MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pasutri Gaje Pisah Alay


__ADS_3

Mungkin besok aku tidak update ya. Soalnya aku mau nambahi cerita di chapter-chapter awal yang pendek-pendek. Aku susah nambahi sekitar 60 chapater kemarin, nah aku mau selesein sekitar 30 chapter lagi. Biar agak imbang sama chapter-chapter 100 ke sini. Kalo mau baca ulang silahkan. Seru kok aku kasih momentnya yang lebih greget. 😂😂


Tapi maaf banget, banyak typo. Tentu saja aku sudah sangat berusaha meminimalisir, ya lagi, kemampuan mataku kan terbatas. Minus -5 ma -13, silindris lagi 😎😎 Suka pusing banget akhir-akhir ini buat lama-lama main HP. Keknya minta ganti kaca mata, tapi lagi, efek corona serem banget. Kabupatenku sudah lebih dari 50 orang, bagaimana dengan tempat kalian?


Semoga kalian baik-baik saja. Semoga Tuhan lindungi kalian semua. Aamiin. I pray for your best guys! 😇😇


Awas, jangan pelit jempol! Karna itu gratis! Dapat pahala lagi karena bikin aku seneng. 😉😉


Fighting!


________________________________________


Hari berikutnya.


Setelah kemarin sore sibuk melayani Yudha sebagai kodratnya seorang istri, seharian ini Melody masih saja nempel pada Yudha. Padahal sebenarnya Yudha memiliki kerjaan yang harus ia urus, terutama kejanggalan mengenai proyek Emperor Group yang ditangani oleh Tuan Kang dan Tuan Park. Namun Melody marah-marah tidak mau ditinggal, alhasil, Yudha menunda urusannya itu dan memilih menemani Melody.


Yudha tidak cerita secara mendetail tentang urusan pekerjaannya, sekali lagi itu agar Melody tidak kepikiran tentang apa yang ia hadapi. Biarlah Melody fokus pada kehamilan dan PKL-nya saja.


Yudha menghabiskan 'sisa' liburan akhir pekannya ful menemani Melody. Hitung-hitung untuk memperdalam ikatan dirinya dengan Melody. Meski sudah tahu sama-sama saling mencintai, tapi kan masih perlu pengikat agar semakin dalam hubungan yang mereka jalin.


Sebuah hubungan yang awet tak cukup hanya dengan saling mengucap cinta. Tidak cukup hanya dengan sekedar percaya. Meski saling percaya itu penting dan dasar dari semuanya, tapi frekuensi bertemu dan menghabiskan waktu bersama itu sangatlah penting. Perlu juga bumbu cemburu dan betengkar agar hubungan semakin manis.


.


.


.


Di depan kost Melody dan Mia, Miyagi, jam tiga sore.


“Melody, aku harus pulang.” Kata Yudha.


Melody memelukknya dari belakang. Mencoba menahan Yudha agar tetap di kost.


“Sebentar saja, aku hanya ingin memelukmu.”


Kata Melody.


Yudha tersenyum. Ia memeng tangan Melody yang memeluknya sangat erat. “Kau tidak kasihan dengan bayinya ya? Mereka terhimpit.”


Ah benar juga. Mereka terhimpit sesuai kata Yudha.


Melody lalu melepaskannya dengan cepat. Yudha berbalik. Ia melihat Melody mendudukkan kepalanya. Wajah kecewa jelas terlihat.


Yudha lalu mencoba mengangkat dagu Melody. Ia tersenyum dan mengecup tulus kening Melody.


Yudha memegang kedua tangan Melody. “Sabtu besok aku akan kesini lagi. Kau sudah selesai PKL, kan? Setelah itu kita akan terus bersama-sama lagi.”


“Iya aku sudah selesai PKL. Aku mendapatkan keringan karena kehamilanku, jadi aku tak perlu menyelesaikannya dalam dua minggu. Aku akan menunggumu, Yudha! Jangan sampai telat menjemputku!”


Kata Melody.


Harusnya Melody memiliki jatah dua minggu PKL karena sebelumnya ia izin akibat dikurung oleh Yudha. Namun Yudha meminta instansi tempat PKL Melody untuk memberi kelonggaran. Mereka menyetujuinya, sekali lagi, kekuatan kekuasaan Kazehaya memang tak bisa dibantah. Tentu saja tanpa sepengetahuan Melody juga.


Jika Melody sampai tahu, sudah pasti akan ada drama termehek-mehek season embuh lagi.


Yudha memang harus merahasiakannya. Asal Melody bisa selesai PKL sewaktu dengan Mia, ia akan merasa tenang. Tidak mungkin kan ia membiarkan Melody PKL sendirian? Mengingat situasi Emperor Group yang mulai memanas akhir-akhir ini, ia harus membuat penghalang sebelum situasi buruk mendekat.


“Iya. Aku tidak akan telat menjemputmu, Mel.”


Kata Yudha.


“Kau, hati-hatilah saat menyetir!”


Kata Melody.


“Iya.”


“Jika kau lelah, kau harus berhenti dan istirahat!”


“Iya.”


“Jangan makan telat!”


“Iya.”


“Jangan terlalu tidur malam!”


“Iya.”


"Jangan lembur kerja!"


"Iya."


“...” Melody hampir kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Sejak Yudha mau pulang, ia sudah menjabarkan banyak wejangan pada Yudha. Dari A sampai Z.


Ia bahkan mengulangi wejangan yang sama beberapa kali. Meski sangat sering diulang , tapi Yudha nampak tak bosan mendengarnya.


“Kau tidak boleh keluar kost sering-sering, meski salju sudah mulai mencair, tapi cuaca masih sangat dingin!” Kini giliran Yudha yang mengoceh.


“Hm.”


“Makan yang teratur, jangan telat minum suplement, dan susu kehamilanmu!”


“Hm.”


“Jangan mandi dengan air dingin!”


“Hm, tahu kok, aku juga tidak mau mati membeku.”


“Jangan pernah pakai heals, bahaya!”


“Hm.”


“Jika kau butuh apa-apa, kau bisa meminta bantuan pada Mia. Aku sudah meminta bantuannya tadi.”


“Hm.”


“...” Gantian Yudha yang kehabisan kata-kata.


“...”


Mereka berdua saling terdiam. Sudah waktunya berpisah rupanya.


“Melody.”


Panggil Yudha.


“Ya?”


Jawab Melody.


“Melody, aku akan menelponmu nanti.”


“Iya.”


“Aku pulang dulu.”


“Iya. Hati-hati di jalan!”


“...”


“...”


Bukannya masuk ke mobil dan berpisah, mereka malah saling tatap.


“Yudha, tanganmu!” Kata Melody pelan.


Yudha lalu melihat tangannya. Benar juga, ia izin pulang tapi tangannya masih nyangkut di tangan Melody.


Mereka tersipu malu. Bagaimana bisa seperti ini?


Yudha melepaskan kedua tangannya. “Jaa, aku pulang dulu.”


“Iya, hati-hati, Yudh!”


Melody mencoba tersenyum semanis yang ia bisa lakukan.


Yudha menatap Melody sendu. Meski senyuman Melody begitu manis, tali mata itu menyiratkan kesedihan yang membuat dadanya sesak. Seperti anak kucing yang akan dibuang di pinggir jalan.


Ah ini..


Masih tidak rela berpisah.


Tapi jika seperti ini terus, maka tidak akan usai. Memang harus tega. Yudhapun memutuskan untuk membalikkan badan dan berjalan menuju mobil. Shuhei sudah menunggunya terlalu lama.


Melody melihat punggung Yudha yang berbalik meninggalkannya menuju mobil. Shuhei memang sudah menunggu sangat lama.


Rasanya tidak enak dengan Shuhei.


Namun..


Hatinya sangat hampa ketika Yudha melangkah meninggalkannya. Semakin hampa ketika langkah itu membuat jarak yang lebar. Bagai jurang pemisah cinta yang membuat diri tak berdaya.


#preet


Jangan pergi!


Jangan tinggalkan aku!

__ADS_1


Seperti itulah jeritan batin yang begitu menyiksa.


Ternyata Yudha juga merasakan hal yang sama. Sebelum ia membuka pintu mobil, ia berbalik dan berlari ke arah Melody. Ia lalu kembali memeluk Melody dengan sangat erat. Enggan terpisahkan. Enggan berpisah. Ingin tinggal.


Enggan meninggalkan!


Melody menangis tidak mau ditinggal.


.


.


.


Ok akhirnya layar mellow drama romance alay abad ini berakhir. Yudha sudah dalam perjalanan menuju Tokyo.


Sumpah ini preeet bangetp. Wkwkkwkwk. XD


😂😂


“Yudha paling sudah sampai di Tokyo, sampai kapan kau akan melambaikan tangan? Hapus air matamu!” Kata Mia.


Melody menghapuskan air matanya. Ia masih sesegukkan.


“Huwa, aku tak menyangka pangeran es dan putri jenong bisa alay begitu saat jatuh cinta. Enggan terpisahkan. Pelukkan begitu lamanya sampai membuat Shuhei-san lumutan menunggu kalian. Haduh, dulu bilang apa ya? Hmm, aku tidak lupa, ‘aku tidak cinta pada Yudha.’... Yaaelah neng, sekarang apa? Gaya romantis kalian alay banget, sudah mirip seperti getah nangka nempel di baju aja deh.”


Cerocos Mia.


“Berisik ah kau, Mia.” Melody melenggang masuk ke kost.


“Hahaha, cie yang malu.”Mia mengikuti Melody dari belakang.


“Mia!”


Merekapun duduk di ruang tamu kost mereka.


“Aku bersyukur, akhirnya kalian bisa bersama. Maksudku, kalian saling mengungkapkan perasaan kalian. Aku turut bahagia untukmu, wahai sahabatku.” Kata Mia.


“Arigato Mia, aku memang sangat bahagia. Yudha lebih memilihku daripada Amamiya-san. Yudha juga mencintaiku. Aku sudah tak butuh apa-apa lagi. Kami akan melanjutkan kisah kami bersama bayi ini.”


Terang Melody. Ia sungguh bersyukur mendapatkan balasan cinta dari Yudha.


“Kau dan Yudha memang masih awal menulis lembar baru. Kalian perlu melanjutkan kisah kalian agar menjadi sebuah buku cerita. Tapi Melody, tidak adil bagi Yudha jika kau masih belum menuntaskan kisahmu dengan Alvin-senpai.”


Ini yang selalu Mia khawatirkan.


“Alvin-senpai ya..”


Gumam Melody.


“Kau bilang, dia sulit mengendalikan perasaannya karna kau terlalu bergantung padanya. Jika kau terlalu lama menggantungnya, aku merasa jika ini akan semakin menyakitinya. Dengar Melody, aku mengenal kalian sejak lama, aku tahu jika Alvin-senpai itu sangat mencintaimu.”


“Aku mendapat kabar dari Yudha jika dia dan Alvin-senpai sempat bertengkar di rumah karena diriku. Aku merasa wajar bagi Yudha meminta Alvin-senpai menjauhiku, karena aku istrinya. Tapi, yang aku tak setuju, mereka itu bersaudara, kakak-adik, apakah hal itu pantas untuk dilakukan?" Kata Melody.


"Tentu saja menurutku tak pantas, karena mereka bersaudara seperti katamu. Namun Mel, jika ini di sandingkan dengan harga diri seorang laki-laki, kurasa Alvin-senpai berhak melakukannya."


"Mereka baik-baik saja awalnya, karena aku, semua menjadi ruwet. Ketika aku mencoba menasihati Yudha, dia malah marah, dia ngambek karena merasa aku lebih memilih Alvin-senpai daripada suaminya sendiri." Keluh Melody.


"Marahlah, Yudhamu itu kan cemburuan akut. Tingkat dewa, level sepuluh!"


"Cih, berlebihan! Susah sekali membuat Yudha mengerti, padahal hatiku sepenuhnya milik dia, aku sudah menikah dengannya, tak bisakah dia percaya pada perasaanku?”


Kesal Melody.


Yudha ingin baikkan dengan Alvin, tapi ia kesal karena Melody terus membicarakan Alvin. Ia merasa jika Melody lebih mementingkan perasaan Alvin. Jadilah pertengkaran penuh rasa cemburu tadi pagi. Untung tidak lama, Melody mengalah dan menghadiahkan tubuhnya sebagai permintaan maaf pada Yudha.


“Yudha hanyalah laki-laki biasa yang sedang cemburu, Melody. Mengertilah, saat seorang laki-laki jatuh cinta, maka miliknya adalah miliknya. Mutlak! Mana ada yang mau berbagi.”


Mia mencoba memberi pengertian pada Melody.


“Kekanak-kanakan sekali.”


Gerutu Melody.


“Tapi kau suka, kan? Kau terlihaat senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Meski kalian bertengkar, nyatanya kalian bisa tuh tidur bareng dan keluarin suara aneh." Sindir Mia.


"😖"


"HOI, KALIAN TIDAK MEMIKIRKAN JOMBLO YANG TIDUR DI SEBELAH KAMAR KALIAN, HAH?”


Kini Mia yang jadi kesal.


Suara Melody saat bermain dengan Yudha itu membuatnya sulit istirahat.


“Maka menikahlah jika ingin merasakannya? Weekkk.” 😋 Melody menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


“Kamvret.”


__ADS_2