MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 13


__ADS_3

Kurenai mendapatkan penghadangan dari dua bodyguard Yudha di depan pintu masuk kamar inap kakek Wijaya. Ia sangat kesal karena merasa diperlakunan kurang sopan. Ia tidak terima para bodyguard itu 'memeriksa' dirinya. Memang mereka pikir, dirinya itu akan membawa senjata tajam untuk membunuh kakek Wijaya?


"Biarkan dia masuk!" Kata Nenek Chiyo yang keluar dari ruang inap kakek Wijaya karena merasa di luar pintu terdengar begitu gaduh.


"Baik, Nyonya Besar Chiyo." Bodyguardpun mempersilahkan Kurenai untuk masuk ke dalam kamar inap.


Kurenai berjalan anggun menuju ranjang dimana kakek Wijaya berbaring. Ia melewati Mikan dengan santai. Tak menoleh sedikitpun.


Kurenai berdandan sangat apik hari ini. Make up dengan lipstick berwarna merah menyala. Ia bahkan memakai kaca mata hitam. Sangat pas dengan gaun siffon berwarna hitam. Bahan kain siffon terjatuh indah saat dipakai oleh lekuk tubuh indah Kurenai yang tanpa lemak itu. Untuk wanita berkepala empat seperti Kurenai, kecantikkan dan bentuk tubuh adalah yang utama. Ia suka merawat diri dan sering mengikuti kelas yoga untuk menjaga bentuk tubuh dan penampilannya.


Selain itu, Kurenai juga ingin menunjukkan pada Mikan bahwa dirinya jauh lebih cantik daripada Mikan meski sudah masuk usia tua sekalipun. Dalam pandangan mata, Kurenai memang lebih cantik daripada Mikan. Kurenai suka berdandan, sedangkan Mikan tidak. Kurenai suka berpakaian berkelas, Mikan menyukai kesederhanaan. Kurenai pandai berhias diri, Mikan menyukai tampilan yang natural.


Ini seperti saling bertolak belakang.


Kurenai dan Mikan sangat jarang bertemu setelah sekian lamanya. Perseteruan di masa lalu dengan Kazehaya Yoga tidaklah sederhana. Membuat hubungan keduanya tidak baik. Bukan berarti harus berkelahi sampai harus jambak-jambakkan, mereka perang dingin dengan gaya mereka sendiri. Saling menjunjukkan diri siapa yang lebih baik, lebih pantas bersanding di sisi Yoga.


Meski saat ini Kazehaya Yoga sudah tiada, hubungan di antara keduanya tetaplah sama. Masih tidak baik. Masih musuhan. Masih saling memandang rendah. Bedanya, Mikan tidak terlalu intens melakukannya, ia lebih banyak pasifnya karena setelah memiliki Yudha, ia lebih memprioritaskan mendidik Yudha. Tanda kutip, Mikan lebih menikmati hidupnya sebagai sosok seorang ibu.


Sementara Kurenai, ia menekuni bisnis kosmetik dan fashion. Ia bahkan juga sudah memulai kehidupan rumah tangganya yang baru dengan Uchiyama Azumane.


.


.


.


KURENAI'S POV


Aku melepas kaca mata hitamku. Aku melihat Kazehaya Wijaya yang agung ini terbujur tak berdaya di ranjang pasien. Alat medis terpasang di sekujur tubuh rentanya.


Aku tertawa di dalam hati.


Orang dengan keangkuhan sekeras gunung batu karang di lautan ini bisa terlihat seperti ini. Begitu dekat dengan ajal. Begitu mudahnya untuk disingkirkan.


Bukankah itu sangat menyedihkan?


Wijaya-sama, saya tidak lupa dengan apa yang sudah Anda lakukan kepada saya dan Alvin di masa lalu. Anda membuat hidup saya dan Alvin seperti di neraka.


Dosa saya hanya satu, saya terlalu mencintai anak Anda. Namun Anda tidak merestuinya. Bahkan, Anda dengan sangat sangat kejam menolak Alvin sebagi cucu Anda meskipun Anda tahu sendiri jika Alvin adalah anak kandung Yoga.


Saya sudah melangkah sampai sejauh ini, saya tidak akan pernah mundur. Semua sudah sesuai rencana saya. Anda tidak akan marah, kan? Anda dan saya sudah menyepakati aturan permainannya. Curang dan licik juga tak di masalahkan. Sepertinya juga, Tuhanpun berpihak pada saya. Tuhan akan berdiri di belakang orang yang disakiti.


Apakah ini karma?


Dosa Anda di masa lalu meminta Anda untuk segera menebusnya. Kini sudah waktunya, ini waktu yang tepat untuk Anda membayar semua dosa-dosa Anda.


Mulai besok, saya dan Alvin akan menang. Saya akan menang, Wijaya-sama! Saya yang menjadi pementang di akhir permainan yang Anda dan saya ikuti. Untuk itu, sampai rapat pemegang saham istimewa besok, sebaiknya Anda tetaplah tidur dengan damai. Jika Anda Tuhan izinkan untuk bangun, maka semua sudah tak perlu Anda pikirkan lagi. Emperor Group akan menjadi milik anak saya Kazehaya Alvin.


Haha, itupun jika Anda bisa bangun. Mendengar begitu parahnya kecelakaan yang menimpa Anda, rasanya itu tidak mungkin. Anda masih hidup sampai detik ini saja itu sudah sangat beruntung. Setelah diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, semoga Anda bisa bertobat!


Nikmati istirahat Anda yang nyaman ini, Wijaya-sama! Biarkan yang muda yang berkuasa. Yang tua seperti Anda sudah waktunya pensiun.


Aku kembali memakai kaca mata hitamku. Aku harus segera pergi dari ruangan engap ini. Aku membenci bau obat-obat yang memusingkan kepalaku.


Lagipula, Chiyo-sama dan Mikan nampak begitu risih dengan kehadiranku. Masa bodoh, kehadiranku ini memang untuk merayakan kemenanganku. Untuk mendeklarasikan kemenangan yang sangat aku nantikan sejak lama.


"Apa kabar, Chiyo-sama. Apakah Anda baik-baik saja?" Tanyaku basa-basi.


Wanita tua di hadapanku ini tersenyum lembut. Aku yakin, di masa mudanya, Chiyo-sama itu sangat cantik. Masih tua seperti ini saja dia masi nampak ayu.


"Aku baik-baik saja, Kurenai-san. Kau nampak sangat bahagia. Sesuatu yang menyenangkan sedang terjadi rupanya." Kata Chiyo-sama.


Aku yakin, meski tak terlibat langsung ke dalam permainan antara diriku dengan Wijaya-sama, Chiyo-sama pasti tahu apa yang terjadi di Emperor Group. Jarang orang yang tahu jika nenek tua ini adalah penyihir ulung yang begitu licik.


Bukan hanya jarang, tapi mungkin hanya aku seorang. Chiyo-sama adalah orang yang tega menyuruhku menggugurkan kandunganku dulu. Jika aku tak kabur dari rumah sakit waktu itu, aku pasti sudah kehilang Alvin.


Jika mengingat kejadian menyakitkan itu, aku ingin membunuhnya seketika. Namun, aku memilih tak melakukannya. Aku lebih suka balas dendam perlahan dan menghancurkan sedikit demi sedikit. Itu jauh lebih puas dari pada sekalo tebas. Sakitnya tidak hanya sekali, tapi berlangsung lama.


Bukankah itu indah?


"Tentu saja, Chiyo-sama. Hal-hal indah akhir-akhir ini memang selalu menghampiri saya. Saya menjadi kwalahan menerimanya. Saya sampai harus meminta bantuan Alvin untuk membantu menerima anugrah saya." Kataku.


Chiyo-sama tetap tersenyum menanggapi ocehanku. Dia ahli bermain ekspresi wajah. Dia wanita yang tak bisa ditebak dengan mudah. Dia pasti memiliki rencananya sendiri. Sampai detik ini, dia sama sekali belum bergerak. Apakah dia menunggu saat yang tepat?


Sesuai perhitungan matangku dan tim oposisi penentang Wijaya-sama, harusnya besok Alvin tetaplah yang akan menjadi raja baru tahta Emperor Group. Aku sudah sangat yakin itu adalah kemenangan yang mutlak.


Tapi memang ada yang masih mengganjal di dada.


Ya, ketika aku berhadapan dengan Chiyo-sama.


Aura dia lebih gelap daripada Wijaya-sama. Ditambah sulit ditebak pola pikirnya, Chiyo-sama suka bermain dibalik layar.

__ADS_1


Chiyo-samalah yang memaksa Yoga menikahi Mikan. Dia juga yang membuat Yoga mau berhubungan intim dengan Mikan. Entah itu obat perangsang atau apa yang dia gunakan, tapi dia adalah dalang dari semuanya. Ia master mind utama dalam mala petaka yang menimpaku.


Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan Chiyo-sama menghancurkan hidupku sekali lagi. Meski dia memiliki segudang rencana di masa depanpun, aku tetap akan bertahan. Emperor Group sebentar lagi di kuasai Alvin, saat itu terjadi, akupun bisa dengan mudah menyingkirkan wanita tua bangka ini.


"Sebagai neneknya, tentuhlah aku ikut senang karena pada akhirnya cucuku itu bisa bahagia. Butuh waktu yang lama juga ya?" Kata Chiyo-sama.


Butuh waktu yang lama?


Itu sindiran yang begitu mengiris hati. Itu brnar adanya. Aku dan Alvin memang butuh waktu yang lama untuk sampai ke tingkatan kebahagiaan ini.


"Iya, Chiyo-sama. Butuh waktu yang sangat lama. Tapi tak mengapa, karena kebahagiaan ini akan awet sampai waktu yang lama." Kataku.


"Ya, semoga sangat awet kebahagiaan kalian!" Kata Chiyo-sama.


Aku yakin seyakin-yakinnya, Chiyo-sama pasti merencanakan sesuatu!


Sial, apa aku ini terbawa arus permainan darinya?


"Terima kasih banyak atas doanya, Chiyo-sama. Saya pamit undur diri. Terima kasih sudah diizinkan menjenguk Wijaya-sama." Kataku.


"Sama-sama. Aku hanya ingin kau tahu jika ayahnya Yoga baik-baik saja meski sudah mengalami percobaan pembunuhan berkali-kali." Kata Chiyo-sama.


Apa maksudnya itu?


Apakah dia menuduhku sebagai pihak yang bertanggung jawab akan musibah yang menimpa Wijaya-sama?


Itu tidak sopan!


"Wijaya-sama adalah orang yang kuat. Saya harap Beliau lekas sembuh!" Kataku.


Aku keluar dari kamar inap Wijaya-sama dengan perasaan yang berkecamuk.


Saat aku menutup pintu kamar inap itu, ku lihat Mikan sedang berdiri sambilmenyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia bersandari di tembok rumah sakit.


Sepertinya dia ingin bersua kepadaku. Meski rasanya aku sangat muak melihat mukanya, tapi aku harus tetap menyapanya.


END OF KURENAI'S POV


.


.


.


"Sudah lama juga, Kurenai-san. Kau nampak tak termakan usia." Sapa Mikan.


Ohishasiburi: Sudah lama ya.


"Aku ini sangat mencintai diriku seperti Yoga-san yang sangat mencintaiku. Yoga-san menyukai diriku yang cantik, maka dari itu aku harus terus menjaga penampilanku." Kata Kurenai.


Mikan tahu jika Kurenai hanya ingin memanas-manasi dirinya mengenai Yoga. Yoga memang hanya melihat Kurenai sebagai wanitanya. Wanita yang selalu nampak cantik dan selalu mendapatkan cinta dari Yoga.


"Kau benar, meski sudah tuapun, kau masih doyan berdandan. Yoga-san pasti bangga melihatmu dari alam baka." Kata Mikan yang masih setia menjaga emosinya.


"Tentu saja, melihat wanita yang sangat dicintainya bahagia, Yoga-san pasti ikut bahagia melihatnya." Kata Kurenai. "Nah Mikan-san, anakku dengan Yoga-san akan segera menduduki tahta utama Emperor Group. Ah, harusnya aku tak perlu mengulangi kabar bahagia ini kepadamu karena Yudha anakmu pasti sudah melakukannya." Timpal Kurenai.


"Aku ikut senang mendengar kabar bahagia ini." Kata Mikan singkat.


"Kau tahu Mikan-san?"


"..."


"Aku merasa iba dengan putramu itu. Kazehaya Yudha. Menyandang nama besar Kazehaya, tapi tak pernah mendapatkan cinta dari ayahnya. Kini ketika sudah beranjak dewasapun, tahta yang katanya akan diwariskan kepadanya, hilang begitu saja. Tahta Emperor Group memanglah hanya pantas disandang oleh pemilik aslinya."


"Apa karena Alvin lebih tua dari Yudha sehingga kau menganggap Alvin sebagai pemilik aslinya? Tumpul sekali pola pikirmu itu, Kurenai-san! Mendapatkan tahta dengan cara licik seperti itu bukanlah gaya darah Kazehaya! Ah, meski Alvin memiliki darah Kazehaya sekalipun, nyatanya darahnya hasil campuran wanita kelas rendah penghibur di bar malam memang tak dapat di pungkiri." Mikan membalas ucapan Kurenai yang terus saja menyudutkan rasa sakitnya.


Mikan tak suka menyakiti orang lain, tapi mendengar ucapan Kurena saat ini, batas sabar hatinya meradang. Ia tidak bisa terus ditindas.


Mendengar fakta masa lalunya diungakap oleh Mikan, Kurenai sangat marah. Ingatan tentang pekerjaan masa lalunya itu sangat ingin ia hapus. Jika Tuhan memberikan izin untuk melakukan time travel tentulah ia akan kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya.


Ya, wanita malam. Wanita penghibur di bar. Kasarnya, Kurenai adalah seorang *******.


Semua yang diucapkan oleh Mikan adalah benar. Dirinya yang sangat cantik itu adalah mantan kupu-kupu malam.


Kurenai berusaha keras mempertahankan senyumannya. Ia cukup bergetar, kisah masa lalu yang kelam itu memang masih membekas. Tak semua orang tahu akan masa lalunya. Dari semua yang tahu, kenapa harus Mikan? Ah, Mikan pernah memergokinya berkencan dengan Yoga di motel. Mikan juga tak bodoh karena selain memergoki langsung, Mikan juga menyewa mata-mata untuk mencari tahu apapun tentang dirinya.


"Meski seperti itu, nyatanya Yoga-san lebih memilih wanita kotor ini dari pada harus mencintai Tuan Putri yang maha suci." Kurenai tersenyum bangga.


"..." Mikan terdiam lara. Memang betul, Yoga lebih memilih mencintai seorang ******* daripada Tuan Putri seperti dirinya.


"Aku penasaran bagaimana rasanya menjadi Tuan Putri yang dinikahi tanpa dicintai. Apakah menyenangkan menjalani pernikahan bak boneka mainan? Apakah ranjang pengantinnya mendingin setiap malam?" Kurenai terkekeh. "Pasti sangat dingin. Sampai Yoga-san meninggalpun, rasa cinta untuk Tuan Putri tidaklah ada. Itu akhir yang menyedihkan, bukan?"

__ADS_1


"..."


"Mirisnya lagi, keturunan hasil schemming mertuanyapun juga tak pernah mendapatkan cinta dari sang ayah." Lanjut Kurenai.


"..."


"Bercintalah dengan cinta, jangan dengan obat perangsang. Hasilnyapun akan berbeda. Alvin lahir atas dasar cinta ayah dan ibunya, tapi Yudha? Dia lahir tanpa diinginkan oleh ayahnya." Sambung Kurenai lagi.


"..."


Sudah.


Cukup sudah!


Mikan tak tahan dengan kata-kata yang dilontarkan Kurenai secara bertubi-tubi. Hatinya menjadi sangat sakit karena semua itu adalah kebenaran yang tak bisa ia hindari. Tidak ada cinta di dalam pernikahannya dengan Yoga. Tidak ada cinta dari Yoga untuk Yudha.


"Memang Anda sungguh yakin jika ayah mertua tidak mencintai ibu mertua?" Tanya Melody yang datang menyela. Di sebelahnya ada Yudha.


Yudha lalu meraih ibunya dan memeluknya. Ibunya menangis sesegukkan di pelukkannya.


"..." Kurenai terdiam. Anak kecil di hadapannya ini sungguh berani menatapnya dengan tajam.


"Anda terlalu percaya diri, Bibi!" Kata Melody.


Bibi?


😡


"Apa maksudmu itu?" Tanya Kurenai.


"Memangnya bibi pernah melihat ayah mertua bercinta dengan ibu mertua? Dengan obat perangsang? Memangnya hanya dengan obat perangsang, Anda bisa menilai perasaan seseorang?" Tanya Melody. "Tentulah tidak! Meski menggunakan obat perangsang untuk bercintapun, rasanya bisa sangat berbeda setelahnya. Aku yakin, ayah mertua pasti juga merasakan ketulusan cinta dari ibu mertua. Ayah mertua tidak buta hati seperti Anda!" Lanjut Melody.


Melody berusaha menyamakan dengan apa yang terjadi di antara dirinya dengan Yudha. Awalnya memang menggunakan obat perangsang, tapi setelahnya semakin cinta. Bahkan semakin besar tiap harinya. Ia hanya ingin mempercayai jika ayah mertuanya juga merasakan hal yang sama.


"Yoga-san yang bercerita sendiri kepadaku jika dia dicekoki obat perangsang oleh Chiyo-sama." Kata Kurenai mencari pembelaan. Sejujurnya perkataan Melody mengena di hatinya.


Melody malah tetawa. Kurenai kesal karena menganggap Melody kurang ajar kepadanya.


"Anda terlalu naif, Bibi! Dan sikap Anda yang dangkalpun menurun pada putra Anda. Saya harap Anda yang mempengaruhinya, karena Alvin yang saya kenal tidaklah seperti itu. Alvin yang saya kenal tidak akan memaksakan cintanya. Beda dengan Alvin yang sekarang, begitu bodohnya dibutakan oleh cinta. Anda paham kan siapa wanita yang sangat dicintainyq itu?" Kata Melody.


"..." Kurenai terdiam. Ia memang tahu siapa wanita itu.


"Ya, itu saya. Wanita hamil lima bulan, istri dari Yudha, anak dari Kazehaya Yoga yang sangat Anda gilai itu." Lanjut Melody.


Yudha dan Mikan tidak ikut andil dalam pembicaraan.


"Aku tidak akan membiarkan Alvin bersamamu!" Kata Kurenai.


"Tentu saja Anda harus melakukannya. Sayapun tidak tertarik menjalin cinta dengan anak Anda!"


"..." Ini seperti karma dimana Alvin mengalami nasib seperti Mikan.


"Sebaiknya Anda ikat anak Anda di rumah! Jangan biarkan dia berkeliaran di hidup saya dan Yudha karena itu sangat mengganggu!"


"Wanita kelas rendah seperti dirimu saja belagu!" Kata Kurenai yang langsung meninggalkan pembicaraan mengesalkan itu.


.


.


.


Usai kepergian Kurenai, Melody menoleh ke arah Yudha dan ibu mertuanya. Ia mengambil nafas banyak-banyak.


"Woooaaahh, apa yang baru saja aku katakan?" Tanya Melody. Ia lalu menghambur dan ikutan pelukkan dengan Yudha dan ibu mertuanya, Mikan.


"Ibu, lihatlah, menantu ibu ini meski sedang hamil, tapi bisa melindungi ibu, kan?" Kata Yudha.


Mereka melepas pelukkannya.


"Iya. Terima kasih, Melody. Ibu sangat senang." Kata Mikan.


"Sama-sama, Bu." Kata Melody. "Yudha, minta hadiah!"


Yudha menarik Melody dan tanpa basa-basi lansung mencium bibir Melody di hadapan ibunya dan dua bodyguard yang sedang berjaga di depan kamar inap kakek Wijaya.


Mikan sampai melebarkan kedua matanya. Anaknya ini sungguh berani, tidak malu-malu menunjukkan kemesraannya di depan umum. Dalam hati ia berharap, apapun yang terjadi, Yudha dan Melody akan terus bersama. Semoga mereka juga tak mengalami cinta pahit seperti yang ia rasakan.


________________________________________


Ini chapter terpanjang yang pernah aku buat. 😂😂😂😂😂😂😂😂 Selamat capek ya. 😎

__ADS_1


__ADS_2