
"Seperti yang saya katakan pada Anda, jika Anda sungguh ingin mengetahui masa lalu ayah Andan dan Kurenai-san, Anda bisa bertanya pada ibu Anda." Kata Nakamura.
Ibunya Yudha, Mikan, tidak suka membahas masa lalu. Yudha tahu hal ini hanya akan menambah rasa sedih sang ibu. Sebagai anak, tentulah tak ingin melihat sang ibu menangis. Air mata kesedihan dari sosok seorang ibu adalah luka yang mendalam untuk seorang anak. Yudha tahu betul rasanya.
"Daripada kisah cinta ayah saya, saya lebih tertarik dengan pembunuhan ayah saya. Nah Nakamura-san, jika Anda mengetahui ayah saya meninggal bukan karena kecelakaan, kenapa Anda tidak mengungkap pembunuhan itu?" Tanya Yudha.
"Anda tidak menghawatirkan istri Anda saat ini? Anda justru tertarik mengorek masa lalu." Ucap Nakamura.
Khawatir pada Melody?
SANGAT!
SANGAT KHAWATIR!
Pikirannya saja kini terbagi-bagi menjadi banyak hal. 90% isinya Melody, 10% ayahnya, ibunya, kakek-neneknya, mertuanya, pamannya, Aron, Alvin dan orang-orangnya, bisnis, serta masalah yang sedang menyapanya.
"Saya sudah memanfaatkan kekuatan saya untuk mencari istri saya. Orang-orang, detektif, dan teknologi. Saya bisa melakukan banyak hal dalam satu pengawasan... Buaknkah Anda juga berinisiatif untuk membantu saya? Detektif yang Anda kirimkan sempat dicurigai orang-orang saya." Yudha menakupkan kedua telapak tangannya. Ia bermain dengan jemarinya.
"Saya tidak bisa tinggal diam." Ini adalah kejujuran dari seorang Nakamura Yuuichi.
"Nah, sembari menunggu kabar baik dari mereka, sekarang tolong katakan sejujurna pada saya! Jika kasus kecelakaan itu adalah sebuah upaya pembunuhan, lalu kenapa kasus itu diakhiri begitu saja? Kenapa semua media masa saat itu selesai dengan Kazehaya Yoga meninggal dalam insiden kecelakaan mobil tunggal? Kenapa tidak ada yang memberitakan jika ada kemungkinan pembunuhan? Kenapa tidak ada berita tentang ayah saya yang semobil dengan ibu Kurenai dan Alvin?" Tanya Yudha panjang lebar.
Mata Yudha nampak serius. Mununtut jawaban yang jujur dan bisa memuaskannya.
Nakamura sudah siap sejak awal jika Yudha akan bertanya seperti ini kepadanya. Ia sudah berjanji akan menjawabnya. Sekarang adalah waktunya.
"Kakek Anda menutup semuanya." Kata Nakamura.
Kaget.
Yudha sangat kaget. Ia paham dengan kata menutup semuannya. Namun ia ingin memastikan.
__ADS_1
"Menutup bagaimana maksud Anda?" Tanya Yudha.
"Beliau menelpon langsung atasan saya agar mengakhiri penyelidikan soal kematian Kazehaya Yoga. Dulu saya hanya polisi biasa, saya tidak bisa berbuat banyak untuk melawan atasan saya. Meski saya bersi keras untuk melanjutkan penyelidikannya, tapi tekanan dari atas sangatlah kuat. Pada akhirnya, saya dan Shota memilih untuk menuruti perintah atasan." Jelas Nakamura.
Masuk akal. Semua ini masuk akal. Sang kakek adalah orang yang memiliki segalanya. Sang kakek mampu menguasai media. Membuat media bungkam adalah hal yang mudah. Dengan kekuasaan dan tahta, sang kakek juga mampu mengendalikan hukum di negeri Jepang ini.
Kekuatan yang mengerikan, bukan?
Yudha sudah tahu bagaimana sifat sang kakek. Licik dan petaruh hidup sejati. Menyukai permainan dan percaturan hidup. Mampu melihat dan menganalisis apapun kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Jika sang kakek berkehendak, maka menutup kasus seperti ini adalah hal yang mudah dilakukan. Namun, ada yang mengganjal di benak dan hatinya. Rasa ini tak nyaman di dada. Menuntut jawaban.
Alasan apa yang membuat sang kakek melakukan semua ini?
Jangan-jangan?
"Tidak mungkin kan kakek terlibat? Haha, lelucon macam apa ini? Kakekku memang licik dan menyebalkan. Namun dia itu tegas dan menyayangi keluarganya. Aku yakin, dia tak mungkin membunuh anaknya sendiri." Batin Yudha.
"Aku tak apa-apa, Shuhei." Kata Yudha.
"Meski Anda mengenal baik sifat kakek Anda itu bagaimana, tapi saya minta kepada Anda, tolong kaji sekali lagi semua yang biasa Anda lihat. Yang biasa dilihat kadang menyembunyikan sesuatu. Maka saya ingin percaya jika kakek Anda, Tuan Besar Kazehaya Wijaya, sedang menyembunyikan sesuatu dari banyak orang. Termasuk kepada Anda." Kata Nakamura.
Asumsi dari Nakamura itu masuk akal. Telibat atau tidak, yang jelas sang kakek pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan banyak orang. Apa ibu dan neneknya tahu akan hal ini? Ah, sungguh, kepalananya sangat pusing. Yudha merasa jika hidupnya itu sangat luar biasa rumit.
"Masa lalu menjadi sangat menarik rupanya. Jika aku berusaha mengoreknya, apa aku akan menemukan harta karun? Apa semua rentetan peristiwa yang selama ini aku alami memiliki benang merah dengan masa lalu?" Kata Yudha.
Nakamura membuka tas yang ia bawa. Ia mengambil sebuah amplop coklat besar. Ia lalu menyodorkan amplop besar itu kepada Yudha.
"Ini?" Gumam Yudha ketika menerima amplop coklat besar itu.
"Ini adalah hasil penyelidikan soal kecelakaan ayah Anda. Saya harap informasi itu membantu Anda." Kata Nakamura.
__ADS_1
"Hn. Terima kasih banyak."
"Kazehaya-san, jika saya dan Shota tidak berhasil 15 tahun yang lalu, maka kali ini, tolong ungkapkan kebenarannya! Tolong cari siapa yang membunuh ayah Anda! Ini bukan polisi yang meminta, ini adalah sosok sahabat mendiang ayah Anda yang sedang mengemis agar merasa tenang dalam hidupnya."
Dari sorot mata Nakamura, Yudha tahu jika sahabat ayahnya ini sangat menyayangi ayahnya. Persahabatan mereka dulu pastilah sangat erat sampai memiliki hubungan yang sangat dalam seperti ini. Ayahnya pasti bersyukur karena sudah memiliki sahabat seperti Nakamura Yuuichi dan Tachibana Shota.
"Saya tidak akan membuat janji untuk membahagiakan Anda. Namun saya memiliki ambisi tersendiri agar bisa tetap hidup bersama orang-orang yang saya kasihi di masa ini. Jika kisah masa lalu memiliki benang keterikatan, maka saya akan mengoreknya sampai semua terungkap." Jelas Yudha.
"Yoga, anakmu dengan Mikan sangat berbeda darimu. Dia lebih rasional dan pandai membaca sesuatu. Dimanapun kau berada saat ini, di alam kubur seperti kebanyakan orang bilang, tolong, sampaikan pada Tuhan untuk mengerahkan kekuatannya agar melindungi Kazehaya Yudha, anakmu. Anak ini terlalu sayang jika harus mengalami nasib yang sama seperti dirimu." Batin Nakamura.
Nakamura ikut bangga terhadap Yudha. Besar tanpa ayah tak membuat Yudha lemah.
"Saya akan membantu Anda. Saya akan memberikan Anda hak otoritas untuk menggunakan fasilitas kepolisian. Jangan sungkan untuk bertanya." Kata Nakamura.
"Tolong kirimkan rekaman CCTV jalan bulak perfektur Miyagi itu di hari ayah saya meninggal. Daerah tempat kecelakaan memang tak terkover CCTV, tapi sebelum masuk ke bulak pasti ada CCTV, bahkan keluar bulak juga pasti ada CCTV. Ada hal yang ingin saya pastikan." Pinta Yudha.
Nakamura tersenyum mendengar permintaan dari Yudha.
"Ada yang aneh?" Heran Yudha.
"Pikiran Anda seperti detektuf kami. Selalu ingin tahu... Jangan khawarir, Kazehaya-san! Semua itu sudah ada di dalam amplop coklat itu! Jika Anda mempelajarinya dengan seksama, maka akan banyak kejutan yang Anda dapatkan." Kata Nakamura.
Menurut Yudha, Nakamura adalah orang yang menarik. Jika ayahnya masih hidup, maka usianya akan sama dengan Nakamura.
"Anda sudah mempersiapkan semuanya rupanya. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih karena sudah bersedia untuk membantu saya."
"Ini seharusnya saya lakukan sejak dulu. Semoga Anda berhasil, Kazehaya-san!"
"Hn."
"Ingat, saya akan selalu membantu Anda!"
__ADS_1
Pembahasan kisah masa lalu telah usai. Rinciannya ada di dalam amplop coklat besar yang kini sudah ada di tangan Yudha. Setelah mencari Melody, ia akan mempelajarinya baik-baik.