MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kipas Angin


__ADS_3

MELODY'S POV


Aku melirik ke arah jam dinding kamarku. Sudah pukul tujuh malam.


Eh? Pukul tujuh malam?


Astaga, kenapa aku bisa ketiduran sampai malam begini? 😑 Aku belum masak untuk makan malam lagi. Mana di sini ada Yudha. Harusnya sebagai istri, aku harus menyiapkan makanan untuknya.


Ngomong-ngomong soal Yudha..


Aku menoleh ke seseorang yang sedang tidur di sebelahku. Tangan kekarnya melingkar di pinggangku. Matanya terpejam bersama wajah damainya. Dengkuran halus samar-samar terdengar di telingaku.


Ah, dia tertidur pulas.


Sangat pulas malahan.


Yudha kalau sedang diam memang memiliki kharisma tersendiri. Ketampanan yang hakiki. Meski awalnya terpaksa, tapi aku bersyukur menikah dengannya.


Semua yang kami lakukan adalah pengalaman pertama.


Maka dari itu, aku tidak menyesalinya. Aku tidak menyesal menikah dengan Yudha. Aku tidak menyesal memberikan hidup dan ragaku kepadanya. Aku juga tidak menyesal terluka karena mencintainya.


Bukankah cinta itu butuh pengorbanan?


Tidak mungkin kan kehidupan cintaku padanya akan semulus paha Song Hye Ko?


Pasti akan ada kerikil dan batu gunung yang akan menghadang. Perasaan cintaku padanya semakin hari semakin besar. Aku memiliki hati bak bulldozer yang siap meratakan segala kerikil dan batu gunung yang akan menjadi penghalang nantinya.


Kau tak perlu khawatir Yudh! Aku mencintaimu dengan segala yang aku miliki. Cinta yang tulus dan penuh keikhlasan ini milikmu. Jadi, kuharap di masa depan kau bisa lebih terbuka padaku. Kau lebih bisa membagi masalahmu denganku. Bukan berarti aku tak mempercayaimu. Saat ini, akupun yakin lebih dari seratus dua puluh persen kalau kau mencintaiku.


Aku hanya ingin merasakan apa yang kau rasa. Aku hanya ingin menyangga apa yang kau sangga. Aku hanya ingin melihat apa yang kau lihat. Aku hanya ingin medengar apa yang kau dengar. Aku hanya ingin percaya apa yang kau percaya. Aku hanya ingin ikut apa yang kau ikuti.


Aku hanya ingin bernafas sama dengan dirimu, Yudh..


Karena dengan mencintaimu, hidupku terasa lebih hidup..


.


.


.


Aku harus segera bangun dan pergi memasak. Aku tidak boleh bermalas-malasan seperti ini, sementara Yudha sudah berjuang datang kemari meski sebenarnya sangat sibuk dan banyak masalah. Bukankah istri yang baik sebaiknya tidak menambahi masalah untuk suaminya?


Maaf Yudh, aku selalu seperti ini..


Aku menggerakkan tubuhku, dan sial. Vangkek! Sakit sekali rasanya. Badanku terasa sangat remuk. Ngilu gila di bawah sana.


Aku menatap Yudha yang sedang tertidur tampan itu..


Aku tidak menyesal menikah dengannya itu iya, tapi saat ini aku sedang sangat kesal padanya.


Sumpah demi apa! Gila! Ini sangat gila!


Aku lalu melihat ke arah tanganku. Jemari-jemariku, telapak tanganku, sial apa sih yang tadi aku lakukan dengan Yudha?


Aku membuka-tutup jemari tanganku.


Sialan! Yudha mengajariku permainan yang gila! Huwa, tadi apa sih yang aku pikirkan? Kenapa aku bisa nurut dengan mudahnya dengan segala tuntunan dia? Kenapa aku hanya diam saja saat dia begitu menguasaiku.


Aku menggertakkan gigi-gigiku.


Aku sudah tidak polos lagi. 😑


Setelah membuat tanganku bermain-main dengan kegilaannya, dia menyetubuhiku dengan segala hasrat terpendamnya. Dia mengunci tubuhku dengan tatapan membunuhnya. Padahal tadi masih siang menjelang sore, tapi cahaya pesonanya yang begitu terang melelehkan mataku. Dia menikam dan menghujamiku dengan cintanya. Aku mengerang, mendesah beberapa kali dan menyebut namanya. Rasanya manis sekali. Rasanya sangat manis. Aku dan dia tak bisa berhenti, kami terus melakukannya. Lagi dan lagi hingga akhirnya tumbang karena kelelahan.


Ini memang bukan yang pertama, tapi apa bisa mengubah seseorang menjadi seperti ini?


Aku baikan dengannya masih belum genap sebulan, tapi kita sudah berada di level semesum ini. Apa yang akan terjadi di bulan-bulan yang akan datang?


Bodohnya, dan maaf, tadi bahkan tidak sempat berpikir soal kehamilanku. Jika terus dibiarkan maka akan sangat bahaya!


Ini salah Yudha!


Coba saja kalau pesonanya tidak menggodaku, aku pasti akan bisa bertindak normal! Arggh, aku ingin memukul wajah tampannya!


Aku kembali menatap Yudha. Wajahnya yang tertidur masih terlihat damai. Laki-laki tampan ini rupanya tak hanya memililiki hidung yang mancung dan bibir yang tipis, tapi juga memiliki bulu mata yang lentik. Dasar ikemen! Aku yang seorang wanita aja tidak memiliki bulu mata selentik itu.

__ADS_1


Ikemen: Cowok tampan.


Ah, melihatnya yang seolah tak berdaya ini, aku jadi tidak tega memukulnya. Akupun memilih untuk mengelus pipinya. Cih, mulus dan lembut sekali kulitnya. Tuhan terlalu sayang padanya, tanpa perawatan wajah yang mahal, kulitnya sebagus ini.


Hei Yudh, sebaiknya kau banyak-banyak bersyukur pada Tuhan!


Siapa sangka orang tampan dengan dua belas juta lebih follower IG ini adalah suamiku. Siapa sangka orang tampan yang hanya muncul setiap seratus tahun sekali ini adalah sosok yang super mesum. Dia benar-benar sangat mesum terhadapku.


Meski kesal dan sering kewalahan menanggapi kemesumannya, tapi aku menyukainya. Dia hanya melakukannya padaku. Dia hanya bertindak mesum kepadaku. Kurasa aku sudah dibutakan oleh cinta darinya.


Nah Yudh, jika aku sudah terbutakan akan cintaku padamu, tolong jadilah mataku! Pimpinlah aku menjadi penguasa hatimu! Tempatkan aku di singgasana terindah cintamu! Meski aku selalu berlebihan akan kata-kataku padamu, nyatanya aku ini bisa sangat romantis, kan? Mencintaimu memang membuat pikiran tidak waras.


.


.


.


Meski aku harus bermain cukup lama denganmu di ranjang tadi, tapi syukurlah, pada akhirnya aku bisa membuatmu tidur dengan nyenyak, ya aku juga ikutan tidur juga sih.


Tak masalah dengan tubuhku yang remuk. Tak masalah dengan rasa ngilu di bawah sana. Tak masalah dengan bekas merah-merah perih yang kau lukiskan di sekujur tubuhku. Aku akan menanggungnya dengan ikhlas dan senyuman di bibirku. Asal kau bisa istirahat dan mereset kembali tubuhmu, maka aku akan baik-baik saja.


Lakukan sesukamu padaku, Yudh! Namun aku mohon, jangan sakit! Jangan sakit! Jangan sakit! Jangan sakit!


Saat kau tersenyum padaku dan berkata semua baik-baik saja, itu menyakitiku Yudh! Aku tahu kau hanya sedang berusaha membuatku agar tak khawatir berlebihan. Namun, melihatmu yang semakin hari semakin merusak tubuhmu, aku tersiksa secara perlahan.


Kan, jika sudah begini aku menjadi sangat emosional. Aku bisa menangis dengan mudahnya. Aku menjadi sangat cengeng. Emosiku naik turun tidak jelas.


Aku merasa aku ini sudah menjadi wanita yang kuat. Dari semenjak ayah meninggal, aku sudah biasa menderita, aku sudah biasa berjuang dengan kedua tangan dan kakiku. Meski terseok-seok, tapi aku bisa berdiri tegar. Namun sekarang berbeda, ketika aku memiliki sosok yang bisa aku gunakan untuk bersandar, rasanya hatiku melemah tak sekuat dulu.


Ini kerugian untukku.


Tidak!


Ini bukanlah kerugian untukku. Aku hanya harus mengartikan jika tahapan ujian dari Tuhan semakin sulit. Jika tahapan ujian semakin sulit, itu tandanya aku semakin kuat. Aku pasti akan bisa melaluinya. Bukankah Tuhan tidak akan memberiku ujian di luar batas kemampuanku?


Aku pasti bisa melewati segala ujian dari Tuhan!


.


.


.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Yudha padaku.


Aku menggeleng. Dia jadi semakin khawatir.


"Apa aku tadi berlebihan?" Tanyanya lagi.


Aku mengangguk. "Sakit sekali, Yudh!"


Dia bangun dari tidurnya dan langsung memelukku.


"Maaf, maafkan aku, Mel! Tadi aku tidak bisa mengendalikan diriku." Kata Yudha.


"Tapi enak kok." Cengirku tanpa dosa.


Yudha melepaskan pelukkannya dariku. Ia menatapku kesal. "Jangan bercanda! Aku sungguh khawatir padamu, baka! Aku ingat bagaimana perlakuanku tadi padamu. Maaf, untuk sejenak aku bahkan mengabaikan fakta jika saat ini kau sedang hamil. Sial, aku menjadi sangat liar." Jelasnya.


Aku mengerti akan semua ini. Perasaan dan hasrat kita sedang berada di frekuensi yang sama. Kita saling menginginkan.


"Kehamilanku baik-baik saja, Yudh! Kurasa tak apa karena kita tidak melakukannya tiap hari. Saat aku selesai PKL nanti, tolong kendalikan dirimu! Demi anak-anak kita. Kau bisakan melakukannya?" Tanyaku.


Wajah Yudha nampak ragu. Sebegitu beratnya ya menahan hasratmu untuk tidak menyentuhku?


"Aku akan berusaha." Kata Yudha. Hm, dia bahkan tidak bisa yakin dengan kata-katanya.


"Berat ya?" Tanyaku.


Yudha mengangguk. "Hn, berat. Hanya memikirkanmu saja sudah membangkitkan hasrat yang terpendam. Otakku ini terlalu jelas mengingat semua lekuk tubuhmu, Mel!"


Aku sangat ingin memukulnya. Aku bicara serius seperti ini, dia akan menanggapinya dengan asal. Yudha itu tipikal cowok dengan rencana yang tersusun rapi. Dia adalah pengendali diri yang paling baik. Jika sudah begini, aku akan semakin sulit mengorek informasi darinya.


Dia pasti tidak akan membagi masalahnya denganku. Apa aku harus cari tahu sendiri?


"Aku hamil kau saja sudah seperti ini, apa lagi sedang tidak mengandung?" Kataku.

__ADS_1


"Aku memikirkannya, Mel.." Kata Yudha.


"Apa?" Tanyaku.


"Aku menyesal.." Kata Yudha.


Menyesal? Yudha menyesal? Apa yang tengah dia sesali? Apakah dia menyesal karena sudah menikahiku? Eh? Atau apakah dia menyesal karena melakukan hubungan intim denganku? Apaan sih? Kenapa rasanya jadi aneh seperti ini?


"Me-menyesal, Yudh?" Gumamku terbata.


"Jika menyetubuhi dirimu bisa seenak ini, kenapa aku tak melakukannya sejak dulu? Kenapa aku tak melakukannya pas pertama kali kita bertemu? Aku kan pernah memperkosamu, harusnya waktu itu aku juga bisa melakukannya. Pasti akan sangat seru jika aku mendapatkan tubuhmu sejak awal." Jelas Yudha.


😠😠😠


Ini orang terkena timpukkan batu gunung Fuji apa ya?


"Gila saja kalau kau menyetubuhi sebelum ada ikatan pernikahan, kau mau buatku menikah karena hamil duluan? Apa kata orang? Kau tidak waras! Kau sakit!" Kesalku.


Yudha itu benar-benar.


"Ya tidak usah dengerin kata oranglah! Yang hamil kan kau, bukan mereka. Yang memperkosa kan aku, bukan mereka." Kata Yudha.


Ini dia, pemikiran orang jenius yang selalu di luar nalarku. Aku sungguh gagal paham dengan ide jeniusnya.


"Yudha minta dipukul ya?" Kataku.


"Kenapa harus memukulku kalau kau bisa menciumku?" Yudha menantangku rupanya.


"Kau ngeselin."


"Kan aku hanya melakukan pengandaian yang jelas tak mungkin terjadi." Kata Yudha. "Meski waktu itu kau telanjang di depankupun, aku pasti akan melepas bajuku dan memakaikannya padamu. Aku tidak akan pernah menyentuh wanita yang tidak memiliki ikatan legal denganku." Lanjut Yudha.


"Cih, apaan sih?" Njirr, mukaku memerah. Padahal hanya seperti itu, tapi Yudha selalu bisa membuatku tak karuan.


"Mukamu yang memerah membuatku ingin memakanmu. Kau mirip tomat, Mel! Karena ikutan kena imbas efek kehamilanmu, aku jadi tidak bisa makan tomat asli. Bagaimana kalau saat ini aku memakanmu saja?" Yudha memang suka sekali menggodaku.


"Jangan konyol! Aku sudah lelah." Kataku.


"Cium aku, Mel!" Pinta Yudha lagi.


Apa ini bocah sangat menginginkan ciuman dariku? Sedari tadi dia membahasnya terus-terusan.


"..." Aku hanya diam saja. Aku ingin tahu seberapa dia berusaha untuk mendapatkan keinginannya.


"Besok aku harus kembali ke Tokyo, kau tega ya tidak mau memberiku ciuman?" Kata Yudha.


Ah, aku melupakan ini. Benar juga, Yudha besok harus kembali ke Tokyo untuk bekerja. Aku akan ditinggalkan lagi. Tiba-tiba jadi sedih begini ya?


Ada yang hilang.


Resiko hubungan jarak jauh yang amat sangat menyiksa.


Kulihat wajah Yudha yang tersiksa juga dengan hubungan ini. Aku sepertinya salah pilih tempat PKL. Sudah jauh dari Tokyo, kita masing-masing sangat sibuk lagi. Kasihan juga. Aku sendiri saja merasa kalang kabut. Yudha pasti juga merasakannya.


Pada akhirnya aku menurunkan gengsiku. Aku menyuruh Yudha memejamkan kedua matanya. Akupun memberi ciuman paket pada Yudha.


Aku mencium keningnya.


Aku mencium kedua kelopak matanya.


Aku mencium kedua pipinya.


Aku mencium hidungnya.


Lucu juga mencium hidungnya. Ketika aku sedang terhanyut denga rasa lucu dan menggelitik ini, dengan cepat Yudha sudah menguasai bibirku dengan bibirnya.


Aku hanya bisa melebarkan kedua mataku. Laki-laki ini memang sangat suka menciumku tiba-tiba. Syukurlah, dia tidak menciumku sambil gerilya kemana-mana tanganya.


Dia malah menatapku dengan senyuman mautnya. Senyuman yang bisa melelehkan es di kutub utara.


"Melody.." Panggil Yudha.


"Ya?"


"Kau seperti kipas angin, menyejukkan hatiku." Kata Yudha.


Ha-hah? 😨☻

__ADS_1


END OF MELODY'S POV


__ADS_2