MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Dingin


__ADS_3

Melody menatap kosong air kolam renang yang ada di belakang mansion Kazehaya. Air kolam itu terlihat berwarna biru bening karena efek dari keramik di lantai dasarnya, ditambah biru cerahnya langit di atas sana.


Ada beberapa dedaunan yang masuk ke dalam kolam itu. Dedaunan kekuning-kecoklatan itu mengambang, bagai kapal yang ingin segera karam. Menenggelamkan diri jauh ke dalam dasar. Dasar yang hampa dan sepi.


Setelah melihat berita yang ditayangkan di Tv tentang skandal antara Yudha dan Yura, arah pikiran Melody menjadi sulit dijelaskan.


Bagaiman perasaanya, bagaimana ia menyikapinya, bagaimana ia seharusnya bersikap, Hal itu nampak abu-abu.


Memangnya ia harus bagaimana? Ia memang istri dari Yudha, tapi ia dan Yudha sama-sama tidak saling mencintai. Melody paham betul bagaimana perasaanya dan perasaan Yudha. Ia tahu jika Yudha melihat Yura, jika saat ini mereka tergosipkan bersama, bukankah itu wajar? Apa itu yang memang seharusnya terjadi? Apa memang begini ia harus menyikapinya?


Bukankah mereka memang terlihat cocok?


Melody kembali menatap dedaunan yang ada di dalam kolam renang itu, dedaunan itu bergoyang-goyang tersapu angin yang berhembus sembelum akhirnya karam.


Apa ia memang harus membiarkannya? Apa memang ini yang terbaik? Bukankah ini adalah keinginan Yudha di awal? Yang menjadi istri Yudha harusnya adalah Yura, bukan dirinya. Nyatanya Yudha memang mencintai Yura, kan? Itu yang Melody ketahui.


Bagaimana dengan dirinya sendiri? Dari awal, ia memng tidak memiliki perasaan apapun pada Yudha. Yudha hanyalah sosok menyebalkan karena menabraknya dan membuatnya kehilangan pekerjaan. Yudha adalah orang yang ia rampok untuk membelikannya makanan yang banyak sebagai ganti rugi atas dipecatnya ia dari pekerjaannya.


Hanya sebatas itu, hingga pada akhirnya ada takdir konyol yang membuatnya menikah dengan Yudha.


Lebih jauh lagi jika ia dan Yudha sudah melakukan itu, meski atas pengaruh obat.


Memang, dari awal ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Yudha, kemungkinan seperti ini sudah ia pikirkan. Ia memang tak pintar-pintar amat, tapi ia cukup tahu diri bagaimana ia harus bersikap. Memang agak keterlaluan jika ia menganggap jika Yudha melakukan hubungan intim dengannya adalah sebagai balasan atas uang yang sudah keluarga Kazehaya berikan kepadanya.


Bagaimanapun, pernikahannya dengan Yudha dalah pernikahan bisnis. Dan di dalam bisnis, maka semua harus untung. Ia sudah mendapatkan uang, maka karena hanya bisa memberikan 'dirinya' pada keluarga Kazehaya, ia bisa memberikan keuntungan bagi keluarga Kazehaya. Kasarnya, jual diri. Itu yang ia jadikan acuhan selama ini.


Lagi pula, ia sudah tak peduli lagi tentang perasaannya.


Apa sungguh yakin akan keputusannya itu? Semakin ke sini, mencoba bertahan dengan acuhan seperti itu rasanya menjadi sangat berat. Semakin hari, semakin engap di dada. Membuat sulit bernafas dan begitu sulit untuk melangkah menatap masa depan.


Melody memasukkan kakinya ke dalam kolam. Ia lalu menggerakkannya perlahan. Menimbulkan gelombang kecil menjauhinya. Bunyi air terdengar halus, lembut di telinga. Sensasi dingin menyapa kaki telanjangnya.

__ADS_1


Apa air selalu menenangkan seperti ini?


Ia kembali menatap air kolam itu. Rasa dinginnya air mulai merambat menstimulasi kaki mulusnya. Ia bisa merasakan sengatan-sengatan dingin itu menjalar ke sepanjang kaki indahnya. Terasa kosong saat sendirian.


Ada hasrat yang mengajaknya tenggelam dalam pikirannya. Masuk dan terus masuk. Meresapi setiap kejadian yang sudah berlalu. Sangat banyak dan beragam.


Tuhan memberikan banyak kisah dalam hidupnya. Lebih dari sekedar indah, tapi, mengingat akan Yudha terasa begitu berat.


Melody memegang dadanya. Ia lalu menangis.


"Yudha dan Yura. Y-Y. Bahkan dari nama mereka saja sudah sangat cocok. Background keluarga besarnya juga seimbang. Dimana yang kaya dan tampan akan cocok dengan yang kaya dan juga cantik. Tidak seperti diriku. Aku tidak bisa dibandingkan dengan Yura. Aku ini hanya bumi yang kecil ini, sementara dia, dia adalah langit yang begitu luas dan tak tertembus."


Apakah ia harus menggunakan perumpaman setinggi itu? Hyperbolic yang keterlaluan sehingga membuat patah hati?


Sayang sekali, perasaan Melody yang berkecamuk saat ini mempengaruhi pola pikirnya yang tidak tenang.


"Jika aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, kenapa dadaku rasanya sangat sesak? Kenapa bisa seengap ini? Kemana oksigen yang jumlahnya tak terhingga itu pergi? Aku tidak menyukai perasaan ini. Ini sangat menyakitkan. Aku ingin kau cepat pulang untuk sekedar melegakan perasaanku. Aku ingin mendengar kata indah keluar dari bibirmu. Namun, sisi lain dariku tidak sanggup menghadapimu."


Alvin melihat Melody dari kejauhan. Ia tak menyangka jika ia akan mendapatkan berita mengejutkan tentang skandal Yudha dengan Yura. Ini di luar imajinasinya. Ia memang tahu jika Yudha melihat Yura, tapi ia cukup memiliki keraguan akan tindakan nekat seperti ini.


Sementara foto keakraban Yudha dan Yura mungkin diambil di tempat yang berbeda, pakaian mereka seperti pakaian acara pesta.


Apa Yudha melakukannya sampai sejauh itu? Berpelukkan degan Yura di tempat umum?


Bukankah antara Melody dan Yudha tidak terjadi apapun? Ini sudah September, apa saat terakhir kali ia bertanya pada Melody soal hubungannya dengan Yudha baik-baik saja itu salah? Atau sudah berubah?


Apakah sebulan lebih bisa membuat orang bisa berubah sebegitu besarnya? Jika benar Yudha melakukan hal di belakang Melody, maka keputusannya untuk merebut kembali Melody adalah mutlak! Ia sudah tak perlu ragu-ragu lagi!


Yudha menyakiti Melody, ia harus segera menyelamatkan Melody. Apapun caranya, termasuk menghilangkan sisi kemanusiaannya.


Dengan membawa nampan berisi semangka yang dibagi dua, Alvin berjalan mendekati Melody, ia lalu meletakkan nampan yang berisi dua semangka itu di antara dirinya dan Melody. Ia kemudian duduk di samping Melody dan ikut memasukkan kakinya ke dalam kolam.

__ADS_1


"Jika dilihat dari suasana foto, mungkin foto itu diambil di Prancis. Seminggu yang lalu Yudha kesana karena urusan kerja. Aku tidak tahu Yura juga ada di sana."


Kata Alvin.


Melody terperanjat kaget. Kenapa Alvin tiba-tiba ada di sampingnya? Sejak kapan?


Astaga, sudah berapa lama ia melamun?


"..."


"Itu hanya gosip, Melody." Alvin memang lemah jika itu adalah Melody.


Alvin mencoba menguatkannya? Seperti yang sudah-sudah?


Melody menghapus air matanya. "Hm, mereka adalah teman masa kecil. Aku tak apa-apa. Bukankah harusnya dia lebih berhati-hati? Jika begini, dia akan kena marah kakek, Hahaha, dasar Yudha bodoh," Melody malah tertawa.


Ada yang aneh dengan Melody. Gadis musim semi itu memang tertawa, tapi air matanya menetes di sela kedua pipinya.


"Kau baik-baik saja?"


Ada rasa tak nyaman melihat Melody yang seperti itu. Begitu berat rupanya. Melody kesulitan menghadapinya.


"Ya, tak pernah merasa sebaik ini." Melody lalu tersenyum kecut.


"Makanlah semangka ini! Rasanya sangat manis." Kata Alvin.


Ia memberikan stengah dari semangkanya. Melody menerimanya. Dengan sendok yang Alvin bawa, iapun menikmati semangkanya.


Manis.


Benar, rasanya memang manis seperti kata Alvin. Seulas senyuman tertarik di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Senpai, arigatou."


"Hn."


__ADS_2