MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kazehaya Alvin


__ADS_3

Rapat tentang promosi pusat pembelanjaan modern di kawasan Akihabara baru saja selesai. Rapat berjalan cukup pelik. Namun dapat selesai dengan baik. Kesepakatan juga sudah disetujui.


Uchiyama Azuma, pemilik Uchiyama Corp melanjutkan pembicaraan lebih lanjut dengan kakek Wijaya di ruangan kakek Wijaya setelah rapat usai. Para staff lain juga mulai keluar dari ruangan rapat itu. Meninggalkan Yudha dan Yura berdua.


Yudha membenahi beberapa data yang ada di laptopnya. Dari beberapa data hasil rapat tadi ada data yang perlu ia tinjau kembali.


Sementara itu, Yura mengamati Yudha yang tengah kelihat sibuk itu.


Yura menatap Yudha cukup lama. Yudha sangat fokus akan laptopnya seperti melupakan kehadirannya di ruangan rapat itu.


Sejak awal masuk ruangan, yang Yudha ucapkan hanyalah saapaan ringan yang normal layaknya orang menyapa. Sopan dan wajar. Ya, memang apa yang ia harapkan? Ini kantor, ini soal kerjaan, ini adalah sikap profesionalitas semata.


Laki-laki yang dulu selalu mengikutinya, selalu ada untuknya kini teleh menjauhinya. Meski terakhir kali Yudha masih menunjukkan rasa khawatirnya, tapi sekarang memang sudah berbeda. Yura bahkan benci mengakuinya.


Kenapa Yudha bisa menjauhinya?


Yura tidak pernah menyangka jika tolakkan ajakkan menikah Yudha akan membawanya ke dalam situasi yang rumit seperti ini. Yudha berubah banyak terhadapnya.


"Sepertinya kau sibuk sekali? Ingin ku bantu?" Tanya Yura. Ia tidak ingin seperti ini terus.


Yudha menoleh. "Rapat sudah usai, kau tidak ada jadwal lagi?"


Di mata Yudha, Yura memang selalu nampak cantik. Ia tahu itu, tapi ia menyukai Yura yang polos tanpa make up seperti saat SMP dulu.


"Aku minta cuti hari ini. Aku ingin ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanku."


"Kau sakit?" Nada khawatir Yudha terdengar.


Yura tersenyum dalam hati.


Yura tahu jika Yudha memang masih menghawatirkannya. Itu artinya Yudha masih peduli.


"Setelah pulang dari Okinawa, aku jadi mudah sakit. Mungkin karena kelelahan. Jadwalku juga lumayan padat per harinya."


"Sebaiknya kau harus menjaga kesehatanmu. Sebentar lagi syuting iklan promosi."


"Iya, iya. Aku pasti akan sehat saat hari itu tiba. Permintaan Yudha mana bisa aku tolak, kan?" Yura tersenyum manis. Meneduhkan.


Senyuman Yura masih sama. Yudha tidak melupakannya.


"Kau pernah menolak permintaanku dulu." Batin Yudha.

__ADS_1


Jika ingat hari itu, rasanya ada yang mendidih di hatinya.


"Terima kasih sudah bersikap profesional demi iklan ini." Tandas Yudha.


"Sama-sama. Aku akan bekerja lebih keras lagi agar tak mengecewakan perusahaan. Gambarimashou!"


Setelah Yudha menyelesaikan pemeriksaan data rapat di laptopnya, ia berakhir dengan makan siang bersama dengan Yura di kantin kantor.


Selama berada di kantor, terdengar bisik-bisik tetangga yang mengatakan jika Yudha jauh lebih cocok dengan Yura. Yura jauh lebih cantik dari Melody. Yura itu memiliki segalanya, pintar, seorang model, dan lebih dari itu, Yura adalah putri tungggal pemilik Hotel Amamiya yang terkenal di Asia.


Yura hanya tersenyum senang di dalam hatinya. Ia yakin Yudha juga mendengarnya. Yura tidak tahu apa yang Yudha fikirkan saat itu, tapi yang jelas Yudha menyuruh para penggosip itu untuk fokus dengan pekerjaannya.


"Jika urusan menyembunyikan sesuatu, kau memang ahlinya, Yudha-kun."


.


.


.


Melody Cinta.


.


.


.


Ya.


Setelah berhasil dikenalkan ke publik sebagai cucu pertama keluarga Kazehaya, Alvin diminta langsung oleh sang kakek untuk tinggal di mansion Kazehaya. Dia bahkan kini menyandang nama Kazehaya sebagai marganya.


Kazehaya Alvin.


Jujur saja, Alvin merasa sangat senang karena akhirnya seteah sekian lama menunggu, penantiannyapun terbalas manis. Kakeknya mengakuinya sebagai cucu. Bukan masalah marga Kazehaya yang ia inginkan, hanya pengakuan saja sudah lebih dari harapan Alvin. Itu sangat cukup. Ia bahagia dan bersyukur karena itu.


Tidak tinggal di kediaman Kazehaya juga tidak masalah. Sekali lagi, pengakuan jauh lebih penting dari semuanya.


Meski Alvin tidak tahu apa sang kakek tulus atau tidak akan pengangkatannya sebagai bagian dari keluarga Kazehaya, tapi setidaknya sang kakek mau berbicara lebih lama dari biasanya itu sudah membuatsanya sangat bahagia.


Alvin bukan pihak yang perlu disalahkan atas masa lalu antara kakek Wijaya, Yoga, Kurenai, dan Mikan. Alvin hanyalah korban dari masa lalu itu dan mungkin juga Yudha. Mereka berdua harus menanggung banyak hal. Padahal Alvin dan Yudha sangat dekat, mereka bersikap seperti layaknya saudara sedarah dari ayah Yoga tanpa merasa jika ibu mereka memiliki hubungan yang kurang baik.

__ADS_1


Ini bukan berarti mereka berdua tidak peduli dengan masalah masing-masing dari ibu mereka, mereka hanya ingin kebahagiaan bersama dan hidup tentram. Salahkah jika sebagai seorang anak meminta hal sepele seperti itu?


Itu memang sepele, tapi prosesnya tidak akan sesepele itu.


Dan bagi kedua ibu mereka, takaran sepele ala Alvin dan Yudha tidaklah sama.


.


.


.


Mikan menghampiri Alvin dengan membawa makanan ringan buatannya dan jus jeruk. Ia tersenyum melihat 'anaknya' itu. Terlihat serius, sangat mirip dengan Yoga, ayah Alvin dan mendiang suaminya.


Melihat sikap dan sifat Yoga menurun pada Alvin dan Yudha membuatnya seakan bernostalgia. Ia memang memiliki masalah dengan Kurenai, tapi ia sangat menyayangi Alvin layaknya anaknya sendiri. Ia bahagia saat mendengar mertuanya, kakek Wijaya bersedia mengakui keberadaan Alvin. Hatinya menjadi sangat lega. Rasanya seperti separuh dari Yoga kembali ke mansion ini, mansion Kazehaya.


"Ibu Mikan, kenapa repot-repot?" Alvin menghentikan acara ketik mengetiknya.


Mikan tersenyum. "Melakukan hal wajar kepada anaknya seperti ini bukan hal yang merepotkan, Alvin-kun."


Alvin senang. Mikan adalah sosok ibu yang sangat baik. Ia memang tak ingin mendukung keputusan sang ibu untuk balas dendam, tapi ia ingin menyelamatkan Melody dengan meminta bantuan sang ibu. Ia merasa jika saat ini, hal seperti itu tidak mungkin bisa ia lakukan sendiri. "Arigataou gozaimasu, Ibu Mikan."


"Ibu sangat senang akhirnya ibu bisa menyandingmu di rumah ini. Alvin-kun masih menyukai pie apel kan? Ibu sudah beberapa kali mencoba resep baru, akhirnya ibu bisa mendapatkan rasa yang sempurna. Cobalah!" Mikan mencoba menyuapi Alvin. "Buka mulutmu! Aaaa..."


"Ibu, aku sudah dewasa!" Wajah Alvin merona.


"Aiishh, kau mirip sekali dengan Yudha. Kasihani Ibu, Ibu mencurahkan kasih sayang ke dalam pie apel ini!" Mikan cemburut.


Mikan memang sangat berbeda dengan ibunya. Mikan jauh lebih ekspresif. Ia hanya menghela nafas. Ia akhirnya membuka mulut dan menikmati pie apel buatan Mikan.


"Oishii.."


Oishii: Enak.


"Tuhh kan enak. Syukurlah." Mikan terlihat sangat senang.


"Ibu.."


"Hm?"


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


"Maaf ibu, aku juga sangat menyayangimu. Aku tahu apa yang akan aku lakukan nanti adalah hal yang tidak benar, tapi ini perlu aku lakukan demi Melody. Maaf, maafkan aku ibu! Untuk kali ini, aku tidak bisa menyerah soal Melody."


__ADS_2