
"Apa-apaan ini? Kenapa ada si ulat genit sih? Ah, 'teman masa kecilnya' Yudha mana mungkin tidak diundang, kan? Aku tahu hubunganku dengan Yudha sudah membaik. Masalah kesalahpahamanku dengan Yudha karena Amamiya-san juga sudah usai, tapi tetap saja, entahlah bagaimana menjelaskannya. Intinya, aku merasa moodku langsung berubah tak nyaman. Aku tak mau memiliki perasaan seperti ini. Aku pikir, aku sudah berdamai dengan lara hatiku, nyatanya itu masih tertinggal. Rasa luka yang masih membekas. Lalu apa-apaan itu? Kenapa Yudha bisa tersenyum sangat manis saat berjabat tangan dengan Amamiya-san? Menyebalkan! Apa dia lupa apa yang sudah diperbuat oleh si ulat genit itu pada kehidupan rumah tangga kita? Jangan bilang kalau hatinya Yudha itu terlalu baik? Sial, suamiku itu memang manusia yang paling baik sejagad!" Batin Melody kesal.
"Selamat atas ulang tahun pernikahannya, Yudh, Melody-san." Kata Sai.
"Selamat atas ulang tahun pernikahannya juga, Yudha-kun, Melody-san." Sambung Yura.
"Iya terima kasih." Kata Yudha.
Melody hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.
Sebenarnya mereka tahu jika ada kecanggungan di tengah-tengah mereka. Namun, semua berusaha menekan rasa itu. Bagaimanapun mereka terikat dalam ikatan persahabatan yang sudah lama terjalin. Meski pernah terlibat dalam perselisihan yang tak sederhana, tapi memilih untuk berdamai dengan luka itu adalah pilihan yang bijak.
Namun beda dengan Melody, wanita hamil ini saat ini sedang merasa insecure terhadap Yura. Ia takut akan kehilang Yudha. Padahal ia pernah meyakinkan diri jika kematian Yudha jauh menakutkan daripada selingkuh, tapi saat melihat kehadiran Yura saat ini, takutnya malah menjadi-jadi. Itu sangat tidak nyaman.
Melody akhirnya meraih tangan Yudha. "Yudha.." Panggil Melody.
Yudha menunduk di samping Melody. "Apa apa?" Tanyanya.
"Perutku sakit." Jawab Melody pelan.
Yudha yang khawatir langsung menyentuh perut Melody. "Sakit di sebelah mana, Mel? Kau ingin air hangat?" Tanya Yudha.
Melody menuntun tangan Yudha menuju rasa 'sakit' yang ia maksud. "Di sini.."
Nao, Neil, Ayumi, Sai, dan Yura hanya diam saja melihat dua pasangan ini. Mau menyela, tapi tidak tahu harus mengeluarkan kata apa.
Hanya Ayane yang cukup paham dengan apa yang sedang terjadi. "Yudha-sama, Nona Melody sudah waktunya istirahat. Seorang wanita hamil akan mudah lelah."
Yudha menatap Melody. "Kau sudah lelah?"
Melody mengangguk. "Uhum."
"Sebaiknya kau antar istrimu untuk istirahat, Yudh!" Kata Neil.
"Kakak benar, Melody-chan nampak lelah. Wajahnya cukup pucat." Timpal Ayumi.
"Kalau kau sibuk mau menyapa tamu, aku mau kok mengantar Melody-chan." Kata Nao dengan cengiran manis khas miliknya.
"Cih apaan kau ini, Nao? Aku sendiri yang akan mengantarkan Melody untuk istirahat. Kalian nikmati pestanya! Kata Yudha kesal.
"Cemburu."
"Pangeran cemburu."
"Suami cemburu."
Yudha semakin kesal. Sahabat-sahabatnya itu paling pintar membuatnya emosi. Memang ada yang salah jika ia cemburu?
"Ayo, Mel!" Yudha meminta Melody untuk bangun dari duduknya.
"Nona, ayo kembali ke kamar hotel!" Kata Ayane.
Setelah berpamitan, mereka pergi ke kamar hotel yang sudah di sewa untuk istirahat. Dalam pintu keluar aula hotel, Yudha membopong Melody ala bridal style. Nao dan yang lain hany tersenyum-senyum sendiri melihat kedekatan Yudha dan Melody.
"Wuiihh.. Apa itu sungguh Yudha teman kita yang katanya kaku itu?" Tanya Nao. "Dia bisa seperti itu juga rupanya." Lanjutnya.
"Cinta yang membuatnya seperti itu, Nao-kun." Kata Ayumi.
"Kudengar, kehamilan Melody-san sudah enam bulan, jalan tujuh bulan, kalau dihitung mundur, sepertinya setelah dari Okinawa, mereka melakukan hubungan intim. Syukurlah, aku tak harus mencari obat perangsang mujarab lagi untuk membuat mereka bersama." Kata Neil.
Ya, obat itu adalah Neil yang mencari dan membelinya. Ide memang dari Nao, tapi pemarkasanya adalah kakek Wijaya. Tentunya dengan mengancam bocah-bocah ini juga.
"Kau tak apa? Kau ingin minum?" Tanya Say. Ia menoleh ke arah Yura yang sedari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Aku belum haus." Jawab Yura. Meski ia menjawab seperti itu, tapi kedua matanya masih memandang jauh Yudha dan Melody.
Sai sadar itu. Ia pun meraih tangan Yura dan menggenggamnya erat. Ia sekilas tersenyum.
Yura membalas senyuman dari Sai itu.
"Hei, kakak ipar, kau iri ya sama kedekatan Yudha dan Melody? Sudah menghilang di balik pintu itu juga, kenapa masih dilihati?" Tanya Nao.
"Mbak Ayane semakin lama, semakin sexy saja ya?" Kata Neil.
"Heh?"
.
.
.
Di kamar hotel.
Yudh menurunkan Melody di ranjang hotel secara perlahan. Ia lalu melepas flat shoose yang Melody pakai. Ia memijatnya perlahan. Sedikit bengkak kaki istrinya itu.
"Tunggu sebentar ya, Ayane akan segera kembali dengan minuman hangat." Kata Yudha.
"Terima kasih sudah memijat kakiku." Kata Melody.
Yudha mengelus pucuk kepala Melody.
Tanpa Yudha duga, tiba-tiba Melodu meraih kerah baju Yudha dan mencium bibir Yudha. Yudha hanya bisa melebarkan kedua matanya karena kaget yang tak terkira.
Sangat jarang Melody berinisiatif mencium duluan. Ini adalah moment langka!
Hebatnya lagi, Melody berani bermain lidah dengannya.
Semua Melody yang memimpin. Yudha hanya pasrah saja. Toh, ia tak masalah dengan semua ini.
Yudha tak suka didominasi, sudah cukup Melody liar kepadanya. Akhirnya, Yudha memberanikan diri untuk menyentuh daerah sekitar Melody.
Melody mendelik dan melepaskan ciumannya. "KITA HANYA CIUMAN, KENAPA KAU MENGRAYANGIKU, HAH?" Kesal Melody.
"Lha memang ada yang salah dengan ini? Ciumannya terlalu panas, Mel. Aku tak tahan untuk menyentuhmu."
Melody mencoba menyingkirkan tangan Yudha dari dadanya. "Lepasin!"
"Tidak mau."
"Yudha, lepasin!"
"Kau yang memancing hasratku, Mel!"
"Aku hanya menciummu! Aku tidak memancing hasratmu!"
"Dengan kau menciumku seperti itu, hasratku langsung membuncah. Sekarang tanggung jawab!" Yudha menatap Melody.
"Jangan bercanda, Yudh! Kita sedang di acara pesta."
"..." Yudha masih menatap Melody.
"Kau serius?"
Yudha mengangguk. "Sudah lama aku menahannya, Mel."
Setelah mengalami pendarahan ringan, Melody dan Yudha memang membatasi hubungan intim. Sebenarnya tak masalah melakukannya asal hati-hati, tapi Yudha tak mau ambil resiko. Ia tahu diri jika dirinya itu bisa sangat menggila karena melihat tubuh Melody.
__ADS_1
Meski jujur saja, menahannya cukup lama rasanya sangat menderita.
"Tapi kau ditunggu Nao dan yang lain, Yudh." Kata Melody mencoba menolak sekali lagi.
Alasan Melody memang masuk akal. Pesta juga masih berlangsung. Sedang dirinya dan Melody adalah bintang utamanya.
"Aku akan melakukannya sekali saja." Kata Yudha.
"..."
"Lima belas menit, ah tidak, sepuluh menit, aku janji akan menyelesaikannya dalam sepuluh menit!"
"Janji?"
"Iya, janji."
"Ya-ya sudah, a-ayo kita lakukan!" Kata Melody gugup.
"Kenapa kau gugup seperti itu? Ini bukan yang pertama, Mel."
Melody memerah. "Ap-apa-apaan sih?"
Yudha tersenyum. "Kawaii."
Dan mereka sungguh melakukannya. Melakukan hubungan yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Tak perduli dengan Ayane yang sebentar lagi akan masuk ke dalam kamar, tak peduli dengan sahabat dan tamu undangan, tak peduli dengan pesta, yang penting hasrat tersalurkan dulu.
Yaelah, nafsu memang selalu menang.
"Yudha, kau milikku!" Kata Melody.
Yudha tersenyum. "Meski kau tak berpura-pura sakit perutpun, aku akan selalu menjadi milikmu, Mel."
Ternyata Yudha tahu jika dirinya sedang pura-pura sakit untuk menghindari rasa canggung dengan Yura. Meski sudah tahu seperti itu, lalu kenapa ia bisa berakhir bercumbu seperti ini?
Melody menyadari kebodohannya. "Yudha, apa ini jebakkanmu?"
"Menurutmu?"
"Yudha sialan, kau memanfaatkan keadaan!"
"Aku hanya ingin tahu seberapa besar keinginanmu terhadapku, Mel."
"Cih kau ini.."
"Kau sangat manis, Mel. Mukamu memerah, nafasmu terengah-engah dan hangat. Kau membuatku menggila. Boleh nambah waktu tidak?"
Melody merah padam. "Tidak boleh!"
Yudha sedikit kecewa. "Ya sudahlah.."
"Kecewa sih kecewa, tapi pelan-pelan! Sakit, bodoh!"
"Mana bisa aku menyelesaikannya dalam sepuluh menit kalau pelan-pelan, Mel! Diamlah dan nikmati saja!" Yudha membekap mulut Melody.
"Suamiku kalau urusan seperti ini, tidak bisa dipercaya!" Batin Melody ngenes.
.
.
.
Di luar kamar hotel.
__ADS_1
"Wajahku kembali memerah." Gumam Ayane mematung sambil memengan segelas air hangat.