MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Menantu dan Mertuanya


__ADS_3

Dua hari kini sudah berlalu. Melody belum ditemukan. Yudha masih mencari Melody. Siang malam tanpa tidur. Ibu Mertaunya, Tsuchiya menangis setiap hari karena memikirkan Melody, anak semata wayangnya.


Yudha bersimpuh di hadapan sang ibu mertua untuk meminta maaf karena tidak biasa menjaga Melody.


Tsuchiya Hwang, sosok yang Yudha kenal sebagai ibu yang kuat hati bisa menangis seperti ini. Suara tangisan yang begitu menyayat telinga. Sama seperti ibunya, Mikan, menangis hebat ketika mendengar jika Melody diculik.


"Bangun, Yudha-menantuku!" Pinta Tsuchiya.


"..." Yudha hanya diam saja. Ia merasa tak enak pada sang mertua. Bukankah ia sudah berjanji akan selalu menjaga Melody? Namun apa ini? Ia kehilangan Melody! Padahal Melody ada di dekat jangkauan matanya, tapi ia tak bisa melindunginya dengan baik.


Mana mungkin kan saat ini ia bisa menghadapi dengan wajah tegaknya kepada mertuanya?


"Yudha, ibu paham posisimu saat ini. Itu pasti juga sulit buatmu. Bangunlah! Jangan seperti ini! Aku sudah memaafkanmu!" Kata Tsuchiya.


"Ibu, tapi Melody diculik karena kelalaianku, karena ketidak becusanku."


"Meski kau merasa seperti itu, lalu bisa apa kalau ibu menyalahkanmu atas hilangnya Melody? Tidak ada gunanya menyalahkanmu. Jika kau merasa sangat bersalah kepadaku atas hilangnya Melody, maka bangunlah dan cepat cari Melody! Temukan dia! Bukankah kau sangat mencintainya?" Tutur Tsuchiya.


Yudha melebarkan kedua matanya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap ibu mertuanya.


Mendengar kata-kata 'manis' dari ibu mertuanya seperti mendapatkan angin sejuk. Ini seperti penyemangat baru di dalam ketidak pastian yang ia rasakan. Ini seperti pekuat di saat diri berada di dekat dengan keputus asaan.


"Bangunlah!" Tsuchiya menyentuh bahu Yudha agar menantunya itu bangun dari bersimpuhnya.


Yudha pun menuruti permintaan sang ibu mertua.


"Lain kali jangan diam saja. Ibu ini ibumu juga. Jangan seperti waktu itu, merahasiakan kondisi Melody yang terkena tembakkan. Saat ini kau juga telat memberitahu penculikkan Melody. Jika ibumu tidak bercerita dan meminta maaf pada ibu, kau masih akan merahasiakannya?"


"..." Yudha tak berniat merahasiakannya. Ia hanya mencari waktu yang tepat agarrasa khawatir orang-orang berkurang.


"Dengar, Yudh! Membagi masalah itu bukan hal yang buruk, bukan hal yang salah, atau bukan juga mewakili diri yang tak becus menjaga orang-orang yang disayangi. Membagi masalah itu meringankan masalah. Apalagi soal dirimu dan Melody. Melody itu anak ibu dan kau pun juga. Meski kau dan ibu tidak memiliki ikatan darah, tapi ibu ini tetap mertuamu, dengan kata lain, ibu ini juga orang tuamu."


"..."

__ADS_1


"Ibu tetap berhak untuk tahu apa yang terjadi pada kalian berdua... Ibu tidak mau menjadi orang yang bodoh yang selalu saja menjadi orang terakhir diberitahu jika terjadi sesuatu. Tolong untuk ke depannya jangan buat ibu merasa seperti ini!"


"..." Mertuanya ini memang luar biasa. Jika ia ingat siapa ayah dari mertuanya, maka ini bukan hal mengagetkan. Ingat, ayah dari Tsuchiya adalah Hadinata, sahabat kakeknya. Melihat bagaimana sifat sang kakek, Yudha yakin jika sahabat kakeknya yang bernama Hadinata itu pastilah memiliki sifat tak jauh beda dengan kakeknya.


Setidaknya tegas dan bijak.


Yudha tak mengharapkan sufat licik kakeknya ada pada Hadinata.


Jika Hadinata tegas dan bijak, maka wajar saja jika ibu mertuanya, Tsuchiya juga seperti ini. Percayalah, ada rasa bangga memiliki mertua seperti ibunya Melody.


"Ibu tahu kau menghawatirkan banyak orang. Namun, ibu mertuamu ini juga menghawatirkanmu. Tinggalah di sini sebentar lagi, ibu ingin memasak sesuatu untukmu."


"Tapi Ibu, aku harus mencari Melody..." Tolak Yudha halus.


"Mencari Melody itu penting, tapi mengisi tenaga juga penting. Temani ibu makan! Tidak kau, tidak Melody, akhir-akhir ini tidak ada yang menemani ibu makan. Ibu ini kesepian!"


Yudha pun menuruti permintaan sang ibu mertua. Ia kini sedang duduk di meja makan di rumah ibu mertuanya. Ia menunggu ibu mertuanya memasak.


Hanya ada diam di sana. Tsuchiya fokus memasak dan Yudha duduk manus di tempat duduknya.


Suara menumbuk bumbu berpadu dengan suara ketika membuka wadah bumbunya. Suara saat menyalakan kompor gas. Minyak yang mendidih, suara bawang yang ditumis, gesekkan solet dengan wajan.


Aroma sedap tercium di seluruh penjuru dapur. Bumbu yang dimasukkan, mendidih dengan suara didihan yang khas. Itu pertanda masakan sudah matang.


Tsuchiya menaburi seledri sebagai sentuhan terakhir pada masakannya. Ia lalu menghidangkannya pada Yudha, menantunya.


"Nah, makanlah! Maaf sudah membuatmu lama menunggu." Kata Tsuchiya.


Miso ramen.


Masakan yang dibuat oleh Tsuchiya adalah miso ramen.


Miso merupakan bumbu khas Jepang bercita rasa gurih sedikit manis yang terbuat dari campuran fermentasi rebusan kedelai, beras dan garam yang dimasak hingga matang.

__ADS_1


Untuk membantu proses fermentasi, jamur kōji-kin kerap ditambahkan dalam bumbu miso. Selain digunakan sebagai bumbu kuah ramen, miso juga sering digunakan dalam berbagai jenis masakan jepang, seperti sukiyaki atau aneka sup lainnya.


Melihat hidangan menggoda di hadapannya, Yudha tak sabar ingin menikmatinya.


Yudha menakupkan kedua tanganya. Ia memejamkan matanya untuk berdoa. Ia lalu mengambil supit yang sudah di sediakan oleh ibu mertuanya.


"Arigato gozaimasu, Kaa-san. Itadakimasu!" Kata Yudha memulai mencicipi ramen miso buatan sang ibu mertua.


Rasa gurih dan manis menari-nari di lidahnya. Sangat lezat. Menggugah selera untuk memakan lagi dan lagi.


Perasaan hangat apa ini?


Tiba-tiba saja seperti dikelilingi oleh orang-orang yang dikasihinya.


Ah, Yudha ingat saat-saat seperti ini. Ini seperti waktu itu.


"Saat itu ibu membuatkanku miso ramen ketika masih berduka saat ayah meninggal. Rasanya tak jauh berdeda atau mungkin malah sama. Nyatanya rasa ini mengingatkanku pada masa itu. Rasa ramen miso ini memiliki kenangan tersendiri dalam hidupku. Kenangan yang mengingatkanku untuk terus semangat dan bangkit dari keterpurukkan. Lain kali aku harus mengajak Melody makan miso ramen seperti ini!" Batin Yudha.


Tsuchiya mengamati cara makan Yudha. Mungkin Yudha saat ini sedang tidak sadar. Yudha beberapa kali menyeka air matanya di delan Tsuchiya.


"Menantuku yang aku kira sangat kuat ternyata memiliki sisi rapuh seperti ini. Aku mendengar banyak kisah menyedihkan mengenai diri Yudha dari Mikan. Anak ini tumbuh berbeda dari anak lain. Ternyata kekayaan dan serba ada itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Yudha mengalami hidup yang rumit dan tidak mudah. Aku harap pernikahannya dengan Melody bisa menyelamatkannya dari kegelapan yang menyelimutinya... Melody, kau cepatlah pulang! Ibu kasihan melihat suamimu!" Batin Tsuchiya.


Tsuchiya memeriksa ponselnya. Ia membuka aplikasi kamera dan memoto Yudha yang sedang fokus makan. Ia kemudian mengirinkan foto itu pada ibunya Yudha, Mikan.


Mikan membalas pesan Tsuchiya dengan cepatnya. Ia mengucapkan terima kasih pada Tsuchiya karena sudah membuatkan makanan untuk Yudha sesuai dengan permintaannya. Pasalnya, Yudha tak hanya skip tidur, tapi juga tidak makan dengan benar. Sebagai sosok seorang ibu, tentulah ia sangat khawatir. Hari ini khawatirnya sedikit berkurang karena berhasil membuat Yudha makan atas bantuan besannya.


"Mikan aku mengerti perasaanmu. Seorang ibu seperti kita itu akan selalu menghawatirkan anak-anaknya. Apalagi sama-sama tanpa suami. Khawatirnya akan jauh lebih besar." Batin Tsuchiya lagi.


Tsuchiya lalu mengambil semangkuk ramen miso dan ikut gabung makan bersama Yudha.


Tsuchiya juga menangis ketika sesupit mie ramen masuk ke dalam mulutnya. Miso ramen juga makanan yang sangat disukai oleh Melody. Biasanya ia dan Melody akan makan ramen bersama ketika hujan turun dan suasana mendingin ketika salju menyapa Jepang.


"Melody, aku merindukanmu! Maaf aku makan enak sendirian bersama ibu tanpamu. Aku janji akan menjemputmu sesegera yang aku bisa. Sampai saat itu tiba, tolong tetap baik-baik saja. Jaga dirimu dan anak-anak kita!"

__ADS_1


Dua orang yang memiliki hubunga menantu dan mertuanya ini makan miso ramen bersama dalam diam.


__ADS_2