MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bertemu


__ADS_3

SIIAALLL...


Sungguh aku ingin mengutuk kebodohanku ini. Tuhan, aku tahu aku ini memang tidak pandai, tapi jika aku juga ceroboh maka berakhirlah sudah. Rasanya seperti menjadi tidak berguna.


.


.


.


Setelah turun dari mobil, aku langsung berjalan cepat menuju kamar. Menuju kamar?


Pertanyaan bagus dan menyebalkan. Aku malas menjelaskannya. Singkatnya, aku sudah sampai di parkiran kampus, tapi aku lupa membawa tugas akuntansiku. Nah loh. Dosen killer itu pasti akan membunuhku. Ralat. Maksudku, nilaiku.


Susah payah aku mendapatkan kesan baik, akan musnah seketika jika aku sampai membuat masalah. Dosen killer itu selalu menjadi mimpi burukku. Andai saja tidak ada mata kuliah akuntansi. Hikss. 😭 Aku pasti sudah menjadi mahasiswa paling bahagia di muka bumi ini.


.


.


.


Aahhhh. Bangun, sadar! Aku sudah di depan pintu kamar.


Aku..


Aku mencoba mengambil nafas. dan menghembuskannya perlahan.


Aku menakupkan kedua tanganku. Aku berdoa jika Yudha sudah berangkat ke kantor. Aminnn.


.


.


.


Perlahan aku memegang gagang pintu kamar. Terdengar suara lembut. Ceklek. Pintu tebuka. Aku memasuki perlahan seperti mengendap. Aku memasang mode on pada mataku. Mataku yang pandai mengawasi. Siap mendeteksi keberadaan Yudha di kamar.


Depan, samping kanan, ke samping kiri, lurus, serong, dan bolak-balik.


Shiiiip. Yudha tidak ada!


Aku melangkahkan kakiku menuju meja rias yang tak jauh dari tempat tidur. Di atas meja itu terpampang jelas tugas akuntansiku.


Aku segera mengambil tugas akuntansiku. Aku juga memastikan jika lembaran lembaran banyak itu adalah memang benar hasil kerja tugas akuntansiku.


Selembar, dua lembar, tiga lembar. Aku mengecek satu per satu. Sungguh, tak ada kesalahan, ini memang tugas akuntansiku.


Tapi tunggu.


Nomor 8, nomor 13, nomor 14 sudah terisi?


Seingatku, semalam aku tidak bisa mengisinya. Aku yakin itu, aku bahkan menyisakan ruang di nomor-nomor yang belum aku selesaikan jawabannya. Soalnya terlalu sulit untukku. Aku sudah mual hanya dengan hitungan gagal semalam.


Huwaa. Tulisannya rapi sekali. Bahkan ada penjelasannya. Sangat rinci.


Siapa yang mengisi?


Ayane-nee? Shuhei-san? Aku menggelengkan kepala. Aku tidak bertemu Shuhei-san kemarin. Sedangkan Ayane-nee, dia tidak mungkin masuk ke kamar ini tanpa izin dariku. Lagipula, aku sudah bertekat akan mengerjakannya sendiri tanpa bantuan Ayane-nee.


Lalu siapa yang mengerjakannya?


Hm..


Hm..


Berpikirlah, Melody!

__ADS_1


Hm.. apa itu? Yu-Yudha?


Bisa jadi sih.


Jadi dia ya yang membantu menyelesaikan tugas akuntansiku? Kapan dia mengerjakannya? Saat aku tertidur? Atau tadi pas aku sudah berangkat ke kampus?


Wuuuh, kenapa pipiku jadi memanas begini ya?


Ioyoyoyooyoyoyo. Aku kembali menggelengkan kepala.


Bukan waktunya aku seperti ini. Lagipula ini masih terlalu rumit. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapinya.


Aku langsung memasukkan lembaran-lembaran tugas akuntansiku ke dalam tasku. Aku harus segera keluar dari kamar dan kembali ke kampus!


.


.


.


"Melody?" Suara laki-laki memanggilku.


Yudha?


Astaga, kenapa dia masih ada di kamar? Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa seperti sedang tertangkap basah. Padahal ini kamarku juga, kenapa rasanya aku seperti seorang maling yang ketahuan mencuri?


Rupanya, sebisa aku menghindar, aku akan tetap bertatapan dengannya juga. Inilah saatnya.


Aku membalikan tubuhku. mencoba menatap sang sumber suara, Kazehaya Yudha, suamiku.


"Ya-ya?" Kataku gagap.


Aku mencoba menatap Yudha. Rambut raven, mata tajam, dada bidang.


HEEE? DADA BIDANG?


HALF NAKEDD?


ARAH KAMAR MANDI?


BARU MANDI?


"Ada yang tertinggal?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


"Sudah kau ambil?" Tanyanya lagi.


"Sudah." Jawabku.


"Oh."


"Ya."


"..."


"..."


Tuutttt.


Ridak ada suara yang terucap. Sial, aku tak mempersiapkan diri jika aku harus berhadapan dengannya saat ini. Tidak bisa dalam kondisi yang sedang terjadi di luar sana. Aku tidak bisa menempatkan diri.


"A-aku berangkat du-dulan, jaa."


"..."


Aku langsung menyelonong pergi dari hadapan Yudha. Aku tak menoleh balik padanya. Jantungku berdetak jauh lebih kencang. Ini seperti maling yang ketahuan mencuri oleh pemiliknya.

__ADS_1


.


.


.


Yudha adalah suamiku. Suami hasil perjodohan karena bisnis. Aku dan Yudha memiliki misi masing-masing. Dengan kami menerima pernikahan bisnis ini, kami sama-sama untung.


Aku tidak pernh memikirkan akan aku bawa kemana arah pernikahanku, itu kesalahanku. Aku tahu, aku salah jika aku tidak memprediksikan hal seperti ini akan terjadi. Bisnis akan sulit jika dikaitkan dengan perasaan. Aku bahkan meneteskan air mata jika aku mendalaminya dengan perasaanku.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan sakit, Yudha memang suamiku, tapi aku berkenalan dengannya sebagai teman. Kami bahkan saling berjabat tangan usai kami menikah dulu.


Teman ya?


Aku memang hanyalah sosok baru dalam kehidupan Yudha. Yudha punya kisah sendiri, akupun juga. Jika aku mencampurinya dengan perasaan, maka yang ada hariku akan mellow yellow. Aku ini tipe ceria, tapi beberapa hari ini aku bahkan sering melamun. Aku menangis di malam hari. Menangis tanpa sebab. Apa yang aku tangisi?


Yudha?


Rindu ayah?


Skandal yang Yudha alami?


Atau perasaanku?


.


.


.


Aku menghindari Yudha . Itu benar adanya.


Aku tidak tahu kenapa tubuhku refleks menjauh darinya. Aku hanya tidak ingin bertatap muka padanya. Bagaimana aku menjelaskannya ya? Sudah aku bilang ini sangat rumit.


Yudha terlibat skandal dengan teman masa kecilnya yang notabene adalah sosok wanita idaman Yudha. Aku tahu, dulu Yudha pernah mengajak teman masa kecilnya yang cantik itu untuk menikah. Meski ditolak, tapi aku yakin, wanita model itu adalah wanita yang benar-benar Yudha cintai memakai perasaannya.


Kenapa aku bisa seyakin itu? Perasaanku yang bilang.


.


.


.


Karena Yudha terlibat skandal setelah Yudha menikah denganku, aku yang merasa jadi istrinya menjadi tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku merasa canggung dengan seendirinya. Aku adalah saksi hidup bagaimana Yudha 'melamar' Yura dulu. Mungkin, hanya akulah satu-satunya yang tahu perasaan Yudha ke Yura itu seperti apa.


Aku bahkan tidak bisa tidur saat Yudha berbaring di sampingku.


Ya. Sungguh. Aku terjaga semalaman. Aku pura-pura tidur saat Yudha berada di kamar.


Akan sangat sulit buatku bangun lebih awal dari Yudha jika aku sampai ketiduran. Aku harus bangun lebih cepat dari Yudha! Aku harus meninggalkan kamar sebelum Yudha bangun!


Aku harus melarikan diri!


Mungkin tak hanya berpura-pura saja, nyatanya, saat Yudha merebahkan dirinya di sampingku, aku merasakan detak jantungku semakin berdetak tak karuan. Aku juga merasakan keringat dingin yang mengalir dari pelipisku. Padahal kamar ber-AC, tapi nyatanya aku tetap merasa... merasa seperti ketakutan?


Takut untuk bertatapan langsung dengan Yudha.


Selama ini aku selalu memikirkan apa yang hendaknya aku bahas dengan Yudha saat aku bertemu dengannya setelah adanya skandal itu. Apa aku harus bilang. Yudha, apa isu itu benar? Kau memiliki perasaan dengan Yura? Kau bermain di belakangku? Kau selingkuhi diriku?


Ayolah, aku ini siapa? Aku hanya istri bisnisnya. Huh.


Haaah, aku memang sangat tidak bertanggung jawab. Kabur begitu saja. Rupanya imajinasiku melenceng. Yudha justru yang menyapa duluan, walau singkat dan gak jelas akhirnya, tidak masalah. semoga langkah baik untuk ke depannya.


.


END OF MELODY'S POV

__ADS_1


__ADS_2