
Mikan menangis sejadinya. Ruang kamar Melody dipenuhi oleh tangisan pilu Mikan.
Melody dan Tsuchiya ikutan menangis. Tidak mengeluarkan suara seperti tangisan Mikan. Mereka hanya meneteskan air mata saja. Namun, meski begitu, mereka tahu betapa terlukanya hati Mikan saat ini.
Air mata itu dan suara tangisan itu terdengar begitu sangat menyayat hati.
Sangat sakit, sangat mengiris, sangat frustasi, sangat menderita, sangat terluka, sangat sesak, sangat sulit nafas, sangat mengguncang jiwa.
Tangisan penyesalan dan kesedihan yang mendalam.
Melody dan Tsuchiya mendekati Mikan. Mereka duduk di samping kanan dan kiri Mikan. Kemudian mereka memeluk Mikan dengan hangat agar Mikan merasa lebih baik.
"Ini bukan salah, Ibu." Kata Melody.
"Besanku, ini bukanlah salahmu. Matinya seseorang itu adalah takdir Tuhan. Entah kenapa, aku tidak percaya jika Orion-san benar-benar membunuh Yoga-san. Aku ingat betul bagaiman Orion-san mati-matian untuk melindungi nak Yudha. Ada kasih di dalam sorot matanya. Ada hasrat untuk melindungi di dalam dirinya." Kata Tsuchiya.
"Meski begitu, aku ini yang menyuruh orang sebaik Orion untuk membunuh kakaknya sendiri. Aku menyadari jika cinta itu memang buta dan Orion salah satu contoh nyatanya. Aku tak menyalahkan perasaannya terhadapku. Akulah yang membuatnya menjadi seperti itu. Akulah yang membuatnya menjadi monster yang pada akhirnya membunuh kak Yoga. Semua gara-gara aku." Kata Mikan.
'Semua gara-gara aku.'
Kata-kata itu yang selalu Mikan ucapkan berkali-kali. Ini pertama kalinya ia mengucapkan hal seperti ini di depan 'orang lain'. Biasanya ia memendamnya sendiri. Biasanya ia menikmati luka dari penyesalannya sendiri.
Memenjarakan diri dengan penyesalan selama lebih dari 15 tahun adalah hal yang sangat berat untuk dilalui. Ia bahkan pernah beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya. Namun selalu ia urungkan karena Yudha.
Yudha adalah alasan kuat ia bisa bertahan sampai detik ini. Yudha adalah alasannya untuk tetap hidup.
Yudha adalah segalanya dalam hidupnya. Ia rela melakukan apapun demi Yudha. Bahkan ia rela memakai topeng bahagia agar tidak membuat Yudha bersedih. Ia akan tertawa seperti orang gila agar Yudha tidak menghawatirkannya. Ia sebisa mungkin nampak bahagia agar Yudha tidak tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan.
"Ibu.. tenanglah!" Kata Melody.
Melody tidak menyuruh ibu mertuanya berhentu menangis. Kadang, dengan menangis seperti ini setelahnya justru akan merasa lebih baik.
Alasan Yudha menyuruhnya untuk tak membahas soal masa lalu dengan ibu mertuanya itu memang masuk akal. Sebagai anak, Yudha pasti tak akan sanggup melihat ibunya yang menderita seperti ini.
"Aku kehilangan ayahku karena dia sakit, Yudha kehilangan ayahnya karena kecelakaan, karena dibunuh. Lingkar karma dalam masa lalu Yudha dan keluarganya sangat pekat. Belum terselesaikan, belum terbayarkan. Tuhan, aku tak akan menyalahkan takdir yang berat ini. Namun aku memohon agar semua terselesaikan dengan akhir yang bahagia. 15 tahun itu waktu yang sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan hukuman dalam penderitaan, kan? ... Jika memang keluarga Kazehaya ini masih harus menjalani hukuman, maka kehadiranku di sini akan aku upayakan sebagai kebahagiaan. Meski seperti cahaya yang sangat kecil, tapi aku akan mendukung agar ada kebahagiaan dalam keluarga ini... Yudha sayang, aku tak mengerti kadar kebahagiaanmu itu seberapa, tapi percayalah, aku ingin tersenyum bersamamu. Aku ingin menjalani hariku dan menghabiskannya dengan sambil menggandeng tanganmu. Jika kau dengar saat ini, tolong pulanglah! Aku di sini menunggumu." Batin Melody.
.
.
.
FLASHBACK ON
Mikan kembali menceritakan soal masa lalu. Pagi harinya, Yoga kembali ke rumah dalam keadaan sudah tak bernyawa. Sebuah ambulan putih dan 4 orang dari pihak rumah sakit mengantar kepulangan jenazahnya.
Tubuhnya melemas tak berdaya ketika ia membuka kain putih yang menutupi wajah Yoga.
Wajah Yoga sudah memucat. Luka dan darah segar masih nampak. Tubuhnya sedingin es yang mencair.
Mikan yang tak kuasa akhirnya pingsan.
__ADS_1
Menangis sejadinya, menangis sebisanya, sampai serak, sampai terbatuk-batuk, sampai tak bisa bersuara. Lalu kembali pingsan. Sadar pingsan lagi, sadar pingsan lagi.
Berharap semua itu khayalan.
Berharap semua itu adalah mimpi.
Namun, semua harapannya sia-sia. Nyatanya kini ia dan bersama keluarga besarnya sudah berdiri di kuburan untuk menyaksikan pemakaman Yoga.
Ia semakin mengeraskan tangisannya ketika tanah perlahan-lahan menutupi wajah Yoga. Menutupi hingga terkubur semuanya.
Ia terjatuh, merosot tak kuasa menahan beban tubuhnya. Semua yang menghadiri pemakaman Yoga menangis. Dirinya hanyalah salah satu di antara mereka yang berduka.
Ia memeluk kuburan Yoga. Mencengkram tanah kuburan yang masih basah. Ia masih menangis dengan mata bengkaknya. Tak peduli dengan tampang jeleknya saat ini yang tanpa tertutupi kaca mata hitam. Ia hanya ingin berbagi waktu dengan Yoga selama yang ia bisa, selama yang ia mampu.
Bunga-bunga indah nan warna warni, bertabur menghiasi makam Yoga. Ketika sebuah nisan ditancapkan di sana, di sanalah akhir dari harapannya. Kazehaya Yoga sudah meninggal dan diistirahatkan di tempat yang damai, di dalam pangkuan Tuhan Yang Maha Esa.
Pandangannya menggelap. Semua menjadi tak terlihat. Darah di dalam tubuhnya seolah menghilang, tubuhnya mendingin, melemas, dan tak kuasa menahan beban tubuhnya. Samar-samar ia bisa mendengar orang-orang meneriaki namanya. Namun menghilang secara perlahan.
Mikan kembali tak sadarkan diri untuk yang kesekian kalinya.
.
.
.
Ketika Mikan membuka kedua matanya, dalam beberapa saat ia menyadari jika saat ini sedang berada di dalam kamar. Kamar yang ia ketahui sebagai kamarnya dengan Yoga.
"Ibu..." Suara anak kecil terdengar di telinganya.
"Yudha..." Gumam Mikan lemah.
Yudha langsung menghambur ke pelukkannya. Tak masalah tubuhnya sakit karena tiba-tiba Yudha menimpa tubuh atasnya. Ia sadar, ia sudah melupakan Yudha seharian ini. Karena terlalu sering pingsan, ia sampai tidak tahu Yudha diurus oleh siapa. Apa Yudha juga menangis seharian seperti dirinya? Apa Yudha juga ikutan pingsan?
Pertanyaan mendasar yang harus ia tanyakan sebagai seorang ibu, apa Yudha sudah makan? Apa Yudha sudah mandi?
"Ibu jangan bersedih! Aku akan selalu bersama ibu dan tak akan pernah meninggalkan ibu seperti yang sudah ayah lakukan. Untuk itu, aku mohon, ibu jangan seperti ini! Ibu jangan menangis dan tak sadarkan diri lagi! ... Saat mata ibu terpejam dalam waktu yang lama, aku takut ibu juga akan meninggalkanku sama seperti ayah." Kata Yudha.
Mikan tak kuasa menahan tangisannya. Ini bukan hanya karena kepergian Yoga. Namun juga penuturan manis yang keluar dari bibir tipis kemerahan anaknya. Pemikiran Yudha itu memang tak sesuai dengan usianya. Yudha bisa menjadi sangat dewasa dan pengertian.
Sepertinya Mikan harus mengakui jika Yudha jauh lebih kuat dibandingkan dengannya ketika menghadapi cobaan dari Tuhan ini.
Anaknya sungguh luar biasa.
Dalam seiring berjalannya waktu, kehilangan akan kepergian orang yang dicintai pun akan berlalu. Semua memang akan sulit pada awalnya, tapi ketika detik berganti, menit berganti, atau pun hari berganti, semua akan membaik.
Waktu pun secara perlahan bisa menyembuhkan luka.
Mikan berpikir untuk menyudahi kesedihannya yang menyakitkan itu. Ia tak mau berlarut-latut dirundung pilu. Ia sadar, hidup akan terus berlanjut. Ia tak boleh terjebak dalam masa lalu yang menjerat kakinya. Ia memiliki Yudha yang harus ia urus. Ia memiliki Yudha yang harus ia berikan kasih sayang.
Yudha adalah tujuannya saat ini. Yudha adalah masa depannya.
__ADS_1
Yudha pula adalah 'peninggalan' Yoga satu-satunya yang paling berharga di antara semua peninggalan darinya.
"Aku akan berjuang demi Yudha. Hidupku saat ini hanya untuk kebahagiaan Yudha... Yoga-san, apakah yang dikatakan Kurenai itu benar? Kau mencurangi diriku demi untuk bersamanya? Aku tak ingin mempercayainya, tapi kata-kata wanita itu mempengaruhi cara pandangku untuk melihatmu. Aku tak lagi memandangmu dengan cara yang sama seperti dulu. Kau tahu? Aku merasa jika aku mencintaimu dan membencimu dalam waktu yang sama... Kurenai dan Alvin tidak ikut mati bersamamu, jadi hidupmu di sana tidak akan tenang dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Teruslah bersujud pada Tuhan untuk meminta pengampunan dari-Nya! Sementara biarkan kami di sini memotong karma buruk yang terjadi di keluarga ini... Eventhough i said like that, but actually i do miss you, Kak Yoga. I miss you so much..."
FLASHBACK OFF
.
.
.
Tiga wanita ini saling hapus air mata. Semua kisah masa laku yang terjadi banyak menguras tangisan. Meski terselip kisah manis di antaranya, namun kepedihan panjang yang harus ditanggung sampai detik ini sungguh sangat berat. Sangat menyakitkan ketika sedikit saja teringat akan kisah masa lalu itu.
Seperti ada duri di dalam daging. Menusuk semaunya dan menyakiti tanpa diminta.
"Entah apa yang aku pikirkan. Namun, aku tak tahu mengapa, aku ingin mempercayai ayah mertua. Aku ingin percaya jika apa yang ia ucapkan kepada ibu adalah kebenaran. Aku ingin percaya jika ayah mertua tidak berbohong dan mencurangi ibu. Aku ingin percaya jika ibunya kak Alvin yang berkata dusta." Kata Melody.
"Melody benar, ini bukan hanya masalah bagaimana kita berpendapat setelah mendengar penjelasan dari kisah yang baru kau ceritakan, Mikan-san. Namun ini pandangan kami soal bagaimana kami mengikuti kata hati kami. Mendiang Yoga-san di mataku itu adalah sosok yang luar biasa. Ia hanyalah manusia biasa yang mencoba menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang ia bisa. Dengan kemampuan yang ia mampu. Dia memikirkan banyak hal, memikirkan cara terbaik untuk tidak melukaimu, Yudha, Alvin, bahkan Kurenai-san. Itu sudah cukup untuk membuktikan betapa baiknya diri seorang Kazehaya Yoga. Tak mudah terjebak di dalam kisah dua wanita dan dua orang anak dalam satu waktu. Itu pastilah sangat berat, terutama untuk bersikap adil." Sambung Tsuchiya.
"Aku menanamkan dalam-dalam pemikiran seperti yang kalian ucapkan. Aku pun ingin melakukan hal yang sama. Namun aku ini menjijikkan, di saat seperti ini pun aku masih saja kepikiran soal isi wasiat dari Kak Yoga. Harusnya aku tak boleh seperti ini. Namun, karena kata-kata Kurenai, ada sisi lainku yang ketakutan jika isi wasiat itu bukanlah untuk Yudha, tapi untuk Alvin dan Kurenai karena dia mungkin saja benar sedang mencurangiku... Kalian paham kan apa yang aku takutkan ini?" Kata Mikan.
Melody dan Tsuchiya mengangguk bersamaan. Dalam hati mereka juga pasti akan memiliki pemikiran yang sama. Ketika diberi janji manis, namun di akhir mendapatkan kata indikasi penghianatan, meski hati sekeras mungkin untuk percaya, namun pasti, pasti kepercayaan itu akan terkikis. Akan runtuh secara perlahan.
"Aku tak tahu jika ibunya kak Alvin seperti ular. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Yura-san. Aku memang harus berhati-hati dengan wanita ini. Aku tak memiliki dendam langsung terhadapnya, tapi akibat perkataannya ibu mertuaku harus menderita selama lebih dari 15 tahun. Ibu mertua sangat mencintai mendiang ayah mertua, tapi harus tertaguhkan karena perkataan ibunya kak Alvin, dan karena hal itu pula, kepribadian Yudha dan hidup Yudha menjadi terkena imbasnya. Aku harus menyelamatkan keluarga ini semampu yang aku bisa!" Batin Melody.
Semua kisah masa lalu dari versi Mikan sudah diceriakan. Panjangnya berasa satu judul novel selesai sampai tamat. Melelahkan, membosankan, dan membuat pusing kepala. Namun apa daya, memang inilah yang terjadi di masa lalu. Mikan mencoba menceritakan semampu yang bisa ia ingat.
Kisah masa lalu Mikan inilah yang akhirnya menjadikan Mikan menjadi sosok Mikan yang ada saat ini. Sosok yang bisa mengubah mukanya sesuka yang ia mau. Bukan berarti ia munafik. Ia hanya sedang memakai topeng untuk bertahan hidup. Terutama untuk menghadapi Yudha.
Meski hatinya yang terluka akibat terkoyak akan sakitnya luka masa lalu, tapi di depan Yudha, sebisa mungkin ia akan berusaha untuk tetap tersenyum bahagia.
Cinta kepada anaknyanya membuatnya seperti ini.
- Mikan tahu soal orang-orang yang mengincar Kurenai dan Alvin. Setidaknya Kurenai yang lebih tahu dengan lebih jelas.
- Yoga memang meninggalkan banyak hal untuk Mikan, termasuk harta benda sesuai dengan perjanjian yang ada. Namun, karena ucapan dari Kurenai yang bilang soal Yoga yang mencuranginya, maka ada ketakutan tersendiri jika dirinya akan dikhianati. Ini membuatnya ragu soal isi surat wasiat dari Yoga yang akan dibacakan pada ulang tahun Yudha pada bulan Juli nanti.
- Mikan menganggap kematin Yoga adalah kesalahannya. Ia juga menggap jika dirinyalah penyebab Orion menjadi sosok yang begitu jauh dengan keluarganya sendiri akibat dari insiden kematian Yoga.
- Orion menderita karena menyalahkan dirinya akibat kematian sang kakak, Yoga.
Banyak hal yang masih mengganjal di benaknya. Soal kebenaran apakah Yoga menghianatonya atau tidak. Soal Yoga yang mencuranginya atau tidak. Perkataan dari Kurenai sama sekali belum bisa terjawab sampai detik ini dan itu semua membuatnya menjadi sangat penasaran.
Ada satu hal yang bisa mengakhiri rasa penasarannya ini. Ada satu hal yang bisa menjawab rasa penasarannya ini.
Ya..
Itu adalah isi surat dari mendiang Yoga.
Isi surat yang hanya akan dibacakan ketika ulang tahunnya Yudha ke 23 nanti adalah kunci jawaban dari semua rasa penasarannya.
__ADS_1
Ini sudah April akhir, dalam tiga bulan semua harusnya akan segera terjawab.
Kazehaya Yoga, apakah ia menghianati Mikan atau tidak?