MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 25


__ADS_3

"Paman Aron tak kunjung jua sadar. Efek obat dan perawatan dokter membuatnya tertidur sangat pulas. Akhirnya paman bisa beristirahat. Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tak menemukan paman Aron dua hari yang lalu. Akan sangat mengerikan jika terjadi hal lebih buruk dari pada ini. Paman, istirahatlah yang nyaman! Aku tidak akan segan-segan membalaskan dendam untuk paman. Aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengan mereka!" Gumam Yudha.


Shuhei yang kini sudah berada di Kyoto lagi hanya bisa berdiri sambil menatap dua orang yang berjasa dalam hidupnya itu. Meski ia tidak terlalu pandai berekspresi, tapi saat ini hatinya sedang merasa buruk juga. Aron sudah seperti ayahnya sendiri, begitupun dengan Yudha yang memperlakukannya sebagai saudara.


"Yudha-sama, Takaoka-san menghubungiku jika Tuang Kang melakukan pergerakan masiv di Miyagi." Kata Shuhei.


"Maksudnya?" Tanya Yudha.


"Mereka menyingkirkan orang-orang yang demo atas pembangunan mega proyek Kazehaya Group di sana. Kata Takaoka-san, orang-orang yang demo itu menghilang satu per satu." Jawab Shuhei.


Yudha mengepalkan tangannya. "Kau tahu, Shuhei? Kita sudah paham siapa pelakukanya, tapi kita tidak bisa menangkap basah mereka. Pencarian bukti yang tak kunjung usai. Sudah berlarut-larut masalah ini. Fokusku terbagi-bagi. Aku ingin mengakhiri semuanya secara bersamaan, tapi rupanya tak bisa ya?" Kata Yudha yang suaranya terdengar cukup frustasi.


Mungkin frustasi itu terlalu berlebihan, yang jelas Yudha merasa lelah. Fisik maupun pikiran.


"Semua semakin jelas, Yudha-sama. Musuh kita terbagi beberapa kubu dan mereka tak saling kerja sama. Mereka tak memiliki tujuan yang sama." Kata Shuhei.


"Kau benar. Kau siapkan heli, kita akan kembali ke Tokyo esok hari!" Pinta Yudha.


"Membawa Aron-san?"


"Ya, kita harus mengamankan dia. Dia menjadi incaran orang-orang itu. Dia harus sembuh dan menceritakan apa yang terjadi padanya."


"Baik Yudha-sama, saya akan mengatur semuanya."


"Arigato na, Shuhei. Maaf selalu merepotkanmu."


"Tidak, kita memang selalu seperti ini." Shuhei mencoba tersenyum dan Yudha membalasnya.


.


.

__ADS_1


.


Melody berjalan riang di atap rumah sakit.


Atap rumah sakit? Ingat, jangan bayangkan ini adalah atap genting! Ini adalah atap semen khas gedung-gedung bertingkat yang bisa dipijaki kaki.


Atap gedung rumah sakit Kazehaya International sangat luas, sebagian besar digunakan untuk menjemur selimut dan pakaian pasien. Sebagian lagi dijadikan taman.


Taman di atas gedung?


Ya, yang dibicarakan di sini adalah Jepang dimana echo building sangat diutamakan. Begitupun dengan rumah sakit Kazehaya International, Yudha sungguh memperhatikan hal-hal seperti ini. Dengan kemampuan arsiteknya dan dibantu pakar pertanian hidroponik, ia berhasil menyulap kebun di atap gedung rumah sakit. Tak hanya bunga, di sana bahkan ada ketela dan berbagai jenis buah dan sayuran. Pemanfaatan lahan atap gedung ini untuk bercocok tanam dapat dirasakan kegunaannya. Selain memperindah atap bangunan, buah dan sayurnya pun digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah sakit. Bukankah ini sangat seru dan menekan biaya belanja rumah sakit?


Melody meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia menikmati hangatnya sinar mentari yang menerpa kulit putihnya. Angin sepoi-sepoi begitu sejuk membelai tubuh indahnya.


Tubuh indahnya? Bukankah ia saat ini lebih mirip ke kura-kura ninja? Bedanya tempurungnya pindah ke depan.


Melody cukup yakin kok soal keindahan tubuhnua meski mirip tempurung kura-kura ninja pindah ke depan. Atas dasar apa? Ya Yudhalah yang bilang, memang siapa lagi?


Nah loh..


Melody menyukai pujian dari Yudha. Ia menjadi tidak khawatir jika berat badannya bertambah. 😎


Ibu hamil itu memang tak seharusnya diet. Tetaplah makan yang bergizi. Bertambah gemuk tak masalah, asal bayinya sehat. Nanti usai melahirkan bisa berjuang mati-matian untuk kembali kurus.


"Cih, mendengar kata berjuang mati-matian untuk menguruskan badan usai melahirkan itu sangat horor. Yudha suka seenaknya saja kalau bicara. Sial, aku sudah naik lima belas kilo!" 😱 Batin Melody.


Melody membelai perutnya. Dua kehidupan baru di dalam sana adalah anugerah luar biasa dari Tuhan untuknya. Meski usianya masih tergolong muda, tapi ia akan bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah ia buat.


"Sebentar lagi aku ulang tahun. Sebentar lagi juga ulang tahun pernikahanku dengan Yudha. Dua hari besar dalam hidupku itu ada di bulan yang sama. Bulan Maret. Puncak bunga sakura bermekaran. Tuhan, aku berdoa untuk segala yang terbaik di bulan yang akan dimulai esok hari. Lindungi semua orang terkasihku, ibu dan semua keluargaku. Lindungi suamiku juga..."


Melody menatap langit yang sangat cerah di depan matanya.

__ADS_1


"Pemandangan dari atap gedung sangatlah indah. Alampun sangat bersahabat, tapi apa ini? Kenapa aku justru merasa sangat gelisah? Aku membenci rasa tak menentu ini, membuatku kepikiran hal-hal yang tak bisa terjelaskan. Memikirkan sesuatu tapi sesuatu itu tidak ada, tidak diketahui otak. Sangat tidak nyaman. Aku hanta bisa terus berdoa pada Tuhan agar semua kesah dan gelisah ini cepat berlalu."


Melody mencengkram dadanya sendiri. Sakit dan sesak. Rasa ini bukanlah yang pertama ia rasakan. Ini mirip saat ia merasa kecewa ketika terjadi kesalah pahaman antara dirinya denga Yudha dan Yura.


Namun kali ini jauh lebih besar dimana kadang rasanya seperti harus memaksa diri untuk siap menghadapi kemungkinan terburuk.


Apakah itu?


Melody sendiri sedang mencari tahu.


Bosan menikmati keindahan pemandangan atap gedung, Melody memilih untuk mencari kursi. Cukup lelah juga sedari tadi ia berdiri.


Ketika ia sedang berjalan, ia melihat Alvin tengah duduk di salah satu kursi dengan sebuah pohon sakura pendek di sampingnya.


Pohon sakura yang masih pendek itu sudah berbunga. Ketika angin menyapa, ranting-ranting kecil itu bergoyang bahagia. Sesekali menjatuhkan bunganya sebagai tanda tunduk pada keangungan alam dan kuasa Tuhan.


Wajah tampan Alvin yang semakin dewasa sedang menatap jauh pemandangan di depannya.


Menaap kosong? Seperti itulah yang bisa Melody simpulkan dari kemampuan otaknya menilai.


"Mantan kekasihku yang kini menjadi kakak iparku. Mantan kekasihku yang masih sangat mencintaiku. Mantan kekasihku yang mulai asing di mataku. Mantan kekasihku yang berubah banyak tanpa sepengetahuanku. Mantan kekasihku yang nampak begitu rapuh seperti daun putri malu."


Melody tidak membenci Alvin, sama halnya dengan Yudha. Ia hanya kecewa dengan sikap Alvin saat ini. Namun ia juga tahu, ia juga mencoba memahami bagaimana jadinya jika ia memposisikan diri di posisi Alvin. Semua memang tak mudah. Alvin juga mengalami banyak tekanan, terutama dari sang ibu.


Melody tak sebodoh seperti di mata kuliah akuntansi, dalam kehidupan nyata, ia mampu berpikir lebih baik dari kemampuan menghitungnya. Ia belajar untuk memahami banyak hal. Mana yang baik, mana yang buruk, atau mana yang salah. Sudah banyak pengalaman diri mengenai kehidupan yang berlika-liku. Meski pengalamannya belum seberapa, setidaknya kali ini ia sudah menjadi sosok manusia yang jauh lebih bijak untuk memutuskan apa yang menjadi keputusan dirinya. Ia menambah opsi tanggung jawab akan semua keputusan yang sudah ia buat.


Apakah ini wujud nyata dari peningkatan progress karakter dirinya? Entahlah, yang jelas ia hanya tak ingin hidup menjadi Melody yang itu-itu saja.


Percayalah, Melody bukanlah sosok yang pro dengan kata 'menerima apa adanya'.


Melody tidak suka menyerah dengan keadaan yang apa adanya. Ia akan membuat sesuatu, ia akan bergerak, ia akan membuat hidupnya menjadi bukan apa adanya. Ia akan membuat hidupnya lebih bermakna dan bernilai. Hidup yang lebih dari sekedar apa adanya.

__ADS_1


"Semakin hari, semakin kurus saja. Kau pasti tidak bisa makan dengan baik. Kau pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan mungkin kau juga kesulitan untuk bernafas di dunia yang selalu saja menghianatimu. Alvin-senpai, aku saat ini memanggilmu dengan sebutan senpai, sungguh aku tak ingin menghilangkan imbuhan ini. Kau sangat berjasa dalam hidupku. Sangat keterlaluan jika aku melupakannya. Gomenasai, Alvin-senpai, seberapa bersar kau mencintaiku, aku tetap tak akan bisa menerima perasaanmu terhadapku. Sama seperti dirimu, rasa cinta yang kau rasa ingin bersama orang yang kau kasihi. Aku juga ingin bersama dengan Yudha. Menghabiskan sisa hidup ini dan menua bersamanya. Jika kau tak bisa mengendalikan dirimu, akupun sama... Alvin-senpai, meski kau berubah saat ini, aku masih selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku sudah bahagia dengan Yudha, maka kau juga harus bahagia tanpa diriku!"


__ADS_2