MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sebelum Nikah 2


__ADS_3

Melody mulai melempar bantal ke kepala Mia. Mia membalasnya. Terjadilah perang bantal antara Mia dan Melody ronde ke dua. Rona keceriaan mewarnai perang bantal kedua sahabat itu. Terdengar cukup gaduh. Bahkan dari kamar sebelah, Yudha bisa mendengarnya dengan jelas.


Kamar Yudha..


"Apa yang sedang mereka lakukan? Mengerikan sekali. Malam melepas masa lajang cewek itu aneh. Baru tahu aku. Apa seseru itu? Sepertinya dia begitu menikmatinya.." Batin Yudha.


Yudha lalu tersenyum sendiri.


"Sepertinya juga dia merasakan hal yang sama denganku. Kuharap dia akan baik-baik saja. Aku membawanya masuk dalam duniaku."


Gumam Yudha.


"Yudha-chan.." Panggil pelan seorang wanita dari arah pintu kamar Yudha.


Sufix -chan untuk cowok sebagai tanda rasa sayang yang berlebihan. Banyak cowok yang tidak nyaman jika dipanggil dengan sufix itu karena biasanya lebih cocok untuk memanggil cewek.


"Ibu? Berhentilah memanggilku seperti itu!" Kesal Yudha menoleh ke arah sumber suara.


Mikan, Ibu Yudha lantas tersenyum. Putra tunggalnya memang selalu menolak jika ia menambahkan sufik –chan di belakan nama putranya itu.


"Hee, kenapa? Kau putra ibu yang kawaii."


Kata ibu Mikan, ia kembali tersenyum.


"Aku sudah dewasa, Ibu."


"Tapi kau masih manis seperti dua puluh tahun satu yang lalu." Ibu Mikan manyun.


"Dua puluh satu tahun yang lalu aku masih balita, Ibu. Aku bahkan belum bisa berhitung." Kata Yudha. Ibunya suka ngambeg tidak jelas, meski hanya bercanda untuk mengetes batas kesabarannya saja juga sih.


Ibu Yudha berjalan mendekati Yudha dan duduk di ranjang sebelah Yudha. "Ibu bolehkan bersamamu untuk malam terakhir ini. Mulai besok kau akan memiliki teman baru dalam hidupmu. Ibu sudah tidak bisa lagi sembarangan minta ditemani dirimu."


Ibunya Yudha, Mikan sering bermimpi buruk, membuat Yudha selalu menjaga ibunya sepanjang malam.


"Aku masih milik ibu, selamanya."


Ibu Yudha tersenyum. Anak tunggalnya ini adalah kebanggaannya. Yudha adalah anak yang sangat berbakti kepadanya.


"Kau harus membagi kasih sayangmu untuk istrimu juga! Ibu tahu, ini pasti sangat berat untukmu. Tapi perasaan Ibu pada Melody cukup kuat. Ibu yakin kau bisa bahagia dengannya. Jadi, rangkullah dia! Terimalah dia dalam hidupmu!"


"Iya Bu, aku mengerti."


"Ibu penasaran dengan keputusanmu yang tiba-tiba ini. Bukankah kau menolak permintaan kakekmu?"


Yudha sejenak berfikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Aku ingin segera mengakhiri masa lajangku, Ibu. Ibu dan kakek juga selalu menyuruhku untuk segera mencari pendamping agar aku memiliki teman untuk berteduh saat banyak ancaman dari bisnis yang akan menjadi duniaku sebentar lagi."


Ibu Yudha memeluk Yudha, putra tunggalnya.


"Maafkan ibu dan kakekmu, Yudha! Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Kau adalah pewaris Emperor Group! Putra Ibu." Ibu Yudha menangis.

__ADS_1


Yudha hanya berusaha menenangkan ibunya. Ia mengelus pelan punggung Ibu tercintanya.


Yudha memiliki banyak fikiran untuk menghadapi hidup barunya yang sebentar lagi akan segera ia masuki. Hidup baru dengan Melody.


Pilihan sang kakek dan keputusan yang ia buat..


Yudha memiliki alasan lain kenapa ia bisa dengan mudah menerima perjodohan yang kakeknya inginkan. Yudha membuat perjanjian dengan kakeknya. Perjanjian yang sudah lama Yudha inginkan.


Perjanjian untuk menjadikan Alvin sebagai cucu pertama kakek Wijaya. Bukan untuk menjadikan, tapi mengakui Alvin sebagai cucu pertama keluarga Kazehaya.


.


.


.


"Semoga, keputusanku ini benar. Aku berkorban banyak untuk game ini. Ibu maafkan aku, maaf aku belum bisa mengutarakan semuanya pada ibu saat ini." Batin Yudha.


.


.


.


Setelah ibunya meninggalkan kamar pribadinya, Yudha mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat ranjangnya.


Ia membuka aplikasi pesan. Ada beberapa pesan yang masuk. Dari teman-temannya, hm, lebih jauh lagi, sahabatnya.


Tidak, ada tiga orang lagi yang mengenal dirinya cukup dekat. Mereka bertemu sejak kecil dan menjalin persahabatan sampai saat ini. Selain itu, mereka juga terlibat dalam bisnis yang sama.


"Aku tak mengabari mereka soal pernikahanku, tapi kenapa mereka bisa tahu? Ulah kakek? Tapi bisa juga Alvin. Kupikir mereka tak akan melakukan hal-hal merepotkan seperti ini. Tapi terima kasih atas ucapan selamatnya."


Dari semua pesan yang masuk, Yudha sama sekali tidak menemukan nama Yura di situ. Kecewa? Jujur saja Yudha tak bisa menerjemahkan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Ia tidak tahu apakah dirinya sedang bersedih, kecewa, atau bahagia. Bersedih karena melukai hati ibu tercintanya? Kecewa karena Yura tak memberi ucapan selamat padanya? Bahagia karena tujuannya mengenai Alvin dipenuhi oleh sang kakek?


Tidak mengerti.


Semua itu sulit dijelaskan.


Lalu bagaimana mengenai pernikahannya esok hari dengan Melody? Apa yang ia rasakan? Tidak tahu kenapa, ia memutuskan untuk menemui Melody.


.


.


.


"Temanmu sudah tidur?" Tanya Yudha.


"Iya, ki-kita mau bicara apa? Ini sudah jam setengah dua belas malam loh.." Jawab Melody gugup.

__ADS_1


Yudha mengajak Melody masuk ke kamarnya. Melody tambah gugup karena ini pertama kalinya masuk ke kamar seorang laki-laki, apa lagi sosok laki-laki itu akan mempersuntingnya esok hari.


Sesuai dengan yang Melody duga, kamar Yudha sederhana tapi sangat elegan. Yudha memang tidak suka neko-neko dan berlebihan.


Melody hanya terdiam karena ridak tahu harus berkata apa. Akhirnya ia duduk di ranjang milik Yudha setelah Yudha menyuruhnya.


"Apa yang ingin Yudha lakukan? Kenapa harus di kamar? Kok seram ya.." Melody membenarkan baju tidurnya. Ia yakin jika apa yang ia pakai itu cukup tertutup.


Baju tidur dua pieces, baju dan celana bermotif keropi hijau yang imut.


"Dia tak akan melakukan yang aneh-aneh terhadapku, kan?" Melody berharap di dalam hatinya.


Paham Melody yang gelisah Yudha berdehem pelan. Membuat Melody terkaget karenanya.


"Dengar, aku tidak akan melakukan hal aneh seperti yang kau pikirkan!" Tegas Yudha.


"Ba-bagaimana aku tidak berpikir yang macam-macam, kau laki-laki dan aku cewek, kita berada di satu ruangan yang sama. Kamar! Kalau ada yang lihat kita bagaimana? Mereka bisa mengira kita melakukan yang tidak-tidak." Terang Melody.


Lucu. Yudha menganggap itu lucu. Ia malah jadi ingin menggoda. Ia melonggarkan baju tidurnya. Melepas dua kancing baju tidurnya.


"Memang kenapa kalau kita melakukan hal yang tidak-tidak? Toh kita akan segera menikah.." Seringai Yudha.


Melody merinding. Ia lalu bangkit dan menuju pintu keluar kamar Yudha. Sebelum pintu itu terbuka, Yudha menahannya dari arah belakang.


Yudha menghimpit tubuh ramping Melody di pintu dalam kamarnya.


"Yu-Yudha, ap-apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Melody takut. Baginya Yudha menyeramkan.


Tambah merinding karena Melody bisa merasakan deru nafas hangat Yudha di tengkuknya.


"Jangan terlalu berlikir berat! Tidurlah dengan nyaman, bergadang tak baik untuk kesehatanmu!" Ucap Yudha.


"Eh?"


Melody melebarkan matanya. Darimana Yudha tahu jika ia tak bisa tidur? Jadi Yudha menghawatirkan dirinya?


Yudha melepaskan tangannya yang ia gunakan untuk menahan pintu.


Melody tak menjawab perkataan Yudha. Ia hanya menangguk dan segera keluar dari kamar Yudha dengan cepatnya.


"Selamat tidur, calon istriku.."


.


.


.


Melody menutup kamarnya dan menguncinya. Ia lalu bersandar pada daun pintu itu. Ia memegangi dadanya yang berdetak semakin kencang.


"Yudha, aku tak bisa mengartikan dirimu itu seperti apa.."

__ADS_1


__ADS_2