otakmu untuk mengingatnya! Kau akan dengan mudah mengetahui bagian-bagian rumah ini!"


"Benar juga yang Yudha katakan. Denah rumah ya? Konyol sekali. Apa memang aku yang terlalu bodoh karena sudah seminggu tinggal di sini masih saja tidak bisa mengingat bagian-bagian di rumah ini. Ahh, memang rumah ini saja yang seperti labirin. Menyesatkan!" Batin Melody.


"Jangan bengong saja! Cepat jalannya!" Yudha mengeraskan bicaranya.


"Iya tahu, berisik sekali! Kau tidak tahu apa jika kakiku ini benar-benar sangat sakit?"


"Lalu jika aku tahu, apa masalahnya?"


Yudha sama sekali tidak pengertian. Ini orang butuh kursus untuk memahami keingan wanita. Itu yang Melody pikirkan.


"Kamar kita ada di lantai dua, setelah ini pasti akan ada tangga. Sepertinya kakiku sudah tidak kuat lagi untuk berjalan."


Melody mencoba menjelaskan posisinya.


"Lalu?"


Malah tanya lalu?


Melody kesal karena ia kesulitan berkomunikasi dengan Yudha.


"Kenapa kau tidak paham-paham sih? Bantu aku kenapa? Kakiku benar-benar bengkak, lihat bahkan ada bekas memarnya! Di sebelah sini malah sudah membiru, memerah juga." Kata Melody sambil mengangkat sebagian gaunya untuk memperlihatkan kakinya yang memar karena high heels pada Yudha.


Yudha menghela nafas ketika melihat kondisi kaki Melody.


Memar dan membiru.


Sejak kapan Melody menahannya? Yudha yakin jika rasanya pasti sangat sakit.


Ia menjadi tidak tega.


Yudha menundukan badanya. "Naiklah, aku akan menggendongmu!" Kata Yudha yang iba saat melihat kaki Melody yang benar-benar memprihatinkan. Bengkak, memar, membiru, ada bercak merah juga.


Benarkah?


Yudha akan menggendongnya?


Melody menarik senyuman manisnya. Bukankah Yudha juga memiliki sisi baik?


Dengan cepat Melody langsung naik ke punggung Yudha. Rasa sangat senang karena Yudha mau menggendongnya.


Yudha itu memiliki kepribadian yang sulit Melody mengerti.


Melody ingin sekali mengetahui karakter Yudha itu seperti apa.


Ia akui, ia memang sering berargumen dengan Yudha, tapi Yudha akan selalu membatunya dengan senang hati.


Yudha sering membuatnya kesal karena Yudha selalu menunjukan ekspresinya terang-terangan.


Yudha bukan tipe orang yang suka basa-basi. Yudha hanya akan melakukan apa yang ingin ia lakukan. Kadang yang ingin Yudha lakukan selalu bertentangan dengan apa yang Melody harapkan. Itulah kenapa Melody sering kesal dengan Yudha sehingga mereka berdua terlibat dalam pertengkaran ringan yang ujung-ujungnya pasti akan kembali normal dengan sendirinya.


Bukankah sebenarnya itu keunikan dari seorang Melody dan Yudha?


Dua karakter yang berbeda menjalin hubungan dalam ikatan sebuah pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2