
Dan di sinilah Melody, Alvin, dan Mia. Di kantor kepolisisan kota Tokyo.
Mia meninta sang ayah untuk menghubungi temannya yang merupakan petinggi kepolisian kota Tokyo agar mengizinkan meminjam mobil patrolinya sejam saja. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, pihak kepolisianpun menyanggupinya. Ini lucu dan akan menjadi moment langka di abad ini.
"Senpai pasti sibuk, maaf.." Kata Mia.
"Tak masalah. Naik mobil patroli ya? Hmm, ini pengalaman baru dalam hidupku!" Alvin malah terlihat sangat antusias.
Ceritanya, rencana Melody dan Mia untuk keliling kota Tokyo naik mobil patroli didengar oleh Alvin yang baru pulang kerja dari rumah sakit. Berhubung malam ia tidak memiliki jadwal jaga, iapun ingin ikut menemani mereka berdua. Entah apa, naik mobil patroli keliling kota Tokyo sepertinya menjadi ide yang cukup menarik. Ini memang antimainstream, tapi karena di situ ada Melody, rasanya ia tak bisa membiarkannya. Wanita hamil butuh perlindungan. Apalagi wanita itu adalah orang yang sangat ia sayangi.
Mia kaget bukan main karena melihat Melody sudah naik ke mobil patrolinya. Melody duduk di bangku yang ada di bak mobil polisinya.
"Mel! Kau duduklah di depan! Jika ada yang melihatmu, terutama wartawan, maka akan menimbulkan gosip yang tidak-tidak!" Kata Mia.
"Tapi aku ingin di belakang, Mia! Ini baru namanya patroli!"
"Itu bahaya, Mel! Turun! Cepat turun! Kau itu sedang hamil!" Pinta Mia.
"Aku akan pegangan! Aku akan berhati-hati!"
"Sudahlah, aku akan menjaganya! Aku akan duduk di belakang bersamanya. Lagipula, ada dua polisi yang akan ikut." Kata Alvin.
Mia menghela nafas. "Hah, baiklah. Tapi pakailah ini! Ini akan melindungi wajahmu." Mia naik ke bak mobil patroli dan memakaian topeng kucing khas Jepang pada Melody.
Mia harus menjaga banyak hal. Ini memang main-main dan untuk kesenangan Melody, tapi ia tidak mau nanti menimbulkan gosip yang tidak jelas. Bagaimana jika besok muncul gosip, Menantu Kazehaya Ditangkap Polisi? Lalu beritanya akan semakin heboh, Yudha pasti akan memenggal kepalanya.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat bulu roman berdiri.
"Penglihatanku menjadi terbatas." Gumam Melody yang tak nyaman memakai topeng itu.
"Sama saja, tidak ada bedanya! Yang melihat itu mata, bukan wajahmu! Kau jangan banyak alasan deh! Ini demi kebaikanmu! Bagaimana jika aku dan Alvin-senpai memakainya juga? Kau senang?" Kata Mia. Ia menunjukkan 2 topeng lagi yang ada di kresek hitamnya.
Melody mengangguk senang.
Alvin akhirnya juga ikutan duduk di belakang. Miapun mengikutinya. Mereka juga memakai topeng kucing yang sudah Mia siapkan sebelumnya.
"Pak polisi, bunyikan sirinenya!" Pinta Melody.
__ADS_1
Mia melotot. Membunyikan sirine? Melody pasti sudah gila! "Hei Mel, yang benar saja! Kita bukan penjahat!" Tolak Mia.
"Tapi aku ingin mendengarnya, Mia! Ini baru namanya patroli sungguhan!"
"Tapi, Mel.."
"Mia, patroli itu harus membunyikan sirine!"
"Itu mengganggu pengguna jalan!"
"Aku tahu, tapi aku ingin mendengarnya." Melody bahkan sampai menangis.
Mia jadi tidak tega. Kenapa Melody menjadi sangat cengeng sih? "Mel.."
"Mia, sudah tak apa, turuti saja keinginan Melody!" Kata Alvin. Ia tidak suka melihat Melody menangis.
"Senpai yang terbaik!" Kata Melody senang. Air matanya berhenti mengalir seketika.
Mia sadar, apa baru saja Melody acting menangis? Tidak, itu sungguhan.
Lagi, efek ibu hamil ala Melody membuat pusing tujuh keliling. Apa Yudha tahu soal ini?
Alvin mengangguk. "Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa nanti." Jawab Alvin dengan senyuman tipisnya.
Miapun hanya bisa pasrah. "Baiklah. Pak, nyalahin sirinenya!"
Dan sirine polisi itupun berbunyi. Mobil patroli itu keluar markas dan berjalan mengelilingi kota Tokyo malam itu.
Ya malam, pukul 7:00 malam. Untung saja Melody meminta malam hari. Bisa heboh jika siang-siang.
"Senpai, kau terlalu baik jadi orang. Melody beruntung memiliki dirimu yang selalu mendukungnya. Meski aku tahu, ini sangat berat untukmu juga... Senpai, kau luar biasa!" Batin Mia.
.
.
.
__ADS_1
The next day..
Atas saran dari Mia, akhirnya Melody menyetujui untuk berbicara dengan Yudha. Sepertinya sebaiknya memang harus berbaikan. Ia sadar, hal itu mempengaruhi kehamilannya juga. Ini sudah hari ke enam ia meninggalkan rumah, ia juga tidak mengabari apapun pada Yudha.
Lama-lama berdiam tanpa menghiraukan Yudha membuat tak nyaman. Okelah, ini namanya rindu. Melody tidak menampiknya.
Sebelum ia pulang ke rumah, ia mampir ke rumah sakit dahulu untuk memeriksakan kehamilannya. Rupanya benar, asupan gizinya sedikit terganggu. Bahkan ia mendapatkan saran untuk jangan banyak stress.
“Rupanya kau juga merindukan papamu, ya? Sabar ya sayang, kau akan segera bertemu dengannya.” Kata Melody. Ia mengelus kembali perutnya yang membesar itu.
Melody datang ke rumah sakit sendirian, Mia sedang menyiapkan banyak hal untuk pergi ke Miyagi esok hari. Alvin sudah di rumah sakit sejak pagi, ia memang tak berniat merepotkan Alvin juga. Apa lagi, Alvin sudah menemaninya selama ini di apartemen, tentunya ada Mia juga.
Ia berbincang sebentar dengan Alvin setelah ia memberikan kotak bekal makan siang untuk Alvin sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaganya selama ini.
Melody hanya mengangguk-angguk tidak jelas saat mendengarkan ocehan wejangan soal betapa pentingnya menjaga diri bagi ibu hamil. Astaga, Alvin memang sudah menjadi dokter meski sedang dalam proses mendapatkan gelarnya. Alvin bisa menjadi sangat cerewet soal kesehatan rupanya.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Alvin, iapun berjalan pulang. Tentu saja ke rumah Kazehaya. Saat ia hendak menuju pintu keluar rumah sakit, ia melihat Yudha sedang bersama Yura di taman rumah sakit. Bercanda gurau penuh tawa ceria dari Yura. Mereka bahkan berpelukkan.
Berpelukkan?
Yudha dan Yura berpelukkan di depan matanya!
Cukup.
Sudah.
Kesabarannya memang ada batasnya.
“Maafkan mama, sayang. Mama belum siap bertemu papamu.” Melody mengusap air matanya.
Melody menatap sendu Yudha dan Yura. Kebersamaan mereka terlalu indah.
“Tidak ada tempat untukku di hatinya. Dari awal hatinya sudah milik Amamiya-san. Bodohnya aku yang terlalu percaya diri mencintainya. Haha, padahal aku tahu, aku bukanlah apa-apa dibandingkan dengannya. Yudha bisa lebih bahagia jika bersama Amamiya-san, tentu saja karena dia memiliki perasaan padanya. Beda denganku, aku hanya memiliki raganya. Sial.. ini menyesakkan.. sakit sekali dadaku.”
Melody berbalik arah dengan perasaan yang tak menentu. Niat untuk berbaikan dengan Yudha pupus sudah. Ia merasa bodoh karena sudah mencintai orang yang sama sekali tak memiliki perasaan kepadanya.
Ini jauh lebih menyakitkan dari mengetahui fakta bahwa ia mencintai Yudha.
__ADS_1
Segala ketegaran dan perjuangannya untuk mencoba bertahan luluh lantah. Ia memang harus bertahan sendirian.
"Cintaku bertepuk sebelah tangan! Aku tidak akan pernah mendapatkan balasan cinta darinya. Cintanya memang hanya untuk Amamiya-san. Orang asing seperti diriku memang hanya akan tetap menjadi orang asing. Tidak lebih, tidak kurang! Aku sudah tak tahan lagi. Ini berat. Satu hal yang ingin aku ketahui, apakah dirinya tak memikirkan anak yang aku kandung ini?"