
Jam lima sore, Yudha dan Melody sampai di Taman Sankaien.
Sankeien ialah sebuah taman bergaya Jepang tradisional dan memiliki rancangan yang khas. Bagi orang yang ingin mendapati taman yang memiliki bangunan bergaya tradisional khas tak ada salahnya untuk berkunjung ke Yokohama Sankeien ini. Disini banyak bangunan bersejarah yang serupa dengan bangunan-bangunan lainnya di kota-kota seperti Kyoto.
Taman ini baru dibuka ke publik pada tahun 1958, dimana dulunya merupakan taman pribadi dari keluarga pembesar kala itu. Layaknya kerajaan-kerajaan lainnya, penguasa Sankeien ini juga membuat taman sendiri untuk dinikmati keluarganya sendiri.
Wajar saja karena memang mereka membutuhkan eksklusifitas dan pembeda dengan masyarakat pada umumnya. Daya tarik taman ini ialah banyaknya bunga-bungaan yang indah dan sayang untuk dilewatkan
Selain menikmati segala keindahan yang ada, pengunjung juga dapat menikmari keseruan minum teh ala Jepang yang dibuat oleh koki teh terbaik.
.
.
.
“Huwaaa. Pohonnya sudah menguning. Beberapa tinggal cabangnya saja.” Kata Melody sesaat setelah keluar dari mobil.
“Jika kita datang di musim semi atau panas akan lain cerita.”
“Tapi momoji juga indah, aku menyukainya.”
Momoji: Menguningnya dedauan pas musim gugur.
Yudha mengeluarkan bawaan mereka, seperti koper berisi pakaian. Mereka berdua memang berencana menginap. Bahkan Yudha sudah memesan kamar jauh-jauh hari.
Setelah kuliahnya usai, mendapat predikat terbaik dan cumlaude, sang kakek memberikan hadiah liburan untuknya dengan Melody. Ia memilih Yokohama. Alasannya karena tidak terlalu jauh dari Tokyo dan tentunya tidak rame.
Yokohama adalah kota yang jauh lebih besar dari Tokyo, harusnya sangat ramai, tapi ada sisi pegunungan yang masih alami, sama seperti Kyoto. Jalanan menuju destinasi juga tak terlalu ramai, ia bisa mengajari Melody naik mobil. Seperti tadi siang contohnya.
Rupanya, Melody cepat belajar juga.
“Punggungmu masih sakit?” Tanya Melody.
Ia meras bersalah karena menampar punggung Yudha dengan sangat sangat kerasnya. Cewek itu sangat sensitive dengan berat badan. Harusnya Yudha paham!
“Jangan-jangan kau sungguhan laki-laki, Melody? Pukulanmu itu sakit sekali.”
“Yang benar saja! Jika aku laki-laki, kau pasti menyadarinya saat kita..." 😖
"🙄"
"Arrgghh, berhenti bercanda, Yudha!” Melody melenggang meninggalkan Yudha menuju ke penginapan.
"Kau yang mulai, kenapa kau yang kesal? Dasar aneh." Gumam Yudha.
__ADS_1
Penginapan khas tradisonal Jepang perdesaan ada di hadapan mata. Artistik dan indah. Penginapan bergaya jepang kuno memang yang terbaik!
.
.
.
Setelah berberes, mereka berdua langsung mandi untuk menghilangkan bau badan dan keringat. Lalu menikmati jamuan makan malam spesial khas tradisional Jepan tempo dulu. Mereka juga menikmati minum teh hijau yang terkenal itu.
Malam semakin larut, pukul 08.23 malam, mereka berdua duduk di luar penginapan dengan api unggun yang menyala hangat.
Jamuan khusus permintaan tamu, Melody ingin sekali menikmati ketela bakar. Melody bahkan membawa banyak marsmellow. Kata orang, marsmellow bakar itu sangat enak. Melody ingin sekali mencobanya.
“Oisshiii. Chou oishiiii. Enak sekali. Ne Yudha, haruskah kita melakukannya di rumah kapan-kapan? Aku ingin melihat kakek terpesona dengan kelezatan ketela bakar!”
“Boleh juga.”
Tiba-tiba ekspresi alay sang kakek saat terpesona menikmati ketela bakar muncul di angan Yudha. Ya, walau itu tidak mungkin.
Oisshii: Enak.
Chou oishii: Enak sekali.
Mereka berdua menikmati ketela bakar. Rasa manis alami dari ketela sangat enak. Bau arang dan sedikit gosong menambah cita rasa tersendiri. Makanan tradisional itu unik dan tak terlupakan. Apalagi dimakan dengan penuh kehangatan seperti ini. Seperti mengukir kenangan saja.
Bukan, lebih dibilang tak ada waktu untuk melakukan hal seperti ini.
“Kau sudah tahu kan soal aku dan Alvin?” Tanya Yudha.
"..." Melody hanya mengangguk. Apa Yudha memang serius ingin mengajaknya bicara?
“Aku tidak begitu paham bagaimana hubungan ibu dengan ibu Kurenai, yang jelas saat aku mengetahui Alvin adalah saudaraku, aku merasa sangat senang. Hanya saja, kakek enggan mengakuinya. Kazehaya itu memang selalu egois ya..”
“...” Sangat egois. Pikir Melody. Kalau tidak ia tidak akan menjadi mantu keluarga Kazehaya. Intinya seenaknya saja.
“Aku setuju menikahimu karena kakek bersedia mengakui Alvin sebagai darah Kazehaya. Apa kau marah karena kenyataan ini?”
Jujur Yudha. Ia sudah sangat siap dengan kemarahan Melody.
Wajah Melody terlihat serius. Ia mengamati marsmellow bakarnya yang terpanggang api unggun di depannya. Ia membolak-baliknya dengan gerakan memutar kesana-kemari.
Jadi intinya dirinya itu 'barang' taruhan permainan antara Yudha dengan kakek Wijaya?
“Aku tak punya hak untuk itu, Yudha. Aku menerima lamaran kakekmu karena uang 100 juta itu. Kau tau sendiri, kan? Masalah ekonomi menjerat keluargaku saat itu. Aku tak ingin bohong soal ini. Lagian, ini bermula karena pernikahan bisnis. Kita diuntungkan karena keinginan masing-masing.” Jawab Melody. Ia tersenyum miris.
__ADS_1
“Benar juga.” Yudha paham posisi Melody.
“Ne Yudha, kau tidak ingin membicarakan soal skandalmu di media? Kurasa akan bertambah buruk jika kau membiarkannya. Nama baikmu akan tercemar.” Melody ingin bahas ini.
“Jika kau percaya padaku, maka aku tak mempermasalahkannya.”
“Haiiishhh. Jangan kau anggap enteng masalah itu. Jika aku jadi Amamiya-san, aku akan meminta penjelasan! Dia artis loh. Sangat mudah mendapatkan sorotan publik.”
Melody hanya bisa merajut dalam hati. Walau sesungguhnya ia tak tahu apa yang Yudha dan Yura lakukan di belakangnya. Di Paris, foto pelukkan itu cukup mengganggu. Yudha tidak bilang jika saat di Paris ia akan bertemu dengan Yura.
Ia ingin tahu semua itu, tapi mulutnya enggan berucap. Ia tak bisa bertanya lebih.
“Kau menghawatirkannya?” Tanya Yudha.
“Tentu saja, aku saja kesulitan tidur karena memikirkannya. Aku yakin, dia juga merasakan hal yang sama. Bagaimana kalau dia sampai stress pikiran? Dia itu banyak kerjaan, Yudha. Bagaimana kalau ini menambah bebannya? Wanita juga memiliki perasaan.”
Melody terlalu menghawatirkan orang lain.
“Lalu bagaimana dengan kau sendiri? Kau juga wanita, kan? Sama seperti dirinya.”
Yudha menoleh ke Melody yang ada di sampingnya.
Melody mengangkat marsmellownya dari dalam api. Ia meniupnya pelan.
”Aaaa..” Melody menyodorkan marsmellow bakarnya pada Yudha.
Yudha terlihat tidak yakin akan manisnya marsmellow bakar itu, Melody terlihat mendelik untuk memaksa memakannya, iapun memakan marsmellow bakar itu sedikit.
“Manis.” Yudha mengerutkan keningnya tanda tak suka.
“Jangan dilepah, telan!”
Yudhapun menelannya. Ia sedikit kesulitan, tidak tahan dengan manisnya marsmellow itu.
Melody lalu memakan sisanya.
“Jawwabb, Mmel-Low-dhyhmm.”
Suara Yudha terdengar lucu saat berbicara sambil makan. Apa Yudha sedang tidak sabaran? Setidaknya telan dulu makanannya. Padahal cuma satu gigitan kecil, tapi terasa penuh di mulut Yudha.
Sebegitunya membenci rasa manis ya?
Melody menelan marsmellow bakarnya dengan susah payah. Rasanya begitu kering di tenggorokkan. Ia lalu meminum teh hangatnya untuk melegkan tenggorokannya.
“Kau menikahiku, kau membelikan ini itu padaku. Kau juga memberiku banyak uang. Aku untung banyak, kan? Apa yang aku harapkan dari pernikahan ini, Yudha? Kau sudah memberiku banyak hal. Apa yang bisa aku tuntut lebih darimu? Apa aku memiliki hak itu? Pertanyaan bodohnya, aku ini siapa bagimu? Aku hanyalah orang baru dalam hidupmu.”
__ADS_1
“Kau adalah istriku!”
Eh?